Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramah Tamah Trauma Selamanya
Suasana di gerbang utama IKN, Ibu Kota Kerajaan Nova Castra, mendadak berubah tegang. Rombongan yang baru tiba dipaksa menepi saat beberapa pria berbadan besar melangkah masuk melewati penjagaan gerbang. Itu adalah si Bos dan pasukannya yang baru saja tiba di ibu kota setelah mati-matian melacak jejak pelarian trio tersebut. Si Bos yang dipenuhi rasa dendam kesumat tidak membuang waktu sedikit pun.
"Cari mereka! Mereka pasti belum pergi jauh dari kota ini. Periksa setiap sudut, setiap penginapan, dan setiap gang!" geram si Bos dengan mata memerah penuh dendam.
Pasukan si Bos pun langsung menyebar, menyisir jalanan IKN yang ramai. Pencarian itu terus berlanjut tanpa henti, bahkan ketika matahari mulai tenggelam dan malam merayap naik menggantikan siang. Obor-obor dan lampu sihir kota mulai menyala, memperlihatkan siluet pasukan si Bos yang masih mondar-mandir di bawah sana hingga larut malam.
Beruntung bagi trio ugal-ugalan itu, hukum rimba tempat mereka tumbuh telah melatih insting bertahan hidup mereka dengan tajam. Alih-alih menyewa kamar di penginapan murah yang mudah dilacak, mereka memilih tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh pasukan si Bos. Sebenarnya alasan aslinya karena mereka kehabisan uang dan sulit mendapatkan pekerjaan.
Sambil berbaring berbantalkan lengan dan menatap langit malam bertabur bintang, setelah berunding didapatlah satu keputusan untuk sementara waktu mereka akan mencuri untuk bertahan hidup. Berbeda dengan Lembah Karat di mana penjagaan dan hukum hampir tidak ada, beraksi di kota besar pastinya akan sulit.
Dinginnya angin malam ibu kota setidaknya bisa sedikit menenangkan pikiran mereka dan membantu mereka untuk tidur sebelum hari esok yang penuh risiko dimulai.
Keesokan paginya, Leo, Cheeta, dan Rheno sudah berada di pasar pusat keramaian. Mereka segera berpencar untuk menentukan sasaran masing-masing. Pasar pusat IKN begitu padat, dipenuhi oleh pedagang dan pembeli dari berbagai penjuru kerajaan, menciptakan riuh rendah yang sempurna untuk menutupi aksi kriminal jalanan.
Meskipun berprofesi sebagai pencuri, mereka memiliki beberapa kriteria tertentu untuk korbannya. Mereka sengaja membuat standar tentang orang yang boleh dan tidak boleh dicopet, sebuah kode etik terbalik khas kelompok mereka. Mereka pantang mencopet rakyat jelata yang kesusahan atau pedagang kecil; target mereka haruslah kalangan borjuis kaya.
Dari ketiganya, Rheno-lah yang pertama kali menemukan calon korbannya. Targetnya adalah seorang pria berjas rapi dan berpenutup kepala yang tampak sedang kebingungan di tengah pasar. Pria itu tampak asing dengan denah pasar dan terus celingukan mencari arah, menjadikannya sasaran empuk di tengah kerumunan.
Cheeta dan Leo menyadari gerak-gerik Rheno. Tahu kalau Rheno sudah memutuskan siapa korbannya, mereka segera masuk ke dalam gang dan memantau pergerakan Rheno dari kejauhan. Mereka bersiap memberikan bantuan jika sewaktu-waktu Rheno ketahuan dan perlu melarikan diri. Namun, saat tudung kepala pria berjas itu sedikit tersingkap oleh embusan angin pasar, mata Cheeta membelalak sempurna.
"woy, itu kan si bos!" ucap Cheeta kaget dengan keberadaannya di kota. Jantungnya serasa copot melihat Rheno justru berjalan mendekati harimau yang sedang kelaparan.
"hem, bos benar benar tertarik padamu Cheeta, lima juta koin emas aku akan lepas" ucap asal-asalan Leo, yang berakhir dihadiahi sabetan tas kecil Cheeta.
BUGK!
"kita harus hentikan Rheno" ucap Cheeta sambil melangkahkan kakinya, namun dihentikan oleh Leo.
"tenang!, Rheno baik baik saja, ini kesempatan untuk menggunakan teknik legendaris cipeters, nikmati saja pertunjukan nya" ucap Leo menghentikan Cheeta dengan penuh kesombongan, memuji murid hasil pengakuan sepihaknya.
Sementara itu, di sisi Rheno, dengan langkah tegap namun pembawaan yang kelewat tenang, ia menghampiri si Bos yang sedang celingukan.
"Permisi Tuan, sepertinya Anda sedang kesulitan?" tanya Rheno dengan senyuman yang sangat ramah, menyatu alami dalam atmosfer hiruk-pikuk kota.
Si Bos menoleh. Ia langsung merasa adem melihat keramahan pemuda tinggi besar dan berotot di depannya ini. Aura ramah Rheno seketika memancarkan rasa aman yang luar biasa, melumpuhkan segala pikiran buruk dan kecurigaan di kepala si Bos.
"Oh... iya, benar sekali. Aku baru saja tiba di kota. Mencari orang di tempat seramai ini memang sulit," jawab si Bos, benar-benar terhanyut oleh keramahtamahan Rheno.
"Kalau boleh tahu, orang seperti apa yang Tuan cari? Siapa tahu saya tidak sengaja melihat mereka," sahut Rheno dengan begitu hangatnya. Sembari menatap tulus, tangannya merogoh kantong sebelah kiri si Bos dengan sangat natural. "Di mana dompet Tuan simpan?" lanjut Rheno bertanya secara langsung.
Pertanyaan sensitif itu lolos begitu saja. Efek hipnotis dari perhatian tulus Rheno membuat si Bos sama sekali tidak terpikir soal copet-mencopet.
"Pria berambut hitam, tinggi, muda..." Si Bos mendongak ke langit, mencoba membayangkan target dendamnya. "Oh, maaf, aku selalu menaruh dompet di sebelah kanan. Tunggu ya... Dia bersama gadis cantik dan temannya, pria besar berotot. Kira-kira seperti itu."
Si Bos fokus menjelaskan tanpa sadar bahwa saat ia menyebutkan posisi dompetnya, tangan kanan Rheno sudah menyelinap sehalus angin. Dompet kulit itu kini telah berpindah tangan dalam hitungan milidetik, tanpa memicu alarm bahaya sedikit pun di otak si Bos.
"Oh, begitu, Tuan. Tuan sangat beruntung. Aku melihat pria tinggi berambut hitam bersama gadis cantik baru saja ada di sekitar sini. Untuk yang besar berotot, aku tidak melihatnya. Berita bagus untuk Tuan, pasti akan segera bertemu mereka," jawab Rheno panjang lebar. Otak polosnya tidak menyadari kalau pria besar berotot yang dicari si Bos adalah dirinya sendiri.
"Baiklah Tuan, aku harus pergi," lanjut Rheno melambaikan tangan kanan yang di balik punggungnya sedang menggenggam erat dompet si Bos.
"Oh, iya, iya. Terima kasih banyak atas informasinya! Aku lega mereka ada di sekitar sini," jawab si Bos tulus. Di benaknya, ia baru saja dibantu oleh pemuda paling jujur dan berhati malaikat di kota ini. Rheno pun melangkah balik.
Di balik tiang pengintaian, Cheeta melongo heran. Walaupun ia tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak yang jauh, pemandangan keakraban itu terasa sangat tidak masuk akal baginya.
Di dunia yang keras ini, di mana mayat di pinggir jalan adalah hal biasa, kebaikan telah menjadi barang langka yang memabukkan. Orang-orang di pasar itu terbiasa waspada terhadap belati yang mengintai di balik jubah, tetapi mereka lumpuh total oleh ketulusan yang datang dari pria besar berotot.
Dalam hukum rimba yang kejam, disanjung dan diperhatikan oleh sosok sekuat Rheno membuat si Bos merasa seperti seekor tikus kecil yang beruntung karena punya teman perhatian seekor harimau. Rasa aman yang semu itu seketika meruntuhkan segala dinding pertahanan di otaknya, membuat dompet premiumnya berpindah tangan tanpa sedikit pun memicu alarm bahaya.
"Apa itu?! Sejenis ramah-tamah yang mengerikan?" ucap Cheeta heran bercampur kagum. Ia kemudian mencoba mereka ulang dialog di otaknya.
"Apa yang dia katakan? Hah, apa? 'Permisi Tuan, tidak ada dompet di saku kirimu. Oh maaf, aku taruh di kanan. Ah, ketemu, saya ambil ya Tuan, terima kasih! Sama-sama...'?" lanjut Cheeta, membayangkan adegan komedi absurd yang sebenarnya hampir seratus persen akurat.
Leo melipat kedua tangannya di dada, memasang ekspresi sombong maksimal.
"Hem, terpesonalah! Itulah salah satu keahlian legendaris percopetan: Ramah Tamah Trauma Selamanya, alias RTTS! Ultimate skill milik Rheno!" ucap Leo penuh kebanggaan yang tidak mendasar.
"Cih... Seandainya kamu tidak pakai julukan norak itu, aku mungkin akan sangat kagum. Ayo amankan Rheno!" ucap Cheeta kecewa berat dengan selera penamaan Leo. Ia langsung bergerak cepat menjemput Rheno yang sedang berjalan balik.
Namun, keberuntungan mereka tidak bertahan lama. Di tengah ramainya pasar kota, si Bos mendadak meraba kantong jas sebelah kanannya. Detik itu juga, napasnya tercekat. Dompet kulit premium beserta seluruh sisa harta terakhirnya telah lenyap tanpa bekas.
Tiba-tiba, ingatan tentang sosok pemuda besar berotot yang super ramah tadi terselip di kepalanya. Ternyata, dia adalah Rheno!
Tanpa peduli tempat dan keadaan, si Bos langsung mendongak ke langit dan berteriak histeris, meluapkan amarahnya dengan suara yang menggelegar memecah riuh pasar kota:
"SIALAN KAU, RHEEENNOOOO!!!"
"Ada apa, Bos?! Apa terjadi sesuatu?!" tanya salah satu anak buahnya dengan wajah panik.
Pertanyaan itu membuat otak si Bos seketika bergemuruh hebat. Seluruh kepingan ingatan tentang pemuda besar berotot tadi berputar brutal di kepalanya. Sialan Rheno... Bisa-bisanya aku tidak sadar sama sekali! gusar dalam benaknya. Merasa sangat bodoh karena telah mempercayai musuh, ditambah takut hancurnya harga diri sebagai bos mafia di depan anak buah baru jika mereka tahu kronologinya, membuat darahnya mendidih.
Detik itu juga, wajah si Bos langsung berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus akibat perpaduan rasa malu dan murka yang luar biasa.
"Ada apa, Bos? Wajahmu..." tanya anak buahnya lagi, kebingungan melihat perubahan warna kulit atasannya.
"Berisik! Jangan ada yang menanyakan hal ini lagi, paham?!" gertak si Bos dengan suara tertahan. Matanya melotot tajam demi menyelamatkan sisa-sisa wibawanya yang hampir runtuh total. Ia langsung mengacungkan tongkat sihir barunya ke depan dengan napas memburu.
"Mereka berada di sekitar sini! Aku melihatnya sendiri tadi! Cepat cariii!!!"
Bersambung