Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 SAKIT KAKI
brayen gendong elina membawa keluar kamar mandi, ia membawa elina ke kamar, brayen meletakkan elina duduk di atas kasur, kemudian brayen melangkah mencari kotak obat, brayen menemukan kotak obat yang ia simpan di lemari laci, mengambil kotak obat melangkah mendekat. Elina menahan rasa perih dan rasa sakit di pergelangan kaki kirinya.
"Sini". Minta brayen
Brayen jongkok menyentuh pergelangan kaki elina yang merah memar. Elina terkejut melihat brayen begitu perhatian membuat Elina tersentuh. Brayen mengoleskan balsem di bagian memar
" Aw... pelan-pelan". Minta Elina mengeluh sakit
"Iya, maaf". brayen pun lebih pelan dan hati-hati, setelah selesai ia oleskan brayen beranjak melangkah untuk menyimpan kotak obat.
Elina terus memperhatikan kakinya yang sakit
" Kenapa bisa jatuh? ". Tanya brayen
" lantainya licin kenapa enggak kamu sikat lantai kamar mandinya ". Ucap Elina mengeluh
" Maaf, aku lupa soal itu". Jawab brayen menyesal
"Lain kali sikat, kalau kayak gini siapa yang bertanggung jawab!! iihhh sakit tau". Ngegas Elina sinis
" Iya. maaf kan aku, nanti aku sikat ".
Elina beranjak saat kaki menampakkan di bawah lantai
bung
" Setttt... aw ". Seketika Elina kesakitan tak tertahan.
Brayen gercep menangkap tubuh Elina yang hampir jatuh.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh arti mereka terdiam cukup lama
"Mau kemana? kaki kamu lagi sakit, jangan ceroboh". Ucap brayen
" Iihhhhihhh apaan sih.. aku enggak ceroboh. hanya saja sekilas lupa kalau kaki ku lagi sakit ". Jawab Elina tegas
" Terus mau kemana, aku bantu ".
" Mau ambil baju".
"Ok, sini".
Brayen pun membantu Elina melangkah pelan dengan hati-hati
******
******
******
Besoknya Elina terbaring dengan keadaan kakinya yang masih sakit, seharusnya hari ini berangkat kerja tapi dengan keadaan kaki yang sakit tidak bisa masuk kerja, Elina mengambil ponsel di atas meja sampingnya.
mencoba menghubungi ayahnya hanya memberitahu keadaan dirinya saat ini.
"Hallo ayah, aku minta maaf hari ini aku tidak bisa masuk kerja, aku sakit ". Ucap Elina dalam telepon
" sakit apa? apa kamu baik-baik saja? ". tanya Williams khawatir
"aku baik-baik saja, ayah. hanya kaki ku yang sakit, aku jatuh dari kamar mandi kemarin sore".
" lah.. kenapa bisa, ya sudah kamu istirahat, jangan lupa minum obat nya iya".
"iya". Elina menutup telepon dari ayahnya ia meletakkan ponsel di atas meja.
Di tempat lain brayen duduk sendirian di kursi depan meja, saat ini dirinya sekarang berada di cafe berkerja namun ia khawatir tentang istri nya yang lagi sakit takut terjadi sesuatu, apa lagi sendirian di hotel semakin brayen tidak bisa tenang. Dion yang melihat brayen dari jauh sangat heran melihat temannya diam melamun seperti memikirkan sesuatu, ia memutuskan menghampiri rasa penasaran ingin tahu.
"Kamu kenapa? ". Tanya dion duduk berhadapan
" hm! aku hanya memikirkan istri aku". Ucap brayen murung
"Memang nya istri kamu kenapa? ".
" Dia lagi sakit kemarin sore jatuh dari lantai di kamar mandi ".
" Hah? terus keadaan nya bagaimana, apa parah?".
"tidak hanya memar sama sulit untuk bisa jalan dengan benar".
" Sudah kamu bawa ke rumah sakit? ".
" Tadinya mau aku bawa tapi dia kekeh tidak mau, entah kenapa dia selalu menolak keras kalau bawa ke rumah sakit ".
" mungkin, takut di suntik atau takut hal lain, seperti trauma ".
Brayen terdiam mendengar kalimat dion, ia pun mulai penasaran apa yang bikin Elina takut kan di rumah sakit. ia harus mencari tahu lebih dulu