Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sisa Formula

Kegelapan kuat menyelimuti laboratorium forensik bawah tanah itu, hanya dipecahkan oleh kilatan cahaya biru terang dari pedang beraliran listrik yang terayun membelah udara. Suara mendesis dari cairan asam militer yang melarutkan atap beton menjadi musik latar yang mengerikan bagi kedatangan Sang Bayangan Pertama.

Arthur tidak mundur selangkah pun. Dengan refleks yang melampaui nalar, ia menyambar sebuah pipa titanium sisa reruntuhan atap dan mengangkatnya tepat pada waktunya.

TRANG!

Bunga api biru memercik hebat saat pedang listrik itu beradu dengan pipa titanium di tangan Arthur. Gelombang kejut dari benturan tersebut mementalkan serpihan kaca dan meja-meja laboratorium di sekeliling mereka.

Maya Lin menjerit tertahan, merunduk di bawah meja kendali utama, melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

"Refleks yang luar biasa, Ghost of Karakum," bisik Sang Bayangan Pertama dari balik topeng taktis serat karbonnya. Matanya yang merah menyala akibat modifikasi kacamata inframerah menatap Arthur dengan intensitas seorang predator. "Tapi sebuah pipa rongsokan tidak akan bisa menahan bilah plasma."

Benar saja, suhu ekstrem dari pedang itu mulai melelehkan titanium di tangan Arthur. Namun, raut wajah sang Jenderal tetap sedingin es.

Arthur memutar pergelangan tangannya, mengalihkan momentum pedang musuh ke samping, lalu melepaskan tendangan rendah yang sangat cepat ke arah lutut Sang Bayangan Pertama.

Musuh itu melompat mundur dengan kelincahan seekor kucing liar, membuktikan bahwa ia berada di level yang sama sekali berbeda dari para tentara bayaran Sterling. The 7 Assassins bukanlah sekadar legenda; mereka adalah mesin pembunuh yang dilatih khusus untuk mencabut nyawa para jenderal bintang lima.

"Kau bersembunyi di kota kecil ini, membuang bakatmu demi bermain rumah-rumahan," ejek Sang Bayangan Pertama, kembali menerjang dengan serangkaian tebasan pedang berkecepatan tinggi. "Kekaisaran Utara menginginkan kepalamu, Arthur. Tapi sebelum itu, kami menginginkan apa yang seharusnya menjadi milik kami!"

Pertarungan jarak dekat yang epik terjadi di tengah ruangan yang hancur. Arthur menangkis, menghindar, dan membalas serangan dengan presisi mematikan. Setiap pukulan yang beradu menciptakan gema dentuman yang menggetarkan dada. Sang Bayangan Pertama menggunakan seluruh kondisi ruangan berayun di tiang runtuh, memanfaatkan sudut buta, dan melemparkan tabung reaksi berisi bahan kimia berbahaya ke arah Arthur.

Meskipun Arthur unggul secara teknik dan tenaga dalam, ia memiliki satu kelemahan malam ini: ia harus melindungi Maya Lin dan Formula Somatik yang masih terbentang di atas meja kaca.

Menyadari bahwa ia tidak bisa menembus pertahanan Arthur secara langsung, Sang Bayangan Pertama mengubah taktiknya dengan licik. Ia menginjak dinding, melakukan salto ke udara, dan mengarahkan tebasan pedang listriknya bukan ke arah Arthur, melainkan ke arah meja tempat Maya berlindung!

"Mati kau, tikus kecil!" raung musuh itu.

Mata Arthur membelalak. Jika pedang bertegangan puluhan ribu volt itu menghantam meja logam tersebut, Maya akan terpanggang hidup-hidup dan Formula Somatik akan hangus tak bersisa.

Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Arthur melesat bagaikan kilat. Ia menempatkan tubuhnya tepat di antara tebasan pedang dan meja tersebut. Dengan nekat, Arthur menggunakan lengan kirinya yang dilapisi konsentrasi tingkat tinggi untuk menangkis bilah mematikan itu.

ZRAAAK!

"Ugh!" Arthur mendengus tertahan.

Meskipun berhasil menahan tebasan itu agar tidak memotong tulangnya, suhu plasma yang luar biasa tetap merobek lengan jasnya dan membakar kulitnya. Darah segar menyembur, menetes mengenai lantai laboratorium. Ini adalah pertama kalinya sejak Arthur tiba di kota ini, ia benar-benar terluka.

Melihat darah bosnya menetes demi melindunginya, Maya menutup mulutnya, air mata mengalir di pipinya karena rasa bersalah dan syok yang luar biasa.

Namun, rasa sakit itu justru membuka segel kemarahan yang selama ini Arthur tekan. Wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam. Aura membunuh yang meledak dari tubuhnya begitu mengerikan hingga udara di dalam ruangan terasa hampa, membuat Sang Bayangan Pertama tanpa sadar melangkah mundur dengan lutut gemetar.

"Kau... baru saja melakukan kesalahan terbesarmu," bisik Arthur dengan suara bariton yang menggema seperti dari dasar neraka.

Sebelum Sang Bayangan Pertama bisa mengangkat pedangnya kembali, tangan kanan Arthur telah melesat menembus pertahanan musuh. Telapak tangan sang Jenderal menghantam telak tepat di dada sang pembunuh.

KRAAAK!

Terdengar suara tulang dada yang remuk berkeping-keping. Sang Bayangan Pertama menjerit histeris saat tubuhnya terpental ke udara, memuntahkan darah segar dari balik topengnya. Ia menghantam dinding beton hingga retak, lalu jatuh terjerembab ke lantai dengan napas tersengal-sengal. Pedang listriknya terlempar dan mati seketika.

Arthur melangkah maju perlahan, berniat mencabut nyawa musuhnya itu untuk selamanya. Namun, Sang Bayangan Pertama, dengan sisa-sisa keputusasaannya, merogoh sabuk taktisnya dan melemparkan dua buah granat asap korosif.

Asap putih yang sangat perih dan membutakan seketika memenuhi ruangan.

Dalam kekacauan dan keterbatasan visual tersebut, Sang Bayangan Pertama merangkak maju, menyambar sepotong gulungan Formula Somatik yang terpotong saat pedangnya menyambar meja tadi, lalu menggunakan pengait otomatis ke arah lubang atap yang dilelehkannya.

Ketika asap mulai menipis oleh sistem ventilasi darurat yang menyala kembali, ruangan itu telah kosong dari musuh. Yang tertinggal hanyalah bercak darah musuh dan Arthur yang berdiri memegangi lengan kirinya yang terbakar.

"Bos! Lengan Anda!" Maya segera merangkak keluar dari bawah meja, meraih kotak P3K dari laci darurat dengan tangan gemetar. "Anda berdarah... Anda terluka karena saya..."

"Hanya luka gores," jawab Arthur tenang, walau keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia membiarkan Maya membalut lengannya dengan perban.

Arthur menunduk menatap meja kaca. Setengah dari Formula Somatik telah raib.

"Sialan," umpat Maya saat melihatnya. "Bos, mereka berhasil mencuri bagian akhir dari gulungan itu. Bagian yang berisi katalis sintesisnya."

Arthur mengepalkan tangan kanannya erat-erat. "Kekaisaran Utara sekarang memiliki kepingan yang mereka butuhkan. Jika mereka berhasil menemukan ahli biokimia yang bisa menstabilkan formula tersebut, mereka akan menciptakan prajurit mutan yang tidak bisa dibunuh."

Tiba-tiba, pintu lab yang jebol didatangi oleh Silas Mercer dan selusin pasukan elit Phantom Vanguard yang terengah-engah.

"Jenderal! Kami kehilangan jejaknya di atap. Apakah Anda terluka?!" seru Silas panik melihat perban berdarah di lengan komandannya.

"Tinggalkan dia, Silas. Bayangan Pertama sudah terluka parah. Dia akan lari mencari perlindungan ke tempat majikannya berada," perintah Arthur, auranya kini sepenuhnya memancarkan aura seorang raja yang bersiap untuk perang berskala penuh.

Arthur memutar tubuhnya menghadap Silas. "Urusanku di kota ini sudah selesai. Sisa-sisa keluarga Sterling sudah tidak ada artinya lagi."

"Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Jenderal?"

"Siapkan helikopter tempur dan kerahkan Divisi Intelijen Utama," ucap Arthur mutlak. "Sang Bayangan Pertama akan membawa sisa gulungan itu ke ibu kota, tempat enam Assassin lainnya sedang berkumpul. Dan di sana, keluarga dari Nona Mia sedang disandera oleh konspirasi ini."

Maya Lin berdiri dengan tekad baru. "Bos... biarkan saya ikut ke ibu kota. Mereka telah mencuri pekerjaan saya, dan saya ingin melihat mereka hancur."

Arthur menatap Maya, melihat api keberanian yang menyala di mata mahasiswinya itu. Sang Jenderal mengangguk pelan.

Malam ini, di bawah sisa-sisa puing laboratorium forensik, babak baru telah ditetapkan. Sang raja meninggalkan kedamaian sementaranya untuk terbang ke jantung badai.

Namun, saat mereka melangkah keluar dari laboratorium, Silas menerima sebuah transmisi darurat yang membuat wajah letnan berdarah dingin itu pucat pasi.

"Jenderal..." suara Silas bergetar. "Kami baru saja menyadap komunikasi internal The 7 Assassins di ibu kota. Mereka tidak sedang mencari ahli biokimia untuk menyempurnakan formula itu."

Arthur menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"

"Mereka sudah memilikinya, Jenderal. Target mereka untuk menyempurnakan formula itu bukanlah seorang ilmuwan," Silas menelan ludah, menatap Arthur dengan ngeri. "Bahan terakhir yang mereka butuhkan untuk menstabilkan serum monster itu... adalah sumsum tulang belakang dari keturunan langsung Keluarga Utama Zimmer. Mereka sedang memburu Nona Mia."

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!