Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 CAFE!!!
"Elin, kita sudah lama tidak mampir ke cafe, di sana ada suamimu kan? apa masih marah? atau memang menghindar. Aku tuh enggak paham masalahnya apa!! ". Ucap sanfani.
Saat ini Sanfani dan Elina melangkah pelan di lorong kantor sambil mengobrol
" Sebenarnya enggak marah, tidak masalah kita kesana, Apa mau makan siang sekarang? ". Tanya Elina
" Iya, aku laper sekarang".
(Suara hati) "hmmm! jadi ingin tahu, pria aneh itu sebenarnya alasan dia masih berkerja di cafe untuk apa? padahal dia itu anak orang kaya apa lagi warisan ayahnya diberikan padanya tapi kenapa masih ingin kerja di cafe tidak mengurus kantor di perusahaan ayahnya sendiri, ini membuat ku sangat penasaran".
Elina terdiam melangkah sambil berfikir keras ia kepikiran soal keluarga suaminya sendiri, masih banyak pertanyaan yang belum di jawabkan.
"Ya sudah ayo, kita ke Cafe, mau minum kopi". Ucap Elina ajak
" ok". Jawab sanfani senyum senang
Mereka berdua pun berjalan cepat bersama.
*Di Cafe___*
Elina dan Sanfani sampai di cafe melangkah masuk berjalan menuju meja kosong, Mereka berdua duduk di kursi depan meja berhadapan. Tidak lama seorang karyawan pria datang membawakan sebuah buku menu menyodorkan pada mereka berdua. Elina mengambil buku menu tersebut
"Saya mau Kopi late sama kentang goreng sosis bakar" Minta Elina
"Baik"
"Kalau saya mau minum jus lemon dan Hamburger". Ucap Sanfani
" baik di tunggu ". Jawabnya mengambil buku menu di tangan Elina berbalik melangkah jalan
Elina melihat sekeliling sudut tempat mencari suaminya, tapi tidak menemukan batang hidungnya sama sekali, ia heran kemana suaminya berada, seharusnya dia ada dan berkerja tapi melihat sekitar tidak ada siapapun hanya ada para karyawan cafe saja yang ada.
Sanfani yang memperhatikan Elina bingung seperti mencari sesuatu.
"Cari suami mu ya... " Ucap sanfani senyum ledek
"Apaan sih... siapa juga yang mencari dia... ". Jawab Elina ngeles
di tempat lain terlihat Brayen dapat telepon dari seseorang di belakang Cafe samping tempat sampah.
" Maafkan aku paman, aku tidak bisa mengurus perusahaan, Aku nyaman dengan kehidupanku saat ini". Ucap Brayen
"Kamu ya... Brayen jangan Bodoh kamu. kalau kursi ayahmu masih saja kosong akan jadi masalah, mau atau tidak mau pada akhirnya kamu akan duduk di kursi itu, jangan keras kepala kamu!! ". Tegas paman di dalam telepon
" Tapi paman kan ada kak Beni yang mengurus perusahaan ayah, jadi tidak ada masalah ".
" Paman tidak mau tau kamu harus kembali... jangan bikin paman akan datang secara paksa, paham kamu!! ".
Tud
Tud
Tud
Telepon dari pamannya pun langsung di tutup membuat Brayen terdiam. Sekarang ia delema harus memutuskan pilihan, Yang bikin masalah adalah nenek dan kak Beni pasti akan marah dan akan sangat benci
*Di kantor*
Terlihat Beni sedang meeting dengan Ekspestor untuk pembahasan perubahan bisnis yang akan datang. saat meeting akan selesai
"Beni kapan adik kamu akan duduk di kursi ayahnya. kita butuh pemimpin untuk pegarahan dan persetujuan yang jelas". Ucap seorang pria tua
Beni terdiam sejenak dengan tatapan bete namun tetap bersikap tenang
" Memangnya belum cukup dari saya?? ". Tanya Beni
" Bukan masalah cukup atau tidak. tapi persoalan memiliki sosok pemimpin. Kita semua tidak mungkin seperti ini tanpa adanya sosok pemimpin". Ucapnya
"Adik saya tidak mau untuk duduk di kursi itu, dia lebih suka kehidupan bebasnya". Jawab beni
" ohhh!! tapi kita semua berharap dia bisa mengurus perusahaan, karena saat ini kondisi perusahaan di ambang masalah serius ". Ujarnya
Beni terdiam sejenak sebenarnya ia sangat tidak ingin kalau adiknya duduk di kursi warisan dari ayahnya sendiri, ia tidak bisa menerima itu