"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Dan Mama Gak Akan Cerai Kan?
Arelio baru saja selesai mengikuti latihan rutin untuk persiapan lomba di hari Minggu nanti. Anak laki-laki itu berjalan perlahan keluar dari gerbang sekolahnya, kedua tangannya memegang erat tali ransel hitam yang menggantung di bahunya. Matanya tanpa sengaja memperhatikan keriuhan di depan gerbang, tempat para siswa lain disambut hangat oleh ayah mereka, beberapa ditepuk bahunya, beberapa disambut dengan usapan di kepala. Pemandangan biasa yang setiap hari disaksikan oleh bocah sembilan tahun itu. Namun, Arelio yang sudah terbiasa dengan ketidakberadaan ayahnya memilih mengabaikan pemandangan tersebut dan melangkah cuek.
"Arelio! Mana sepedamu?"
Arelio mendadak menoleh ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Ia menatap seorang anak laki-laki bertubuh agak gempal seusianya yang berjalan menghampiri.
"Aku enggak bawa sepeda, diantar Papa tadi," ucap Arelio pelan, hampir tak terdengar.
Arsen, temannya itu, mendelik tak percaya. "Wah, diantar? Apa sekarang ada gajah terbang?"
Arelio mendongak, diam menatap langit sore yang mulai menguning. Temannya saja sampai tak menyangka sang ayah mau mengantarnya sekolah, apalagi dirinya sendiri yang menjalani. Rasanya masih seperti mimpi di siang bolong.
"Tumben dia mengantar. Bentar lagi pasti dijemput, kan?" tanya Arsen penasaran, yang langsung dibalas gelengan pasrah oleh Arelio.
"Tak usah berharap dengan orang itu, dia tak jauh dari orang sibuk," ucap Arelio memutar bola matanya malas, lalu menghembuskan napas panjang.
"Arel!"
Panggilan nyaring itu membuat Arelio dan Arsen terkejut bersamaan. Keduanya menoleh cepat ke arah sumber suara. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di tepi jalan. Kaca mobil diturunkan perlahan, menampilkan sosok Ezran yang mengulas senyum tipis dari balik kemudi. Arelio mematung di tempatnya, begitu pula Arsen yang berdiri di sebelahnya.
"Maaf Papa terlambat. Adikmu minta ikut, jadi nunggu dia mandi dulu," ucap Ezran memberi alasan.
Di kursi penumpang samping kemudi, Senara yang sedang melipat kedua tangannya di dada melirik tak suka ke arah Ezran. "Pelacaan dia yang belak, kenapa dili ini yang belkolban," gumam anak kecil itu bersungut-sungut. Namun, Ezran pura-pura tidak mendengar ocehan putri kecilnya.
Arelio menatap Arsen sejenak sebelum melangkah ragu masuk ke dalam mobil bagian belakang. Jujur saja, kepalanya makin dipenuhi teka-teki. Sangat bingung. Kejadian demi kejadian hari ini membuat harinya terasa asing dan serba aneh.
Ezran bersiap menaikkan kembali kaca mobilnya, tetapi matanya menatap Arsen yang masih berdiri melongo di tepi jalan seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Mana ayahmu, Gembrot? Cari janda baru, kah?" celetuk Ezran dengan senyum jahil.
Arsen yang tersentak spontan mengatupkan mulutnya yang terbuka lebar. "Tahu aja lagi dia," gumam Arsen pelan, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ezran terkekeh kecil, lalu memutar kemudi dan melajukan mobilnya membelah jalanan sore. Matanya sesekali melirik ke arah spion tengah, memperhatikan Arelio yang duduk diam membisu sambil menatap ke luar jendela. Anak itu terlihat begitu canggung di dekatnya. Ezran mendesah dalam hati. Oh ayolah, bukankah mereka ayah dan anak? Kenapa bisa secanggung ini seperti dua orang asing yang tak sengaja berteduh di tempat yang sama?
"Temanmu itu siapa namanya?" tanya Ezran membuka percakapan untuk memecah keheningan yang kaku.
"Arsen," balas Arelio singkat tanpa menoleh.
"Ooo Alcen ... Cena kila namanya Gemblot," ucap Senara polos dengan mata membulat sempurna, membuat Ezran melirik kesal padanya.
"Memangnya kamu gak gembrot? Udah kriwil gembrot pula, mirip bakso mie kuning kamu!" desis Arelio yang membuat Senara ingin beranjak berdiri dan mencakarnya. Namun, Ezran langsung menangahi.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar. Oh ya, temanmu enggak dijemput?" tanya Ezran lagi, pandangannya kembali tertuju pada spion tengah agar dapat melihat pantulan wajah putranya.
"Ayahnya kepala sekolah, lagi PDKT-an sama guru," ucap Arelio datar.
"Oh ya? Istrinya pasti ngamuk di rumah itu," gumam Ezran menanggapi.
Arelio menghela napas pelan, menatap lurus ke depan. "Katanya udah cerai."
Ezran membulatkan mulutnya membentuk huruf O, lalu menggelengkan kepala memprihatinkan hal itu. "Orang tua begitu egois. Bercerai dan anak menjadi korban."
Arelio yang mendengar kalimat itu mendadak terdiam. Tubuhnya menegak. Pandangannya yang semula tertuju pada jalanan luar kini sepenuhnya teralih pada punggung Ezran yang sedang fokus menyetir di depan. Kalimat itu terasa sangat sensitif dengan ingatan Arelio tentang sosok papanya yang selama ini selalu dingin, tak peduli, dan kerap mengabaikan rumah tangga.
Dengan nada suara yang sangat pelan dan gemetar, Arelio memberanikan diri bertanya.
"Papa dan Mama ... enggak akan cerai, kan?"
Degh!
Pertanyaan sederhana dari mulut anak sembilan tahun itu seolah menjadi hantaman keras yang menghujam dada Ezran. Jarinya yang mencengkeram kemudi mendadak membeku. Di dalam ruangan mobil yang ber-AC dingin itu, peluh dingin perlahan membasahi tengkuknya. Ezran menatap pantulan mata Arelio di spion tengah, mata yang menyimpan ketakutan mendalam akan perpisahan, mata yang selama ini merindukan sosok ayah yang utuh.
"Enggak masalah Papa sibuk, aku dah terbiasa tanpa Papa. Tapi setidaknya, aku masih bisa lihat Papa tidur di rumah walau kita tidak mengobrol," ucap Ezran pelan.
10 tahun,km di cuekin..dah lah ceraikan ajj abis ini,Deket sama evran ajj lah.
justru ada nya Evran keluarga kamu jadi harmonis ..