Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat

Setelah mengantar Celine pulang, akhirnya Evelyn sampai juga di mansion keluarga Danesha. Mobilnya memasuki gerbang besar otomatis dengan pelan. Suasana sore sudah mulai berubah gelap. Lampu taman menyala satu per satu menerangi halaman mansion yang luas dan terlalu sunyi.

Biasanya orang akan merasa nyaman tinggal di tempat semewah ini. Tapi bagi Evelyn... semakin besar rumahnya, semakin terasa menyeramkan. Apalagi kalau cuma ditinggali sendirian. Begitu masuk kamar, Evelyn langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

BRUK.

Ia terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya yang mewah. "...gue pengen pulang."

Hening.

Tak ada yang menjawab. Tentu saja. Mana ada sistem transmigrasi baik hati yang muncul kasih tutorial.

Pikirannya benar-benar kacau.

Ia mulai ngomel sendiri sambil memeluk bantal. "Kenapa sih gue harus masuk novel beginian...Kenapa bukan novel romance kaya orang-orang..."

"Atau novel reborn jadi anak konglomerat terus tinggal santai..."

"INI MALAH NOVEL THRILLER." Evelyn menggulingkan tubuh frustrasi.

"Dulu hidup gue emang capek sih... Tapi minimal ancaman terbesar gue cuma deadline sama customer rese....bukan pembunuh berantai."

Ia menghela napas panjang.

Dan tiba-tiba, sesuatu terlintas di kepalanya. Evelyn langsung bangkit duduk. “...CCTV."

Matanya langsung menyipit penuh harapan. "Kalau gue bisa lihat rekaman semalam..."

Tanpa membuang waktu, ia buru-buru mengambil laptop dari meja belajar. Jarinya bergerak cepat membuka sistem keamanan mansion berdasarkan ingatan Evelyn Adreena.

Beberapa detik kemudian—

rekaman CCTV depan rumah akhirnya muncul di layar.

Evelyn langsung mendekat serius.

"Oke..."

"Tenang..."

"Semoga gue cuma overthinking."

Video mulai berjalan.

Terlihat dirinya sendiri keluar rumah malam itu dengan hoodie longgar dan masker skincare hitam di wajah. Paper bag makanan diterima dari kurir. Lalu dirinya masuk lagi ke dalam mansion sambil santai. Normal. Sangat normal. Namun setelah pintu tertutup- pria itu tidak langsung pergi.

Evelyn perlahan menegakkan tubuhnya. Di layar sosok kurir itu berdiri diam. Tidak bergerak. Hanya menatap ke arah mansion beberapa detik terlalu lama.

Dan entah kenapa... meski hanya lewat CCTV buram— auranya tetap terasa dingin. Lalu perlahan pria itu berbalik. Dan mulai berjalan pergi. Evelyn langsung memajukan video sedikit. Keningnya mulai berkerut. "...loh."

Ia mempercepat rekaman lagi. Dan lagi. Namun... tidak ada kendaraan. Tidak ada motor. Tidak ada mobil. Tidak ada siapa-siapa.

Padahal halaman depan mansion cukup luas. Kalau memang kurir online-kendaraannya pasti terekam. Tapi tidak ada. Sama sekali.Tubuh Evelyn perlahan terasa dingin.

Ia mendekat lagi ke layar laptop. Memutar ulang bagian itu berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama. Pria itu datang entah dari mana. Dan pergi dengan berjalan kaki. Pelan. Tenang. Seolah memang tidak terburu-buru.

Evelyn langsung menggigit jarinya sendiri gugup.

Tangannya mulai mengacak rambut frustasi. "Bisa gila duluan gue kalau gini..."

Ia menutup laptop keras-keras lalu berdiri mondar-mandir di kamar. Otaknya mulai memikirkan berbagai kemungkinan buruk.

"Kalau itu beneran Altair..."

"Kenapa dia datang ke rumah gue?"

"Karena kebetulan?"

"Karena dia curiga?"

"Atau..."

Langkah Evelyn mendadak berhenti. Wajahnya perlahan pucat. "...atau dia emang sengaja datang buat lihat targetnya?"

Deg.

Bulu kuduknya langsung berdiri. Evelyn buru-buru menepuk pipinya sendiri.

"Enggak enggak."

"Jangan overthinking."

"Bisa aja dia cuma driver random."

"Driver random yang nggak punya motor..."

"...anjir makin nggak masuk akal"

Ia kembali duduk di kasur sambil memeluk lutut. Kamar besar itu tiba-tiba terasa terlalu sunyi. Dan semakin sunyi-semakin banyak pikirannya sendiri yang terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Evelyn langsung membeku.

Suara ketukan pelan terdengar dari luar pintu kamarnya. Jantungnya langsung nyaris copot.

Tok.

Tok.

Tok.

"Nona?" Suara laki-laki terdengar dari luar. Evelyn langsung mengembuskan napas lega.

"...ANJIR. Hampir mati gue." Ia buru-buru berjalan membuka pintu.

Di luar berdiri seorang pria paruh baya berpakaian rapi. Salah satu staf kepercayaan keluarga Danesha. "Nona Evelyn," katanya sopan sambil sedikit membungkuk.

"Ada apa?" tanya Evelyn penasaran.

Pria itu menyerahkan sebuah amplop hitam. "Ini baru saja dikirim seseorang untuk Anda."

Evelyn mengernyit.

"Siapa?"

"Maaf nona. Pengirimnya tidak meninggalkan nama." setelah Evelyn menerimanya, pria itu pergi.

Perasaan buruk itu datang lagi. Evelyn perlahan membuka amplop hitam itu. Dan entah kenapa- tangannya terasa dingin saat membukanya. Di dalamnya...

hanya ada satu kartu kecil berwarna putih. Dengan tulisan hitam rapi di tengahnya.

:::quote: "Kucing kecil sebaiknya tidak keluar terlalu jauh sendirian." :::

Hening. Napas Evelyn langsung tercekat. Karena... di foto kecil atas nakasnya tadi-Evelyn Adreena kecil sedang menggendong seekor kucing.

"Udah nggak bener ini." Evelyn berdiri kaku di tengah kamar sambil memegang kartu putih itu.

Tangannya dingin. Kepalanya penuh. Dan jantungnya sejak tadi rasanya tidak berhenti bekerja lembur. "Kucing kecil sebaiknya tidak keluar terlalu jauh sendirian.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Kalau ini cuma prank... maka pelakunya terlalu niat. Tapi kalau bukan- berarti seseorang sedang memperhatikannya. Dan yang paling mengerikan... orang itu tahu sesuatu tentang Evelyn Adreena.

Tatapan Evelyn perlahan bergeser ke bingkai foto kecil di atas nakas. Foto gadis kecil yang menggendong kucing.

Persis seperti isi pesan itu.

Deg.

"Nope."

"Nope."

Ia langsung mundur pelan seperti foto itu tiba-tiba bisa lompat nyekik dirinya. "gue nggak mau tinggal di sini dulu."

Evelyn buru-buru memasukkan kartu itu ke dalam laci. Lalu mulai bergerak super cepat keliling kamar.

Ngambil tas.

Ngambil dompet.

Ngambil charger.

Ngambil laptop.

Ngambil pepper spray.

Ngambil snack.

Pokoknya semua yang menurutnya penting buat bertahan hidup. Sambil panik ia terus ngomel sendiri.

"Cabut."

"Cabut dulu."

"Kalau di film horror orang goblok tuh biasanya tetap tinggal di rumah angker. Nah gue nggak mau jadi pemeran figuran tolol."

Beberapa menit kemudian— Evelyn sudah turun ke garasi bawah mansion. Suasana malam terasa terlalu sunyi. Lampu-lampu otomatis menyala terang di ruangan besar itu.

Namun entah kenapa... justru membuat suasana makin menyeramkan. Langkah Evelyn cepat menuju mobilnya. Setiap suara kecil bikin dia refleks nengok belakang.

"Anjir... Kenapa hawa rumah ini kayak markas final boss sih..." Begitu masuk mobil, ia langsung mengunci pintu otomatis.

Ceklek.

Baru setelah itu ia bisa bernapas sedikit lega.

"Ya Tuhan... Aku cuma pengen hidup normal..."

Mobil hitam itu perlahan keluar dari gerbang mansion.

Meninggalkan rumah besar yang sekarang terasa lebih mirip sangkar daripada tempat tinggal.

Sekitar empat puluh menit kemudian- Evelyn akhirnya sampai di pusat kota. Lampu gedung tinggi memenuhi malam. Jalanan masih cukup ramai.

Dan entah kenapa...

keramaian kota jauh lebih menenangkan dibanding mansion kosong tadi. Ia memutuskan mencari apartemen untuk sementara.

Minimal...

tempat yang ada tetangganya. Tempat yang kalau dia teriak masih ada manusia lain. Bukan rumah gede yang kalau mati mungkin baru ketahuan tiga hari kemudian.

"Pokoknya yang aman."

"Yang rame."

"Yang satpamnya banyak."

Setelah beberapa kali muter dan browsing cepat di ponsel— akhirnya Evelyn menemukan apartemen premium di distrik pusat. Gedungnya tinggi.

Modern. Keamanannya terlihat bagus. Dan yang paling penting -ramai.

Begitu masuk lobby, matanya langsung menyipit kagum. "...ini hotel apa apartemen."

Interiornya mewah. Bahkan wanginya mahal. Seorang resepsionis langsung menyambutnya ramah.

"Selamat malam nona, ada yang bisa kami bantu?"

Evelyn langsung berjalan mendekat dengan aura orang kaya baru. "Saya mau sewa apartemen."

"Baik nona, untuk tipe unit seperti apa?" tanya resepsionis lagi dengan ramah.

Evelyn berpikir sebentar. "Yang aman."

"...maaf?" resepsionis tampak bingung sebentar.

"Maksud saya..." Ia berdeham kecil. "...yang security-nya bagus."

"Ah tentu nona."

Beberapa menit kemudian, Evelyn sudah duduk di ruang konsultasi sambil melihat pilihan unit. Dan karena otaknya sedang kacau— ia asal pilih unit paling atas yang menurutnya bagus.

Tanpa lihat harga.

Lagipula... rekening Evelyn Adreena memang tidak manusiawi. Tak lama kemudian proses selesai. Dan seorang staf mulai mengantarnya menuju unit. Lift naik perlahan menuju lantai atas.

Evelyn berdiri sambil memeluk tasnya. Namun saat pintu lift terbuka-langkahnya perlahan berhenti. Koridor apartemen itu sepi.

Sangat sepi. Lampunya redup hangat. Dan entah kenapa... suasananya langsung membuat bulu kuduknya merinding lagi.

66

"No." bisiknya pelan, Ia langsung menoleh ke staf apartemen. "...di sini penghuni lantainya dikit ya?"

"Karena ini private floor nona."

Deg.

"...hah?"

"Satu lantai hanya untuk dua unit." Senyum staf itu ramah.

Sedangkan wajah Evelyn perlahan kosong.

"ANJIR SAMA AJA SEPI."

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!