Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Sinar matahari siang mulai menghangatkan halaman mansion saat mobil hitam milik Kael perlahan berhenti tepat di depan pintu utama. Evelyn yang sejak tadi duduk diam di kursi penumpang akhirnya menghela napas lega.
Akhirnya sampai juga. Perjalanan hampir dua jam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Bukan karena macet.
Melainkan karena setiap kali tanpa sengaja menoleh ke arah Kael, ingatannya langsung kembali pada video CCTV memalukan pagi tadi.
Tentang dirinya yang menarik tangan Kael. Tentang dirinya yang memeluk lengan pria itu seperti guling. Dan yang paling parah... Tentang dirinya yang mengigau.
Jangan pergi...
Mengingatnya saja sudah cukup membuat Evelyn ingin melompat dari mobil yang sedang berjalan.
Mobil berhenti sempurna.Evelyn langsung membuka sabuk pengamannya.
"Oke. Makasih ya."
Kael hanya mengangguk
kecil.
"Hm."
Evelyn turun dari mobil. Lalu berdiri di samping pintu sambil menggenggam tasnya. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu. Kalimat basa-basi yang sopan.
"Mau mampir dulu?"
Atau semacamnya. Namun setiap kali hendak membuka mulut, otaknya kembali memutar adegan dirinya yang memeluk Kael semalaman.
Tidak. Tidak akan. Harga dirinya masih tersisa. Sedikit. Sangat sedikit. Saat Evelyn masih sibuk berperang dengan pikirannya sendiri, Kael sudah lebih dulu membuka kaca mobil.
"Aku pergi."
"Oh."
"Kau masih terlihat seperti orang habis ditabrak."
Evelyn langsung melotot. "ya emang gue ditabrak!"
Sudut bibir Kael sedikit terangkat. Kemudian mobil itu perlahan meninggalkan halaman mansion.
Evelyn berdiri beberapa saat memperhatikannya. Baru setelah mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan, ia menghembuskan napas panjang.
"Syukurlah."
Kalau lebih lama sedikit lagi, mungkin dia benar-benar akan mati karena malu. Namun ketenangannya hanya bertahan sekitar tiga puluh detik.
Karena sebuah mobil sedan hitam lain memasuki gerbang mansion. Evelyn langsung mengenali kendaraan itu.
Mobil milik Reon Hartmann. Manajer utama Danesha Group.
"Ya ampun..." "
Hari kerjanya resmi dimulai.
-----
Beberapa menit kemudian.
Ruang tamu mansion kembali dipenuhi suasana formal.
Tumpukan dokumen memenuhi meja.
Laptop terbuka. Tablet kerja menyala. Beberapa berkas sudah tersusun rapi. Sedangkan pemilik perusahaan yang baru...
Sedang duduk di sofa sambil memakan sandwich isi ayam dengan ekspresi kosong.
"Nona Evelyn, tolong fokus." Suara Reon terdengar tenang.
Evelyn mengunyah pelan.
"Aku fokus kok."
"Kau sedang makan sambil menatap langit-langit."
"Aku merenungi hidup."
Reon menutup map di tangannya. "Anda baru mengalami kecelakaan kemarin."
"Nah itu dia."
"Mengapa Anda masih bercanda?"
"Karena kalau enggak, aku nangis."
Reon terdiam beberapa detik. Lalu menghela napas. Entah kenapa, semakin lama ia merasa nona mudanya ini semakin sulit ditebak.
Padahal dulu Evelyn
terkenal tenang dan elegan.
Sekarang? Kadang terlihat cerdas. Kadang terlihat seperti orang yang tersesat dalam hidup.
"Bagaimana kondisi kesehatanmu?"
"Tidak mati."
"Nona..."
"Oke, oke."
Gadis itu meletakkan makanannya. "Kepala masih agak pusing. Tapi dokter bilang aman." Reon mengangguk.
Setidaknya itu kabar baik.
Pria itu kembali membuka beberapa dokumen. "Saya sebenarnya ingin memberi anda waktu istirahat beberapa hari."
Mata Evelyn langsung berbinar. "Beneran?"
"Tapi saya berubah pikiran."
Senyum Evelyn langsung menghilang. "Jahat."
"Ini untuk membentuk mental Anda."
"Kalau mental gue patah gimana?"
"Berarti pembentukannya berhasil."
Evelyn terdiam. Lalu menunjuk Reon. "Kadang saya curiga Bapak sebenarnya mantan tentara."
Reon nyaris tertawa. Nyaris.
"Tidak."
"Beneran?"
"Saya lebih kejam dari tentara."
Evelyn langsung bersandar pasrah di sofa. "Ya Tuhan..."
Melihat reaksinya, Reon akhirnya tersenyum tipis.
Kemudian ia menggeser satu map ke arah Evelyn.
"Baiklah. Kembali ke pekerjaan."
Evelyn mengerang. Namun tetap menarik map itu. Meski mengeluh, ia tetap membukanya. Dan itu membuat Reon cukup puas.
Karena di balik semua keluhan, satu hal yang ia sadari beberapa hari terakhir adalah... Evelyn belajar dengan sangat cepat.
Jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Mungkin gadis itu belum percaya diri. Mungkin masih sering panik. Mungkin masih suka mengeluh.
Namun saat berhadapan dengan pekerjaan sungguhan..
Evelyn selalu membaca setiap detail.
Tidak terburu-buru mengambil keputusan. Dan berani mempertanyakan hal-hal yang dianggap orang lain sepele.
Sifat yang sangat dibutuhkan seorang pemimpin.
Sementara Evelyn sendiri membuka dokumen itu dengan wajah pasrah. Dalam hati ia hanya memiliki satu pikiran.
"Gue cuma mau hidup tenang..."
--------
Meski beberapa kali mengeluh, gadis itu tetap membaca semuanya dengan cukup teliti. Reon yang memperhatikan dari seberang meja diam-diam merasa puas.
Setidaknya nona mudanya tidak kabur di tengah rapat. Itu sudah sebuah kemajuan.
"Ehem."
Reon membuka map lain yang sejak tadi belum disentuh.
"Ada satu hal lagi yang sebenarnya menjadi tujuan utama saya datang hari ini."
Evelyn yang sedang memakan potongan terakhir sandwich langsung mengangkat kepala.
"Lagi?"
"Ya."
"Waduh."
Reon mengabaikan keluhannya. Pria itu menggeser sebuah berkas tebal ke hadapan Evelyn.
"Loren Holdings mengajukan proposal kerja sama dengan Danesha Group."
Hening. Evelyn berkedip.
Sekali. Dua kali.
"Loren... apa?"
"Loren Holdings."
"Oh."
Jawaban yang sangat datar.
Terlalu datar. Reon sampai menatapnya beberapa detik.
"Anda tidak tahu?"
Evelyn menggaruk pipinya. "Harusnya tahu?"
Reon menghela napas panjang. Kadang ia lupa bahwa nona mudanya ini benar-benar minim pengalaman bisnis.
"Loren Holdings adalah salah satu grup perusahaan terbesar di negara ini."
"Oh."
"Nilainya hampir menyamai beberapa anak perusahaan Aurelius Consortium."
"Oh."
"Mereka memiliki bisnis di bidang properti, konstruksi, logistik, energi, dan investasi."
"Oh."
Reon memijat pelipisnya.
"Tolong beri reaksi yang lebih antusias."
"Maaf, Pak. Saya lagi berusaha mencerna."
Evelyn membuka dokumen itu perlahan. Matanya menyapu beberapa halaman pertama.
Logo perusahaan. Profil perusahaan. Laporan singkat.
Proposal kerja sama. Semakin dibaca, semakin muncul kerutan di dahinya.
Loren Holdings?
Nama itu terdengar asing.
Tapi juga terasa sedikit familiar.
Seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat.
Mungkin di novel itu.
Mungkin juga tidak. Yang lebih membuatnya bingung adalah satu hal.
"Pak Reon."
"Ya?"
"Perusahaan kita memang sebesar apa sih?"
Reon sedikit terdiam.
" Lumayan besar."
"Lumayan besar itu berapa?"
"Masuk empat puluh besar nasional."
Evelyn hampir tersedak.
"HAH?"
"Anda baru tahu?"
"Saya kira cuma perusahaan keluarga biasa!"
"Itu bukan perusahaan keluarga biasa, Nona."
Evelyn menatap langit-langit. Mendadak pusing.
Semakin lama ia merasa keluarga yang ditempatinya ini ternyata jauh lebih kaya daripada yang ia bayangkan.
Namun tetap saja... Ada sesuatu yang mengganjal. "Kalau begitu..."
Evelyn menatap dokumen itu lagi. "Kenapa mereka mau bekerja sama dengan kita?"
Reon tersenyum tipis. "Itu pertanyaan yang bagus."
"Nah kan."
"Mungkin karena kerja sama dengan Aurelius Consortium berhasil menarik perhatian banyak pihak."
Evelyn terdiam. Masuk akal.
Setelah berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan sebesar Aurelius, otomatis reputasi Danesha Group ikut naik.
Namun entah kenapa instingnya masih terasa aneh. Terlalu cepat. Terlalu lancar.
Dan hidupnya akhir-akhir ini tidak pernah memberi sesuatu secara cuma-cuma. Biasanya kalau ada hal baik datang... Beberapa hari kemudian muncul masalah yang lebih besar.
"Curiga ya?" Tanya Reon yang menangkap perubahan ekspresinya.
Evelyn mengangguk jujur. "Sedikit."
"Itu bagus."
"Hah?"
"Pebisnis yang terlalu mudah percaya biasanya tidak bertahan lama."
Evelyn memandang pria itu.
Lalu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu ia merasa mendapat pujian.
Meski bentuknya agak menyeramkan.
Reon melanjutkan. "Tentu saja kita tidak akan langsung menerima."
"Kita pelajari dulu."
"Tepat."
Evelyn kembali membuka halaman-halaman berikutnya.
Kali ini lebih serius. Benar-benar serius. Ia membaca poin demi poin. Target kerja sama.
Pembagian investasi.
Pembagian keuntungan. Hak akses proyek. Sampai beberapa menit kemudian. Evelyn menutup map itu perlahan.
"Aku perlu waktu."
Reon mengangguk. "Tidak perlu terburu-buru."
"Kalau aku setuju?"
"Saya akan menjadwalkan pertemuan resmi."
"Dengan siapa?"
"Dengan perwakilan utama Loren Holdings."
Evelyn menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menatap dokumen itu lagi. Entah kenapa perasaannya semakin tidak nyaman.
Bukan karena isi proposalnya. Melainkan karena nama perusahaan itu sendiri.
Loren Holdings...
Kenapa rasanya seperti pernah dengar...? Samar-samar sebuah firasat buruk muncul di dadanya.
Firasat yang tidak bisa dijelaskan. Sementara itu, Reon justru tampak jauh lebih optimis.
Baginya ini adalah kesempatan besar. Pertama Aurelius Consortium. Sekarang Loren Holdings. Jika kedua kerja sama itu berhasil berjalan, posisi Danesha Group akan semakin kuat.
curang tauuu😒😒