"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double L
Bel panjang penanda berakhirnya jam pelajaran sekolah menggema nyaring di seluruh penjuru SMA Bintang. Ratusan siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing, memenuhi koridor menuju gerbang dan area parkir.
Daren melangkah dengan tenang di sepanjang koridor utama lantai dasar. Di sampingnya, Lingga berjalan seraya memutar-mutar kunci mobil sport-nya di jari telunjuk dengan gaya sok pamer yang khas. Kemeja sekolah putih Daren berdesir tipis diterpa angin sore, memperlihatkan garis bahunya yang tegap dan kokoh.
"Bro, hari ini lu harus mau naik mobil sport gue ya!" cerocos Lingga tanpa henti. "Gue udah capek-capek bawa mobil paling keren di Kota Atlas ini, masa lu tega bikin mobil ini berdebu di parkiran melulu!"
Daren tidak membalas. Pandangan mata kelabunya tetap lurus ke depan, menikmati hembusan angin sore yang sejuk.
TAP! TAP! TAP! TAP!
Dari arah belakang mereka, suara derap langkah kaki yang terburu-buru bergema nyaring. Sesosok siswi berlari kencang menembus kerumunan murid dengan tas sekolah terguncang-guncang di bahunya.
Clara. Siswi cantik itu berlari penuh kepanikan karena takut ketinggalan bus sekolah jalur akhir sore ini. Saking terburu-burunya, Clara tidak menyadari bahwa dia melintas sangat dekat di sebelah kanan Daren, mendahului kedua pemuda itu tanpa sempat menoleh.
SRET... KLIHK!
Guncangan kencang saat Clara berlari membuat pengait gantungan di tas sekolahnya terlepas. Sebuah benda kecil terpelanting dari tas Clara, jatuh melayang di atas lantai semen koridor, lalu bergulir berhenti tepat di dekat ujung sepatu kulit hitam milik Daren.
Clara terus berlari kencang menembus pintu gerbang sekolah tanpa menyadari ada barangnya yang terjatuh.
Daren menghentikan langkah kakinya. Manik mata kelabunya menunduk menatap benda yang tergeletak di atas lantai tersebut.
Sebuah boneka kain kecil. Boneka berwujud beruang rajut berwarna cokelat yang sudah sangat lusuh. Warna kainnya pudar oleh waktu, jahitan di bagian telinga kirinya tampak bekas diperbaiki dengan benang beda warna, dan ada pita merah kecil yang kusam terikat di leher boneka tersebut.
Daren membungkukkan badannya, memungut boneka lusuh itu dengan jemari tangannya yang sekeras baja.
Begitu kain boneka itu menyentuh telapak tangannya, sebuah getaran aneh yang sangat halus mendadak merayap menembus saraf lengan Daren.
Daren mengangkat boneka beruang itu setinggi dada, menatap detail serat kainnya yang usang.
Di dalam benaknya yang dingin, ada sebuah ruang hampa yang mendadak bergejolak. Bentuk boneka ini... jahitan benang di telinga kirinya... dan pita merah di lehernya... terasa begitu dekat, begitu familier, dan menyentuh bagian terdalam dari masa lalunya.
Siapa yang membuat jahitan ini? Kenapa boneka ini terasa sangat tidak asing?
Daren berusaha menggali ingatannya. Namun, dinding ingatan tentang masa kecilnya sebelum usia lima tahun telah hancur dan terkubur oleh penderitaan sepuluh tahun di bawah siksaan keluarga Deni serta tempaan keras enam tahun di Red Crows. Tidak ada bayangan yang muncul, hanya rasa hangat yang tertinggal di telapak tangannya.
Daren menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. Dia menyimpulkan bahwa mengembalikan boneka ini sekarang sudah terlambat karena Clara pasti sudah menaiki bus sekolahnya.
"Aku kembalikan besok," gumam Daren pendek seraya memasukkan boneka lusuh itu ke dalam saku dalam jaket kulit hitamnya.
Lingga yang berdiri di samping Daren mengamati seluruh kejadian tersebut. Pria tengil yang biasanya selalu punya seribu kata untuk diucapkan itu kini memilih diam membisu. Lingga menangkap mikro-ekspresi di wajah Daren—garis rahang Daren yang menegang dan tatapan matanya yang terpaku dalam saat memandangi boneka itu.
Sebagai sahabat sejati yang cukup peka, Lingga tahu kapan harus bergurau dan kapan harus memberi ruang. Dia paham bahwa Daren sedang berada dalam lingkaran pemikiran yang sangat berat.
Lingga menyisir rambutnya ke belakang, menepuk bahu tegap Daren pelan. "Ayo, Bro. Kita pulang."
Daren mengangguk tipis. Sepanjang perjalanan menaiki mobil sport Lingga menuju Perumahan Grand Pavilion, Daren hanya menatap ke luar jendela. Jemari tangan kanannya di dalam saku jaket tidak melepaskan cengkeramannya pada boneka beruang lusuh milik Clara.
Markas Utama Red Crows – Ruang Penyiksaan Sektor Zero
Di saat yang sama, di kedalaman lima puluh meter di bawah tanah Kota Atlas, atmosfer di Ruang Penyiksaan Sektor Zero terasa sangat membekukan.
Lampu sorot tunggal berwarna kuning menerangi tengah ruangan. Di atas kursi besi yang berbercak darah kering, terikat seorang pria paruh baya berkulit gelap—sang penghubung lapangan yang malam sebelumnya diringkus seorang diri oleh Demian di Sektor Selatan.
Tubuh pria itu gemetar kencang. Wajahnya lebam, dan napasnya tersengal ketakutan.
Di hadapannya, Argus berdiri tegap dengan mantel kebesarannya. Pria penguasa bawah tanah itu mengapit cerutu tebalnya, menatap sang tahanan dengan pandangan mata yang begitu dingin tanpa rasa kasihan. Di belakang Argus, Demian berdiri bersedekap dada dengan wajah kaku tak tergerak.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk ratapan murahanmu," suara Argus rendah, tebal, dan bergema penuh intimidasi mutlak. "Sebutkan nama bandar utama yang memberimu jatah zat sintetis itu di Sektor Timur Kota Atlas. Jika kau berbohong, setiap senti daging di tubuhmu akan kusebelahkan ke dalam larutan asam."
Pria terikat itu meratap histeris dengan air mata dan keringat bercucuran di wajahnya. "To... Tolong! Saya akan bicara! Jangan bunuh saya!"
Pria itu menelan ludahnya yang terasa kering, melontarkan nama dan rincian transaksi dengan cepat tanpa berani menyembunyikan satu detail pun. "Dialah... Dialah yang mengatur seluruh pasokan zat sintetis ke SMA Bintang dan kelab-kelab malam di Sektor Timur! Dia bersembunyi di balik nama konsorsium pengusaha properti!"
Argus mendengarkan seluruh pengakuan itu dengan tenang. Setelah informasi yang dibutuhkan tercatat penuh di dalam memorinya, Argus menghembuskan asap cerutunya ke udara.
Pria itu menghentikan raungannya, menatap Argus dengan binar harapan. "Sa... Saya sudah menjawab semuanya, Tuan! Tolong bebaskan saya... Anda berjanji tidak akan menyiksa saya lagi!"
Argus memalingkan badannya, melangkah perlahan menuju pintu keluar. Pria penguasa dunia bawah tanah itu bahkan tidak menoleh saat menyuarakan perintah dingin pada dua prajurit algojo yang berdiri di dekat pintu.
"Habisi dia. Jangan tinggalkan sisa," perintah Argus singkat.
"TIDAK! TUAN! ANDA BERJANJI—ARGHHHH!"
SSET! CRACK!
Pintu baja tebal Ruang Penyiksaan mendesis tertutup rapat, mengunci rapat jeritan terakhir pria itu di dalam kegelapan tanah.
Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi – Sektor Zero
Argus melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya yang beraroma kayu cendana. Pria besar itu berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap Markas Bawah Tanah, lalu menarik gawai pribadi terenkripsinya.
Dia memutar saluran telepon khusus menuju Daren.
BZZZZT!
Di kediaman mewahnya di Perumahan Grand Pavilion, Daren yang baru saja selesai membersihkan diri menyambar gawainya. "Tuan Argus."
"Daren," suara Argus bergema tebal dari speaker gawai. "Ada situasi darurat yang membutuhkan penanganan taktis di Pantai Barat Kota Atlas."
Daren menaikkan sebelah alisnya. "Situasi di Pantai Barat?"
"Lukas sedang memimpin pengamanan jalur logistik senjata dan bahan baku laboratorium kita di dermaga rahasia Pantai Barat untuk dikirim ke Eropa," jelas Argus. "Tapi dua jam lalu, Lukas melaporkan bahwa kawasan pesisir pantai itu mendadak dikepung oleh belasan patroli kepolisian daerah dan aparat militer. Aktivitas pemindahan logistik kita terhenti total."
Argus mengetuk meja kayunya. "Lukas tidak bisa membuka tembakan secara langsung karena itu akan memicu perang terbuka dengan aparat dan merusak reputasi rahasia organisasi kita. Daren... bantu Lukas. Cari cara cerdik untuk mengusir seluruh polisi itu dari kawasan Pantai Barat tanpa harus menumpahkan darah mereka di lokasi."
Daren merapatkan posisinya. "Diterima, Tuan Argus. Saya akan menyelesaikan masalah ini."
Setelah panggilan dari Argus terputus, Daren berdiri di tengah ruang tamunya. Manik mata kelabunya menyempit tajam.
Mengusir belasan unit armada polisi dan aparat militer yang sedang melakukan patroli ketat di kawasan pesisir pantai... tanpa melepaskan tembakan di lokasi. Sebuah masalah yang membutuhkan pengalihan perhatian skala besar.
Di dalam benak Daren yang terbiasa dengan perhitungan taktis militer, satu nama mendadak melintas di dalam kepalanya. Seseorang yang memiliki pola pikir paling ajaib, tidak terduga, dan memiliki akses ke hal-hal gila di luar nalar manusia biasa.
Lingga.
Daren menarik gawainya kembali, menekan nomor Lingga.
"Woi, Daren! Kangen ya lu sama gue baru juga berpisah sejam?" suara tengil Lingga menyambar gembira.
"Aku butuh bantuanmu," kata Daren datar, suaranya tebal dan dingin. "Ada sekelompok armada polisi yang mengepung area Pantai Barat dan mengganggu jalur pergerakan kita. Aku butuh cara untuk membuat mereka semua pergi dari sana dalam hitungan menit."
Di ujung telepon, Lingga yang mendengar permintaan gila itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia justru meledak dalam tawa renyah yang penuh kejailan.
"Oho! Bikin polisi kabur dari Pantai Barat?!" seru Lingga bersemangat. "Lu telepon orang yang sangat tepat, Bos Daren! Tunggu lima belas menit, gue jemput lu sekarang! Biar otak jenius gue yang urus!"
Dermaga Rahasia Pantai Barat – Pukul 20.30 WIB
Kawasan pesisir Pantai Barat Kota Atlas diselimuti angin malam yang kencang dan deburan ombak yang membentur bebatuan karang. Di dalam sebuah gudang kontainer tua yang remang, Lukas berdiri bersandar pada peti kayu seraya memegang senapan serbu terkokohnya.
Di luar gudang, terlihat sorotan lampu rotator biru dan merah dari belasan mobil patroli kepolisian yang mengepung jalan utama pesisir pantai. Aparat bersenjata lengkap tampak berjaga ketat, menutup seluruh akses keluar-masuk kapal.
VRRRROOOOMMM!
Sebuah mobil sport convertible biru metalik meluncur mulus dari arah lorong perbukitan, berhenti tepat di belakang kontainer tempat pasukan Lukas bersembunyi.
Daren dan Lingga melangkah keluar dari mobil.
Lukas yang melihat kedatangan Daren seketika melangkah mendekat, namun matanya membelalak kaget saat melihat Lingga berjalan santai di samping Daren seraya memutar-mutar sebuah benda kecil di jarinya.
"Astaga, Daren!" seru Lukas dengan kacamata hitamnya diturunkan sedikit. "Kenapa kau membawa si Bocah Tengil ini ke medan konflik?! Kita ini sedang dikepung belasan armada polisi bedebah, tahu!"
Lingga membetulkan jaket parasut mahalnya, menyunggingkan senyuman paling tebal mukanya. "Santai, Bang Lukas! Gue ke sini buat menyelamatkan misi kalian!"
Seorang perwira taktis Red Crows yang berdiri di dekat Lukas melangkah maju, mengusulkan ide militer. "Kapten Lukas... bagaimana kalau kita serang saja mereka dari sudut belakang? Pasukan kita punya daya tembak yang cukup untuk menghabisi mereka dalam sepuluh menit!"
"Nggak usah! Nggak perlu!" potong Lingga dengan nada suara keras seraya mengibaskan tangannya di udara. "Kalian nggak usah membuang keringat setetes pun! Nggak perlu lepas peluru satu biji pun di tempat ini! Kalian semua cukup berdiri manis di sini dan tonton pertunjukan karya seni gue!"
Lukas menatap Lingga dengan dahi terlipat heran. "Kau mau melakukan apa, Bocah?"
Lingga menyunggingkan cengiran mewahnya.
Dua hari sebelum malam ini, melalui jaringan komputer pribadi dan peretasannya, Lingga telah menanamkan beberapa unit bahan peledak rakitan skala sedang bernavigasi khusus di sepuluh lokasi rumah dinas milik para pejabat polisi dan perwira militer yang tercatat dalam berita media sebagai figur korup di pusat Kota Atlas—lokasi yang jaraknya belasan kilometer dari Pantai Barat.
Dan malam ini, di Pantai Barat... Lingga merogoh saku jaket mahalnya.
Dia menarik keluar sebuah benda berwarna hitam berbentuk persegi panjang dengan tombol-tombol bernomor.
Sebuah remot televisi.
Ya, murni remot televisi bekas yang dari luar terlihat sangat biasa, namun bagian papan sirkuit dalamnya telah dimodifikasi secara genius oleh Lingga menjadi alat pemicu detonator sinyal frekuensi jarak jauh!
Lukas melotot menatap benda di tangan Lingga. "Kau bercanda denganku, Bocah?! Kau mau usir polisi pakai remot TV?!"
Lingga tidak membalas keheranan Lukas. Dia melangkah dua langkah ke depan, menghadap ke arah cakrawala pusat Kota Atlas di kejauhan. Lingga mengangkat remot TV itu ke udara dengan gaya sangat dramatis.
"Mari kita nyalakan kembang apinya..." bisik Lingga seraya menyeringai lebar.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga!"
KLIK!
Ibu jari Lingga menekan tombol merah bertuliskan POWER pada remot TV tersebut.
Satu detik... dua detik...
BGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!
BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!
Di kejauhan, di atas langit pusat Kota Atlas yang berjarak belasan kilometer dari pantai, langit malam yang semula gelap gulita seketika menyala terang benderang oleh letupan cahaya oranye membara yang luar biasa dahsyat!
Dentuman ledakan beruntun berkekuatan tinggi membelah kesunyian malam kota! Suara dentuman itu begitu kencang hingga getaran gelombang kejutnya terasa menggetarkan tanah pesisir Pantai Barat!
BZZZZZZT! BZZZZZZT! BZZZZZZT!
Seketika itu juga, radio komunikasi di dalam mobil-mobil patroli polisi yang mengepung Pantai Barat meraung-raung secara histeris!
"PANGGILAN DARURAT SELURUH UNIT! PANGGILAN DARURAT KODE MERAH!" suara komandan pusat kepolisian berteriak histeris dari radio. "SERANGAN TEROR LEDAKAN BERUNTUN DI KOMPLEKS RUMAH DINAS PEJABAT PUSAT! SELURUH PATROLI PANTAI BARAT SEGERA DITARIK KEMBALI KE PUSAT KOTA SEKARANG JUGA! INI PERINTAH MUTLAK!"
Suara sirene belasan mobil patroli polisi seketika menyala melengking tinggi. Tanpa membuang waktu satu detik pun, belasan mobil polisi dan armada militer yang semula mengepung Pantai Barat memutar balik kendaraan mereka, melesat kencang meninggalkan kawasan pesisir menuju pusat kota untuk menangani ledakan besar tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit... kawasan Pantai Barat kembali menjadi sangat lengang dan steril tanpa ada satu pun polisi yang tersisa!
Di dermaga rahasia...
Lukas, Daren, dan belasan perwira taktis Red Crows berdiri membeku dengan mata terbelalak lebar menatap pemandangan ajaib di depan mereka.
Lingga memutar-mutar remot TV di jarinya, meniup ujung remot itu dengan gaya sok keren, lalu menatap Lukas seraya menyeringai lebar. "Gimana, Bang Lukas? Bersiih, kan? Nggak ada darah yang tumpah di pantai ini!"
Lukas yang baru saja sadar dari rasa terkejutnya seketika melangkah kencang mendekati Lingga.
SSET!
Lukas mengepit leher Lingga dengan lengan kanannya yang sekeras batu, menariknya ke dalam rangkulan kencang seraya menepuk-nepuk kepala Lingga dengan gaya luar biasa bangga dan heboh!
"ANJAY! LU BENAR-BENAR BANGSAT YANG JENIUS, BOCAH!" teriak Lukas tertawa terbahak-bahak seraya merangkul kencang leher Lingga. "NGUSIR POLISI PAKAI REMOT TV! GUA SUKA GAYA LU!"
"Agh! Bang Lukas! Lepasin! Leher gue mau patah! Aaaagh! Gue bisa pingsan nih!" jerit Lingga histeris seraya menepuk-nepuk lengan Lukas yang merangkulnya terlalu kuat.
Daren yang berdiri di samping mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, namun sudut bibirnya terangkat tipis memancarkan rasa bangga atas keberhasilan pengalihan taktis sahabatnya.
Sementara itu, di dalam Ruang Kontrol Utama Markas Sektor Zero...
Melalui jaringan pemantau satelit layar raksasa, Argus, Joe, dan Demian menyaksikan seluruh rekaman aksi Lingga yang meledakkan bom rakitan dengan remot TV di Pantai Barat.
Argus yang duduk di kursi kebesarannya seketika menyunggingkan senyuman paling puas di wajah mewahnya. Pria penguasa bawah tanah itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir atas kreativitas dan keberanian tingkat dewa yang dimiliki oleh teman sipil muridnya itu.
Di sebelahnya, Joe dan Demian meledak dalam tawa renyah.
"Hahaha! Luar biasa!" tawa Joe seraya mencatat efisiensi taktis tersebut. "Hanya Lingga yang bisa memikirkan ide gila menggunakan remot TV modifikasi untuk mengusir armada kepolisian!"
Argus menghembuskan asap cerutunya ke udara, menatap layar monitor dengan binar kepuasan yang mendalam.
"Memang benar..." ucap Argus seraya tersenyum lebar, "...Double L selalu punya cara ajaib untuk menyelesaikan masalah."
"Double L, Tuan?" tanya Demian heran.
Argus terkekeh rendah. "Lukas dan Lingga. Dua orang gila yang ditakdirkan menjadi kombinasi paling berbahaya sekaligus paling menghibur di organisasi Red Crows ini."
Malam di Kota Atlas kian larut, namun cengkeraman sang Gagak Merah di bawah naungan Daren, Lingga, dan para eksekutifnya... kini makin tak tertandingi oleh siapa pun.