Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Proyeksi holografik raksasa di layar terminal utama memancarkan pendaran merah menyala, memperlihatkan barisan armada benteng udara Korporasi Frost-Guard yang melayang megah di langit atas Tembok Es Raksasa. Moncong meriam pemusnah massal mereka berdenyut dalam frekuensi energi tinggi, siap menghujani jurang Sektor 7 dengan api kehancuran mutlak. Waktu yang tersisa diukur dalam hitungan detik.
Namun, di dalam gerbong Vanguard, atmosfer yang tercipta justru berada di luar segala logika kepanikan militer.
"Jangan panik melihat lampu disko merah di layar itu, kawan-kawan!" seru Leo dengan suara menggelegar, tangannya memegang kunci pas raksasa berukuran hampir sebesar lengan manusia, sementara separuh tubuhnya terbenam di dalam lambung lokomotif yang terbuka. "As roda depan memang sempat bengkok seperti pisang molen, tapi setelah level-up sistem tadi, otot mekanikku terasa sanggup membengkokkan menara Eiffel dengan satu tangan!"
Di sudut ruang kendali, Gavin sibuk mengetuk-ngetukkan jarinya di atas udara kosong, memproyeksikan barisan kode peretasan darurat yang mengalir deras di retinanya. "Aku sedang meretas frekuensi komunikasi armada udara mereka, Leo! Kalau kalian butuh waktu tambahan, aku bisa membuat sistem navigasi benteng udara itu mengira bahwa mereka sedang menembak kawanan penguin kutub yang bermigrasi."
"Penguin kutub?" Soju mendengus geli sambil mengelap busur balistiknya dengan kain bersih. Ia menyunggingkan senyongan miring yang penuh percaya diri. "Lebih baik kau alihkan meriam mereka ke arah formasi batu es di atas sana, Gavin. Aku ingin melihat wajah Jenderal Vane ketika pangkalan udaranya runtuh menimpa kepala botaknya sendiri."
Di dapur portabelnya, Yuna tidak kalah sibuk. Di tengah guncangan kecil dari luar, sang koki dengan anggun meracik secangkir Thermal Coffee pekat beraroma rempah eksotis, menyajikannya dalam cangkir logam hangat yang langsung ia sodorkan ke tangan Ren.
"Minumlah, Kapten," ucap Yuna lembut, menatap Ren lurus-lurus dengan senyuman tipis di bibirnya. "Kau baru saja bangkit dari ambang kematian, dan aku tidak mengizinkan pemimpin kru ini pingsan lagi hanya karena kekurangan kafein saat kita akan menerobos tembok tertinggi di dunia."
Ren menerima cangkir logam itu. Ia menatap cairan hitam pekat yang mengepulkan uap hangat di hadapannya, lalu beralih memandang satu per satu wajah rekan-rekannya di dalam gerbong. Tidak ada lagi keraguan di mata mereka. Tidak ada lagi bayangan rasa takut yang mencengkeram. Yang terpancar dari kelima orang itu adalah kobaran api tekad yang menyatu, sebuah keluarga kecil yang terbentuk dari abu kepedihan masa lalu dan ditempa di atas rel besi maut.
Ren meneguk kopi tersebut perlahan. Rasa hangat yang pekat langsung meresap ke dalam tubuhnya, mengusir sisa-sisa dingin yang tertinggal di tulang-tulangnya.
"Rencana kita sudah jelas," suara Ren bergemerincing tenang, memecah kesibukan mereka. Ia berdiri tegak, memegang Rust-Bite Blade di pinggangnya, sementara pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya menyala terang, berdenyut selaras dengan seluruh komponen lokomotif Vanguard. "Kita tidak akan memutar balik. Kita tidak akan bersembunyi di bawah tanah lagi. Kita melaju lurus ke depan... menembus Tembok Es Raksasa."
Leo menghentikan pekerjaannya sejenak, mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang belepotan oli hitam. Ia menatap Ren, lalu tertawa lebar. "Menembus tembok es setinggi ribuan meter dengan kereta rongsokan yang baru saja diperbaiki secara darurat? Ide yang sangat cemerlang, Kapten. Aku yakin asuransi kesehatan kita tidak akan menanggung klaim kecelakaan macam ini."
"Asuransi?" Gavin menoleh dari layar terminalnya dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. "Leo, perusahaan tempat kita bekerja dulu sudah hancur lebur dihancurkan oleh korporasi. Kalau pun kita mati di sini, klaim asuransimu hanya akan dibayar dalam bentuk es batu dan kupon diskon minyak pelumas."
Soju terbahak keras mendengar ucapan Gavin. "Kalau begitu pastikan kita mati dalam keadaan kenyang, Gavin! Aku tidak mau arwahku berkeliaran di Tembok Es dengan perut kosong."
"Tenang saja," sahut Yuna dengan nada tenang namun penuh percaya diri, menyilangkan kedua tangannya di depan apron putihnya. "Begitu kita berhasil menembus tembok itu dan menemukan dunia baru di sisi sebaliknya, aku akan memasak hidangan penutup paling megah yang belum pernah dicicipi oleh manusia mana pun di bawah tanah."
Mendengar kata-kata Yuna, Leo langsung menepuk tangan kegirangan. "Janji ya, Koki! Jangan buat aku kecewa seperti waktu itu ketika kau hampir memberi Gavin sup akar beracun."
"Itu bukan beracun, Leo! Itu adalah ramuan pembersih racun usus!" protes Yuna tajam, melotot ke arah sang mekanik yang langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah.
Tawa kecil bercampur kehangatan emosional meledak di dalam kabin gerbong yang sempit itu. Di tengah badai salju dan ancaman meriam pemusnah massal yang mengintai di luar, kelima orang itu berdiri berdampingan, merasakan ikatan persaudaraan yang jauh lebih kuat daripada dinding baja mana pun di dunia ini. Mereka tahu risiko yang menanti di depan mata sangatlah besar—sebuah dinding es setinggi langit yang menjadi batas akhir peradaban, dijaga oleh armada militer paling kejam di muka bumi. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mundur barang satu langkah pun.
Ren tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi pada sang kapten. Ia mengangkat cangkirnya ke udara.
"Untuk perjalanan kita yang tidak pernah tahu kapan akan berhenti," ucap Ren dengan suara tegas namun sarat akan kehangatan.
Leo, Soju, Gavin, and Yuna segera merapat, mengangkat tangan dan senjata mereka bersama-sama, menyatukan sorak tawa mereka di dalam harmoni baja dan tekad.
"Untuk Tembok Es Raksasa!" seru mereka serempak.
Leo langsung melompat ke kursi kemudi utama, kedua tangannya mencengkeram tuas hidrolik dengan kekuatan penuh. Ia memutar katup injeksi plasma hingga batas maksimum.
Wuuuush!
Mesin reaktor Vanguard meraung dahsyat, memancarkan gelombang cahaya kebiruan yang menyilaukan mata dari moncong lokomotif. Kereta lapis baja itu melesat bagai peluru kendali, meninggalkan rel bawah tanah dan meluncur mendaki jalur pendakian vertikal yang curam, langsung mengarah ke dinding es abadi raksasa yang membentang menutupi cakrawala langit.
Di luar jendela palka, di puncak Tembok Es Raksasa, armada udara Jenderal Vane memuntahkan muatan meriam plasma mereka secara bersamaan—sebuah garis cahaya kematian berwarna merah terang yang meluncur turun membelah badai salju, mengarah lurus untuk menghantam lokomotif Vanguard tepat sebelum roda mereka menyentuh dinding es penatas batas dunia.