Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : SENYUM YANG MEMBUAT BUNDA RANTI GERAM
...BAB 19...
...SENYUM YANG MEMBUAT BUNDA RANTI GERAM...
Minggu kedua Nyonya Ranti tinggal di rumah Rian akhirnya tiba.
Hari itu bertepatan dengan hari libur Rian. Sejak pagi, suasana rumah sudah cukup ramai oleh suara anak-anak yang bermain di ruang keluarga.
Rana duduk di atas karpet sambil menyusun balok warna-warni. Delon dan Astrid ikut menemaninya, sesekali membantu ketika bangunan kecil yang mereka buat roboh.
“Mama, lihat! Ini rumah buat Rana!” seru Astrid.
Wulan yang sedang berjalan melewati ruang keluarga tersenyum.
“Wah, bagus sekali. Nanti kalau sudah selesai, jangan dirusak, ya.”
Delon mengangkat satu balok.
“Kalau rusak, kita bikin lagi, Ma.”
“Iya, tapi jangan sampai berantakan semua. Nanti kalian sendiri yang membereskan.”
Ketiganya tertawa.
Dari sofa, Ranti memperhatikan mereka dengan wajah datar. Ia sebenarnya tidak keberatan melihat cucunya bermain bersama Delon dan Astrid. Namun, ia tetap merasa hubungan Wulan dengan Rana sudah terlalu dekat.
Apalagi beberapa kali Rana masih keceplosan memanggil Wulan dengan sebutan Mama Wulan.
Ranti sudah berulang kali mengingatkannya agar memanggil Bibi Wulan, tetapi anak itu selalu kembali pada panggilan kesayangannya.
Dan yang membuat Ranti semakin tidak nyaman, Rian seolah tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah.
“Wulan,” panggil Rian dari arah dapur.
Wulan menoleh. “Iya, Pak?”
“Bantu aku sebentar, dong.”
Wulan menghampirinya. “Ada apa, Pak?”
Rian berdiri di depan meja dapur dengan beberapa bahan makanan yang sudah disiapkan.
“Kita masak makan siang.”
Wulan sedikit terkejut. “Bapak mau memasak?”
“Memangnya kenapa? Aku kelihatan nggak bisa masak?”
Wulan menahan senyum. “Bukan begitu, Pak.”
“Terus?”
“Saya hanya belum pernah melihat Bapak memasak.”
Rian mengangguk seolah baru memahami sesuatu. “Berarti selama ini kamu meremehkan kemampuan memasakku.”
“Tidak, Pak.”
“Bagus. Kalau begitu, hari ini kamu akan menyaksikan kehebatan seorang Rian.”
Wulan akhirnya tersenyum. Namun, senyumnya langsung berubah menjadi ragu ketika melihat Rian mengambil pisau.
“Pak, hati-hati.”
“Tenang saja.” Rian mulai memotong bawang.
Belum sampai beberapa potong, ia malah mengernyit. “Ini bawang kenapa bikin mata perih, sih?” matanya berkedip-kedip menahan rasa perih.
Wulan yang sedang mencuci sayuran menoleh. “Ya memang begitu, Pak.”
“Harusnya ada bawang yang nggak bikin orang menangis.”
Wulan tertawa kecil. “Kalau begitu, Bapak saja yang menciptakannya.”
Rian menoleh dengan wajah serius. “Boleh juga. Nanti aku patenkan. Bawang anti-air mata.”
Wulan kembali tertawa. Lesung pipinya terlihat jelas ketika senyumnya semakin lebar.
Rian sempat terdiam sesaat. Bukan karena ia sengaja memperhatikan senyum itu.
Namun, sudah beberapa hari ini Wulan lebih sering terlihat murung dan menjaga jarak. Melihat perempuan itu tertawa lepas seperti sekarang membuatnya merasa sedikit lega.
Setidaknya, Wulan tidak terus-menerus merasa tertekan di rumahnya.
Rian kembali melanjutkan pekerjaannya. “Wulan, ini bawangnya sudah cukup?”
Wulan melirik talenan. “Pak, itu baru satu siung.”
Rian terdiam. “Serius?”
“Iya.”
“Pantas dari tadi aku merasa pekerjaan ini nggak selesai-selesai.”
Wulan menggeleng sambil tersenyum. “Biar saya saja yang memotong bawangnya.”
“Lho, katanya aku harus belajar?”
“Belajar boleh, Pak. Tapi kalau makan siangnya mau selesai hari ini, sebaiknya saya bantu.”
Rian tertawa. “Baiklah. Aku mengalah.”
Dari ruang keluarga, Ranti melihat semuanya.
Senyum Wulan dan tawa Rian. Cara putranya berdiri santai di dekat perempuan itu, bahkan sesekali sengaja melontarkan candaan yang membuat Wulan tertawa lagi.
Ranti mengepalkan jemarinya di atas pangkuan. "Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Rian? Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa Wulan hanyalah pengasuh Rana? Lalu kenapa sekarang ia terlihat begitu menikmati waktu bersama perempuan itu?" geramnya pelan, menahan kesal.
Di dapur, suasana semakin ramai.
Rian mencoba mengaduk bumbu di wajan, sementara Wulan menyiapkan bahan lainnya.
“Pak, apinya jangan terlalu besar.”
Rian menoleh. “Kenapa?”
“Nanti gosong.”
“Kalau gosong, kita pesan makanan saja.”
Wulan menggeleng. “Bapak ini bagaimana? Bahan makanannya sudah disiapkan.”
“Ya sudah. Aku kecilkan.” Rian memutar kenop kompor. Namun, bukannya mengecil, api justru membesar.
Wulan langsung mendekat. “Ya Allah Pak! Itu malah tambah besar!”
Rian terkejut. “Lho, kok bisa?”
Wulan segera membantu mengecilkan api. Setelah keadaan kembali aman, ia menatap Rian dengan wajah geli. “Bapak yakin pernah memasak?” tanya Wulan ragu.
Rian memasang wajah tersinggung. “Wulan, kamu mulai meragukan aku, ya?”
“Maaf, Pak.”
“Tadi kamu bilang aku hebat.” kata Rian.
“Kapan? Saya belum pernah bilang begitu.” bantah Wulan.
Rian terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa. “Benar juga.” Wulan ikut tertawa.
Kali ini, Rian sengaja membiarkan dirinya terlihat konyol.
Ia tahu Wulan sedang berusaha keras menjaga jarak sejak ibunya datang. Perempuan itu bahkan beberapa kali terlihat takut melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Ranti kembali marah.
Rian tidak ingin Wulan terus merasa seperti itu. Ia ingin perempuan tersebut merasa nyaman bekerja di rumahnya. Bukan berarti ia sedang memikirkan sesuatu yang lebih jauh.
Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri. Ia hanya tidak ingin Wulan pergi karena perlakuan ibunya, itu saja.
“Rian!” Suara Ranti membuat keduanya menoleh.
Ranti berdiri di ambang pintu dapur. “Kamu sedang apa?”
Rian menunjuk wajan. “Masak, Bunda.”
“Bunda bisa lihat.”
“Kalau begitu, kenapa masih bertanya?”
Ranti menghela napas. “Bunda tidak menyangka kamu sampai ikut memasak.”
“Memangnya salah?”
“Biasanya kamu tidak punya waktu untuk hal seperti ini.”
“Sekarang aku sedang libur.”
Ranti melirik Wulan. “Bukankah seharusnya Wulan yang mengerjakan semuanya?”
Rian mengernyit. “Wulan sudah banyak membantu. Dia memang bekerja di rumah ini. Dan aku juga bisa membantunya di dapur.”
Ranti terdiam sesaat. Kemudian ia berkata dengan nada yang terdengar dibuat santai.
“Sepertinya kamu semakin betah berada di rumah.” sindirnya.
Rian tersenyum tipis. “Memangnya aku harus pergi ke mana?”
“Bunda tidak mengatakan begitu.” sangkal Ranti.
“Lalu?”
Ranti mengalihkan pandangan. “Sudahlah. Bunda hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.”
Rian kembali mengaduk masakan. “Baik-baik saja, kok.”
Ranti tidak menjawab lagi. Ia justru semakin kesal ketika melihat Rian kembali bercanda dengan Wulan.
“Wulan, coba rasakan ini.” Rian menyodorkan sendok kecil berisi kuah.
Wulan mencicipinya. “Sudah enak, Pak.”
“Jangan bohong.”
“Saya tidak bohong.”
“Kalau terlalu asin, bilang saja. Aku nggak akan marah.”
Wulan tersenyum. “Kayaknya, sedikit kurang garam.”
Rian langsung menoleh. “Lho, tadi katanya enak?”
“Enak sih, Pak. Tapi kalau ditambah sedikit garam, mungkin lebih pas.”
Rian pura-pura menghela napas. “Baiklah. Ternyata menjadi koki itu berat.” keluhnya. Wulan tertawa lagi.
Ranti yang masih berdiri di sana akhirnya tidak tahan. “Rian, Bunda ingin bicara denganmu.” titahnya tiba-tiba.
Rian menghentikan gerakannya. “Sekarang?”
“Iya. Sebentar saja.”
Rian melirik masakan di atas kompor. “Bunda tunggu sebentar. Ini hampir selesai.”
“Sekarang, Rian.” Nada suara ibunya terdengar lebih tegas.
Rian menghela napas. “Baiklah.” Ia menoleh kepada Wulan.
“Tolong matikan kompor sebentar, ya.”
“Baik, Pak.”
Rian mengikuti ibunya keluar dari dapur. Senyum Wulan perlahan menghilang. Ia tahu, kemungkinan besar dirinya kembali menjadi bahan pembicaraan.
Di ruang keluarga, Ranti langsung duduk. Rian berdiri di hadapannya.
“Ada apa, Bunda?”
Ranti menatap serius putranya. “Bunda ingin kamu menjaga sikap.”
Rian mengernyit. “Sikap apa?”
“Jangan terlalu dekat dengan Wulan.”
Rian menghela napas. “Bunda, kita sudah membicarakan ini.”
“Dan Bunda melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukannya.”
“Aku hanya bercanda.”
“Kamu terlihat sangat menikmati waktumu bersama dia.”
Rian terdiam. Ia tidak bisa menyangkal bahwa tadi dirinya memang merasa senang melihat Wulan tertawa.
Namun, ia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
“Wulan belakangan ini terlihat tertekan. Aku hanya ingin dia merasa nyaman.”
“Kalau dia merasa tertekan, mungkin memang sebaiknya dia mencari pekerjaan lain.” sarannya.
Rian langsung mengernyit. “Bunda.”
“Apa?”
“Aku sudah bilang, jangan menyuruhnya pergi.”
“Bunda tidak menyuruhnya pergi. Bunda hanya mengatakan kemungkinan.”
Rian mengusap wajahnya. “Aku nggak mau membahas ini lagi.”
“Rian, dengarkan Bunda.” Ranti kembali menatap putranya serius. “Kamu baru saja bercerai. Seharusnya kamu mulai memikirkan masa depanmu.”
“Aku memang sedang memikirkan masa depan.”
“Kalau begitu, kamu harus mencari calon istri.”
Rian menghela napas panjang. “Bunda, aku belum ingin menikah lagi.”
“Kamu tidak bisa terus sendirian. Rian!”
“Aku tidak sendirian. Ada Rana.”
“Tapi Rana membutuhkan seorang ibu.”
Rian terdiam. Ranti melanjutkan. “Kalau memang kamu tidak bisa kembali dengan Nita, Bunda akan mencarikan perempuan lain untukmu.”
Rian langsung menatap ibunya. “Bunda, tolong jangan mulai.”
“Bunda ini serius, Rian!"
“Aku juga serius. Aku belum ingin menikah.”
“Setidaknya kamu harus mulai mengenal perempuan yang cocok.”
Rian menggeleng. “Jangan atur hidupku seperti itu.”
Ranti terdiam beberapa saat. Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa ia belum menyerah.
Sementara itu, Wulan masih berada di dapur. Ia bisa mendengar suara Rian dan Ranti yang sesekali meninggi dari ruang keluarga.
Wulan tidak dapat menangkap seluruh percakapan mereka.
Namun ia tahu, pembicaraan itu pasti kembali berkaitan dengannya. Ia menghela napas pelan.
"Semoga Rian tidak bertengkar terlalu lama dengan ibunya..." gumamnya pelan.
Bersambung...