Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dreven Orsley Dastan

"Dimana Veyla?" Tanya Elara karena sejak pagi dia tak bertemu dengan pria itu setelah kejadian semalam.

Rian langsung tersenyum tipis, "Sudah tidak usah dipikirkan, kakakmu sepertinya masih tidur. Mobil keluarga Dastan sudah menunggu. Cepat masuk dan pergi." Katanya dengan cepat seolah pria itu benar-benar ingin mengusir Elara dari rumahnya.

Namun, Elara tak peduli akan hal itu. Dia dengan tenang menarik kopernya dan berjalan keluar dari kediaman yang sudah dia tinggali selama sepuluh tahun itu.

Seorang supir langsung mendatanginya dan membantunya memasukkan kopernya ke dalam bagasi.

Elara berdiri sejenak di depan mobil hitam mewah itu, matanya menatap ke arah rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama satu dekade. Namun, tak ada rasa sentimental sedikit pun dalam dirinya. Tempat ini bukan rumahnya, dan orang-orang di dalamnya bukan keluarganya.

Tanpa menoleh lagi, ia masuk ke dalam mobil dengan anggun.

Begitu pintu tertutup, kendaraan itu melaju meninggalkan rumah keluarga Roselyn.

Rian dan Lauren yang melihat itu melambaikan tangan lalu berjalan masuk.

"Hah, untungnya wanita dingin itu sudah pergi. Selama ini aku selalu menahan untuk tidak mengusirnya." Kata Lauren dengan lega.

Rian mengangguk, "Asal usulnya tidak jelas, aku kira dia anak orang kaya. Tapi saat bawahanku menyelidikinya dia hanya yatim piatu dari panti asuhan. Untungnya keluarga Dastan membutuhkan seorang istri atau lebih tepatnya pengasuh untuk putra bungsunya."

"Hah, benar sekali," Lauren menyeringai. "Keluarga Dastan tidak mencari istri untuk tuan Dreven, mereka hanya butuh seseorang yang bisa mengendalikannya."

Rian tertawa kecil. "Dan siapa yang lebih cocok selain Elara? Wanita itu cukup dingin dan cerdas, tapi sayangnya, dia tak punya kekuatan apa pun. Tanpa nama keluarga yang jelas, dia bukan siapa-siapa."

Lauren mengangguk setuju. "Lagipula, begitu dia menikah, kita tidak perlu memikirkan dia lagi. Yang penting, uang dan koneksi dengan keluarga Dastan sudah kita dapatkan."

Rian menarik napas puas. "Sekarang tinggal urusan Veyla..."

Lauren langsung menegang. "Apa yang kau lakukan padanya?"

Pria itu tersenyum miring. "Aku hanya memastikan dia tidak melakukan hal bodoh. Jangan khawatir, dia tidak akan bisa menghentikan pernikahan ini."

"Hah, putra kita sejak dulu memang sudah menyukai Elara. Tapi, aku benar-benar tak ingin merestuinya karena Elara tak akan memberikan kontribusi apapun untuk keluarga kita." Kata Lauren dengan dingin.

Rian terkekeh lalu merangkul istrinya itu, "Tenang saja, setelah pernikahan ini kita akan mendapatkan tanda tangan kontrak untuk proyek besar. Keluarga Roselyn akan semakin berjaya."

Lauren terkikik, "Benar sekali."

*****

Elara menatap mansion keluarga Dastan dengan ekspresi datar. Bangunan megah dengan arsitektur klasik itu berdiri kokoh, mencerminkan kekayaan dan kekuasaan keluarga yang memilikinya. Tapi baginya, ini bukanlah tempat yang mengesankan. Ini hanyalah sangkar emas lain, hanya saja lebih besar dan lebih mencolok.

Pintu mobil dibuka oleh seorang pelayan dengan seragam hitam putih yang rapi. "Kita sudah sampai, Nona."

Elara melangkah keluar dengan anggun. Sepatu hak tingginya menyentuh jalan berbatu dengan bunyi halus. Dia menatap sekeliling, memperhatikan detail tempat itu.

Dari kejauhan, beberapa pelayan tampak sibuk, beberapa penjaga berdiri tegak di sekitar gerbang, dan seorang pria tua dengan wajah tegas berjalan mendekatinya.

Pria itu mengenakan setelan mahal dengan tongkat di tangannya, auranya begitu kuat hingga siapapun yang melihatnya bisa langsung tahu siapa dia.

Raviel Dastan. Kepala keluarga Dastan.

Elara berdiri tegak, menatap pria itu tanpa gentar.

Raviel meneliti Elara dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk kecil. "Kau lebih baik dari yang kubayangkan."

Elara tersenyum tipis, tetap menjaga ketenangannya. "Terima kasih, Tuan Dastan."

Pria itu menyeringai kecil. "Jangan berterima kasih dulu. Kau akan segera bertemu dengan calon suamimu."

Elara tidak bereaksi.

Dari balik pintu mansion yang megah, sebuah kursi roda muncul didorong oleh seorang perawat.

Pria di atas kursi roda itu masih tampan meskipun duduk. Wajahnya tegas dengan garis rahang yang kuat, rambut hitamnya sedikit acak-acakan, dan matanya berwarna abu-abu gelap dengan kilatan sinis di dalamnya. Kemeja putihnya dikenakan dengan rapi, namun ada sesuatu dalam sikapnya yang menunjukkan bahwa pria ini bukan tipe orang yang bisa diatur.

Tatapan mereka bertemu, dan pria itu menyeringai seperti seekor serigala yang baru menemukan mangsanya.

Dreven Orsley Dastan.

Pria yang akan menjadi suaminya.

Elara tetap diam, menunggu langkah pertama darinya.

Dreven menyandarkan tubuhnya di kursi roda, tatapannya penuh ejekan. "Jadi ini wanita yang akan menjadi istriku?" Suaranya rendah, sedikit malas, namun mengandung racun di dalamnya. "Ayah benar-benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untukku."

Elara hanya menatap datar, tidak tersinggung sedikit pun. Raviel yang mendengar itu tersenyum tipis. "Ayo masuk, diluar panas. Kulitmu bisa terbakar." Katanya dengan tenang.

Elara mengangguk dan mengabaikan Dreven sepenuhnya, dia benar-benar tak peduli dengan kata-kata tajam pria itu.

Dreven menyipitkan matanya sedikit saat melihat bagaimana Elara mengabaikannya begitu saja. Sebagai pria yang terbiasa menjadi pusat perhatian—bahkan di atas kursi roda sekalipun—perlakuan ini adalah sesuatu yang tidak biasa baginya.

Dia mendorong kursi rodanya mendekat, gerakannya halus namun penuh intimidasi. "Kau bahkan tidak akan menyapaku?" suaranya terdengar sinis, "Atau mungkin kau terlalu malu karena harus menikahi pria lumpuh sepertiku?"

Elara berhenti sejenak sebelum menoleh sekilas ke arahnya. Bibirnya membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Apakah itu perlu?" jawabnya singkat, suaranya dingin. "Aku di sini bukan untuk menyapamu, Tuan Dreven. Aku di sini karena keluargaku menjualku untuk uang. Dan kau di sini karena keluargamu membeliku. Jadi, mari kita bersikap profesional, tidak perlu basa-basi."

Raviel tertawa kecil, jelas menikmati interaksi ini. "Dreven, jangan terlalu keras padanya. Dia masih beradaptasi dengan situasinya." Kata Raviel dengan senyum menyeringai.

Mendengar kata-kata 'menjual' dan 'membeli' membuat harga diri Elara tersentil. Dia tanpa sadar mengepalkan tangannya dan menatap dingin ke arah Raviel.

Tapi dengan cepat dia segera merubah ekspresinya dan tersenyum, "Apakah keluarga ini suka bicara omong kosong? Di mana kamarku? Aku ingin segera istirahat." Katanya dengan santai, menjaga martabatnya tetap utuh.

Dreven menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan ketangguhan wanita ini. Biasanya, setiap kali dia melontarkan kata-kata tajam, orang-orang akan gemetar atau menangis. Tapi wanita ini... dia malah membalas dengan elegan.

Raviel hanya terkekeh pelan. "Tentu, tentu. Pelayan akan mengantarkanmu," katanya, masih dengan senyum liciknya.

Seorang pelayan segera maju dan membungkuk hormat. "Silakan ikut saya, Nona."

Elara menatap Raviel sejenak sebelum akhirnya berbalik mengikuti pelayan itu. Dreven memperhatikannya pergi dengan mata penuh ketertarikan, sementara Raviel hanya menggelengkan kepala pelan.

Begitu Elara menghilang di balik tangga, Dreven memutar kursi rodanya menghadap ayahnya, ekspresinya datar namun matanya berkilat. "Kau benar-benar tahu cara menyambut calon menantu, Ayah."

Raviel menyeringai. "Hanya ingin melihat reaksinya. Dia menarik, bukan?"

Dreven mengangkat bahunya, berpura-pura tak peduli. "Dia hanya wanita lain yang dipaksa untuk menikah denganku karena keluarga kami kaya. Aku tidak butuh pengasuh, Ayah. Ajari dia untuk tidak ikut campur dalam hidupku, dan aku akan membiarkannya tinggal di mansion ini dengan nyaman." Katanya dengan dingin, matanya menatap ke arah tangga tempat Elara menghilang.

Raviel tersenyum tipis, "Dia akan menemani mu kemanapun. Pernikahan ini untuk mencegah semua skandal mu. Ayah juga berharap kamu bisa sedikit bertanggung jawab, Dreven." Kata pria paruh baya itu dengan serius.

"Bertanggung jawab?" Dreven terkekeh mengulang kalimat ayahnya itu, suaranya penuh sarkasme. "Aku bahkan tidak bisa berdiri dari kursi ini, Ayah. Dan kau ingin aku bertanggung jawab pada seorang wanita?" Senyum sinisnya melebar. "Aku hamili dulu baru aku tanggung jawab."

Raviel mendesah pelan, "Itu lebih baik dibandingkan kamu menghamili seorang jalang diluar sana. Sekarang mansion ini aku serahkan padamu. Besok ke kantor sipil untuk meminta akta pernikahan. Untuk pesta pernikahan kita adakan setelah semua kekacauan ini selesai."

"Ya." Katanya dengan singkat lalu memutar kursi rodanya dan pergi begitu saja, meninggalkan Raviel yang menggelengkan kepala.

Raviel yang melihat putra bungsunya yang benar-benar tak berubah membuatnya khawatir. Meskipun kecelakaan itu telah melumpuhkan kakinya, sikap Dreven tetap sama—arogan, sinis, dan sulit diatur.

"Semoga wanita itu bisa bertahan dengan anak itu." Gumamnya pelan.

Di sisi lain, Elara berjalan di koridor luas mansion itu, mengikuti pelayan yang membawanya ke kamar yang disediakan untuknya.

"Kamar ini berada di sayap timur, Nona," kata pelayan itu dengan sopan sambil membukakan pintu. "Tuan Dreven tinggal di sayap barat. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi staf."

Elara mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup, dia menghela napas panjang dan membuang tubuhnya ke atas tempat tidur empuk.

"Mereka semua sama," gumamnya pelan. "Menganggapku tidak lebih dari barang dagangan. Tapi tidak apa-apa." Senyum tipis terbentuk di bibirnya. "Aku sudah terbiasa. Dan cepat atau lambat, aku akan keluar dari semua ini."

Bersambung

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!