"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahira
"Aakhh!"
"Kakak kenapa?" Tanya anak itu saat Panca memegangi perutnya.
"Tidak apa apa, ada sedikit gangguan" jawab Panca karena perutnya di serang teluh yang datang dari musuh Pandi.
"Gangguan apa?" Tanyanya kebingungan
"Aku lapar" jawab Panca berbohong
"Ayo aku bantu kakak duduk di sana, nanti aku belikan roti atau gorengan" ajak anak itu menuntun Panca, dan tiba tiba rasa sakitnya hilang.
"Tunggu, kamu jangan kemanapun, sakitnya hilang karena kamu pegang" ucap Panca
"Mana bisa begitu" gerutu anak itu terlihat kesal
"Lihat, aku tidak bercanda, aku di teluh seseorang, dan tiba tiba sakitnya hilang karena kamu pegang" ucap Panca memperlihatkan perutnya yang terlihat ada benjolan bergerak sendiri di dalam perut panca, membuat anak itu takut.
"Jangan takut, cukup pegang aku" ucap Panca mengulurkan tangannya dan anak itu segera menggenggam tangan Panca. Hingga beberapa menit kemudian benjolan itu terus bergerak ke arah tenggorokan Panca dan..
"Hueek.. Huekk.."
Panca memuntahkan telur utuh yang saat jatuh di dalamnya terdapat banyak kelabang berukuran besar.
Brak. Brak. Brak.
Pandi yang sedang mencari Panca langsung terkejut ketika melihat Panca memuntahkan teluh dari seseorang dalam tubuhnya, dan langsung berlari untuk menolong anaknya itu.
"Tarik nafas dan ucapan hamdalah, kelabang kelabang itu akan kembali pada pemiliknya" bujuk Pandi
"Teluhnya kalah setelah anak ini menyentuh Panca pak" ungkap Panca yang masih berkeringat dingin di pelipisnya.
Pandi menatap anak perempuan itu dan matanya terbelalak, karena ternyata anak perempuan itu merupakan keturunan dari orang yang dulu sempat menolong Kakek Panca, itu bisa terlihat dari cahaya bulat yang ada di kening anak itu, dan itu hanya bisa di lihat oleh Pandi dan kakeknya.
"Mahira kamu di mana!" Panggil seseorang yang terus meneriakkan nama Mahira.
"Kak, aku harus pergi, kakak semoga cepat sembuh ya, kalau milik Hira bisa membantu kakak, ini pakai kalung Hira, ini hanya ada satu, dan cuma Hira yang punya" ucap Mahira lalu pamit pergi dengan menunduk sopan pada Pandi dan Panca yang masih terkejut dengan kalung pemberian Mahira yang ada di tangannya.
"Hira.. Mahira" gumam Panca
"Dia yang harusnya kamu nikahi Panca, tapi dia anak kota, mungkin tidak akan mau tinggal di hutan bersama Kita" ungkap Pandi
Flashback off
Panca masih dengan lamunannya setelah Liam dan keluarganya pulang, dia kembali menggenggam kalung yang ada di lehernya dengan erat, dan ada bulir air mata yang jatuh di pelupuk matanya.
"Ternyata kamu juga masih keluarga Danendra, apa aku masih punya kesempatan untuk mendekati mu, sementara kabar terakhir yang aku dengar kamu sudah di lamar seorang duda satu anak" gumam Panca
Dia sengaja bersekolah di Jakarta, dia ingin mencari Mahira juga di sana, bahkan dia sudah menemukannya dan terus mengawasi Mahira dari jauh tanpa berani mendekat. Sampai saat dia lulus kuliah tahun lalu, dia mendengar kabar kalau Mahira di lamar oleh seorang duda beranak satu, yang merupakan seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses. Dan sejak saat itulah Panca merasa kalau dia harus pulang dan melanjutkan tugas almarhum ayahnya Pandi di kampung halamannya.
"Bagaimana dia bisa tahu kalau kakak selama ini mengaguminya kalau Kakak bersembunyi?" tanya Prama menghampiri Panca dan duduk di sampingnya.
"Aku tidak mau kecewa Prama, aku tidak mau konsentrasi ku untuk mengurus kampung ini terpecah" jawab Panca
"Aku bicara dengan Liam tadi saat membantu mengantarkan jambu ke rumah pak Sagara, dia bilang Mahira itu masih sendiri karena dia tidak jadi menikah dengan orang yang melamarnya" ungkap Prama
"Kenapa tidak jadi?" tanya Panca langsung menegakkan badannya ke arah Prama
"Katanya hanya Mahira yang tahu, tapi hubungan mereka masih tetap baik meski tidak jadi menikah" jawab Prama
"Temui dia, siapa tahu dia juga masih ingat kak Panca" bujuk Prama
"Aku takut, aku takut dia takut saat melihatku" jawab Panca tidak percaya diri
"Takut apa, wajah kak Panca tampan meski tidak setampan Prama" ucap Prama langsung di pukul Panca.
"Aku takut dia tidak mengenalku, kami kan hanya satu kali bertemu dan itupun sepuluh tahun yang lalu, Pasti banyak yang berubah, meski aku setiap hari melihatnya saat di jakarta, tapi dia tidak pernah melihatku Prama" jawab Panca
"Jujur saja pada Liam dan Lintang kalau kak Panca itu sebenarnya menyukai Mahira, lamar dia siapa tahu dia bersedia, kak Panca masih gagah dan tidak terlihat seperti bapak bapak tetua di sini" bujuk Prama
"Aku hanya orang kampung Prama, keluarga itu begitu besar dan pasti punya harapan yang besar juga untuk Mahira" jawab Prama
"Lihat Liam dan Lintang, mereka saja tidak masalah dengan keadaan dua istrinya, padahal mereka tidak lebih baik dari kak Panca, kak Panca seorang sarjana, tidak akan terlalu malu, ibu juga pasti akan senang karena kak Panca akan menikah" ucap Prama
"Kita lihat nanti saja"
#######
Di rumah Sagara.
"Liam, menurut Lo, kalung yang di pakai kak Panca itu milik Mahira atau bukan?" tanya Lintang
"Menurut gue iya, kak Panca kenal Mahira, Mahira juga bilang kalau kalungnya hilang tidak tahu di mana dan tidak akan di temukan" jawab Liam
"Jadi menurut Lo mereka pernah bertemu dan kalung itu di berikan pada kak Panca?" tanya Hamka ikut penasaran
"Hmm.. Gue yakin mereka punya rahasia, ingat saat Om Satria melamar Mahira? Dia setuju tapi beberapa bulan kemudian kata Om Miqdad lamaran itu di batalkan" ucap Liam
"Kita harus cari tahu, ayo kita telepon Om Miqdad" ucap Lintang
"Ngapain, telepon Mahira langsung saja" sahut Hamka
"Atau minta Mahira ke sini saat Daddy mengunjungi kita lusa, ini masuk bulan ke enam kita di sini" ucap Liam
"Begitu lebih bagus, gue juga akan ajak Zeeshan, PoMat sudah kasih ijin kemarin" jawab Hamka
"Hanya Zeeshan?" tanya Lintang
"Iya, katanya tidak boleh terlalu banyak orang, tadinya mau gue ajak Harsya juga, dia pasti senang" jawab Hamka
"Harsya kan punya energi sama kaya Lo, mungkin dia bisa masuk ke sini tanpa harus pakai kekuatan PoMat" ucap Liam
"Begitu ya, Ya sudah, besok gue akan jemput mereka" jawab Hamka
Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing, Lintang dengan Laily, Liam dengan Kenanga dan Hamka dengan pohon beringin yang jadi tempatnya untuk menelepon Zeeshan dan Haris di akhir pekan.