Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merelakanmu
Di dalam kamarku yang tenang, percakapan antara aku dan Kania masih berlangsung hangat. Tiba-tiba, dering ponsel Kania memecah keheningan. Kania merogoh saku seragamnya, melihat layar yang menyala, lalu mengangkatnya dengan nada santai.
"Iya, Bunda?" sapa Kania.
Rupanya Bunda menelepon untuk menanyakan keberadaannya. Kania memang bukan tipe remaja yang suka keluyuran atau main ke rumah teman sepulang sekolah, jadi wajar jika Bundanya mencari tahu.
"Nia lagi di rumah Sera, Bunda... Iya, tadi pulang sekolah langsung ke sini," jelas Kania polos.
Kudengar suara tawa lega Bunda dari seberang telepon. Bunda merasa tenang mengetahui Kania berada di rumahku, namun tetap menyisipkan pesan hangat agar Kania tidak merepotkan keluargaku.
"Iya, Bunda. Nia enggak nakal kok. Yaudah ya, Bunda," tutup Kania seraya mematikan sambungan telepon.
Aku tersenyum tipis menatap sahabatku itu. "Nia, mau makan siang dulu enggak?"
Kania menyunggingkan senyum manis seraya mengelus perutnya, lalu menggeleng pelan. "Enggak usah, Ser. Makasih ya, Nia masih kenyang."
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu kamar mendadak terdengar dari luar. Aku dan Kania saling melempar pandang sejenak sebelum aku berjalan mendekati pintu dan membukanya. Ayah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah netral.
"Sera, Kania... ini di ruang tamu ada Adrian. Katanya mau jemput Kania pulang," tutur Ayah pelan.
Mendengar nama itu disebut, dadaku seketika berdesir tegang. Kania melangkah berdiri dari tepi kasur, memasang raut wajah heran sekaligus kesal. Kami berdua melangkah keluar kamar menyusuri koridor rumah menuju ruang tamu.
Di sana, Adrian berdiri menanti. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa lelah yang ganjil. Begitu matanya menatapku, binar kerinduan dan keputusasaan memancar kuat dari manik matanya, namun aku buru-buru memalingkan pandangan.
"Nia, ayo pulang. Bunda nyuruh kamu pulang sekarang," ucap Adrian dengan suara yang dipaksakan tenang.
Kania menyilangkan tangan di dada, menatap abangnya dengan alis bertaut. "Loh? Maksud Mas apa sih? Baru aja semenit lalu Nia teleponan sama Bunda, dan Bunda sama sekali enggak nyuruh Nia pulang kok."
Adrian tertegun sejenak, tampak salah tingkah karena kebohongannya mentah-mentah dipatahkan di depan Ayah dan aku. Ia mengusap tengkuknya seraya berdeham pelan.
"Maksud Mas... Ayah," kilih Adrian cepat seraya mengoreksi ucapannya. "Ayah yang nyuruh kamu datang ke bengkel sekarang. Ada hal penting yang mau diomongin Ayah sama kamu."
Kania menghembuskan napas gusar. Tahu bahwa ia tidak memiliki alasan lagi untuk mengelak di depan Ayahku, Kania akhirnya menyerah.
"Yaudah deh," cetus Kania lelah. Ia kemudian menoleh pada Ayahku dan menyodorkan tangannya. "Om, Kania pamit pulang dulu ya. Makasih banyak udah diizinkan main ke sini."
"Iya, Kania. Hati-hati di jalan ya, Nak. Sering-sering main ke sini," balas Ayah hangat.
Kania merangkul bahuku sebentar, membisikkan kata penyemangat sebelum berjalan mendahului menuju pintu depan.
Saat giliran Adrian berbalik dan melangkah melintasiku di ambang pintu teras, posisinya bergeser teramat dekat dengan tempatku berdiri. Di tengah keheningan singkat dan tanpa sepengetahuan Ayah atau Kania yang sudah berjalan di halaman, Adrian memiringkan kepalanya sedikit ke arahku.
"Mas masih sayang sama kamu..." bisik Adrian lirih, begitu parau dan sarat akan keputusasaan di dekat telingaku.
Deg.
Bisikan singkat itu serasa menancapkan belati dingin tepat di pusat dadaku. Hatiku rasanya hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Bagaimana bisa pria yang telah menyimpan begitu banyak kebohongan busuk di belakangku masih sanggup mengucapkan kalimat manis itu tanpa rasa bersalah?
Aku berdiri membatu di teras, memandangi punggung Adrian yang melangkah pergi menyusul Kania menuju motor besarnya, meninggalkan rasa perih yang teramat menyesakkan di dalam relung jiwaku.
Keesokan harinya di sekolah, Kania langsung menungguku di dekat pintu kelas begitu aku melangkah masuk. Wajah sahabatku itu dipenuhi oleh kecemasan dan ketegangan yang membuncah. Tanpa buang waktu, Kania menarik lenganku menuju bangku kami di sudut belakang.
"Sera, kamu harus tahu apa yang terjadi kemarin sepulang dari rumah kamu!" bisik Kania dengan nada bersalah yang teramat besar.
Aku menatap Kania lekat-lekat. "Kenapa, Nia?"
"Mas Iyan bohong, Ser!" ceritanya dengan napas tersengal pelan. "Ayah sama sekali enggak ada nyuruh Nia pulang ke bengkel! Begitu sampai di bengkel Ayah, Mas Iyan langsung interogasi Nia habis-habisan!"
"Dia tanya apa aja?"
"Dia pengin tahu apa aja yang udah Nia ceritain ke kamu, dan apa aja yang kamu ceritain ke Nia," lanjut Kania seraya memegang jemariku. "Nia cerita jujur semuanya. Nia bilang kalau Sera udah tahu soal wanita lain dan udah enggak mau lagi berhubungan sama Mas Iyan. Tapi pas Nia balik bertanya sama dia, 'Mas, siapa cewek yang nama kontaknya Sayang 2 itu?', Mas Iyan langsung diam aja!"
Aku menyimak setiap patah kata Kania dengan dada yang kian berdebar.
"Terus enggak lama dari itu, Ayah memanggil Mas Iyan dari dalam bengkel," kata Kania lagi. "Mas Iyan masuk ke dalam, tapi ponselnya ketinggalan tergeletak begitu aja di meja. Karena Nia penasaran setengah mati, Nia langsung buka HP-nya."
Kania mendekatkan wajahnya, membisikkan kenyataan yang membuat duniaku serasa runtuh sepenuhnya.
"Nia mikir begini, Ser... kalau cewek selingkuhannya diberi nama kontak Sayang 2, berarti nama kamu pasti disimpan sebagai Sayang 1, kan? Nia langsung buka daftar kontaknya, Nia cocokkan nomor HP kamu sama kontak di HP-nya..." Kania menelan ludah gatal di tenggorokannya. "Tapi nomor kamu ternyata cuma disimpan pake nama kontak Myfw."
Aku membelalakkan mata. "Bukan Sayang 1?"
Kania menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang teramat syok. "Bukan, Sera! Nia langsung menaruh lagi HP itu ke tempat semula karena Nia membatu seketika. Itu artinya... Mas Iyan tuh enggak cuma selingkuh sama satu cewek! Di HP-nya masih ada nama kontak Sayang 1 yang kita sama sekali enggak tahu siapa mereka!"
Sayang 1. Sayang 2. Sabrina. Dan namaku yang hanya tersimpan sebagai singkatan ganjil.
Mendengar penjelasan Kania, hatiku yang tadinya mulai menata diri seketika kembali kacau tak berbentuk. Rasa sakit, mual, dan kekecewaan yang luar biasa berkecamuk menyiksa benakku. Pria yang selama hampir satu tahun ini kuanggap sebagai sosok penyayang dan tulus ternyata menyimpan begitu banyak wanita di dalam hidupnya.
Namun, di tengah pusaran rasa sakit yang menghantam, sebuah kesadaran yang teramat jernih mendadak menyusup ke dalam sanubariku.
Tuhan sedang bekerja. Tuhan sedang membukakan seluruh tabir busuk ini lebar-lebar di depan mataku hanya untuk satu alasan: menyelamatkanku dari pria yang salah sebelum aku melangkah terlalu jauh.
Aku menarik napas panjang yang teramat dalam, menghembuskannya perlahan seraya menghapus setitik air mata di sudut mataku. Aku menatap Kania dengan senyum tipis yang tulus.
"Sera udah ikhlas, Nia..." bisikku pelan namun teramat mantap. "Sera udah menerima semua ini. Kamu enggak usah capek-capek nyari tahu lagi siapa nama cewek-cewek selingkuhan Mas Adrian itu. Semuanya udah selesai."
Mendengar ketegaran dari bibirku, mata Kania seketika berkaca-kaca. Tanpa berkata-kata lagi, Kania langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang erat.
"Maafin Mas Iyan ya, Ser..." bisik Kania terisak pelan di bahuku. "Maafin kelakuan abang Nia yang udah bikin kamu sakit hati..."
Aku menepuk-nepuk punggung sahabatku itu lembut, menandakan bahwa persahabatan kami tidak akan pernah ternoda oleh kesalahan abangnya. Tak lama kemudian, bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi nyaring, memutus obrolan emosional kami dan mengembalikan suasana kelas menuju ketenangan biasa.
Sepulang sekolah hari itu, Kania dijemput oleh ayahnya di depan gerbang.
Waktu berjalan tanpa terasa. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga satu bulan penuh telah berlalu sejak kejadian menghancurkan di sore itu.
Satu bulan tanpa panggilannya. Satu bulan tanpa deru motor besarnya di depan teras rumahku. Dan satu bulan sejak aku memutuskan untuk menutup rapat pintu hatiku darinya.
Namun, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Di lubuk hati yang paling dalam, rasa cinta pada Adrian tidak serta-merta raib begitu saja bagai disapu angin. Rasa itu masih ada, mengendap sunyi di sudut hatiku.
Hanya saja, aku bukan tipe wanita pemaksa yang sudi mengemis kepastian pada pria yang tak tahu cara setia. Aku memilih berdiri di atas harga diriku sendiri. Jika Adrian memang memilih untuk membagi hatinya pada wanita-wanita lain yang ia sayangi, maka biarlah, aku merelakannya pergi. Biarlah rasa cinta yang pernah ada ini cukup menjadi urusanku sendiri, disimpan rapi sebagai kenangan kedewasaan tanpa perlu lagi mengharapkan kehadirannya.
Sejak hari di mana aku mengembalikan gelang tali hitam SL itu, Kania juga tidak pernah lagi diantar atau dijemput oleh Adrian ke sekolah. Setiap hari, Kania diantar oleh ayahnya atau sesekali naik angkutan umum bersama teman-teman yang lain.
Sosok Adrian sepenuhnya telah hilang dari ruang gerak kehidupanku, meninggalkan aku yang kini berdiri lebih tegak, lebih dewasa, tanpa bayang-bayang rahasianya lagi.