Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Sesampainya di rumah Anne segera menemui anak-anaknya, hari ini sangat
melelahkan karena ia harus bekerja menggunakan banyak energi, ketika tiba di ruangan tengah dia melihat ketiga anaknya makan dengan lahap, perasaannya langsung menghangat rasa lelahnya juga seketika hilang.
"Nona, tadi Matteo bilang jika di sekolah ada yang menjahili Marcella," ucap bibi Nora.
Anne mengangguk, "guru sekolah tadi menghubungiku saat aku kerja, dan aku sudah menanganinya."
"Syukurlah," ucap bibi Nora.
Anne mengangguk, "Apa bibi tahu jika yang menjahili Marcella adalah anak Selina dengan Davin," ungkap Anne.
Bibi Nora membelalakan matanya ,"sungguh?" ia seolah tak percaya.
Anne mengangguk, dia duduk di kursi sambil membuka kain yang membalut luka di tangannya.
Bibi Nora merasa iba ketika melihat Anne
sangat bekerja sekeras ini, ia tahu dia pasti kesal saat bertemu kembali dengan saudara sepupunya yang jahat itu serta mantan kekasihnya yang brengsek, tapi ketika tidak ada raut kemarahan di tatapannya yang lembut, bibi Nora percaya jika Anne sudah ikhlas melupakan mereka, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari masa lalu yang tak perlu dia ratapi terus.
"Kalau begitu, nona sebaiknya segera mandi dan makan saja, lalu beristirahat, nanti bibi obati luka di tangan nona." ucap bibi Nora.
Matteo yang melihat luka di tangan Anne
merasa kasihan, "Mami, bos mami memang keterlaluan, jika aku bertemu dengannya aku ingin memperingatinya!"
Anne menatap putranya, "ini sudah menjadi resiko bekerja sayang, mami tidak apa, masalah bos, ... dia memang seperti itu." 'Dia sinting' lanjut Anne dalam hati.
Matteo mengangguk-angguk, tapi dalam
hatinya tetap saja ia tak terima pada kelakuan bos ibunya yang sudah membiarkan ia terluka seperti itu.
Ya, kemarin sepulang kerja Anne telah bercerita jika hari itu ia di hukum.
"Ya sudah kalian habiskan makannya, mami akan membersihkan diri." ujar Anne sambil beranjak dari duduknya.
Dia lalu berjalan menuju kamar, sebelumnya ia duduk dahulu di tepi kasur untuk mengecek ponselnya, dan seketika saja matanya mengerling ketika telah mendapat transferan dari pria itu.
Tidak tanggung-tanggung nominalnya sebanyak lima puluh juta sekaligus, Anne pun sudah berencana menabungnya, mendapat banyak uang darinya tidak serta merta untuk ia hidup foya-foya, tapi ia juga memikirkan masa depan anaknya.
Dia pun menghubungi pria itu dan tak lama di angkat olehnya, hatinya jadi girang, rasa ingin mandinya pun berubah hingga membuatnya malas-malas dan memilih untuk merebahkan tubuhnya.
"Apakah uangnya sudah masuk?" tanya Viktor di ujung sana.
"Ya, terimakasih ya." Anne fikir ini adalah
wujud dari pertanyaan pria itu dalam pesannya pagi tadi, dia bertanya tentang sisa hutangnya sehingga langsung mengirimnya dalam jumlah banyak.
Viktor pun melakukan ini untuk mengalihkan isi pesan yang di kirim Vina tadi.
"Ya, yasudah kalau begitu aku akan bekerja lagi,"
"Tunggu sebentar,"' cegah Anne yang tak
suka ketika pria itu buru-buru mengakhiri sambungannya.
"Apa? apakah bos mu berbuat keterlaluan lagi padamu?" Viktor menguasai perannya sengaja memancing-mancing Anne.
"Tidak, hanya saja aku sedikit kesal." Viktor menaikan sebelah alisnya, "kenapa?"
"Aku bertemu dengan teman lamaku di dalam ruang meeting di kantor tadi, dia benar-benar angkuh!" ujar Anne menceritakan sosok Davin.
Dia pun juga terbawa dalam suasana itu saat ia bertemu dengannya di kantor tadi juga saat di sekolah kanak-kanak.
Viktor menyimak lalu menarik sebelah sudut bibirnya.
"Lalu kamu risau? Jangan buang waktumu hanya untuk meratapi orang yang tidak penting sama sekali." balas pria itu.
"Tidak, ... aku hanya,"
Tut... tut..
Sambungan itu tiba-tiba berakhir, Viktor mematikan telepon itu dengan senyum puas sambil meneguk anggurnya, lagi pula ia tak mendengar Anne menjelek-jelekan dirinya sebagai bos di kantornya.
Sementara Anne mendesah, dia mengerucutkan bibirnya lalu melihat layarnya yang kembali ke halaman awal.
"Dasar tidak sopan!" gerutunya, ia juga
mendesahkan nafasnya ketika pria itu berfikir jika ia risau memikirkan Davin, jauh di dalam hatinya ia tak peduli pada pria itu, hanya saja yang membuatnya risau adalah ketika ia harus bertemu dengannya ketika ia sedang menjalani hukumannya hingga membuat Davin berfikir jika ia hanya seorang pekerja serabutan disana.
Ia bertekad kini, jika ia harus bisa bekerja dengan baik supaya mendapatkan kenaikan jabatan.
Memikirkan semua itu, akhirnya Anne teringat jika ia harus membersihkan dirinya, kini ia pun membangkitkan tubuhnya untuk pergi ke kamar mandi.
***
Esok pagi, Anne bergegas ke ruangannya, hari ini ia senang karena manager nya mengatakan jika hukumannya telah usai.
Akhirnya ia bisa bernafas lega dan kembali bekerja di ruangannya setelah dua hari ia meninggalkan bangkunya.
Perasaannya pun kembali lega, karena ia tak akan lagi bertemu secara langsung dengan bosnya itu.
Ia bekerja dengan tenang hingga akhirnya jam kerjanya pun usai siang itu, saatnya seluruh karyawan Montesano Corporation beristirahat.
"Anne... tunggu!" sapa Alista saat Anne akan ke kantin.
Anne pun menoleh dan melihat Alista tengah mengekorinya, ia menghentikan
langkahnya menunggu gadis itu.
"Aku fikir kamu tidak akan makan siang di
kantin hari ini." ujar Anne.
"Sejak kemarin aku tidak makan siang di
kantin, karena kamu tidak ada." balasnya dengan nafas terengah ketika berlari mengejar Anne tadi.
"Maafkan aku,"
"Oh iya bagaimana apa tuan Viktor memberi hukuman yang berat?" tanya Alista penasaran.
"Tidak, dia hanya meminta ku untuk membersihkan ruangannya saja." ujar Anne.
Alista mengangguk-angguk.
Kini keduanya pun berjalan menuju kantin, tepat saat mereka melangkah pintu lift di belakang mereka terbuka ada beberapa orang dengan jas formal berjalan dari sana.
Di saat Anne akan menuruni tangga untuk menuju kantin, tiba-tiba papan reklame perusahaan yang ada di atas dinding itu bergoyang hendak menimpa tubuh Anne.
Di saat itu Davin yang berada di antara orang-orang yang baru keluar dari lift pun berlari segera menarik tubuh Anne.
Anne terkejut ketika tubuhnya terdorong
jauh, di saat melihat Davin dan sebuah papan yang menimpa tubuh Davin ia baru menyadari jika pria itu tengah berusaha menolongnya.
Semua orang menutup mulutnya tak percaya, Davin terjatuh, di wajahnya ia mengalami luka lecet, Anne pun buru-buru mendekat, Alista yang ada di belakang Anne pun juga mendekat.
Mereka membantu menyingkirkan papan itu dan membantu Davin bangkit.
"Tuan Davin anda tidak apa-apa?" tanya Anne, sebisa mungkin ia berbicara secara formal dengannya.
Pria itu mengangguk, meski darah tengah meluncur dari pelipisnya.
Di belakang Viktor yang bersama mereka
pun mendekat, dia telah memperhatikan
kejadian ini lalu menatap Davin dengan lekat, "sebelumnya atas nama perusahaan saya mengucapkan terimakasih pada anda tuan Davin karena sudah menyelamatkan salah satu karyawan saya," ucapnya, tapi jauh di dalam manik matanya terpancar raut tak suka.
"Ya, sama-sama tuan Viktor,"
Anne menatap bosnya yang berdiri dengan ekspresi dingin.
"Kalau begitu anak buahku akan mengantar anda pergi ke rumah sakit untuk berobat" imbuh Viktor.
"Tidak usah, tidak apa, ini hanya luka lecet saja,"
"Tapi ini perlu di obati, ini bisa jadi infeksi," Anne berusaha membujuk, meski hubungan mereka tidak sebaik dulu tapi ia masih tahu bagaimana cara berterimakasih sehingga tak ingin Davin akan membiarkan lukanya.
Davin menunduk, kepalanya berdenyut-denyut.
"Bagaimana jika saya obati ke unit kesehatan lalu minum obat pereda nyeri," tawar Anne, ia masih merasa tak enak hati karena Davin ingin menyelamatkannya hingga terluka seperti ini.
Tapi tak di sangka Davin pun mengangguk.
"Tidak-tidak, Anne akan beristirahat dia
pasti lapar, anak buah ku akan mengantarmu ke rumah sakit." cegah Viktor buru-buru, ketika berpikir Davin hanya sedang mencari perhatian Anne.
Di saat yang sama Max pun berjalan mendekati mereka akibat suara kekacauan itu yang terdengar hingga ke ruangannya, namun rasa penasaran itu malah membuat ia melihat Davin yang tengah terluka dan di papah oleh Anne, seketika saja langkah Max berhenti.
"Oh, bagaimana jika Max saja yang membantu mengobati lukamu di unit
kesehatan?" ucap Viktor ketika melihat Max mendekat.
Max yang tidak tahu perkaranya menautkan alisnya secara spontan ketika bosnya menyebut namanya.
Di saat itu pula, Davin pun menoleh ke arah Max dan menyadari jika ternyata Anne satu perusahaan dengan pria itu, sejak dahulu ia tak menyukai Max karena berfikir jika Max selalu memperdulikan Anne.
Tangannya terkepal di bawah sana, ia tak menyukai jika Max juga ada di sini.
"Tidak perlu tuan Viktor, saya akan meminta anak buah saya saja untuk pergi ke rumah sakit sekarang. Kalau begitu saya permisi." pada akhirnya Davin pun menolak semua tawaran Viktor, dia pun menjauh dari sana dan menghubungi beberapa anak buahnya melalui telepon.
Viktor tersenyum tipis melihatnya, "hanya luka lecet saja, tidak perlu manja." gumamnya, Vin yang ada di sampingnya pun bisa mendengar.
"Cepat cari tahu penyebab papan itu terjatuh!" perintah Viktor kemudian pada
para anak buah yang mengikutinya.
"Baik, tuan." semua anak buah termasuk Vin pun mengangguk.
Para pria berpakaian jas itu segera lewat
menembus barisan para karyawan yang
menonton kejadian ini.
Anne masih syok dengan apa yang baru saja di alaminya, ia tak bisa membayangkan nasibnya jika papan itu akan jatuh di kepalanya.
"Anne kamu tidakapa kan?" Max mendekat, saat itu kesadaran Anne pun pulih.
la segera menatap Max.
"Ya, aku tidak apa Max."
Max masih mengurai masalah ini, ia pun baru menyadari jika Davin telah menolong Anne.
Kini ia berfikir bahwa secara tidak langsung Davin tengah mencari-cari perhatian Anne kembali dengan menyelamatkannya.
"Kalau begitu mari kita ke kantin, ku temani kalian." lanjut Max menggiring Anne, dan Alista.
Semua orang yang berkerumun melihat mereka tadi langsung berhambur.
Anne masih berusaha meredakan degup
jantungnya, di saat itu ia mengingat ekspresi Viktor tadi, pria itu terlihat tak suka saat ia menawarkan pertolongan untuk Davin, ada apa?