"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Penyatuan intim yang baru saja akan mereka mulai di atas peraduan berseprai sutra kelabu itu mendadak terhenti secara kasar. Gesekan kulit yang hangat dan deru napas yang kian memburu buyar seketika sewaktu sebuah nada ketukan bergelombang terdengar menghantam daun pintu mahoni kamar pribadi Arthur.
Tuk. Tuk-tuk. Tuk.
Pola ketukan itu teratur, berat, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi—sebuah ketukan dengan intonasi ciri khas yang teramat dihafal oleh seluruh penghuni inti Istana Blackwood.
Arthur tersentak kaku di atas tubuh Snow. Mata kelamnya membelalak sempurna, seolah kesadarannya yang sempat melayang dalam pusaran gairah ditarik paksa kembali ke alam nyata.
Dengan refleks militer yang teramat terlatih dan kecepatan yang luar biasa, Arthur langsung menarik selimut tebal bertatahkan benang perak untuk menutupi seluruh tubuh Snow hingga ke batas leher.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arthur melompat turun dari atas ranjang. Jemari tegapnya bergerak amat cepat meraih kemeja putih yang tergeletak di atas sofa, menyarungkannya ke tubuh dengan tergesa-gesa.
"Arthur... ada apa?" bisik Snow panik, suaranya parau sewaktu ia berusaha membenahi posisi selimutnya.
Arthur menoleh sejenak, wajahnya menyiratkan kecemasan yang amat pekat. "Sebentar, aku akan segera kembali... Itu Ayah."
"Hah?" Snow tertegun di tempatnya, matanya melebar menatap punggung Arthur yang melangkah lebar menuju pintu depan.
Arthur memutar kait selot dan membuka pintu mahoni tebal itu. Dan benar saja—di balik ambang pintu, berdiri tegap figur penguasa tertinggi Istana Blackwood, Yang Mulia Raja Alistair. Sang Raja berdiri sendirian tanpa dikawal satu pun Pengawal, dengan raut wajah yang menggelap bagaikan langit sebelum badai menumpahkan air bah.
Arthur menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ayah... ada apa Anda—"
BUGH!
Tanpa memberi ruang untuk sepatah kata pun dilanjutkan, sebuah pukulan mentah berdaya hancur tinggi mendarat telak di rahang kanan Arthur. Pria tegap itu tersentak mundur beberapa langkah, menyenggol sudut meja kayu hingga vas porselen di atasnya berguncang hebat.
BUGH!
Pukulan kedua menyusul tanpa ampun, menghantam sudut bibir kiri Arthur hingga kulit tebal itu robek mendadak dan mengucurkan darah segar bertinta merah pekat.
Raja Alistair berdiri dengan kepalan tangan bergetar oleh amarah yang meledak-ledak.
Sang Raja menatap kancing kemeja Arthur yang terpasang berantakan, tatanan rambut putranya yang acak-acakan, serta bercak kemerahan dan bibir Arthur yang sedikit bengkak—tanda yang teramat jelas bagi sang ayah untuk memahami apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan tersebut sebelum ketukannya terdengar.
"Aku sungguh bodoh!" desis Raja Alistair, suaranya mengalun lirih namun bergetar hebat oleh kekecewaan teramat mendalam. "Aku sungguh bodoh karena tidak tahu-menahu soal kebodohanmu yang menikahi wanita tidak jelas seperti Savea hanya karena rasa pengecutmu di masa lalu!"
BUGH!
Pukulan ketiga melayang kembali, tepat meninju dada tegap Arthur hingga Pangeran Utama itu terbatuk kasar.
"Kau sama sekali tidak mencerminkan seorang pangeran!" bentak Raja Alistair dengan intonasi yang kian meninggi. "Lihat dirimu sekarang! Kau malah membawa Nona Snow ke dalam kamar pribadi ini dan menjamahnya sebelum kau membawanya berdiri secara sah di atas altar pernikahan! Sungguh... aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria pengecut dan bernafsu gila seperti ini, Benedictus Arthur Blackwood!"
BUGH!
Pukulan terakhir yang sarat akan kemurkaan sang ayah mendarat tepat di perut Arthur, membuat pria militer berpostur tegap itu akhirnya tak sanggup bertahan.
"Akhh..." Arthur tersungkur di atas lantai marmer yang dingin. Menyandar pada lututnya, darah segar menetes dari ujung bibirnya yang robek, menumpuk kecil di atas lantai.
Namun, Arthur tidak mengujarkan satu kata pun untuk membela diri. Tidak ada erangan protes, tidak ada perlawanan.
Pria itu hanya menunduk pasrah, mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pria itu sadar penuh... dirinya memang pantas mendapatkan setiap pukulan tersebut sebagai hukuman atas segala kebodohan dan ketidak tahuan diriannya.
Raja Alistair menghembuskan napas berat yang memburu, matanya memerah menatap putranya yang terkapar pasrah.
"Kau menabrak pelayan itu bukan karena kesengajaanmu!" teriak Raja Alistair, suaranya menggelegar hebat menembus dinding pembatas hingga menggema tajam ke dalam area tempat tidur. "Kau dalam pengaruh racun kimia obat perangsang dosis tinggi yang diberikan Savea malam itu! Rem mobil sport itu bahkan dipotong dan dibuat blong sengaja oleh sabotase! Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakan kenyataan kelam itu pada Ibumu ataupun padaku, ha?! Aku tidak pernah membesarkanmu untuk menjadi sampah pengecut yang menanggung dosa orang lain, Arthur!"
DEG!
Teriakan keras sang Raja menggema kuat di balik dinding pembatas ranjang.
Di dalam peraduan berseprai kelabu, Snow membeku seketika. Tubuhnya yang terbungkus selimut tebal mendadak kaku, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam dadanya disedot habis tanpa sisa. Sepasang matanya membelalak horor, menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan guncangan jiwa yang teramat hebat.
Obat perangsang dosis tinggi...? Rem mobil dipotong dan blong...?
Jantung Snow berdegup liar bagaikan dihantam palu godam. Rasa dingin menyusup cepat dari telapak kakinya merambat seluruh pembuluh darahnya.
Hampir saja... Hampir saja Snow merancang dan mengatur seluruh skenario gila ini hanya demi membalas dendam pada Arthur!
Sejak ia mengetahui kebenaran pahit bahwa Arthur adalah pengemudi mobil di malam berdarah yang merenggut nyawa ibu kandungnya, Snow memanfaatkan tubuhnya sendiri sebagai senjata pembalasan yang mematikan.
Semalam ia menyerahkan dirinya di bawah buaian sentuhan Arthur, dan pagi ini ia bersiap menyerahkan dirinya kembali di ranjang ini—bukan karena wanita itu mendadak gila akan sentuhan atau tak berdaya oleh ciuman sang Pangeran!
Snow melakukan semua itu semata-mata untuk memberikan Arthur harapan palsu akan hubungan mereka dimasa depan. Ia ingin membuat Arthur tenggelam dalam samudera cinta dan ilusi kebahagiaan, lalu... setelah pria itu sepenuhnya bergantung padanya, Snow berencana untuk menghilang membawa Bayi Ocean ke tempat persembunyian rahasia di luar negeri yang telah disediakan secara matang oleh ayah kandungnya, Silas Hawthorne. Ia ingin meremukkan jiwa Arthur hingga pria itu mati dalam siksaan kerinduan dan keputusasaan.
Namun... mendengar pengakuan jujur Raja Alistair yang menggelegar di luar sana, tubuh Snow tiba-tiba bergetar hebat.
Air mata yang hangat mendadak menetes melintasi pipinya yang pucat, jatuh membasahi bantal sutra.
Jadi... pusat dari segala kegilaan dan benang kotor ini memang bermuara pada Savea? Dan Arthur... yang baru dua hari terakhir dianggapnya sebagai pembunuh berdarah dingin... sejujurnya hanyalah seorang korban jebakan yang dijebak dan ditumbalkan dalam konspirasi kotor?
"Oh, Tuhan..." bisik Snow amat lirih dalam derai air matanya, menutupi bibirnya dengan jemari yang bergetar hebat.
Hampir saja ia meremukkan jiwa pria yang sejujurnya teramat dicintainya itu untuk kedua kalinya. Hampir saja dendam buta membuatnya menjadi monster jahat yang tega memisahkan seorang ayah dari putra kandungnya.
°°°°
Sementara itu di lorong depan kamar, suasana kian memadat oleh aura dingin. Raja Alistair menarik napas panjang, merapikan Jasnya sembari menatap Arthur yang perlahan berusaha bangkit berdiri seraya menyapu darah di bibirnya.
"Bahkan untuk mengeksekusi perceraian ini..." sambung Raja Alistair dengan intonasi rendah yang dingin menusuk, "...tim dokter kerajaan baru saja menyerahkan laporan medis terbaru dari sel penampungan internal. Dokter mengonfirmasi bahwa Savea benar-benar telah mengalami gangguan kesehatan jiwa tingkat berat. Halusinasi dan obsesi gilanya telah merusak fungsi otaknya secara permanen."
Raja Alistair menatap tajam pada mata kelam Arthur. "Wanita itu akan dipindahkan malam ini juga ke fasilitas isolasi medis tertutup di wilayah utara. Kebohongan, sabotase masa lalu, dan kegilaannya berakhir hari ini. Dan kau..."
Sang Raja menunjuk Arthur dengan tegas. "...bersihkan darah di wajahmu. Setelah ini, temui Silas Hawthorne di aula utama. Kita akan menyelesaikan urusan ini secara terhormat sebagai sesama pria bangsawan!"