Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gila!
Mobil Tommy berhenti di parkiran sebuah apartemen yang berada di pusat kota. Tak begitu jauh dari rumah sakit tempat Ranaya dirawat.
Di dalam mobil, Tommy masih duduk di kursi pengemudi. Ia menatap Tania yang masih terpejam di sampingnya.
"Gila nih cewek, gue enggak nyangka kelakuannya sekacau ini," gumam Tommy, ia menggeleng pelan. Tangannya meraih tangan Tania, lalu melepas cincin yang tersematkan di jari telunjuk gadis itu.
"Lumayan." Tommy memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya, membuat Ranaya tercengang.
"Enggak waras nih orang!" ucap Ranaya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Tommy akan melakukan hal seperti itu. Membuat Ranaya semakin jijik melihat wajahnya. "Muka doang ganteng, tapi sifat lu tuh sebelas dua belas sama koruptor!"
Setelah berhasil mengamankan cincin Tania, Tommy keluar mobil lalu menggendong tubuh Tania masuk ke apartemen, tepatnya ke lantai 10. Unit pria itu ada di sana.
"Kapan lagi, kan, cicip cewek cantik secara gratisan," ucap Tommy setelah menutup pintu apartemen.
Ranaya yang masih mengikutinya sampai bergidik ngeri, ternyata pria itu lebih menakutkan daripada setan!
"Apa gue keluar aja?" Ranaya hendak balik badan, ia tidak mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya, karena itu bukanlah urusannya, namun ucapan Tommy membuat Ranaya mengurungkan niatnya.
"Huh, ya kali gue cuman dapat cicip sekali. Rugi dong gue. Gue udah rela ke sana kemari nyari orang buat bantu dia, masa imbalannya enggak seberapa!" Tommy merebahkan tubuh Tania di atas kasur. Memandangnya penuh nafsu.
"Nyari orang buat bantu dia? Maksudnya apa?" gumam Ranaya, ia melayang lebih dekat.
"Orang licik kayak lu, harus dilawan dengan cara licik juga," ucap Tommy. Ia mengambil handphone-nya, lalu menyalakan kamera.
"Sorry, ya, Taniaku sayang. Kalau enggak gini, lu enggak bakal nurut lagi sama gue dan bisa-bisa nanti nasib gue malah berakhir sama kayak adik lu itu."
Tommy mengarahkan handphone-nya ke arah tubuh Tania. Entah akan melakukan apa, Ranaya tidak tau, tapi yang jelas, pria gila itu pasti akan melakukan hal yang tidak pantas.
Refleks Ranaya mundur, hingga ia tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada di atas meja, hingga jatuh dan pecah. Hal itu membuat Tommy kaget dan mengalihkan pandangannya.
"Siapa itu?" Dengan cepat Tommy berdiri, ia menatap pecahan gelas yang berserakan dengan wajah keheranan. "Siapa yang jatuhin?"
Pria itu menatap sekitar. Tepat di sampingnya, Ranaya masih berdiri, menatap jijik kepadanya.
Ranaya tidak mengerti apa maksud ucapan Tommy tadi. Kenapa dia mengatakan kalau nanti nasibnya akan berakhir seperti adik Tania, yang jelas itu adalah Ranaya.
Sebenarnya apa yang Tommy ketahui dan apa yang Tania sudah lakukan sebelumnya? Ranaya belum tahu dan paham, apa dan ke mana arahnya. Tapi sekarang, satu hal yang Ranaya mengerti, tindakan apa yang hendak Tommy lakukan tadi pada Tania.
"Cowok Brengsek!" Ranaya mengambil serpihan gelas lalu menancapkannya pada punggung Tommy, membuat Tommy mengerang kesakitan sekaligus kaget. Pria itu menoleh ke belakang, namun tidak ada siapa pun. Tania masih terbaring di kasurnya dan tidak bergerak sedikit pun.
Menyadari ada yang aneh, Tommy mulai ketakutan, ia berlari keluar kamar sembari berusaha untuk mencabut serpihan gelas yang menancap di punggungnya. Darah segar juga mulai mengalir dan membasahi baju pria itu.
Sementara Ranaya, ia menatap wajah Tania lekat. Jujur ia memang benci pada gadis itu, tapi Ranaya tidak mungkin diam saja dan membiarkan Tommy melakukan hal tidak pantas di depan matanya sendiri. Bagaimanapun, mereka sama-sama perempuan, sama-sama mengalir darah Brama William Atmaja dalam tubuhnya, yang sudah seharusnya saling menjaga.
"Selain licik, lu juga bodoh, ya, ternyata!" Ranaya melempar guling ke arah wajah Tania, sangat keras, membuat gadis itu membuka mata karena kaget. Ia menatap sekeliling, wajahnya terlihat bingung setelah menyadari ia sedang berada di mana.
Dahi Tania mengerut saat mendapati handphone Tommy yang kameranya masih menyala. Ia raih benda pipih itu.
"Sialan!" Tania mengusap wajahnya saat melihat video dirinya yang tak sadarkan diri di handphone Tommy. "Bajingan! Berani-beraninya lu mau manfaatin gue!"
Gadis itu merapikan pakaiannya lalu turun dari kasur, berjalan sempoyongan menuju pintu sembari memanggil nama Tommy, handphone Tommy masih ada di genggamannya. "Tom.... Tommy?!"
Jelas tidak ada jawaban. Karena sekarang Tommy sudah berada di lobby dan meminta bantuan.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️