Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pukul 14.00 tepat, sebuah sedan hitam mewah berhenti di lobi utama hotel. Tae-jun melangkah turun. Berbeda dengan kedatangan rahasianya semalam, kali ini seluruh jajaran manajemen telah berbaris rapi untuk menyambutnya, dengan Ji-eun yang berdiri paling depan.
Saat mata mereka bersitatap, secara refleks senyum tipis terukir di wajah Ji-eun. "Selamat datang kembali, Direktur Seo."
Tae-jun menatapnya lurus. "Kita bertemu lagi."
"Sepertinya begitu." Tatapan Ji-eun sempat bertengger sejenak di pelipis pria itu. Plester kecil itu masih menempel di sana. "Bagaimana kondisi luka Anda?"
"Sudah membaik."
"Sudah diperiksa dokter?"
"Sudah."
Ji-eun mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Tae-jun terus memperhatikan gerak-gerik wanita di depannya. Ji-eun tidak bertanya siapa yang melukainya, juga tidak mengorek apa yang sebenarnya terjadi. Wanita ini benar-benar tahu cara menjaga batas profesionalitas. Namun anehnya, ketenangan itu justru membuat Tae-jun merasa sedikit kecewa.
"Manajer Han."
"Ya, Direktur?"
"Temani saya."
"Baik."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong hotel. Beberapa karyawan yang berpapasan sempat bertukar pandang penuh tanya, namun Ji-eun memilih pura-pura tidak menyadarinya.
"Direktur Seo," panggil Ji-eun pelan.
"Hm?"
"Sebenarnya Anda tidak perlu melakukan inspeksi ulang hari ini."
"Kenapa?"
"Karena area operasional sudah diperiksa semalam."
"Saya ingin meninjau hal lain."
Ji-eun menoleh tipis. "Seperti apa?"
Langkah Tae-jun mendadak terhenti. "Anda terlalu banyak bertanya."
Ji-eun terkekeh pelan kali ini Seo Tae-jun berbicara cukup sopan bahkan ia memakai bahasa formal tidak seperti semalam. "Karena saya manajer operasional di sini."
"Benar." Tae-jun kembali melangkah. "Kalau begitu, tunjukkan semuanya pada saya."
Inspeksi berlanjut dari restoran utama, ruang konferensi, fasilitas kolam renang, hingga area lounge. Di sepanjang jalan, setiap kali Ji-eun menjelaskan prosedur operasional, Tae-jun menyimaknya dengan saksama tanpa memotong ataupun mengkritik. Pria itu bahkan melontarkan beberapa pertanyaan teknis yang mendalam.
Ji-eun mulai menyadari sesuatu, pria di sampingnya ini mungkin memang bersikap dingin dan kaku, tetapi ia bukan atasan yang acuh tak acuh. Tae-jun hanya sangat berhati-hati dalam memperlihatkan perhatiannya.
Langkah mereka akhirnya terhenti di sudut restoran yang sedang sepi.
"Kenapa Anda memilih pekerjaan ini?" tanya Tae-jun tiba-tiba, memecah keheningan.
Ji-eun menoleh, sedikit terkejut. "Pekerjaan ini?"
"Di industri perhotelan."
Ji-eun terdiam sejenak, merangkai kata. "Saya menyukai perasaan saat melihat orang lain bahagia."
Tae-jun mengernyitkan alis. "Alasan yang sangat sederhana."
"Memang," Ji-eun tersenyum tipis, menatap ke arah jendela kaca yang menembus pemandangan taman. "Orang-orang datang ke hotel dengan berbagai latar belakang cerita. Bulan madu, perayaan ulang tahun, urusan bisnis, atau sekadar melepas penat dan bertemu orang yang sudah lama dirindukan. Saya merasa senang bisa menjadi bagian kecil dari momen-momen berharga mereka."
Tae-jun mengamati wajah Ji-eun dari samping. "Lalu bagaimana dengan Anda sendiri?"
Ji-eun menoleh kembali. "Maksud Anda?"
"Apakah Anda sendiri bahagia?"
Senyum di bibir Ji-eun perlahan memudar. Pertanyaan itu mendadak terasa terlalu personal. Namun, sebelum ia sempat menyusun jawaban, Tae-jun sudah lebih dulu melangkah meninggalkannya.
"Lupakan," potong Tae-jun singkat.
Ji-eun menatap punggung pria itu yang makin menjauh. Dia yang bertanya, tapi dia juga yang menghindar. Sikap pria itu sungguh sulit ditebak.
Menjelang sore, Tae-jun bersiap meninggalkan hotel. Ji-eun mendampinginya hingga ke pintu lobi utama.
"Terima kasih atas kunjungan Anda hari ini, Direktur," ucap Ji-eun sopan.
Tae-jun mengangguk singkat. "Manajer Han."
"Ya?"
"Apakah besok malam jadwal Anda kosong?"
Langkah Ji-eun tertahan. "Untuk agenda apa, Direktur?"
"Saya ingin makan malam."
"Sendirian?"
"Tidak," Tae-jun menatap mata Ji-eun dalam-dalam. "Dengan Anda."
Detak jantung Ji-eun mendadak berpacu lebih cepat. Ia menatap Tae-jun selama beberapa detik, mencoba mencerna situasi. "Apakah ini agenda makan malam bisnis?"
Tae-jun tidak langsung menjawab. "Anggap saja begitu."
Ji-eun tertawa kecil, berusaha menutupi kecanggungannya. "Kalau begitu, apakah saya perlu menyiapkan berkas laporan?"
"Tidak perlu."
"Lalu?"
Tae-jun mengambil satu langkah mendekat. Tidak terlalu rapat, namun jarak itu sudah cukup untuk membuat samar-samar aroma cologne khas maskulin milik pria itu tercium oleh Ji-eun.
"Cukup datang dan makan."
Ji-eun mendongak, menatap manik mata Tae-jun, lalu akhirnya mengangguk pelan seraya tersenyum.
"Baiklah."
Tae-jun berbalik dan berjalan menuju mobil dinasnya yang sudah menunggu. Namun, tepat sebelum masuk ke pintu penumpang, ia kembali menoleh.
"Satu lagi, Manajer Han."
"Ya?"
"Besok malam, panggil saya Tae-jun. Jangan panggil Direktur Seo."
Kening Ji-eun berkerut tipis. "Kenapa?"
"Karena saat kita makan malam nanti, saya tidak ingin merasa sedang bekerja."
Tanpa menunggu balasan, Tae-jun langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
Ji-eun bergeming di tempatnya berdiri, memerhatikan mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan pelataran hotel hingga menghilang di balik gerbang utama.
"Seo Tae-jun..." gumam Ji-eun pelan. Untuk pertama kalinya, ia menyebut nama pria itu tanpa embel-embel jabatan. Dan anehnya, hanya dengan mengucapkannya saja, ada rasa hangat yang perlahan merambat ke pipinya.
Sementara di dalam mobil, Tae-jun duduk bersandar seraya memejamkan mata. Sekretarisnya yang duduk di kursi depan akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Direktur."
"Hm?"
"Apakah agenda makan malam besok perlu dimasukkan ke dalam jadwal resmi perusahaan?"
Tae-jun membuka matanya perlahan. "Tidak."
"Baik, berarti tidak perlu saya jadwalkan."
"Dan satu hal lagi," tambah Tae-jun dengan nada datar namun tegas. "Jangan beritahu siapa pun."
Sekretarisnya tersenyum tipis memahami situasi. "Baik, Direktur."
Tae-jun kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela, menatap deretan bangunan kota yang berlalu cepat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia membuat sebuah rencana yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis.
Dan yang lebih mengganggunya lagi... ia sangat menantikan momen itu.
...****************...