Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pelayan Rendahan
Lantai marmer Le Grand—restoran bintang lima paling bergengsi di pusat kota—berkilau begitu bersih hingga sanggup memantulkan bayangan lampu gantung kristal di atasnya. Di tempat ini, aroma hidangan kelas atas bercampur dengan wewangian parfum mahal para pengusaha dan sosialita.
Di antara lalu lalang kemewahan itu, Rendy berdiri tegap dengan setelan kemeja putih dan rompi hitam yang kaku. Seragam pelayan. Tangannya yang berurat memegang nampan perak dengan erat. Selama tiga tahun terakhir, inilah kehidupan sehari-harinya: menyajikan makanan lezat untuk orang-orang kaya, membersihkan meja, dan menelan bulat-bulat setiap tatapan merendahkan yang diarahkan padanya.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal:
[Masa ujian kelayakanmu berakhir malam ini pukul 00:00. Bertahanlah sebentar lagi, Tuan Muda.]
Rendy menghela napas halus, mengembalikan ponselnya tanpa membalas. Tinggal empat jam lagi, batinnya.
"Pelayan! Cepat kemari!"
Suara nada tinggi seorang wanita memotong lamunan Rendy. Ia menoleh ke arah meja VIP nomor 8 di sudut ruangan. Jantungnya mendadak berdesir pelan. Di sana, duduk Siska—wanita yang diam-diam ia kagumi sejak masa SMA. Siska tampil mempesona dengan gaun malam merah menyala, dikelilingi oleh tiga orang teman sosialitanya yang terus tertawa keras.
Rendy merapikan rompinya, melangkah mendekat dengan senyum profesional yang dipaksakan.
"Selamat malam, Ibu. Ada yang bisa saya bantu untuk meja nomor delapan?"
Siska mendongak. Begitu matanya menatap wajah Rendy, senyum di bibir bergincu merah itu mendadak hilang, berganti dengan kilatan jijik yang tidak ditutup-tutupi.
"Rendy?" cibir Siska, suaranya sengaja ditinggikan hingga beberapa tamu di meja sekitar menoleh.
"Jadi... setelah lulus SMA dan menghilang tanpa kabar, ternyata kamu cuma berakhir jadi tukang lap meja di sini?"
Teman-teman Siska tertawa kecil sambil menutup mulut mereka dengan kipas mahal.
"Rendy ini teman sekolahmu, Sis?" tanya salah satu temannya dengan nada ejekan.
"Teman?" Siska tertawa sumbang. "Jangan bercanda.
Dia ini cuma anak miskin di sekolah dulu yang kerjaannya cuma ngemis beasiswa. Dan kalian tahu apa yang paling lucu? Dia pernah berani-beraninya kirim surat cinta buat aku saat lulus sekolah!"
Tawa di meja VIP itu pecah seketika. Rendy tetap berdiri mematung, meremas nampan perak di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu menampar wajahnya, tetapi ia berusaha keras menjaga ekspresinya tetap datar.
"Maaf, Ibu Siska. Jika ada pesanan tambahan, saya akan siap mencatatnya," ujar Rendy seformal mungkin, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang izinkan kamu panggil nama aku?!" bentak Siska tiba-tiba.
Ia berdiri dari kursinya, membuat gaun mewahnya berkibar.
"Kamu pikir karena pernah satu sekolah, kamu selevel sama aku? Lihat diri kamu! Sepatu murahanmu itu bahkan harganya tidak lebih mahal dari makanan anjing di rumahku!"
Siska meraih gelas anggur merah (red wine) bermerek mahal di mejanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyiramkan seluruh cairan merah pekat itu ke arah celana dan sepatu kerja Rendy.
Crrhh!
Cairan dingin itu membasahi kain celana Rendy dan meresap hingga ke dalam sepatunya. Bau alkohol yang tajam menyeruak. Rendy tertegun, menatap sepatunya yang kini bernoda merah tua.
"Ops, tanganku licin," ucap Siska tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ia tersenyum sinis, menatap Rendy dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Cepat bersihkan! Dan berlutut di bawah, usap sepatuku yang kena cipratan anggur gara-gara kamu berdiri terlalu dekat!"
Atmosfer di sekitar meja VIP mendadak tegang. Beberapa tamu lain mulai berbisik-bisik.
"Ada masalah apa di sini?!"
Suara berat dan tegas terdengar dari arah belakang. Pak Hendra, manajer restoran Le Grand yang terkenal galak dan penjilat orang kaya, setengah berlari mendatangi meja tersebut. Begitu melihat Siska, wajah galaknya langsung berubah menjadi senyuman manis yang dibuat-buat.
"Ah, Nona Siska! Maafkan kami! Ada apa ini?
Apakah pelayan tak berguna ini membuat Nona tidak nyaman?" tanya Pak Hendra membungkuk-bungkuk.
"Manajer Hendra," aduh Siska dengan nada manja yang dibuat-buat. "Pelayanmu ini sangat tidak sopan.
Dia mengotorinya gaun dan menyiramkan anggur ke sepatuku. Restoran sekelas ini kok memelihara sampah seperti dia?"
Rendy mendongak, menatap manajernya. "Pak, saya tidak—"
Plak!
Pak Hendra menampar bahu Rendy dengan keras, memotong kalimatnya.
"Cukup, Rendy! Jangan membela diri! Kamu tahu siapa Nona Siska?
Beliau adalah putri dari pemilik perusahaan tekstil terbesar di kota ini!"
Pak Hendra kemudian menatap Rendy dengan pandangan penuh murka.
"Gaji bulan ini saya potong untuk ganti rugi anggur! Dan sekarang, cepat berlutut dan minta maaf pada Nona Siska sebelum saya pecat kamu malam ini juga!"
Rendy menatap Pak Hendra, lalu beralih menatap Siska yang sedang tersenyum puas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Di dalam dadanya, rasa sakit karena dihina bercampur menjadi amarah yang membakar.
Rendy menarik napas panjang. Ia perlahan merendahkan tubuhnya, pura-pura mengambil serbet untuk membersihkan lantai, sembari menghitung detik demi detik yang terus berjalan di jam tangannya.
Namun, sebelum lutut Rendy menyentuh lantai, suara langkah kaki sepatu kulit yang keras dan arogan bergema dari pintu masuk restoran. Seorang pria tampan dengan jas mahal berjalan mendekat dengan gaya angkuh.
"Ada keramaian apa ini, Sayang?" suara pria itu memecah ketegangan.
Siska langsung berbalik dan tersenyum lebar.
"Danang! Kamu akhirnya datang!"
Pria itu adalah Danang—anak dari keluarga kaya raya sekaligus calon tunangan Siska. Mata Danang melirik ke arah Rendy yang sedang membungkuk di lantai, lalu tersenyum meremehkan.