Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 : Tontonan gratis untuk sang kaisar
Dua pembunuh bayaran yang tersisa saling berpandangan di balik topeng hitam mereka. Rasa ngeri yang belum pernah mereka rasakan selama menjadi pembunuh bayaran kini menjalar ke seluruh tubuh. Wanita di depan mereka ini jelas bukan manusia biasa.
"Sialan! Maju kau, wanita gila!"
Pembunuh yang memegang belati kembar berteriak, mencoba mengusir rasa takutnya sendiri. Dia melesat maju dengan membabi buta, mengayunkan kedua senjatanya dengan kecepatan penuh. Namun, bagi Ara yang matanya sudah terlatih membaca pergerakan tawuran jalanan yang jauh lebih kacau, gerakan pria itu terlihat sangat lambat dan penuh celah.
Ara memiringkan tubuhnya ke kiri, menghindari tusukan pertama. Di detik yang sama, tangan kanannya bergerak secepat kilat menyambar pergelangan tangan musuh. Dengan satu sentakan judo modern yang efisien, Ara memutar tubuhnya, memikul bahu si pembunuh, lalu membantingnya dengan keras ke atas tanah berbatu.
Brakkk!
Suara benturan tubuh yang keras menggema di area hutan tersebut. Pria itu langsung terkapar tak bergerak, matanya mendelik putih karena kehabisan napas akibat hantaman di punggungnya.
Pembunuh terakhir yang melihat semua rekannya sudah tumbang dalam waktu singkat langsung menjatuhkan belatinya ke tanah. Dia berbalik arah, berniat melarikan diri menembus kabut hutan yang tebal.
"Mau kabur ke mana lu, Mas Bro? Kagak sopan amat maen pergi aja!" teriak Ara.
Dengan gerakan santai, Ara memungut salah satu tongkat kayu tebal yang tergeletak di dekatnya. Dia mengambil ancang-ancang seperti atlet bisbol, lalu melempar tongkat tersebut sekuat tenaga ke arah kaki si pembunuh yang sedang berlari.
Bugh!
Tongkat itu menghantam tepat di belakang lutut sang pembunuh dengan akurat. Pria berbaju hitam itu langsung menjerit kesakitan dan jatuh tersungkur, berguling-guling di atas tanah yang basah sambil memegangi kakinya yang mati rasa.
Ara melangkah santai mendekati pria itu. Dia menarik beberapa utas tali tambang rami yang sengaja dia siapkan di ikat pinggangnya, tali yang awalnya berniat dia pakai untuk mengikat hewan buruan besar, lalu menggunakannya untuk mengikat kelima pembunuh bayaran itu menjadi satu ikatan besar di bawah pohon raksasa. Gerakannya begitu cekatan dan rapi, mirip seperti seorang preman yang sedang mengikat maling jemuran di pos ronda.
Derap... derap... derap...
Suara langkah kaki kuda yang berat mendadak memecah keheningan kabut. Sesosok kuda perang hitam raksasa melesat keluar dari balik rimbunnya pepohonan, disusul oleh beberapa prajurit zirah lengkap. Di atas pelana kuda hitam itu, duduk Kaisar Yan dengan wajah yang dipenuhi ketegangan dan amarah yang siap meledak. Pria itu sejak tadi mencari keberadaan Permaisurinya setelah rombongan mereka terpisah oleh kabut misterius.
Namun, begitu pemandangan di depan matanya menjadi jelas, jepitan kaki Kaisar Yan pada kudanya mendadak melonggar. Kuda hitam raksasa itu berhenti mendadak hingga meringkik keras.
Kaisar Yan terpaku di atas pelana. Sepasang mata elangnya melotot tak percaya menatap area melingkar yang kini berantakan tersebut.
Alih-alih menemukan tubuh Xia Ruo yang sudah terbujur kaku bersimbah darah seperti yang dia takutkan sejak tadi, dia justru melihat Permaisurinya sedang berdiri santai sambil membersihkan debu di celana berburunya. Di belakang Ara, lima orang pria bertopeng hitam bertubuh kekar sudah dalam kondisi babak belur, diikat erat-erat pada batang pohon seperti segerombolan domba siap potong. Salah satu dari mereka bahkan hidungnya miring dan terus mengeluarkan darah segar.
Ara menoleh ke arah kedatangan rombongan, lalu melambaikan tangannya dengan santai tanpa dosa.
"Yo, Mas Bro! Telat amat lu datengnya," sapa Ara ceplas-ceplos sambil menunjuk ke arah tumpukan pembunuh di belakangnya menggunakan jempolnya. "Liat nih, gua baru aja dapet buruan gede. Kagak usah repot-repot nyari rusa lagi kita hari ini!"
Kaisar Yan menarik napas panjang, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja dia saksikan. Otot-otot rahangnya mengeras, namun ada kilatan keterkejutan dan rasa geli yang luar biasa yang mendadak bergejolak di dalam dadanya.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣