Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pulang ke Rumah yang Hilang
Deru mesin mobil sedan mewah bermerek Rolls-Royce hitam membelah jalanan kota metropolitan yang basah oleh sisa hujan. Di dalam kabin yang kedap suara, aroma kulit premium bercampur harum kayu manis menguar lembut, menciptakan atmosfer kemewahan yang mutlak. Namun, suasana di dalam mobil justru terasa begitu sunyi dan penuh ketegangan.
Lu Jingyan duduk bersandar di jok belakang, menatap ke luar jendela kaca antipeluru dengan tatapan kosong yang menyimpan ribuan emosi. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah ponsel pintar keluaran terbaru milik sang tuan muda—benda canggih yang jauh berbeda dari ponsel murah miliknya dulu. Layar itu menyala, menampilkan alamat sebuah kontrakan kumuh di pinggiran distrik utara kota: Jalan Mawar No. 12, Gang Sempit.
Itu adalah alamat rumah keluarganya. Tempat di mana istrinya, Lin Meiying, bersama kedua anak mereka dan ibunya bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan kota besar.
"Tuan Muda, kita sudah mendekati kawasan pemukiman warga di distrik utara," suara Sekretaris Han memecah keheningan dari kursi depan, terdengar ragu-ragu. "Jalan menuju ke sana sangat sempit dan tidak layak untuk kendaraan seperti mobil kita. Apa sebaiknya saya turun lebih dulu atau kita parkir di jalan raya besar?"
Jingyan menoleh pelan, suaranya terdengar datar namun tegas. "Hentikan mobil di ujung gang. Biar aku berjalan kaki sendiri dari sana."
Sekretaris Han mengangguk patuh meskipun menyimpan sejuta tanda tanya di benaknya. Sejak siuman dari koma panjang selama setahun, Tuan Muda Lu memang menunjukkan perubahan kepribadian yang drastis. Pria muda yang dulunya terkenal arogan, egois, dan hanya peduli pada pesta pora itu kini sering melamun, menunjukkan ketertarikan aneh pada wilayah kelas pekerja, serta memancarkan sorot mata penuh duka yang sulit dimengerti.
Beberapa menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di tepi jalan raya besar yang mulai sepi. Jingyan membuka pintu dan melangkah keluar. Udara malam langsung menyambutnya, membawa bau genangan air hujan, arang warung pinggir jalan, dan debu kota yang sangat ia kenal. Ini adalah aroma dunianya yang dulu—dunia tempat ia berjuang mati-matian sebelum dihancurkan oleh keserakahan Lu Group.
Dengan langkah kaki tegap terbungkus sepatu kulit bermerek mahal, ia menyusuri lorong gang sempit yang remang-remang. Lampu-lampu jalan berkedip-kedip redup di atas sana, menerangi dinding-dinding rumah kontrakan yang berpetak-petak rapat. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena gejolak rindu yang teramat sangat. Di balik dinding cat yang mulai mengelupas di ujung gang itulah keluarganya berada.
Sesampainya di depan pintu nomor 12, Jingyan menghentikan langkahnya. Napasnya terasa berat tertahan di kerongkongan. Pintunya terbuat dari kayu lapis tua yang bagian bawahnya sudah mulai melapuk dimakan kelembapan. Dari dalam rumah, terdengar suara rintihan kecil dan suara lembut seorang wanita yang tengah menenangkan anak kecil.
"Sabar ya, Sayang... Nenek sedang istirahat. Nanti Ibu buatkan bubur hangat kalau uang belanja hari ini sudah cukup," suara Lin Meiying terdengar jelas menembus papan pintu yang tipis. Suara itu terdengar jauh lebih lelah, serak, dan menyimpan kepedihan yang mendalam dibanding terakhir kali ia mendengarnya melalui sambungan telepon di malam kematiannya.
Jingyan memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan pesan singkat yang gagal terkirim—“Ayah pulang setelah ini”—kembali berkelebat di kepalanya, menyayat hatinya seperti sembilu. Setahun telah berlalu bagi keluarganya sejak kabar kematiannya di proyek bangunan diterima. Setahun penuh Meiying harus menjadi ibu sekaligus ayah, menghadapi teror utang, tangisan anak-anak, dan kesedihan yang tak bertepi.
Tangannya yang terbalut jas rapi terangkat perlahan, hampir menyentuh permukaan pintu kayu itu untuk mengetuknya. Namun, gerakannya terhenti kaku di udara.
Aturan mutlak dari sang penjaga jiwa bergemuruh di kepalanya: “Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu kepada siapapun, terutama keluargamu. Jika kau melanggar, jiwamu akan lenyap selamanya.”
Jika ia mengetuk pintu sekarang dan memeluk Meiying sambil menangis, ia bisa saja melanggar sumpah gaib itu. Sisa waktu 365 hari yang diberikan kepadanya akan seketika merenggut nyawanya untuk kedua kalinya, meninggalkan keluarganya dalam kehancuran yang jauh lebih parah. Ia tidak boleh egois. Ia harus melindungi mereka dari kejauhan, membereskan para bajingan di Lu Group terlebih dahulu, baru kemudian memeluk mereka dengan layak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki kecil mendekati pintu dari dalam.
"Ibu, seperti ada bayangan orang di luar jendela..." suara anak perempuannya, suara yang sangat ia rindukan, terdengar berbisik pelan.
Jingyan tersentak. Ia segera membalikkan badan dan melangkah mundur ke dalam bay gelap lorong gang, bersembunyi di balik dinding tikungan tepat sebelum daun pintu kayu itu terbuka berderit.
Pintu terbuka sedikit. Meiying menjulurkan kepalanya keluar, menatap ke arah lorong yang sepi dengan mata menyipit penuh curiga dan kelelahan. Tidak ada siapapun di sana, kecuali hembusan angin malam yang dingin dan jejak tetesan air hujan. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan keputusasaan, Meiying kembali menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.
Dari balik tembok pembatas gang, Jingyan berdiri mematung. Air mata hangat tanpa sadar menetes melewati pipinya—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan bahkan saat maut merenggut nyawanya di bawah timbunan baja setahun lalu.
Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam dada raga Lu Jingyan yang kini ia tempati, api dendam dan cinta berkobar menjadi satu.
"Tunggu aku, Meiying," bisik Jingyan lirih pada malam yang sunyi. "Aku sudah kembali. Dan mereka yang membuat kita menderita, akan kubayar lunas semuanya."