Indonesia
NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kartu Mati Sang Pecundang

​Malam yang panjang di Kediaman Leluhur Keluarga Lin telah berakhir dengan takluknya Tiga Tetua Pelindung di bawah telapak kaki Lin Fan. Berita tentang kebangkitan Sang Kaisar Perang menyebar ke seluruh penjuru ibu kota seperti wabah. Para elit Jingcheng yang sebelumnya meremehkan Lin Fan kini sibuk mengunci pintu rumah mereka, gemetar menanti fajar.

​Namun, di sebuah bungker rahasia di pinggiran kota yang tidak terdaftar dalam aset resmi keluarga, Lin Ye mondar-mandir seperti orang gila. Wajah bangsawannya kuyu, rambutnya acak-acakan, dan matanya dipenuhi urat merah. Pria yang selama tiga tahun merasa menguasai dunia itu kini telah kehilangan segalanya: pasukan bayarannya hancur, para Tetua pelindungnya takluk, dan martabatnya diinjak-injak.

​"Tuan Muda Ye," panggil Feng, kepala intelijen bayangannya yang setia, masuk ke dalam bungker dengan napas terengah-engah.

​"Apakah kau berhasil, Feng?!" Lin Ye langsung menerjang, mencengkeram kerah anak buahnya itu dengan mata melotot. "Katakan padaku kau berhasil mendapatkan sesuatu di Jiangzhou sebelum Pasukan Bayangan menguasai seluruh kota itu!"

​Feng tersenyum tipis yang dipaksakan. "Berhasil, Tuan Muda. Sesuai instruksi darurat Anda semalam, sisa agen kita di Jiangzhou tidak menargetkan Menara Su yang dijaga ketat, melainkan mengincar kelemahan lain dari Keluarga Su. Kami telah membawa 'tamu' istimewa itu ke bungker ini."

​Feng menjentikkan jarinya. Dua orang pengawal menyeret seorang pria paruh baya yang wajahnya bengkak dan pakaiannya kotor. Pria itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat ketakutan.

​Itu adalah Su Ming—Paman Pertama Su Yuhan.

​Jebakan Keserakahan

​Lin Ye melepaskan kerah Feng dan tertawa terbahak-bahak melihat wujud menyedihkan pria di depannya. Di matanya, Su Ming bukanlah manusia, melainkan perisai hidup dan satu-satunya kunci untuk membalikkan keadaan.

​Su Ming tidak ditangkap di jalanan secara acak. Pria serakah ini dengan sukarela mengantarkan nyawanya sendiri karena kebodohannya. Setelah Yuhan pergi ke ibu kota bersama Lin Fan, Su Ming melakukan tiga kesalahan fatal:

​Pencurian Dokumen: Ia menyuap staf keamanan bawah untuk masuk ke ruang kerja Yuhan dan mencoba mencuri stempel perusahaan.

​Pemalsuan Tanda Tangan: Ia mencoba memalsukan otorisasi ke Bank Sentral untuk mentransfer sebagian dana 500 Miliar Yuan ke rekening pribadinya di luar negeri.

​Melarikan Diri: Merasa rencananya akan ketahuan oleh sisa loyalis Yuhan, ia mencoba kabur ke luar kota sendirian membawa koper berisi perhiasan, tepat ke arah blokade agen rahasia Lin Ye yang sedang berjaga.

​"T-Tuan... Tuan Lin Ye..." isak Su Ming, bersujud di lantai beton yang dingin. "Tolong jangan bunuh saya! Saya tidak ada hubungannya dengan Lin Fan! Saya bahkan sangat membenci pria miskin itu! Ambil saja uang perusahaan, tapi biarkan saya hidup!"

​"Tutup mulutmu, babi tua," desis Lin Ye jijik, menendang bahu Su Ming hingga pria itu terguling. "Nyawamu tidak ada harganya. Tapi darahmu... darahmu adalah satu-satunya alat untuk membuat keponakan kesayanganmu dan suaminya yang sombong itu berlutut di hadapanku."

​Lin Ye memerintahkan Feng untuk menyiapkan perangkat panggilan video terenkripsi. Ia akan memberikan pertunjukan terakhir untuk sang Tiran.

​Sementara itu, di kamar utama Kediaman Leluhur yang berlapis emas dan sutra, Lin Fan sedang menuangkan teh melati hangat untuk Su Yuhan. Sang istri tampak mulai bisa menyesuaikan diri dengan kemewahan dan kekuasaan absolut yang kini berada di genggamannya.

​Tiba-tiba, tablet militer di atas meja teh berkedip merah, memancarkan sinyal panggilan masuk berprioritas tinggi. Lin Fan menekan layar tersebut, dan wajah Lin Ye yang dipenuhi keputusasaan serta kegilaan muncul.

​"Lin Fan!" sapa Lin Ye dengan tawa sumbang yang menggema. "Apakah kau menikmati tidur malammu di kasur yang seharusnya menjadi milikku?!"

​Lin Fan tidak bereaksi. Ia hanya menyesap tehnya dengan tenang. "Lin Ye. Kupikir kau sudah lari ke luar negeri. Mengapa kau membuang waktuku dengan panggilan murahan ini?"

​Lin Ye menggeser kameranya, memperlihatkan Su Ming yang sedang diikat di kursi baja, dengan seorang pengawal menodongkan pistol tepat ke pelipis pria paruh baya tersebut.

​Melihat pamannya disandera, Yuhan yang tadinya santai seketika duduk tegak. "Paman!"

​"Yuhan! Tolong Paman, Yuhan!" jerit Su Ming histeris dari seberang layar, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Mereka akan membunuhku! Serahkan perusahaan itu padanya! Suruh suami sialanmu itu menyerah! Nyawaku lebih berharga daripada ego kalian!"

​Mendengar pamannya yang serakah itu masih sempat-sempatnya menghina Lin Fan sambil mengemis nyawa, wajah Yuhan yang semula panik perlahan berubah menjadi dingin.

​Lin Ye kembali mengarahkan kamera ke wajahnya, menyeringai menang. "Dengar baik-baik, Lin Fan. Kau memang memiliki Tetua dan Pasukan Bayangan. Tapi istrimu memiliki kelemahan bernama keluarga. Serahkan cincin stempel Kepala Keluarga kepadaku, dan publikasikan pengunduran dirimu sekarang juga. Jika kau menolak, aku akan memotong pamannya ini menjadi seratus bagian dan mengirimkannya dalam toples ke hadapan istrimu."

​Lin Ye tertawa, merasa bahwa ia akhirnya menemukan celah di pertahanan absolut sepupunya. Namun, tawa itu perlahan mati ketika ia melihat reaksi Lin Fan dan Su Yuhan di layar.

​Lin Fan tidak terlihat marah. Ia juga tidak terlihat panik. Pria itu justru tersenyum miring, sebuah senyum penuh belas kasihan yang ditujukan pada seekor serangga. Lin Fan menoleh menatap Yuhan.

​"Bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Lin Fan lembut. "Apakah kau ingin menukar takhtaku untuk menyelamatkan pria yang mencoba mencuri uangmu dan menghinamu setiap hari selama tiga tahun terakhir?"

​Yuhan menatap layar itu dengan pandangan sedingin es. Tiga tahun lalu, ia mungkin akan menangis dan menyerah. Namun, setelah berdiri di sisi Sang Naga, pandangannya tentang kesetiaan dan keadilan telah berubah drastis.

​"Paman Ming tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Dia hanya melihatku sebagai sapi perah," suara Yuhan terdengar sangat jernih dan tegas. Ia menatap lurus ke arah Lin Ye di layar. "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan pada pria itu, Lin Ye. Grup Su dan Keluarga Lin tidak pernah bernegosiasi dengan teroris."

​Mata Lin Ye membelalak tak percaya. Wajah Su Ming di layar memucat, ternganga mendengar keponakannya yang selalu patuh itu menjatuhkan vonis mati padanya.

​Lin Fan tertawa pelan, tawanya menggetarkan ruang tamu tersebut.

​"Kau dengar itu, Saudaraku?" ucap Lin Fan, menatap kamera dengan sorot mata yang mengunci jiwa Lin Ye. "Kau menculik seekor parasit dan mengira kau telah menangkap seekor naga. Bodoh sekali."

​Lin Fan mengangkat jari tangannya, dan Komandan Yuan melangkah masuk ke dalam bingkai kamera.

​"Tuan Muda, tim siber kita telah melacak alamat IP dari panggilan video ini," lapor Yuan dengan suara baritonnya yang mematikan. "Target berada di bungker rahasia sektor barat. Tiga ratus Pasukan Bayangan telah mengepung lokasi."

​Wajah Lin Ye di layar seketika berubah seputih kertas. Ia menjatuhkan tabletnya, dan layar itu bergetar hebat. Dari speaker tablet, terdengar suara ledakan keras di kejauhan, disusul oleh suara rentetan tembakan, dan pintu baja yang didobrak paksa dari luar.

​"Aku memberimu waktu sepuluh menit untuk meratapi keserakahanmu, Lin Ye," bisik Lin Fan ke arah layar yang mulai dipenuhi suara jeritan, sesaat sebelum sambungan itu terputus total.

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!