Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAPAT DEWAN DAN ANCAMAN DARI BARAT
Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan di atas meja bundar marmer di Aula Dewan Utama Istana Solaria. Pagi itu, Alan memimpin rapat tertutup bersama para menteri dan jajaran petinggi kerajaan untuk mengevaluasi perkembangan pesat Solaria.
Di sisi meja, Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan memaparkan laporan dengan wajah berseri-seri.
"Melaporkan, Baginda," ucap Menteri Keuangan seraya membungkuk hormat. "Pendapatan kerajaan dari retribusi pasar dan transaksi ekspor-impor meningkat tajam. Koin Emas Solaria kini mendominasi delapan puluh persen pasar di benua ini."
"Sektor logistik dan distribusi bahan pangan juga berjalan tanpa kendala, Tuan Alan," tambah Menteri Perdagangan dengan bangga. "Pasokan dari Kerajaan Arcania dan hasil bumi lokal kita berada pada titik puncak kestabilan."
General Zero, Akami, dan Pahlawan Kayy menyimak dengan tenang di posisi mereka masing-masing. Di samping Alan, Yumi berdiri dengan keagungan penuh, sementara Sena duduk dengan sangat anggun di kursi khusus kerajaan di sebelah pamannya, menyimak jalannya rapat dengan tenang sesuai norma protokoler istana.
Alan mengangguk puas. "Kerja bagus. Pastikan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan ekonomi."
Namun, di tengah suasana rapat yang hangat dan penuh keberhasilan tersebut, suhu udara di aula dewan mendadak berubah.
WUSHHH.
Layar proyeksi transparan berukir keemasan mendadak mengembang otomatis di tengah meja rapat. Aura peringatan berwarna merah redup berkedip di hadapan Alan, menandakan masuknya informasi tingkat krusial.
[Peringatan Risiko Tingkat Tinggi,] suara Melodina bergema jernih dan tegas di dalam benak Alan, sekaligus menampilkan peta topografi kawasan Barat benua.
Alan melambaikan tangannya pelan, mengizinkan proyeksi analisis Melodina untuk ditampilkan di tengah aula agar seluruh menteri dapat melihatnya.
[Analisis Intelijen Sistem:] tutur Melodina memaparkan data. [Terdeteksi pergerakan masif dua fraksi militer asing dari arah wilayah Barat yang sedang bergerak menuju batas luar Domain Solaria.]
Layar memperlihatkan dua gelombang merah besar yang merayap mendekati Hutan Larangan.
[Fraksi Pertama: Pasukan Gabungan Kerajaan Barat dengan kekuatan lima belas ribu prajurit berzirah berat dan artileri sihir.] Melodina melanjutkan perinciannya. [Fraksi Kedua: Kelompok Iblis Kuno yang membawa dua ribu pasukan monster kelas atas dengan lonjakan energi sihir hitam yang sangat pekat.]
Para menteri perdagangan dan keuangan seketika memucat, terperanjat melihat angka pasukan yang luar biasa besar tersebut.
"D-Dua ribu iblis... dan lima belas ribu pasukan Kerajaan Barat?!" gumam Menteri Keuangan dengan bibir gemetar. "Apakah mereka telah membentuk aliansi untuk menghancurkan kita?"
[Koreksi Analisis,] potong Melodina dengan nada dingin dan logis. [Kedua fraksi tersebut TIDAK saling bersekutu. Berdasarkan pemindaian niat dan pola pergerakan, Kerajaan Barat bertindak atas dasar ketakutan serta ketamakan untuk merebut kekayaan dan sumber daya perdagangan Solaria. Sementara itu, kelompok iblis bergerak murni untuk menjarah inti energi murni yang memancar dari kerajaan ini.]
"Mereka bertindak secara terpisah, namun memiliki tujuan yang sama: merebut hasil kerja keras dan kekayaan Kerajaan Solaria," sambung Melodina menegaskan.
General Zero langsung berdiri tegap, meletakkan tangannya di hulu pedang dengan mata menyala-nyala. "Berani-beraninya mereka mengincar kekayaan Solaria! Tuan Alan, izinkan hamba memimpin pasukan front depan untuk meratakan mereka sebelum mereka menyentuh perbatasan!"
Kayy pun mengepalkan tinjunya, memancarkan aura Pahlawan ber-Level 3.000 yang menekan udara di ruangan. "Aku akan membantu memusnahkan pasukan iblis itu."
Di tengah ketegangan yang membumbung tinggi di aula dewan, Alan tetap duduk tenang di kursi singgasananya. Ia memeluk pelan Sena yang duduk di sisinya, memastikan keponakan kecilnya tetap merasa aman dan nyaman. Sena sendiri menatap layar proyeksi merah itu dengan polos, menyandarkan kepalanya di lengan Alan tanpa rasa takut sedikit pun karena percaya penuh pada sang paman.
Alan menatap layar proyeksi Melodina, lalu terkekeh pelan dengan nada yang sangat dingin.
"Tujuh belas ribu pasukan yang datang karena rasa iri dan ketamakan..." gumam Alan seraya mengusap rambut Sena.
Alan menoleh menatap para menterinya yang sempat panik. "Kalian tidak perlu khawatir. Roda perdagangan dan kehidupan warga di Kota Suaka tidak boleh terganggu sedikit pun oleh sampah-sampah yang datang dari Barat."
"Melodina, siapkan skema pertahanan otomatis Otoritas Domain," perintah Alan dalam hati.
[Perintah Diterima, Tuan Alan,] sahut Melodina dengan kepatuhan mutlak. [Sistem siap mengunci rute kedatangan kedua fraksi militer tersebut. Menunggu instruksi eksekusi Anda.]
Dengan jaminan keamanan mutlak dari Alan dan pandangan presisi dari Melodina, ancaman belasan ribu pasukan dari Barat yang mengincar kekayaan Solaria bukannya membawa ketakutan, melainkan hanya akan menjadi panggung pembuktian betapa tak tertembusnya kekuasaan Sang Penguasa Absolut.