Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberanian

Begitu sampai dirumah, hal pertama yang kusadari adalah tidak adanya mobil Mas Rama di halaman.

Belum sempat mencari tahu, suara tangisan Aira sudah terdengar sampai keluar rumah. Aku langsung bergegas masuk.

Di ruang keluarga, Aira duduk sambil memeluk boneka kesayangannya. Pipinya basah oleh air mata. Di sampingnya, Aldi berusaha menenangkan sang adik, sementara Mbak Tini ikut membujuk dengan wajah kebingungan. Aku segera menghampiri mereka.

" Lho, anak Mama kok menangis? Kenapa, sayang?"

Aku langsung memeluk tubuh kecil Aira. Aira membenamkan wajahnya di dadaku.

" Adik bangun tidur langsung cari Mama, tapi Mama tidak ada." Jelas Aldi.

" Saya juga sudah berusaha membujuknya, Bu. Tapi tetap menangis." Tambah Mbak Tini.

Aku mengusap punggung Aira perlahan, membiarkan tangisnya mereda di dalam pelukanku.

" Iya, mungkin Aira kaget karena baru bangun tidur. Tidak apa-apa, sayang. Cup....cup..." Ucap ku menenangkan Aira.

" Mama.... Tadi nenek marah-marah. Mbak Tini di marahin terus." Kata Aldi yang sejak tadi berdiri di sampingku.

" Iya,Bu. Saya takut sama mertuanya Bu Jasmine. Dari tadi marah terus. Sampai akhirnya Pak Rama pergi. Tidak lama Aira bangun dan menangis." Sahut Mbak Tini.

" Tidak apa-apa, Mbak. Sekarang sudah ada saya. Aira juga sudah tidak apa-apa."

Namun belum sempat aku menenangkan Aira lebih jauh, tiba-tiba suara Ibu mertuaku terdengar dari belakang.

" Tuh!! Kalau tidak Ibu telepon, pasti kamu tidak akan pulang. Ibu macam apa kamu ini? Pagi-pagi sudah kelayapan, bukannya membereskan rumah dan menyiapkan sarapan. Lama-lama Ibu makin tidak mengerti jalan pikiranmu, Jasmine." Seru Bu Lastri dengan nada marah-marah.

Mbak Tini langsung menatap ke arahku dengan wajah cemas.

" Mbak Tini, lanjutkan saja pekerjaan di dapur, ya." Ucapku

Mbak Tini mengangguk cepat dan segera pergi. Sementara Aldi yang sedari tadi berdiri, perlahan duduk di sampingku. Aldi terlihat takut karena mendengar neneknya marah-marah.

" Abang sama Adik sudah sarapan belum? Atau kita mandi dulu saja?" Ujarku. Sengaja tak kuhiraukan perkataan Ibu mertuaku. Yang ternyata membuatnya semakin emosi.

" Heh!!! Ibu ini ngomong sama kamu!! bukan ngomong sama tembok! Kamu pikir Ibu ini apa? Seenaknya mengacuhkan orang tua. Mentang-mentang sekarang kamu mau punya usaha sendiri, kamu jadi sombong. Apalagi kalau nanti sudah punya uang sendiri. Rama itu bagaimana sih, bisa-bisanya jadi laki-laki melempem menghadapi perempuan seperti kamu." Seru Bu Lastri yang terdengar semakin marah.

Mendengar suara Ibu Lastri yang semakin meninggi, aku langsung mengkhawatirkan Aldi dan Aira. Aku tidak ingin mereka terus mendengar perkataan yabg seharusnya tidak di dengar oleh anak-anak.

" Abang, ajak adik masuk ke kamar dulu, ya. Nanti Mama menyusul." Ucapku lembut.

Aldi mengangguk dan langsung menggandeng tangan Sang Adik menuju ke kamar. Setelah kedua anak ku menghilang di balik pintu kamar, aku menghembuskan napas panjang. Rasanya dadaku sesak. Namun kali ini aku tidak ingin kembali mengalah hanya demi menjaga suasana tetap tenang. Selama bertahun-tahun aku diam. Menelan semua perkataan Ibu mertuaku, bahkan ketika hatiku terluka. Aku selalu berpikir bahwa diam adalah cara terbaik untuk menghormati orang yang lebih tua. Tapi ternyata justru membuat orang lain merasa bebas memperlakukanku sesuka hati.

" Ibu, kali ini saya tidak akan metolerir kalau Ibu terus bersikap kasar dan berkata-kata seperti tadi di depan anak-anak saya."

" Sekarang kamu berani melarang Ibu?"

" Bukan melarang, Bu. Saya hanya menjaga anak-anak saya. Ibu boleh marah kepada saya. Ibu boleh tidak menyukai keputusan saya. Tapi tolong, jangan lakukan itu di depan Aldi dan Aira. Mereka masih kecil."

" Kalau kamu tidak bertingkah, Ibu juga tidak akan marah."

" Kalau Ibu keberatan dengan perbuatan dan keputusan saya, itu hak Ibu. Tapi saya juga punya hak untuk menentukan bagaimana rumah tangga saya di jalankan. Dan perlu Ibu tahu, semua yang saya lakukan bukan keputusan sepihak. Saya sudah membicarakannya dengan Mas Rama. Saya masih tahu aturan sebagai seorang istri. Saya tidak akan mengambil keputusan besar tanpa persetujuan suami saya. Saya menghormati Ibu sebagai Ibu mertua saya. Tapi dirumah ini, saya adalah istri Mas Rama, saya nyonya dirumah ini. Saya yang bertanggung jawab mengurus rumah ini. Jadi saya mohon, selama Ibu tinggal disini, tolong hormati aturan yang ada di rumah ini. Saya tidak pernah berniat menyakiti atau merendahkan Ibu. Tapi kalau Ibu tidak nyaman tinggal bersama kami, atau mungkin Ibu ingin pulang ke lampung, saya bisa bantu siapkan tiketnya. Bahkan kalau Ibu ingin pulang sekarang, saya bisa memesankannya saat ini juga." Ucap ku panjang lebar.

Sepertinya beliau sama sekali tidak menyangka aku akan berbicara setegas itu. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat ada banyak hal yang ingin di bantah. Bibirnya bahkan sempat terbuka, seoalah hendak mengeluarkan kalimat panjang seperti biasanya. Namun entah kenapa kali ini tidak ada satu kata pun yang keluar. Mungkin beberapa perkataanku tadi terdengar pedas. Bahkan mungkin terlalu berani untuk seorang menantu. Tapi aku tidak menyesal. Aku sudah terlalu lama diam. Terlalu sering mengalah.

" Dari apa yang saya sampaikan barusan, apakah sudah cukup jelas, Bu? Atau perlu saya ulangi lagi?" Tanyaku.

Bu Lasti hanya diam. Tak ada reaksi. Aku menunggu beberapa detik, tapi tetap tak ada jawaban.

" Baiklah kalau begitu. Kalau Ibu merasa kerepotan mengurus kedua anak saya, biar mereka saya bawa. Ibu cukup tenang dirumah. Sarapan, bersantai, dan menikmati waktu Ibu. Tidak perlu susah payah mengerjakan pekerjaan rumah atau menjaga anak-anak saya." Imbuhku sambil tersenyum tipis.

Tanpa menunggu tanggapan, aku segera melangkah menuju kamar anak-anak ku. Perasaan ku merasa cukup lega, meluapkan unek-unek yang selama ini kupendam terhadap Ibu mertuaku. Aku harap beliau bisa menerima dan memahami semua perkataanku.

...****************...

Terimakasih sudah membaca 🙏

Next ke episode selanjutnya yaa 😘😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!