“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
“Mmhh... Paman, geli...”
Lucia gelisah dalam tidurnya. Matanya terpejam rapat, tapi butiran keringat dingin menetes perlahan di dahinya. Kain selimut tipis yang menutupi tubuhnya diremas kuat-kuat oleh kedua tangan kecilnya, seolah ia sedang berpegangan pada pinggiran jurang.
Dalam lelapnya, Lucia bermimpi berada di sebuah taman bunga matahari yang sangat luas. Angin berhembus sejuk, burung-burung berkicau, dan anehnya di tengah hamparan bunga itu, ada Alessandro. Bos mafia yang biasanya berwajah sedingin es kutub dan selalu memakai setelan jas hitam kelam itu, kini mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang.
Yang lebih mengerikan lagi, Alessandro di dalam mimpinya tersenyum. Senyuman itu sangat manis, sampai-sampai Lucia curiga bosnya itu salah makan jamur beracun dari hutan.
Pria itu melangkah mendekat, lalu mendekap tubuh mungil Lucia begitu erat hingga dadanya terasa sesak namun hangat.
“Lucia, Sayang,” bisik Alessandro. Suaranya terdengar serak-serak basah, bergema di telinga Lucia dan entah bagaimana berhasil menggetarkan seluruh tubuh gadis desa itu hingga ke ujung jari kaki.
Sebelum Lucia sempat bertanya mengapa ia dipanggil sayang, Alessandro sudah menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya yang besar. Pria itu menunduk, lalu menempelkan bibirnya tepat di atas bibir Lucia.
Tidak hanya sekadar menempel, Alessandro bahkan menuntut lebih. Bibir basah dan hangat pria itu melahap bibir Lucia, lalu tanpa aba-aba, sesuatu yang terasa licin, basah, dan hangat menerobos masuk ke dalam rongga mulut Lucia dengan paksa. Benda itu bermain, menyapu dan membelit dengan begitu lihai.
Dalam ketidaktahuannya, Lucia yang seumur hidupnya sama sekali belum pernah berciuman, apalagi melihat orang berciuman, hanya bisa pasrah dan membelalak heran di dalam mimpinya.
“Astaga! Paman memasukkan apa ke mulutku? Apakah di dalam mulutnya ada cacing tanah montok yang sedang menari? Kenapa rasa cacingnya begitu hangat? Kenapa dia menyuapiku cacing seperti induk burung pipit? Dan ya Tuhan, kenapa cacing ini malah membuat dadaku berdebar kencang?!” batin Lucia menjerit kebingungan.
Sementara itu, di alam nyata...
Bibir Lucia bergerak-gerak maju, monyong ke depan hingga beberapa sentimeter, seolah sedang membalas ciuman khayalan dari sang mafia. Lucia bahkan membuat suara cecapan pelan yang terdengar sangat menggelikan.
“Cup... mmmh...”
Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka. Mila, baru saja masuk membawa tumpukan pakaian bersih. Langkah wanita itu terhenti mendadak. Ia membeku di tempat, matanya membelalak sempurna melihat pemandangan absurd di atas tempat tidur.
“Ya Tuhan, Lucia!” seru Mila tertahan.
Mila bergegas meletakkan tumpukan baju di atas meja dan mendekati ranjang. Wajahnya shock sekaligus menahan tawa melihat bibir gadis kepang dua itu monyong-monyong seperti ikan mas koki yang sedang mencari makan di permukaan akuarium.
“Lucia, bangun! Astaga, mimpi apa anak ini?” seru Mila seraya mengguncang pelan sebelah bahu Lucia.
Lucia masih terhanyut.
“Mmm... Paman, cacingnya jangan digigit... geli...” gumam Lucia sambil ngelindur sebelum akhirnya guncangan Mila membuat matanya terbuka lebar secara mendadak.
Lucia langsung terbangun dan duduk tegak di atas kasur dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berpacu bak sedang dikejar anjing gila. Pipinya merona merah, persis seperti buah tomat ceri matang yang siap panen.
Refleks, punggung tangan kecilnya langsung mengusap sudut bibirnya yang agak basah oleh air liurnya sendiri.
“N–noja Mila?” panggil Lucia setengah linglung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik.
Kenapa Bibi Martha ada di sini? Lalu ke mana perginya taman bunga matahari itu? Di mana tuan Alessandro yang memberinya makan cacing tadi?
Mila menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Lucia dengan ekspresi heran yang bercampur geli.
“Lucia, kau ini bermimpi apa sampai bibirmu monyong-monyong memajukan diri seperti ikan sapu-sapu begitu?”
Lucia mengedipkan matanya polos. Ia kembali menyentuh bibirnya sendiri yang entah kenapa terasa agak hangat dan sedikit bengkak akibat imajinasi liar di tidurnya.
“Aku mimpi apa ya tadi?" batin Lucia mencoba mencerna sisa-sisa bunga tidurnya. “Paman tampan itu memanggilku sayang. Terus, kenapa dia menempelkan bibirnya ke bibirku lalu memasukkan cacing hangat ke dalam mulutku?” gumamnya.
Rasa penasaran mengalahkan rasa malunya. Lucia mendongak, menatap Mila dengan sorot mata sangat serius.
“Nona Mila, aku mau tanya sesuatu yang penting. Apakah... apakah di kota besar ini, pria dewasa memang punya hobi aneh memindahkan cacing dari mulut mereka ke dalam mulut wanita?”
“Cacing?!” Mila mengerutkan dahinya. Ia menatap mangkuk air di nakas, takut Lucia sedang mengigau karena demam tinggi. “Apa maksudmu dengan cacing, Lucia?"
“Tadi dalam tidurku, ada seorang pria menempelkan mulutnya di mulutku. Terus, tiba-tiba ada benda licin, hangat dan bergerak-gerak masuk ke dalam sini!” Lucia menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
“Rasanya aneh sekali. Tidak sakit, tapi seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang meledak di dalam dadaku. Apakah aku sedang ketempelan hantu dari hutan Calabria?”
Mila tertegun sejenak mencerna kalimat yang sangat polos itu.
“Oh Tuhan! Itu bukan cacing, Lucia. Itu namanya berciuman!”
Lucia menaikkan kedua alisnya, kepalanya miring ke kanan seperti anak anjing yang kebingungan.
“Ber-ci-u-man? Benda apa lagi itu, Bibi? Apakah itu sejenis cara orang kota mengobati penyakit?”
Mila kembali menepuk jidatnya pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa berguling-guling atau menangis meratapi kepolosan luar biasa dari gadis desa di hadapannya ini.
Bahkan hal sedasar ciuman saja bisa dianggap sebagai terapi pengobatan!
“Bukan, Lucia. Berciuman itu dilakukan oleh pria dan wanita yang saling menyukai satu sama lain. Itu adalah ungkapan rasa kasih sayang yang dalam, bukan memindahkan cacing dari mulut ke mulut,” terang Mila, mencoba menarik napas panjang dan mengumpulkan sisa kesabarannya.
“Mencintai? Kasih sayang?Tapi, kenapa harus repot-repot menempelkan bibir dan saling memasukkan daging licin itu ke mulut orang lain? Itu kan jorok,” protes Lucia dengan bibir mengerucut.
“Di desaku, kalau laki-laki sayang pada seorang wanita, dia cukup membantunya memberi makan sapi, menggembala kambing atau membawakannya ubi bakar manis dari ladang. Ngapain harus tukar-tukaran lu-dah? Bikin masuk angin saja!”
Mila tertawa. Gadis ini benar-benar tidak tertolong.
“Ya, ya, terserah kau sajalah, Lucia. Nanti kalau kau sudah cukup dewasa, sudah mengenal cinta dan punya suami, kau akan paham sendiri kenapa orang suka bertukar cacing eh, maksudku berciuman,” goda Mila yang kini tertular istilah konyol Lucia.
“Sudah, berhenti memikirkan mimpimu. Cepat mandi dan ganti pakaianmu dengan gaun pelayan yang baru. Tuan Alessandro sudah menunggumu.”
“Paman tampan sudah bangun?!”
“Iya, beliau memanggilmu. Katanya kau disuruh melayaninya sarapan pagi ini di ruang makan utama,” ucap Mila.
Sepeninggal Mila, Lucia meremas selimutnya dengan kuat. Jantungnya kembali berdebar tak karuan.
Bagaimana bisa dia harus berhadapan dengan sosok asli Alessandro di meja makan nanti, menuangkan kopi atau membawakan roti panggangnya, sementara di dalam kepalanya masih teringat dengan sangat jelas sensasi saat majikan mafia dinginnya itu memasukkan cacing ke dalam mulutnya?!
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,