Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Diantara Dua Cengkeraman
Langkah kaki Mia terasa seberat timah meski sepatu hak tingginya nyaris tak bersuara di atas karpet merah yang empuk.
Di sisinya, genggaman Liam di pinggangnya tidak merenggang sedikit pun layaknya seseorang yang memamerkan barang berharga sekaligus menegaskan kepemilikan.
Setiap langkah yang menjauhkannya dari Ethan memberikan sedikit ruang bernapas, walau ketegangan di dadanya sama sekali belum surut.
Ia bisa merasakannya. Tatapan Ethan yang membakar punggungnya, menembus gaun sutra biru navy yang dikenakannya. Ada ribuan pertanyaan yang tertahan di udara, namun ia memilih untuk terus menatap lurus ke depan.
“Kamu gemetaran, Mia,” bisik Liam rendah tepat di samping telinganya, nada suaranya tenang namun dingin bagai es.
Mia tersentak kecil, memaksakan diri merilekskan bahunya yang kaku. “Aku hanya... tidak terbiasa dengan semua kamera ini, Liam."
Liam terkekeh tipis, sebuah suara halus yang hanya bisa didengar oleh Mia. “Bagus kalau begitu. Pastikan tatapanmu tetap fokus padaku, bukan pada aktor yang sibuk memandangi milik orang lain.”
Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, suasana di sekitar Ethan mendingin drastis.
Sarah Parker menarik lengan Ethan sedikit lebih keras, memaksanya berputar menghadap kamera lain sebelum para wartawan menyadari kilat amarah yang membahayakan di mata sang aktor utama.
“Ethan, kendalikan dirimu!” desis Sarah dari balik senyum tajam yang terus diukirnya untuk media.
“Satu sudut liputan saja menangkap raut wajahmu yang seperti itu, maka karier kita dan promosi pameran ini bisa hancur malam ini juga. Kita di sini bertugas sebagai brand ambassador, jadi jalankan peranmu dengan profesional,” imbuh Sarah.
Ethan mengepalkan tangannya di dalam saku celana tuksedonya. Buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak hebat yang menghantam dadanya. Kalimat Liam masih terngiang, berputar-putar menghancurkan sisa kesabarannya.
'Merelakan hal-hal yang memang sejak awal bukan milik kita.'
Bagaimana bisa Mia berada di sana? Bersama Liam Vance?
Ethan teringat masa lalu mereka yang terkunci rapat. Pernikahan rahasia yang terpaksa usai, dan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar selesai.
Ia memikirkan alasan di balik hilangnya Mia selama ini, mengira wanita itu bersembunyi atau menata hidup yang tenang. Namun membayangkan Mia bertekuk lutut di bawah kendali pria sekuat dan seberbahaya Liam Vance membuat amarahnya merayap naik hingga ke puncaknya.
“Dia sengaja. Aku tahu dia sengaja,” gumam Ethan, suaranya sarat dengan nada berbahaya. “Liam sengaja membawa Mia ke sini.”
Sarah mengerutkan keningnya tipis, sama sekali tidak memahami riak emosi di balik ucapan Ethan. Bagi Sarah, wanita yang datang bersama Liam hanyalah tamu VIP lain yang kebetulan menarik perhatian.
“Siapa pun wanita itu, dia bukan urusanmu malam ini, Ethan,” tegas Sarah cepat, melambaikan tangan dengan anggun ke arah seorang fotografer senior.
“Fokus pada tugas brand ambassador kita. Kita punya kontrak yang harus diselesaikan,” tambah Sarah.
Sementara di sudut lain ballroom, Liam membawa Mia mendekati kelompok investor utama. Pertukaran kartu nama, tawa formal, dan obrolan bisnis mengalir lancar dari mulut Liam. Pria itu menguasai ruangan dengan dominasi mutlak. Namun bagi Mia, setiap detik di tempat itu adalah siksaan yang diperhalus.
Rasa canggung yang hebat saat berhadapan dengan Ethan tadi masih membayangi. Ia takut jangan sampai ada satu saja wartawan yang cukup jeli untuk menangkap riak emosi tidak wajar di antara dirinya dan Ethan. Rahasia pernikahan masa lalu mereka adalah bom waktu untuk Ethan.
Ketika Liam sibuk menyesap minuman dari gelas kristalnya sambil mendengarkan salah satu direktur bank berbicara, Mia memberanikan diri untuk berbisik pelan.
“Liam... bisakah aku ijin ke toilet sebentar?”
Liam menghentikan gerakannya sejenak. Tatapan mata kelabunya bergulir menatap wajah Mia yang pucat. Ia meneliti ekspresi wanita di sampingnya itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Lima menit, dan jangan membuatku menjemputmu,” ucap Liam pendek, tegas, dan tanpa bantahan.
“Baik.”
Mia segera membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan keindahan ballroom yang penuh kepalsuan itu menuju lorong sunyi yang mengarah ke toilet VIP. Ia butuh basuhan air dingin di wajahnya. Ia butuh bernapas.
Namun, baru saja ia melangkah masuk ke lorong berpanel kayu yang sepi dari jangkauan kamera, sebuah bayangan tegap mendadak muncul dari balik pilar dekoratif dan menarik lengannya dengan cepat.
Ia hampir menjerit sebelum sebuah telapak tangan yang hangat dan familier menutup mulutnya rapat-rapat, mendorongnya pelan ke ceruk dinding yang gelap.
Napasnya tertahan sewaktu matanya membelalak, bertatap muka langsung dengan sepasang mata tajam yang dipenuhi luka dan amarah.
Ethan.
Jantung Mia seakan berhenti berdetak. Aroma parfum yang sangat ia kenal, campuran aroma kayu cendana dan citrus yang hangat langsung menyeruak, membungkus indranya sebelum ia sempat memproses apa yang baru saja terjadi.
Tubuh Ethan begitu dekat, mengurungnya di antara dinding dingin dan dadanya yang naik-turun kencang akibat napas yang terengah.
“Jangan menjerit,” bisik Ethan serak, amat pelan namun sarat dengan desakan emosi yang nyaris pecah. Tangannya perlahan turun dari mulut Mia, tetapi ia tidak bergeser seinci pun dari posisinya.
Mia berusaha menguasai diri, memundurkan kepalanya hingga menyentuh panel kayu di belakangnya. Napasnya memburu, matanya membelalak menatap wajah pria yang pernah mengisi seluruh hidupnya itu.
“Ethan... kamu gila?” bisik Mia gemetar, berusaha sebisa mungkin menjaga suaranya agar tidak menggema di lorong.
“Bagaimana kalau ada media yang melihat? Bagaimana kalau Sarah atau—”
“Kenapa dia, Mia?” potong Ethan cepat. Suaranya bergetar menahan amarah yang teramat sangat. Ia mengabaikan sama sekali kekhawatiran Mia tentang media atau kariernya.
“Kenapa harus Liam Vance?”
Mia menelan ludah yang terasa pahit. Tatapan Ethan yang terluka menghantam tepat di dadanya, membongkar pertahanan yang sudah susah payah ia bangun sepanjang malam.
“Ini bukan tempatnya untuk bicara soal ini, Ethan. Tolong, lepaskan aku,” pinta Mia, matanya bergerak gelisah melirik ke arah ujung lorong, takut jika sewaktu-waktu ada langkah kaki yang mendekat.
“Aku tidak akan ke mana-mana sebelum kamu jawab aku!” tegas Ethan, kedua tangannya kini mencengkeram sisi dinding di kanan dan kiri kepala Mia, benar-benar menguncinya.
“Aku mencarimu seperti orang gila, Mia! Dan malam ini... kamu muncul sebagai gandengan pria paling berbahaya di kota ini?”
“Aku punya alasan sendiri!” sahut Mia, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa bersalah, panik, dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu.
“Kamu tidak tahu apa-apa soal posisiku sekarang!”
Kilat di mata Ethan makin tajam. “Kalau begitu beritahu aku! Apa kamu terikat sesuatu dengannya? Jawab aku, Mia!”
“Ethan, cukup!” Mia mendorong dada Ethan dengan sisa tenaganya, meski pria itu hanya bergeser sedikit.
“Hidupku bukan urusanmu lagi sejak surat cerai itu ditandatangani. Kamu punya karier besar yang harus kamu jaga, dan aku... aku hanya berusaha bertahan hidup.”
“Bertahan hidup bukan berarti menjual dirimu ke monster seperti Liam!” bentak Ethan pelan namun menusuk.
PLAK!
Suara tamparan pelan terdengar di lorong sunyi itu. Mia menatap Ethan dengan napas memburu dan mata yang kini basah oleh air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.
“Jangan pernah sebut aku seperti itu,” bisik Mia dengan suara bergetar runtuh. “Kamu tidak berhak menghakimiku.”
Ethan membeku. Rasa panas di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit yang mencubit dadanya saat melihat linangan air mata di pipi Mia. Penyesalan langsung menyergapnya.
“Mia... aku—”
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki berirama konstan dari arah luar lorong memutus kalimat Ethan. Suara pantulan sepatu pantofel di atas lantai marmer yang makin mendekat.
Napas Mia tertahan seketika. Ia kenal betul tempo langkah kaki itu.
Liam.
“Ethan, lepaskan aku! Dia kemari!” bisik Mia panik, suaranya nyaris berupa histeria yang tertahan. Tangannya gemetar hebat saat mendorong dada Ethan lebih kuat.
–tbc–