Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : pesta Dansa Mewah di Gedung Gubernur

Cahaya lampu kristal raksasa yang memantulkan ribuan pendar gemerlap menghiasi langit-langit tinggi Gedung Gubernur Jenderal di Batavia—yang kini lebih dikenal sebagai Gouvernementshôtel di kawasan Waterlooplein. Malam itu, alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, membawakan simfoni gubahan komponis Eropa yang berdengung syahdu di seluruh penjuru balai dansa yang megah. Aroma parfum mahal, wangi bedak bangsawan, dan aroma tembakau cerutu cerutu impor berpadu di udara, menciptakan atmosfer kemewahan kolonial pada tahun 1928 yang penuh intrik dan kepalsuan aristokrat.

Para perwira tinggi militer Hindia Belanda berzirrah putih lengkap dengan medali kehormatan, para nyonya besar berpakaian gaun renda bersiluet flapper panjang, hingga para pengusaha saudagar kaya raya tampak berpasangan mengayunkan kaki mengikuti irama dansa waltz. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi dekat pilar besar pualam putih, Clara van der Berg berdiri anggun sambil memegang gelas tangkai berisi champagne dingin.

Malam ini, Clara mengenakan gaun malam haute couture berwarna perak berkilau dengan hiasan sulaman benang emas di bagian dada dan pinggangnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menawan. Rambutnya disanggul modern gaya tahun 20-an dengan sebuah jepit berlian imitasi berkilau. Meskipun penampilannya tampak memukau dan mengundang decak kagum dari banyak pria muda Belanda yang mencoba mendekatinya, pikiran Clara sama sekali tidak berada di lantai dansa.

Sejak ia menjejakkan kaki di gedung ini, hatinya berdegup kencang tanpa kendali. Sensasi déjà vu yang luar biasa kuat terus menghantam rongga dadanya, seolah pilar-pilar putih di gedung gubernuran ini berubah wujud menjadi pilar marmer istana Romawi tempat ia pertama kali bertemu dengan pangerannya. Ia membawa beban dua kehidupan di dalam ingatannya—sebagai Callista di Roma dan sebagai Liem Mei Yin di Batavia. Dan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu alasan mengapa ia ditarik hadir ke pesta malam ini.

"Nona Clara van der Berg? Ah, sebuah kehormatan bisa melihat mutiara dari kawasan Menteng hadir di balai dansa malam ini."

Sebuah suara bariton yang dalam, tenang, dan berwibawa membuyarkan lamunan Clara.

Clara sontak menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria muda berusia awal puluhan tahun dengan postur tubuh tinggi tegap yang dibalut setelan jas hitam resmi berpotongan Eropa yang sangat rapi. Pria itu mengenakan dasi kupu-kupu hitam, rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut beraroma maskulin yang khas, dan sorot matanya... manik mata hazel yang sangat tajam, dingin, namun memancarkan daya tarik magnetis yang tidak terbantahkan.

Jantung Clara mendadak berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Gelas champagne di tangannya nyaris terlepas dari cengkeramannya.

Pria itu adalah Julian van Houten. Pewaris tunggal dari keluarga besar Van Houten—keluarga kolonial Belanda paling berpengaruh di Batavia yang sekaligus menjadi musuh bebuyutan mutlak dari sindikat perdagangan yang dipimpin oleh ayah Clara, Tuan Besar Ho.

Clara menatap manik mata hazel di hadapannya. Di dalam kepalanya, bayangan pangeran Marcus yang memeluknya di reruntuhan Roma berkelebat sangat cepat, melebur sempurna dengan sosok pemuda bangsawan kolonial di hadapannya saat ini. Wajah itu berbeda, era itu berbeda, bahasa yang mereka gunakan berbeda, namun jiwa yang bersemayam di baliknya tetap sama persis.

Julian memandang Clara dengan tatapan menyelidik yang intens. Ada kebingungan yang terlintas di dalam manik mata hazel pria itu, seolah ia sedang melihat sesuatu yang sangat akrab, sesuatu yang telah lama ia cari di dalam mimpi-mimpinya selama bertahun-tahun, namun baru kali ini ia temukan di dunia nyata.

"Maafkan saya," suara Julian terdengar rendah, nyaris berbisik di tengah bisingnya musik orkestra. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan sopan, telapak tangannya terbuka lebar ke arah Clara. "Kita belum pernah diperkenalkan secara resmi sebelumnya, Nona Liem. Namun rasanya... seolah aku sudah mengenalmu sejak ribuan tahun yang lalu."

Mendengar kalimat itu, napas Clara tercekat. Kalimat tersebut begitu mirip dengan apa yang sering diucapkan oleh Marcus di kehidupan pertama mereka. Tanpa sadar, air mata hangat mendesak hendak tumpah di sudut matanya. Ia mengerjap cepat, berusaha mempertahankan benteng pertahanannya agar tidak runtuh di hadapan musuh bebuyutan keluarganya sendiri.

Di ujung balai dansa, beberapa pengawal pribadi ayahnya dan para rekan bisnis keluarga Van Houten tampak mulai melirik ke arah mereka dengan tatapan curiga dan permusuhan yang kentara. Berdiri bersama Julian van Houten di tempat terbuka seperti ini sama saja dengan menyalakan api di dalam gudang amunisi. Hubungan kedua keluarga mereka berada di ambang perang darah, dan kedekatan mereka di lantai dansa ini bisa menjadi pemicu malapetaka besar.

Namun, di tengah ketegangan yang mengancam keselamatan jiwa mereka berdua, Clara perlahan meletakkan gelas minumannya di atas nampan pelayan yang lewat. Ia mengangkat dagunya, menampilkan senyuman tipis yang penuh keberanian, lalu menyambut uluran tangan Julian dengan jemarinya yang sedikit bergetar.

"Sebuah kehormatan, Tuan Van Houten," ucap Clara dengan suara lembut namun tegas, menembus batas permusuhan zaman. "Dan... tebakan Anda tidak sepenuhnya salah."

Julian tersenyum kecil—senyuman pertama yang malam itu menghiasi bibirnya yang biasanya selalu terkatup rapat. Ia menggenggam jemari Clara dengan erat, lalu menarik gadis itu perlahan ke tengah-tengah lantai dansa yang dipenuhi cahaya lampu kristal.

Di bawah tatapan tajam para musuh keluarga dan gemerlap malam Batavia tahun 1928, dua jiwa yang terikat oleh kutukan waktu itu akhirnya berdansa bersama, menghidupkan kembali api cinta abadi yang sempat padam, sekaligus memulai babak baru pertarungan maut antara cinta dan takdir darah.

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!