Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Temaram Lampu Kuning dan Runtuhnya Tembok Es Sang Penguasa

​Aroma bawang putih tumbuk, ketumbar, dan minyak goreng yang mendidih memenuhi seluruh sudut ruangan kontrakan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Di luar, langit telah sepenuhnya menghitam, ditaburi bintang-bintang redup yang mencoba menembus polusi udara kota metropolitan. Suara jangkrik dari tanah kosong di ujung gang berpadu dengan desis minyak dari wajan kecil milik Senja.

​Sesuai janjinya kemarin, malam ini Senja memasak ayam goreng.

​Gadis itu berdiri di depan kompor gas satu tungku kesayangannya, mengenakan celemek cokelat yang sedikit kebesaran. Tangan kirinya memegang sudip kayu, sementara tangan kanannya sesekali mengusap peluh di dahinya. Sebuah senandung kecil yang ceria terdengar dari bibirnya, mengalahkan suara letupan minyak panas.

​Dari atas kasur busa di sudut ruangan, Arga Danendra duduk dalam diam. Pria bertubuh raksasa itu menekuk sebelah kakinya, menyandarkan sikunya di atas lutut, dan menopang dagunya dengan tangan. Mata elangnya yang tajam dan biasanya digunakan untuk mengintimidasi lawan bisnis, kini terpaku sepenuhnya pada punggung kecil yang bergerak lincah di depannya.

​Pandangan Arga menyapu sekeliling. Pintu kayu jati yang mewah dan jendela kaca anti-peluru tingkat tiga—yang dikira Senja sebagai bantuan pemerintah—tampak sangat mencolok dan kontras dengan dinding semen berlumut rumah itu. Namun, Arga tidak peduli pada estetika ruangan ini. Baginya, satu-satunya pemandangan yang berharga di tempat ini adalah Senja Kirana.

​"Hampir matang, Kak Arga!" seru Senja riang tanpa menoleh, seolah bisa merasakan tatapan intens Arga di punggungnya. "Ayam goreng bumbu rempah ala Harum Manis, dijamin Kakak akan lupa ingatan untuk yang kedua kalinya saking enaknya!"

​Mendengar candaan lugu itu, dada Arga berdesir halus. Sudut bibirnya tanpa sadar tertarik ke atas, membentuk lengkungan senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut menyipit.

​"Aku pegang kata-katamu, Nona Koki. Kalau rasanya biasa saja, aku akan menuntut uang ganti rugi," balas Arga dengan nada santai, ikut bermain dalam dinamika domestik yang menyenangkan itu.

​"Dih, berani menuntut! Uang lima ratus ribu Kakak saja masih hasil kasbonku, tahu!" sungut Senja pura-pura sebal. Ia mematikan kompor, meniriskan potongan ayam goreng keemasan itu, lalu menaruhnya ke dalam piring plastik merah.

​Senja membawa piring berisi tiga potong ayam goreng, sepiring penuh nasi hangat, dan sebotol kecil kecap manis ke atas meja kecil di tengah ruangan. Ia kemudian duduk bersila di hadapan Arga, membagikan piring seng (yang untungnya tidak ikut dirusak oleh anak buah Bang Jali kemarin) dan menyodorkan sepotong dada ayam yang paling besar ke piring Arga.

​"Makanlah yang banyak, Kak. Pria sebesar Kakak butuh banyak protein supaya luka tusuknya cepat menutup," perintah Senja dengan gaya memerintah yang menggemaskan.

​Arga menatap potongan dada ayam di piringnya, lalu menatap dua potong sayap ayam yang jauh lebih kecil di piring Senja. Lagi-lagi, kebiasaan gadis ini untuk memberikan bagian terbaik kepada orang lain membuat hati Arga terasa seperti diremas.

​Tanpa banyak bicara, Arga menggunakan garpunya untuk menusuk salah satu sayap ayam dari piring Senja, dan memindahkannya ke piringnya sendiri. Sebagai gantinya, ia memindahkan dada ayam besar miliknya ke piring gadis itu.

​Mata Senja membelalak. "Loh? Kak Arga, dada ayam itu kan untuk Kakak! Dagingnya paling banyak!"

​"Aku lebih suka sayap," bohong Arga dengan wajah datar tanpa dosa. "Makan saja. Kalau kau jatuh sakit lagi karena kurang gizi, siapa yang akan memasak untukku?"

​Senja mengerucutkan bibirnya, namun rona merah tipis menjalar di kedua pipinya. Ia tahu pria amnesia di depannya ini sedang berbohong demi kebaikannya. Hati Senja menghangat. Sejak almarhum ayahnya meninggal, tidak ada lagi pria yang mengalah saat makan demi memastikan perutnya kenyang.

​"Baiklah kalau Kakak memaksa," gumam Senja pelan, menundukkan kepalanya menyembunyikan senyum salah tingkah.

​Makan malam sederhana itu pun berlangsung. Bagi lidah seorang Arga Danendra yang terbiasa mengecap truffle langka dan daging wagyu A5 dari Jepang, ayam goreng bumbu ketumbar seharga belasan ribu rupiah ini secara objektif bukanlah mahakarya kuliner. Namun, saat Arga mengunyah daging ayam yang digoreng garing oleh tangan Senja, ia berani bersumpah di depan seluruh koki Michelin di dunia, bahwa ini adalah makanan paling lezat yang pernah masuk ke dalam mulutnya.

​Di sela-sela makan, Senja mendongak menatap pintu kayu jati yang kokoh itu. Matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

​"Kak..." panggil Senja pelan, suaranya sedikit merendah, menyingkirkan nada cerianya. "Aku masih tidak percaya nasib kita hari ini. Bantuan pemerintah itu datang di saat yang sangat tepat. Sepanjang hari di kedai tadi, jantungku terus berdebar membayangkan Bang Jali akan kembali kemari dan menghancurkan sisa rumah ini."

​Arga menghentikan kunyahannya. Sorot matanya menggelap sesaat saat nama preman itu disebut. Jika Senja tahu bahwa Bang Jali dan komplotannya saat ini sedang terbaring di rumah sakit dengan tulang rusuk hancur dan trauma psikologis seumur hidup karena ancaman Arga, gadis itu mungkin akan pingsan ketakutan.

​"Mereka tidak akan kembali, Senja," jawab Arga tenang, suaranya berat dan mengayomi. "Preman pasar seperti mereka biasanya mencari mangsa yang mudah ketakutan. Kalau mereka melihat pintu kita sudah diganti dengan kayu jati yang kuat, mereka akan berpikir dua kali untuk mencari masalah."

​"Semoga saja begitu, Kak," Senja menghela napas panjang, tersenyum kecut. "Sisa utang Paman Harun masih enam puluh juta. Aku... aku masih bingung harus mencari uang sebanyak itu ke mana. Tapi setidaknya, malam ini kita bisa makan ayam goreng dengan tenang."

​Kau tidak memiliki utang sepeser pun, Senja. Pria bernama Jali itu telah merobek surat utangnya sendiri di bawah telapak sepatuku, batin Arga. Namun ia hanya mengangguk pelan, menyetujui ucapan Senja agar gadis itu tidak curiga.

​Selesai makan, Senja menolak mentah-mentah tawaran Arga untuk membantu mencuci piring. Gadis itu bersikeras bahwa 'orang sakit' tidak boleh menyentuh pekerjaan rumah tangga.

​Sementara Senja sibuk di belakang mencuci piring dengan air sumur yang dingin, Arga kembali duduk menyandar di dinding. Ia memerhatikan sekeliling. Gubuk kumuh ini, dengan segala keterbatasannya, terasa lebih mewah dari penthouse seharga seratus miliar miliknya. Kenapa? Karena di ruangan ini, tidak ada kebohongan. Tidak ada intrik. Semua yang dilakukan Senja untuknya adalah murni, tanpa setitik pun harapan untuk mendapatkan imbalan.

​Beberapa menit kemudian, Senja kembali ke ruang tengah. Ia mengeringkan tangannya pada celemek, lalu melepas celemek itu dan menggantungnya di paku dinding.

​Arga bisa melihat dengan jelas perubahan fisik gadis itu. Gerakan Senja melambat secara drastis. Bahu kecilnya turun, dan langkah kakinya diseret. Adrenalin yang membakar tubuhnya akibat teror rentenir pagi tadi, ditambah kelelahan bekerja seharian di kedai roti berdiri di depan oven panas, serta kondisi tubuhnya yang baru saja pulih dari demam mematikan, kini menagih bayarannya secara serentak.

​"Sudah selesai?" tanya Arga pelan saat Senja duduk bersila di atas tikar, tepat di bawah temaram cahaya lampu pijar kuning lima watt.

​"Sudah, Kak..." gumam Senja. Matanya sudah setengah terpejam. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin, memeluk kedua lututnya. "Hujan sepertinya akan turun lagi ya, Kak. Udaranya dingin..."

​Arga tidak menjawab. Ia hanya terus menatap gadis itu.

​Senja berusaha menahan kantuknya, kelopak matanya mengerjap-ngerjap berat bagaikan diberi bandul besi. Ia sesekali mengangguk-angguk kecil, kehilangan keseimbangan. Rambut panjangnya yang tergerai jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia tampak seperti anak kucing kecil yang tersesat dan kelelahan setelah berlarian menghindari predator seharian.

​Dalam hitungan kurang dari lima menit, suara napas Senja berubah menjadi sangat teratur. Udara dingin di ruangan itu tak lagi mampu membuatnya terjaga. Tubuhnya yang lelah telah menyerah pada gravitasi dan rasa kantuk.

​Senja Kirana tertidur lelap dalam posisi duduk memeluk lutut.

​Melihat hal itu, Arga bergerak. Tanpa memedulikan rasa kaku di pinggangnya, ia bangkit dari kasur dan menghampiri gadis itu. Berjongkok dengan satu lutut di depan Senja, Arga terdiam cukup lama hanya untuk mengamati wajah damai yang sedang terlelap itu.

​Di bawah pendar lampu kuning yang redup, wajah Senja terlihat begitu rapuh namun sekaligus memancarkan kekuatan yang luar biasa. Kulitnya pucat, bulu matanya yang lentik berbayang di pipinya, dan ada goresan kecil di rahangnya akibat terkena serpihan kaca saat preman-preman itu menghancurkan rumah ini.

​Dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati daripada saat ia menjinakkan bom di masa lalunya, Arga menyusupkan sebelah lengan besarnya ke bawah lutut Senja, dan lengan satunya lagi menopang punggung gadis itu.

​Arga mengangkat tubuh Senja. Sangat ringan. Terlalu ringan untuk seorang gadis yang harus memikul beban dunia seberat ini sendirian.

​Senja menggumam pelan dalam tidurnya karena posisi tubuhnya berubah, kepalanya secara naluriah mencari tempat yang nyaman dan berakhir bersandar pas di dada bidang Arga. Tangan kecilnya mencengkeram kemeja putih Arga, mencari kehangatan.

​Jantung Arga seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh, sebelum akhirnya berpacu dua kali lebih cepat.

​Arga membawa Senja menuju kasur busa tipis di sudut ruangan. Ia membaringkan gadis itu dengan kelembutan yang nyaris tak terlukiskan dengan kata-kata. Ia menarik bantal yang mulai menguning agar tepat menyangga kepala Senja, lalu membentangkan selimut motif bunga itu hingga menutupi seluruh tubuh gadis itu sebatas leher.

​Setelah memastikan Senja merasa hangat, Arga tidak lantas berdiri. Ia tetap berjongkok di samping kasur, menumpukan sikunya di atas lutut, wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah Senja.

​Dalam keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara detik jam dinding usang, dinding es raksasa yang telah dibangun Arga selama tujuh tahun di dalam hatinya, perlahan-lahan mulai mencair, retak, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

​Ingatan Arga melayang pada sosok Natasha. Tujuh tahun yang lalu, di bawah guyuran hujan yang sama dinginnya, wanita yang ia anggap sebagai pusat dunianya itu membuangnya bagai sampah yang menjijikkan hanya karena Arga tidak memiliki uang untuk membelikan barang mewah. Natasha menuntut kesempurnaan, menuntut harta, menuntut status. Saat Arga berada di titik terendahnya, wanita itu pergi menaiki mobil mewah pria lain, meninggalkan Arga hancur lebur dengan sumpah bahwa ia tidak akan pernah lagi memercayai wanita mana pun.

​Namun hari ini, di depannya, terbaring seorang gadis yang bahkan tidak memiliki uang seribu rupiah untuk membeli obatnya sendiri. Gadis yang rumahnya baru saja dihancurkan. Gadis yang diancam akan dibunuh oleh rentenir.

​Dan apa yang dilakukan gadis ini?

​Di saat pria raksasa berlumuran darah jatuh di dekat gang rumahnya, gadis ini membuang payungnya. Di saat ia hanya mampu membeli sebungkus mi instan, gadis ini membagi telurnya menjadi dua. Di saat rentenir beringas membawa tongkat bisbol dan mengancam nyawa, gadis ini merentangkan tangan kecilnya, pasang badan menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Arga yang ia pikir sedang amnesia dan lemah.

​Senja tidak tahu bahwa pria yang ia lindungi adalah seorang miliarder. Senja tidak tahu bahwa Arga bisa membeli nyawa para rentenir itu dengan uang recehnya. Yang Senja tahu, Arga adalah pria miskin yang terluka, dan Senja memilih untuk mencintainya, melindunginya, dan merawatnya tanpa syarat.

​Kenapa kau begitu bodoh? batin Arga, matanya mulai terasa panas oleh emosi yang membuncah. Kenapa kau mau mengorbankan nyawamu untuk pria tak berguna sepertiku, Senja?

​Tangan besar Arga yang dipenuhi kapalan bekas pertarungan, perlahan terulur. Ujung jarinya yang gemetar menyentuh pipi Senja yang dingin, mengusapnya dengan kelembutan yang memuja.

​Tiba-tiba, sebuah perasaan asing, liar, dan sangat kuat meledak di dalam rongga dada Arga.

​Ini bukan rasa iba. Bukan rasa kasihan melihat kemiskinan Senja. Bukan pula rasa terima kasih karena telah diselamatkan.

​Ini adalah rasa protektif yang begitu absolut, posesif, dan primitif. Sebuah insting purba dari seorang pria untuk menjadikan wanita di depannya ini sebagai satu-satunya ratu di dalam hidupnya. Arga menyadari bahwa ia ketakutan. Untuk pertama kalinya sejak ia menduduki kursi CEO Danendra Group, Arga merasa teror yang luar biasa. Bukan takut pada musuh bisnisnya, bukan takut pada kematian, melainkan takut... kehilangan gadis ini.

​Ia tidak bisa membayangkan hidupnya kembali ke penthouse mewahnya tanpa mendengar tawa renyah Senja. Ia tidak bisa membayangkan kembali makan di restoran bintang lima tanpa melihat senyum gadis ini saat mengunyah mi instan.

​Arga Danendra telah jatuh cinta. Jatuh sedalam-dalamnya hingga ia rela menghancurkan dunia jika dunia berani membuat gadis ini menangis lagi.

Manusia sering kali keliru dalam memahami proses penyembuhan dari luka masa lalu. Kita berpikir bahwa waktu adalah obat terbaik yang akan menghapus rasa sakit pengkhianatan. Kita membangun benteng pertahanan yang tinggi, bersikap dingin dan kejam, mengira bahwa dengan menjadi kuat dan tak tersentuh, kita tidak akan terluka lagi.

​Namun, pertahanan sekuat apa pun hanyalah sebuah penjara yang kita ciptakan sendiri. Kesembuhan sejati tidak datang dari berjalannya waktu, melainkan dari keberanian untuk kembali menjadi rentan di hadapan orang yang tepat. Cinta yang murni tidak menuntut kesempurnaan dan kekayaan, cinta yang murni hadir dalam wujud keberanian seseorang untuk merangkul kelemahanmu, di saat kau sendiri merasa tidak layak untuk diselamatkan. Saat kau menemukan seseorang yang membuatmu tidak perlu lagi memakai topeng baja untuk merasa aman, pada detik itulah, traumamu benar-benar sembuh

​"Kak... Arga..." igau Senja pelan dalam tidurnya. Bibirnya sedikit mengerucut, tangannya yang berada di bawah selimut bergerak gelisah, seolah mencari sesuatu.

​Arga segera meraih tangan kecil itu dari balik selimut. Ia menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang besar, membawa punggung tangan Senja ke bibirnya. Ia mengecupnya dalam-dalam, menutup matanya dan membiarkan aroma vanila samar dari kulit gadis itu menenangkan gemuruh di dadanya.

​"Aku di sini, Senja," bisik Arga, suaranya parau oleh emosi.

​Tubuh Senja kembali rileks saat merasakan kehangatan dari genggaman tangan Arga. Napasnya kembali teratur dan damai.

​Arga membuka matanya, menatap wajah terlelap itu dengan tekad yang membara. Sang tiran bisnis yang tak kenal ampun itu kini bersumpah di bawah cahaya lampu lima watt.

​"Aku tahu, kau mungkin akan membenciku saat kau mengetahui siapa aku yang sebenarnya," gumam Arga pada keheningan malam, pengakuan dosa yang hanya bisa ia ucapkan saat gadis itu tidak mendengarnya. "Kau mungkin akan lari ketakutan melihat monster di dalam diriku, atau kau akan merasa tertipu karena aku membohongimu tentang amnesia ini."

​Arga menghela napas panjang, ibu jarinya membelai punggung tangan Senja yang kasar karena kerja keras.

​"Tapi aku berjanji padamu, Senja. Aku akan menggunakan setiap sen kekayaanku, setiap tetes kekuasaanku, dan setiap napas di dalam tubuhku untuk melindungimu. Mereka yang menghinamu akan berlutut di bawah kakimu. Mereka yang menyakitimu akan berharap mereka tidak pernah dilahirkan. Mulai malam ini..."

​Arga mencondongkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut, penuh hormat dan pemujaan di kening Senja yang dingin. Kecupan itu bertahan selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

​"...mulai malam ini, kau adalah hidupku, Senja Kirana. Ratuku. Dan aku tidak akan membiarkan dunia ini melukaimu lagi. Tidak akan pernah."

​Di luar, rintik hujan mulai turun membasahi atap seng kontrakan itu, menyanyikan lagu pengantar tidur bagi sang bidadari miskin. Di dalam ruangan, sang Raja Iblis tetap terjaga, duduk di lantai sambil terus menggenggam tangan gadisnya, berjaga sebagai pelindung mutlak yang tak akan tertembus oleh pedang apa pun di dunia ini.

​Sejarah baru dalam hidup Arga Danendra telah dimulai. Permainan amnesia ini mungkin masih akan berlanjut untuk beberapa waktu demi keselamatan Senja dari Grup Wijaya, tetapi hati Arga tidak lagi bermain-main. Ia telah menetapkan jangkar jiwanya pada gadis pembuat roti di distrik kumuh ini, dan celakalah siapa pun yang berani mencoba mencabut jangkar tersebut.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!