Indonesia
NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Pembungkaman Meriam Merah

Langit malam di atas Lembah Lembayung memerah kelam. Gumpalan uap air tanah bercampur asap arang tebal mengepul dari celah-celah tebing basal yang mengapit Benteng Merah, pangkalan kedua Istana Naga Merah. Di atas benteng batu setinggi sepuluh tombak, berjejer dua puluh meriam besi raksasa berukir naga. Moncong meriam tembaga itu menatap lurus ke arah lorong sempit lembah, siap memuntahkan ratusan bola besi membara dan mesiu peledak.

Sebanyak seribu lima ratus prajurit zirah merah berkumpul di balik benteng bawah. Di tangan mereka, terancung tombak tembaga tebal dan perisai baja berat. Komandan Benteng Merah, Panglima Hong Lei, berdiri kaku di atas panggung penembakan. Tangannya memegang pedang komando berlapis perak, sementara sepasang matanya menatap tajam ke dalam kegelapan lorong lembah.

"Isi penuh seluruh meriam dengan bubuk mesiu hitam dan serpihan paku besi!" teriak Hong Lei kencang. Suaranya memotong gesekan angin malam. "Jangan biarkan kavaleri perbatasan itu mendekati parit luar!"

Di balik rimbun semak duri tiga depa dari parit luar, Ma Huang merayap kaku. Jubah kulit serigala kelabunya ternoda lumpur hitam rawa. Di belakangnya, Lu Gang dan dua puluh prajurit tempa khusus merayap sangat pelan, membawa kantong kulit berisi cairan asam korosif pekat hasil leburan racun Ular Hijau dan serbuk batu Rawa Tengkorak.

Ma Huang menengadah tipis. Sepasang mata merahnya mengamati alur rantai besi penarik pintu air dan saluran pengalir minyak meriam di sisi timur benteng. Suara gemuruh derap kuda tiruan yang dibuat Tie Shan di ujung lembah barat mulai memicu kepanikan prajurit penjaga benteng.

"Sorotkan lampion api ke lorong barat!" perintah Hong Lei. "Penembak meriam, bersiap sulut sumbu batu api!"

Para prajurit penembak meriam mengangkat obor minyak, mendekatkannya ke sumbu tembaga meriam raksasa.

Ma Huang tidak menunggu lebih lama. Ia menjejakkan kakinya kencang ke atas batu basal. Tubuhnya melesat mendatar bagaikan bayangan kelabu membelah kegelapan, mendarat mulus di atas dinding selasar menara meriam paling timur.

Prajurit penembak meriam di sudut timur terperanjat. Sebelum lidah prajurit itu sempat memanggil bantuan, Pedang Tulang Hitam di tangan kiri Ma Huang meluncur miring dari bawah ke atas.

Srettt!

Bilah pedang hitam beracun memotong leher prajurit itu secara bersih. Darah segar menyembur basah, menyiram roda kayu meriam besi raksasa.

Ma Huang menyalurkan sirkulasi tenaga dalam Inti Bencana lurus ke telapak tangan kirinya. Ia menghantamkan telapak tangannya kencang-kencang ke bagian lubang penyulut mesiu meriam besi tersebut.

Srettt! Krak!

Hawa racun asam korosif pekat merembes seketika ke dalam saluran mesiu. Bubuk mesiu hitam di dalam moncong besi meleleh basah, berubah menjadi lumpur hitam tak berguna dalam tiga hitungan napas. Pada saat bersamaan, racun korosif mengikis rapuh engsel tembaga penahan roda meriam.

Lu Gang dan dua puluh prajurit tempa melompat naik ke selasar menara. Mereka menyiramkan cairan asam korosif dari kantong kulit secara merata ke sepuluh moncong meriam besi di barisan timur dan tengah.

Suara desisan nyaring membakar udara malam. Moncong-moncong meriam tembaga raksasa milik Istana Naga Merah meleleh kehitaman, terkikis hancur hingga retak terbelah sebelum sempat menyulut satu pun bola besi membara.

Hong Lei menoleh kencang ke arah selasar timur. Wajah tuanya membelalak lebar melihat asap kehitaman membubung dari meriam-meriam utamanya. "Musuh di atas selasar! Tembak mereka!"

Seorang perwira penembak meriam di barisan barat menyulut sumbu batu api pada meriam raksasa tersisa. Sumbu tembaga membara cepat menuju ruang mesiu.

Ma Huang melesat maju menyeberangi selasar batu dalam dua langkah lebar. Pedang Tulang Hitam diayunkannya miring memotong rantai penyeimbang meriam barat.

Brak!

Roda kayu meriam terlepas kaku. Moncong meriam raksasa seberat seribu kati itu terbalik menungging ke arah bawah pelataran dalam benteng, tepat saat sumbu mesiu membakar bagian dalam tong besi.

Bummm!

Ledakan dahsyat meletup di dalam pelataran benteng sendiri. Bola besi membara dan ratusan serpihan paku melayang liar menyapu barisan seribu lima ratus prajurit zirah merah musuh. Dinding batu pelataran hancur berhamburan. Jeritan histeris dan raungan kesakitan membahana kencang menutupi deru angin malam.

Dari luar benteng, tiupan sangkakala tanduk serigala membahana kencang. Tie Shan dan dua ribu kavaleri Zirah Bencana menerobos pintu gerbang bawah yang telah retak akibat guncangan ledakan internal.

Brak! Krak!

Pintu gerbang kayu hancur berkerutup. Kavaleri Serigala Hitam merangsek masuk membantai barisan prajurit zirah merah yang dalam kondisi kacau balau. Kampak-kampak meteorit bergerigi memotong zirah dan perisai tembaga musuh tanpa hambatan.

Feng Ni memimpin lima ratus pemanah dari puncak tebing basal, melepaskan hujan panah api belerang yang memutus seluruh jalur melarikan diri musuh ke arah lorong utara.

Hong Lei menggeretakkan giginya kencang. Matanya merah padam oleh amarah liar. Ia mencabut pedang peraknya, melompat naik ke tangga selasar menara untuk menghadapi Ma Huang.

"Bocah iblis!" raung Hong Lei. Pedang peraknya memancar kencang membawa gelombang tenaga dalam keemasan. Ia melancarkan tiga sabetan menyilang yang mengincar paha, rusuk, dan leher Ma Huang.

Ma Huang merendahkan badannya setengah jengkal. Ia menggeser tumpuan kaki kirinya ke kanan, membiarkan dua sabetan pertama menyapu tipis tiga mili di atas jubah kelabunya. Tebasan ketiga ditangkisnya menggunakan bagian tengah Pedang Tulang Hitam.

Tinggg!

Bunga api kebiruan memercik kencang di udara. Asam racun korosif pada pedang Ma Huang langsung merembes melahap bilah pedang perak Hong Lei. Lapisan perak di pedang itu terkikis kasar hingga melengkung cacat.

Hong Lei terperanjat, meresapi rasa dingin menyengat yang membakar persendian jarinya. Sebelum ia sempat menarik mundur tangannya, Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam dari bawah ke atas.

Srettt!

Bilah pedang hitam memotong dua pergelangan tangan Hong Lei sekaligus. Pedang perak dan dua telapak tangan Panglima Benteng Merah itu jatuh berdenting di atas lantai batu selasar.

Hong Lei meraung histeris seraya terhuyung mundur menghantam pilar kayu menara. Darah kental menyembur kencang membasahi jubah merahnya.

Ma Huang melangkah mendekat tanpa perubahan raut wajah. Ujung Pedang Tulang Hitam ditancapkannya kaku di samping leher Hong Lei.

"Di mana pangkalan utama pasukan zirah emas Pangeran Zhao Xu?" tanya Ma Huang kaku. Suaranya membekukan udara di selasar batu.

Hong Lei terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah hitam ke atas ubin batu. Matanya melotot liar menatap Ma Huang dengan raut ketakutan yang mendalam.

"Lembah Naga Merah..." bisik Hong Lei parau dengan sisa tenaganya. "Pangeran Zhao Xu... menunggu di Benteng Utama bersama sepuluh ribu prajurit zirah emas... Kau akan hancur di sana..."

Ma Huang tidak membiarkan Hong Lei melanjutkan kalimatnya. Pedang Tulang Hitam digerakkannya miring dalam satu tebasan cepat.

Srettt!

Bilah pedang hitam memotong leher Hong Lei secara sempurna. Kepala Komandan Benteng Merah itu menggelinding jatuh ke pelataran bawah, menghentikan deru napasnya seketika.

Suara pertempuran di pelataran dalam melandai perlahan. Tie Shan menghentakkan kampak kembarnya ke tanah yang basah oleh darah musuh. "Benteng kedua telah rata dengan tanah, Tuan Muda!"

Feng Ni melompat turun dari dinding tebing, menyerahkan gulungan kain sutra berisi peta pertahanan Lembah Naga Merah ke hadapan Ma Huang.

Ma Huang menyarungkan Pedang Tulang Hitam kencang-kencang. Tangannya menerima kain sutra merah tersebut, menatap garis batas terakhir yang memisahkan pasukannya dengan kediaman utama Pangeran Zhao Xu.

Dua benteng luar Istana Naga Merah telah hancur total. Pintu menuju arena pertarungan puncak melawan dalang tertinggi pembantaian Keluarga Ma kini telah terbuka lebar di hadapan Pasukan Serigala Hitam.

1
B. Toon
Wah, baru lagi thor. Suka bgt sama karya-karyanya. Kalau bikin MC selalu sadis dan kejam. Hahaha... seleraku bgt 😄
Restu Agung Nirwana: wkwkwk... trims bang, dukung trs biar saya semangat nulisnya 😀😀🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!