Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACARA LAMARAN
Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Rumah keluarga Laras dihias sederhana namun elegan untuk acara lamaran resmi, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut ruangan, sementara para tetangga turut membantu mempersiapkan segala keperluan dengan penuh sukacita.
Laras berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan kebaya berwarna krem yang dipilihkan khusus untuk acara penting ini. Tangannya sedikit gemetar karena gugup, namun senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya.
"Kamu cantik banget, Nak," puji Ibu Laras yang membantu merapikan riasan putrinya. "Ibu bener-bener bahagia liat kamu di titik ini."
"Makasih, Bu," jawab Laras, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Semua ini berkat doa dan dukungan Ibu sama Bapak."
Tidak lama kemudian, rombongan keluarga Bagas tiba dengan membawa berbagai seserahan yang telah dipersiapkan dengan matang. Acara lamaran berlangsung dengan khidmat, diiringi doa dan harapan dari kedua belah pihak keluarga untuk kelanggengan hubungan yang akan segera diresmikan.
Di tengah acara, Laras sempat melirik ke arah pintu masuk, matanya mencari sosok yang telah mengonfirmasi kehadirannya beberapa hari lalu. Tidak lama kemudian, Raka muncul, mengenakan setelan formal, wajahnya tenang meski jelas menyimpan berbagai perasaan yang berusaha keras ia sembunyikan.
"Pak Raka," sapa Bagas begitu menyadari kehadiran atasan kekasihnya itu, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah menyempatkan diri hadir."
"Sama-sama, Pak Bagas. Saya turut bahagia atas acara ini," jawab Raka, membalas jabatan tangan itu dengan senyum yang berusaha terlihat tulus.
Ia duduk di salah satu kursi tamu yang telah disediakan, menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan hati yang bergejolak, namun berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang dan mendukung.
Acara berlangsung lancar hingga sesi tukar cincin, di mana Bagas dan Laras saling memasangkan cincin pertunangan dengan penuh kebahagiaan, disaksikan oleh keluarga dan kerabat dekat yang hadir. Tepuk tangan meriah menggema di ruangan itu, menandai babak baru yang resmi dimulai bagi kedua pasangan tersebut.
Raka menyaksikan momen itu dengan dada yang terasa sesak, namun ia memilih untuk tetap tersenyum, ikut bertepuk tangan seperti tamu-tamu lainnya, meski jauh di dalam hatinya, ada bagian yang terasa hancur menyaksikan kebahagiaan yang seharusnya bisa menjadi miliknya, andai saja masa lalu tidak dipenuhi kesalahpahaman yang begitu kejam.
Setelah acara resmi selesai, para tamu mulai berbaur, menikmati hidangan yang telah disiapkan sambil berbincang santai. Laras, yang sejak tadi sibuk menerima ucapan selamat dari berbagai kerabat, akhirnya menyempatkan diri menghampiri Raka yang duduk sendirian di sudut ruangan.
"Pak Raka," sapanya lembut, duduk di kursi kosong di sebelahnya. "Terima kasih sudah datang."
"Saya nggak akan lewatkan momen bahagia ini, Laras," jawab Raka, tersenyum tulus meski matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. "Kamu terlihat sangat bahagia hari ini."
"Iya, Pak. Saya bener-bener bahagia," Laras tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kebahagiaan yang tulus. "Setelah semua yang terjadi, saya bersyukur akhirnya bisa temukan kedamaian dan kebahagiaan seperti ini."
Raka mengangguk, menahan berbagai emosi yang bergejolak di dalam dadanya. "Kamu pantas dapetin semua kebahagiaan ini, Laras. Saya beneran seneng liat kamu di titik ini, meski saya tau, saya bukan bagian dari kebahagiaan itu."
Kata-kata itu membuat Laras terdiam sejenak, menatap Raka dengan tatapan yang penuh empati. "Pak Raka, saya harap Bapak juga bisa temukan kebahagiaan Bapak sendiri. Mungkin nggak sama saya, tapi saya yakin, ada seseorang di luar sana yang pantas buat Bapak."
"Terima kasih, Laras," jawab Raka, tersenyum tipis. "Saya akan coba buat percaya itu."
Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati momen kebersamaan terakhir yang mungkin akan menjadi kenangan penutup dari kisah panjang yang pernah mereka lalui bersama, sebelum akhirnya benar-benar melangkah ke arah yang berbeda dalam hidup masing-masing.
Malam itu, setelah acara lamaran usai dan para tamu mulai berpamitan, Raka memutuskan untuk pulang lebih awal, tidak ingin terlalu lama berada dalam suasana yang begitu menyakitkan bagi hatinya, meski ia berusaha keras menunjukkan dukungan yang tulus sepanjang acara.
Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi Sari, ingin mengucapkan terima kasih atas nasihat yang telah membantunya menghadapi situasi sulit ini dengan lebih bijaksana.
"Sari, terima kasih banyak atas semua nasihatmu," katanya begitu sambungan telepon tersambung. "Saya berhasil hadir di acara lamaran Laras hari ini, dan meski berat, saya bersyukur bisa menunjukkan dukungan yang tulus."
"Saya bangga sama Bapak," jawab Sari, nadanya penuh apresiasi. "Itu bukan hal yang mudah, tapi Bapak berhasil melakukannya dengan baik."
"Saya cuma pengen Laras bahagia, Sari. Itu yang terpenting sekarang."
"Saya yakin, suatu saat nanti, Bapak juga akan menemukan kebahagiaan Bapak sendiri," kata Sari dengan nada menghibur. "Terkadang, hidup memang membawa kita pada jalan yang berbeda dari yang kita harapkan, tapi itu bukan berarti akhir dari segalanya."
Kata-kata itu memberikan sedikit kedamaian bagi hati Raka yang masih dipenuhi kesedihan. "Terima kasih, Sari. Saya akan coba percaya itu."
Setelah menutup telepon, Raka melanjutkan perjalanan pulangnya dengan hati yang mulai menemukan kedamaian baru, meski penyesalan dan kesedihan masih menyertainya. Ia menyadari, meski kisah cintanya dengan Laras telah benar-benar berakhir, ada pelajaran berharga yang bisa ia ambil dari semua pengalaman pahit ini—pelajaran tentang pentingnya kejujuran, komunikasi, dan keberanian untuk memperjuangkan cinta sebelum semuanya terlambat.
Malam itu, sesampainya di apartemennya, Raka berdiri di balkon, menatap kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan, hatinya dipenuhi kedamaian baru yang lahir dari penerimaan penuh atas kenyataan yang harus ia jalani—kenyataan bahwa terkadang, mencintai seseorang berarti merelakan mereka menemukan kebahagiaan bersama orang lain, meski hati kita sendiri harus menanggung kesedihan yang mendalam karenanya, namun pada akhirnya, kedamaian itu jugalah yang akan membawa kita pada penerimaan diri yang lebih utuh dan bijaksana dalam menjalani sisa hidup yang masih panjang di hadapan kita.