Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERASA BODOH
Keesokan harinya, matahari bersinar terang menyinari lingkungan kampus. Di halaman depan gedung sekretariat MAPALA, terlihat sesosok pemuda sedang berbaring santai di atas lantai ubin yang teduh, kepalanya bersandar pada salah satu tiang penyangga gedung sambil membetulkan posisi buku yang sedang dibacanya. Itu adalah Doni. Matanya bergerak perlahan menyusuri baris demi baris tulisan di halaman buku yang digenggamnya, seakan tak memedulikan apa pun yang terjadi di sekelilingnya. Dunia seakan miliknya sendiri, dan tak ada satu pun yang berhak mengganggu ketenangannya saat itu.
Tak lama berselang, langkah kaki terdengar mendekat. Kevin berjalan menghampiri Doni dengan wajah yang tampak penuh tanya. Ia berhenti tepat di samping tubuh Doni yang masih berbaring tenang, lalu membuka suaranya.
"Doni..." panggil Kevin. "Kenapa kau tidak masuk kelas kemarin? Dan tadi pagi pun kau tidak terlihat di ruang kuliah."
Doni sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang sedang dibacanya. Ia tetap diam, seakan tak mendengar pertanyaan itu. Kevin yang tak mendapatkan jawaban, akhirnya menunduk sedikit dan melihat selembar plester putih yang menempel di bagian atas pelipis Doni. Pandangan matanya seketika berubah menjadi cemas sekaligus tak setuju.
"Jangan bilang..." ucap Kevin perlahan. "Kau terlibat tawuran lagi?"
Baru saat itu, Doni perlahan menutup bukunya dan mendongak menatap Kevin dengan tatapan yang datar. "Suaramu terlalu berisik. Kau mengganggu waktuku membaca di siang hari yang terik ini."
Kevin belum sempat menanggapi ucapan itu, ketika dua sosok gadis berjalan mendekat ke arah mereka. Itu adalah Kristin dan Cintya. Keduanya berjalan beriringan sambil tersenyum ramah melihat kedua senior mereka yang sedang berdiri di depan gedung. Sesampainya di dekat mereka, Kristin dan Cintya menyapa dengan sopan.
"Selamat siang, Kak Kevin..." sapa mereka seraya melirik ke arah Doni. "Selamat siang, Kak Doni..."
Kevin tersenyum menyambut sapaan itu dan mengangguk ramah. "Selamat siang, kalian berdua. Ada keperluan apa ke sini?"
Berbeda dengan Kevin, Doni sama sekali tidak menanggapi sapaan itu. Ia kembali membetulkan posisi berbaringnya, membuka kembali bukunya, dan seakan tak melihat kehadiran kedua gadis itu. Sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh membuat Kristin dan Cintya saling berpandangan sejenak, namun mereka memilih untuk tidak mempermasalahkannya.
Pandangan Kevin kemudian jatuh pada benda besar yang sedang dipeluk erat oleh Kristin. Sebuah kantong tidur yang terlihat sudah terlipat rapi. Sesaat itu juga, sebuah ide tiba-tiba melintas di benak Kevin. Ia berdehem pelan, lalu menatap Cintya sambil tersenyum.
"Cintya..." panggil Kevin pelan. "Kau ikut aku sebentar yuk. Di seberang sana ada swalayan kecil, aku ingin membeli minuman dingin dan camilan. Rasanya udara siang ini cukup menyengat, haus sekali rasanya."
Cintya mengerjap bingung sejenak. Ia melirik ke arah Kristin, lalu kembali menatap Kevin. "Boleh saja, Kak..."
"Kalau begitu, ayo sekarang," ajak Kevin sambil melambaikan tangan pada Kristin seakan memberi isyarat agar gadis itu menunggu di sana. "Kalian berdua mengobrol dulu saja. Kami sebentar saja kok."
Tanpa menunggu jawaban Cintya, Kevin pun berjalan lebih dulu meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Cintya yang tampak masih bingung namun tetap menuruti ajakan seniornya. Kini, tinggallah Kristin sendirian berdiri di samping Doni yang masih sibuk dengan bukunya. Suasana hening sejenak, dan Kristin perlahan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak sedikit lebih kencang.
Kristin memberanikan diri untuk membuka suara. "Kak Doni..."
Doni tidak langsung menjawab. Ia membalik satu lembar halaman bukunya terlebih dahulu, baru kemudian berkata dengan nada datar. "Apa?"
Kristin menatap kantong tidur yang dipeluknya erat, lalu menatap punggung Doni. "Apakah kantong tidur ini milik Kak Doni?"
Doni akhirnya menutup bukunya dan menoleh sedikit ke arah Kristin. Matanya menatap tajam namun penuh tanya. "Atas dasar apa kau bertanya seperti itu?"
Pertanyaan balasan itu terdengar begitu menyudutkan, membuat Kristin seketika merasa kesal. Ia menatap wajah Doni dengan perasaan yang bercampur aduk antara malu dan jengkel.
"Kalau tidak ada Kak Adit yang memberitahuku siapa pemiliknya..." jawab Kristin sedikit meninggikan suaranya, "...mungkin aku sudah mengira ini kiriman dari makhluk asing yang datang dari luar angkasa!"
Mendengar jawaban yang tidak terduga itu, sudut bibir Doni seketika bergetar menahan senyum. Ia hampir saja tertawa mendengar jawaban polos namun pedas dari gadis di hadapannya itu. Dengan tetap berusaha terlihat tenang, Doni akhirnya mengangguk pelan.
"Ya, itu milikku," akuinya singkat.
Kristin pun segera menyerahkan kantong tidur itu kepada Doni. Saat benda itu berpindah tangan, bibir Kristin bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu yang lain, namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan. Ia tampak ragu, matanya menatap lantai sesaat sebelum kembali menatap wajah Doni yang sedang menatapnya lekat-lekat.
Melihat keraguan yang tampak jelas di wajah Kristin, Doni pun bersuara lebih dulu. "Katakan apa yang hendak kau katakan. Jangan dipendam begitu saja. Lebih baik merasa malu sesaat namun semua yang ingin kau sampaikan terucap, daripada kau simpan sendiri dan akhirnya tak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya."
Nada suara Doni terdengar tenang namun tegas, seakan memberikan kekuatan pada hati Kristin yang sedang dilanda keraguan. Kristin menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Doni.
"Baiklah..." ucap Kristin pelan namun mantap. "Aku ingin bertanya... kenapa Kak Doni terkadang bersikap begitu perhatian kepadaku, namun di saat yang lain bersikap begitu dingin, cuek, dan seakan tak mengenalku sama sekali? Apa maksud dari sikap Kak Doni yang berubah-ubah seperti itu?"
Doni menatap wajah Kristin cukup lama tanpa berkedip. Setelah sejenak terdiam, ia justru bertanya balik. "Apakah hanya itu yang hendak kau tanyakan?"
Hati Kristin kembali berdebar kencang. Ada pertanyaan lain yang jauh lebih berat dan lebih sulit untuk diucapkan. Namun di bawah tatapan mata Doni yang seakan mampu membaca isi hatinya, Kristin memberanikan diri untuk mengucapkannya juga. Wajahnya perlahan merona merah, namun ia tak memalingkan wajahnya sedikit pun.
"Ada satu pertanyaan lagi..." ucap Kristin dengan suara yang sedikit bergetar. "Apakah... Kak Doni tertarik padaku?"
Detik itu juga, Doni tertawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang tulus dan lepas. Senyum yang begitu lebar dan terang tersungging di bibirnya, sesuatu yang sangat jarang dilihat oleh siapa pun, termasuk Kristin. Doni menatap wajah Kristin yang sudah merah padam itu sambil tersenyum lebar.
"Sebuah hal yang harus kau catat di kalendermu sebagai hari bersejarah, Kristin..." ucap Doni di sela tawanya. "Sebab senyum dan tawaku ini sangat jarang terjadi."
Setelah cukup lama menikmati kegugupan wajah Kristin, Doni akhirnya menata kembali sikapnya dan mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan gadis itu satu per satu dengan tenang.
"Pertama..." ucap Doni sambil menatap lurus ke mata Kristin. "Aku bersikap demikian karena aku memegang tanggung jawab sebagai ketua panitia kegiatan. Aku tidak ingin ada satu pun peserta yang terluka, sakit, atau mengalami hal-hal yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung. Tidak lebih dari itu."
Kristin mendengarkan sambil menahan napas.
"Kedua..." lanjut Doni sambil menyerahkan kembali kantong tidur itu kepada tangan Kristin. "Saat hendak mengembalikan barang milik orang lain, setidaknya sudah dicuci terlebih dahulu. Siapa yang tahu, mungkin saja ada bekas air liur atau kotoran yang menempel di sana."
Wajah Kristin seketika terasa semakin panas. Ia baru saja teringat bahwa kantong tidur itu memang belum sempat dicuci sama sekali sebelum dikembalikannya. Rasa malu seketika menyelimuti hatinya.
"Dan untuk jawaban atas pertanyaan ketigamu..." Doni terdiam sejenak, menatap wajah Kristin yang tampak menahan napas menantikan jawabannya, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berubah namun tetap terdengar lembut. "Sampai saat ini, aku belum pernah berpikir untuk menyukai siapa pun. Termasuk kau."
Hati Kristin seketika terasa sepi mendengar kalimat itu. Namun sebelum ia sempat merasa kecewa, Doni kembali tersenyum dan melanjutkan ucapannya.
"Tapi..." tambahnya pelan sambil menatap mata Kristin lekat-lekat. "Jika kau berusaha dan terus berusaha... mungkin saja suatu saat nanti hatiku akan terbuka untukmu."
Wajah Kristin seketika memerah padam mendengar kalimat terakhir itu. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga rasanya hampir meledak di dalam dada. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun sebagai balasan, Kristin seketika berbalik badan dan berlari meninggalkan tempat itu dengan langkah yang terburu-buru, seakan takut jika ia berlama-lama di sana, wajahnya akan semakin merah dan terlihat semakin bodoh di mata Doni.
Melihat punggung Kristin yang berlari menjauh, Doni hanya tertawa kecil sendirian. Ia kembali berbaring di posisinya sembari menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Sementara itu, di sepanjang jalan yang dilaluinya, hati Kristin terasa begitu kacau. Ia terus berjalan cepat sambil menunduk dalam, memukul-mukul pelan dahinya sendiri dengan punggung tangan.
"Kenapa aku bisa begitu bodoh siang ini..." gumamnya sendiri dengan suara yang penuh rasa malu. "Pertanyaanku tadi... seakan-akan aku sudah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Seakan aku menyukainya dan berharap dia juga menyukaiku."
Kristin menghentakkan kakinya pelan di tanah. "Kenapa aku harus berkata begitu? Amit-amit... kenapa aku sampai berharap pada seorang berandalan seperti Doni?"
Namun seketika itu juga, bayangan senyum Doni kembali melintas di benaknya. Senyum yang begitu tulus, begitu menawan, dan begitu jarang diperlihatkan kepada siapa pun. Senyum yang seakan ditujukan khusus untuknya siang itu. Bayangan itu membuat langkah kaki Kristin perlahan melambat. Rasa malu bercampur dengan perasaan yang tak sanggup ia gambarkan dengan kata-kata, membuatnya semakin bingung menentukan isi hatinya sendiri.