Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
prestasi yang menyakitkan
Proyek kerja sama antara Wibisono Group dan PT Andalan Sejahtera terus berjalan dengan baik, dan berkat kerja keras Laras dalam menyusun berbagai laporan serta koordinasi yang rapi, proyek tersebut mendapat pujian langsung dari petinggi kedua perusahaan dalam rapat evaluasi bulanan.
"Divisi pemasaran patut diapresiasi atas kinerjanya bulan ini," kata salah satu direktur senior dalam rapat evaluasi yang dihadiri seluruh kepala divisi. "Terutama untuk proyek Andalan Sejahtera, progresnya jauh melampaui target awal."
Pak Bayu, yang hadir mewakili divisi pemasaran, tersenyum bangga. "Terima kasih, Pak. Ini semua berkat kerja keras tim, terutama salah satu staf baru kami, Larasati, yang menangani sebagian besar koordinasi teknis."
Beberapa kepala divisi lain mengangguk-angguk, memberi pujian singkat, namun Raka yang duduk di ujung meja hanya diam, wajahnya tetap datar meski di dalam hatinya ada perasaan bangga yang bercampur dengan kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
Setelah rapat selesai, Pak Bayu menghampiri Laras di mejanya dengan wajah berseri-seri. "Laras, kamu didengar tadi? Namamu disebut langsung di rapat evaluasi bulanan. Bahkan direktur senior yang jarang muji staf baru aja sampai kasih apresiasi khusus."
"Wah, saya nggak nyangka, Pak," jawab Laras, wajahnya memerah antara malu dan bangga. "Saya cuma kerja sesuai tanggung jawab aja."
"Jangan rendah hati begitu. Kamu memang pantas dapat pujian itu. HRD bahkan udah mulai bahas soal kemungkinan promosi buat kamu di akhir tahun."
Kabar itu membuat Laras merasa bahagia luar biasa, sebuah pencapaian yang terasa begitu berharga mengingat perjuangan panjang yang telah ia lalui sejak kepergiannya dari Jakarta lima tahun lalu. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di perusahaan ini, ia merasa usahanya benar-benar dihargai, terlepas dari segala tekanan yang selama ini ia terima dari atasannya sendiri.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya, Raka kembali memanggil Laras ke ruangannya, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dari biasanya.
"Saya dengar kamu dapat pujian khusus di rapat evaluasi tadi," kata Raka, nadanya terdengar sinis.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, kerja tim divisi pemasaran diapresiasi."
"Jangan terlalu cepat besar kepala," potong Raka tajam. "Proyek Andalan Sejahtera ini masih dalam tahap awal, masih banyak risiko yang bisa muncul kalau kamu nggak hati-hati."
Kalimat itu membuat Laras terdiam, mencoba mencerna maksud di balik nada yang begitu tiba-tiba berubah dingin. "Baik, Pak. Saya akan tetap hati-hati."
"Saya juga dengar, kamu udah mulai deket sama Direktur Andalan Sejahtera," lanjut Raka, matanya menatap tajam ke arah Laras. "Sampai kapan hubungan personal itu bakal ganggu profesionalisme kerja kamu?"
Kata-kata itu menyentak Laras, kemarahan mulai membuncah di dadanya. "Maaf, Pak, tapi saya rasa saya nggak pernah mencampuradukkan urusan personal dengan pekerjaan. Semua komunikasi saya dengan Pak Bagas murni soal proyek."
"Benarkah?" Raka menatapnya dengan tatapan yang penuh keraguan, meski jauh di dalam dirinya, ia tahu tuduhan itu lebih didasari kecemburuan pribadi daripada bukti nyata. "Saya dengar dia bahkan sempat mengajak kamu makan siang."
"Itu ajakan resmi untuk tim, bukan personal, Pak," jawab Laras, suaranya mulai bergetar menahan emosi. "Dan kalaupun itu personal, saya rasa itu bukan urusan Bapak."
Kalimat terakhir itu membuat Raka terdiam sesaat, terkejut dengan keberanian Laras yang tiba-tiba muncul, jauh berbeda dari sikap patuh yang biasa ia tunjukkan selama ini.
"Kamu lupa posisi kamu di sini," kata Raka akhirnya, suaranya kembali dingin dan tegas. "Saya atasan kamu. Saya berhak tau kalau ada hal yang berpotensi mengganggu profesionalisme kerja."
"Kalau begitu, Pak, saya minta maaf kalau perkataan saya tadi berlebihan," Laras menjawab, mencoba mengendalikan emosinya meski matanya sudah mulai berkaca-kaca. "Tapi saya juga berhak menjaga privasi saya sendiri, selama itu nggak mengganggu pekerjaan."
Raka menatapnya lama, rahangnya mengeras menahan berbagai emosi yang bercampur aduk—kemarahan, kekaguman diam-diam atas keberanian Laras, dan kekhawatiran yang terus tumbuh tentang kemungkinan kehilangan Laras untuk kedua kalinya, kali ini kepada orang lain.
"Kembali kerja," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan namun tetap dingin. "Dan ingat apa yang saya bilang."
Laras keluar dari ruangan itu dengan tangan mengepal erat, menahan tangis yang sudah lama ia tahan. Prestasi yang seharusnya membanggakan kini terasa seperti beban baru, dipenuhi tuduhan dan kecurigaan yang sama sekali tidak berdasar.
Malam itu, Laras duduk sendirian di kamar kosnya, menatap ponselnya yang menampilkan pesan ucapan selamat dari beberapa rekan kerja atas pujian yang ia terima siang tadi. Namun kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan telah tergantikan oleh kelelahan emosional yang mendalam.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Bagas.
"Laras, saya dengar kamu dapat apresiasi khusus di rapat evaluasi tadi. Selamat, ya! Kamu memang pantas dapat pengakuan itu."
Laras tersenyum kecil membaca pesan itu, sebuah kehangatan yang berbeda dari kepahitan yang baru saja ia alami di kantor.
"Terima kasih, Pak Bagas. Ini semua berkat kerja sama tim juga."
"Jangan terlalu rendah hati. Saya lihat sendiri, kamu yang paling banyak berkontribusi dalam proyek ini."
"Bapak terlalu memuji."
*"Saya cuma jujur aja," balas Bagas cepat. "Ngomong-ngomong, gimana kalau minggu depan kita rayakan pencapaian proyek ini dengan makan malam? Kali ini bukan cuma tim, tapi mungkin kita berdua aja, kalau kamu nggak keberatan."
Pesan itu membuat jantung Laras berdegup sedikit lebih cepat, sebuah ajakan yang jelas-jelas personal, berbeda dari basa-basi profesional yang biasa mereka lakukan.
Ia menatap layar ponselnya lama, memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika ia menerima ajakan itu. Bayangan wajah Raka yang penuh tuduhan sore tadi kembali muncul di benaknya, namun kali ini, alih-alih merasa sedih, ia justru merasakan sedikit keberanian baru untuk melangkah maju, melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu yang selama ini terus menghantuinya.
"Boleh, Pak. Saya nggak keberatan," balasnya akhirnya, jantungnya berdebar antara gugup dan sedikit harapan baru yang mulai tumbuh.
"Bagus. Saya akan atur tempatnya. Selamat malam, Laras."
"Selamat malam, Pak Bagas."
Ia menutup ponselnya dengan perasaan campur aduk, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda—sebuah harapan kecil yang mulai tumbuh di tengah kelelahan emosional yang ia rasakan sepanjang hari, harapan bahwa mungkin, di luar bayang-bayang kelam masa lalu bersama Raka, masih ada kesempatan untuk menemukan kebahagiaan yang lebih tenang dan tulus bersama seseorang yang benar-benar menghargainya apa adanya.
Di sisi lain kota, Raka duduk sendirian di ruang kerjanya yang sepi, tangannya menggenggam ponsel yang menampilkan pesan dari rekan bisnisnya tadi siang—pesan yang mengonfirmasi kedekatan yang semakin nyata antara Laras dan Bagas. Kemarahan yang ia rasakan bercampur dengan rasa sakit yang sulit ia pahami sepenuhnya, sebuah pengingat pahit bahwa waktu lima tahun yang telah berlalu mungkin benar-benar telah menutup pintu kesempatan yang dulu pernah terbuka lebar baginya, pintu yang kini perlahan namun pasti mulai diambil alih oleh orang lain yang jauh lebih siap memberikan kehangatan yang selama ini gagal ia tunjukkan sendiri.