Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

‎Anindya kembali ke gedung Reynand Group dengan tangan kosong. Map merah itu tidak ada lagi di genggamannya. Yang tersisa hanya keringat dingin yang membasahi telapak tangannya dan jantung yang masih berpacu liar di dada.

‎‎Lift melaju naik ke lantai tiga puluh. Rasanya perjalanan kali ini lebih lama dari biasanya. Di kepalanya, ia terus memutar ulang teriakan Gisella. Kata-kata tajam itu seakan masih menggema, menembus telinga hingga ke tulang.

‎‎"Anindya."

‎Suara Hansen dari belakang membuatnya tersentak hingga bahunya naik.

‎‎"Langsung ke ruang Tuan," ucap Hansen pelan, namun nadanya memberi isyarat bahwa situasi sedang tidak baik.

‎‎Anindya mengangguk pelan. Langkahnya berat. Sepatu haknya berdentang di atas lantai marmer, bunyi itu terdengar begitu nyaring di lorong yang hening.

‎‎Pintu ruangan kerja terbuka. Reynand masih berdiri di tempat yang sama seperti pagi tadi. Membelakangi pintu, menatap ke luar jendela kaca besar yang memandang ke hamparan kota yang berkilauan.

‎‎"Laporan," ucapnya tanpa menoleh. Suaranya datar, dingin, namun menuntut.

‎‎Anindya berdiri kaku di tengah ruangan. Tangannya tergantung di sisi tubuh. Kosong. Benar-benar kosong.

‎‎"Ehm... Pak," suaranya bergetar pelan. "Saya... saya sudah menyampaikan dokumennya. Langsung ke tangan Nyonya Gisella, Pak."

‎‎Reynand berbalik perlahan. Matanya menyapu tubuh Anindya dari atas ke bawah — melihat map yang tidak ada, melihat wajahnya yang pucat pasi, melihat matanya yang masih menyimpan sisa ketakutan.

‎‎Hening. Tiga detik yang terasa seperti selamanya.

‎‎"Dan?" tanyanya singkat.

‎‎Anindya menelan ludah yang terasa pahit. "Dan... Nyonya Gisella menolak menandatanganinya, Pak. Beliau... beliau sangat marah. Bahkan beliau melempar gelas hingga pecah di dinding."

‎‎Reynand tidak bereaksi. Tidak terkejut, tidak pula cemas. Ia berjalan tenang ke meja kerja, menuang air ke dalam gelas kristal, lalu meneguknya perlahan seakan baru saja mendengar kabar biasa saja.

‎‎"Bagus," katanya akhirnya. Sudut bibirnya terangkat tipis, namun bukan senyum bahagia. Itu senyum seseorang yang sudah siap menghadapi badai. "Itu artinya perang resmi dimulai."

‎‎Anindya mengerutkan dahi, bingung. Belum sempat ia bertanya apa maksudnya tiba-tiba pintu ruangan dibuka kembali.

‎‎BRAK!!

‎‎Pintu ruangan kerja terbuka dengan kasar hingga menghantam dinding belakangnya dengan bunyi yang nyaring. Hansen muncul di ambang pintu, wajahnya tampak panik untuk pertama kalinya selama Anindya melihatnya bekerja.

‎‎"Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mencegah—"

‎‎Kalimatnya terpotong.

‎‎Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Gerakannya anggun, namun setiap langkahnya membawa aura amarah yang menyesakkan. Rambutnya disanggul rapi sempurna. Ia mengenakan blus sutra berwarna emas yang jatuh luwes, dipadukan dengan rok panjang berwarna senada yang berkilau halus setiap kali bergerak. Kalung berlian di lehernya berkilau dingin tertimpa cahaya lampu. Wajahnya tegas, matanya tajam, persis seperti Reynand.

‎‎‎"REYNAND!!"

‎‎Bentaknya bergema di seluruh ruangan, membuat udara seakan bergetar.

‎‎"JELASKAN APA ARTINYA SEMUA INI?!"

‎‎Reynand tidak bergeming sedikit pun. Ia meletakkan gelas kristalnya perlahan ke atas meja, bunyi dentingannya terdengar nyaring di tengah keheningan yang tegang itu.

‎‎"Mama," sapanya tenang namun dingin. "Sejak kapan Mama berani masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu?"

‎‎"Sejak menantuku meneleponku sambil menangis!" Marissa melempar tas tangannya ke sofa dengan kasar. "Dia bilang kamu mengirim surat cerai! Dan lewat sekretaris barumu pula?!"

‎‎Baru saat itu pandangan mata Marissa beralih ke arah Anindya.

‎‎Tatapan itu lebih dingin, lebih tajam, dan lebih menusuk daripada tatapan Reynand. Seakan menilai siapa dirinya dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun dalam sekejap mata.

‎‎"Kamu?" tanyanya pelan, namun nadanya begitu tajam hingga menembus tulang. "Kamu sekretaris baru itu?"

‎‎Anindya secara refleks membungkuk hormat. Lututnya terasa lemas seketika.

‎‎"S-Selamat pagi, Bu... Saya Anindya, Bu."

‎‎"Jadi kamu yang berani mengantar surat yang memecah belah keluarga kami ini?" Marissa melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya yang menyengat menusuk hidung Anindya. "Kamu tahu tidak? Tiga tahun lalu aku sendiri yang memilihkan Gisella untuk Reynand. Dari keluarga Wijaya, keluarga terhormat yang memiliki nama besar. Nama keluarga Ardian ini kubangun dan kujaga dengan susah payah, dan sekarang kamu datang membawa surat yang merusak semuanya begitu saja?!"

‎‎"Ma—" Anindya mencoba bicara, ingin menjelaskan bahwa ia hanya menjalankan perintah.

‎‎"DIAM!" Bentak Marissa, suaranya meninggi dan penuh penolakan. "Aku belum bertanya padamu!"

‎‎Ruangan itu membeku. Hansen berdiri diam di pintu, tidak berani melangkah masuk maupun mundur.

‎‎Reynand akhirnya bergerak. Ia melangkah maju dan berdiri tepat di depan Anindya, memblokirnya dari pandangan ibunya. Tubuhnya menjadi perisai tak terduga wanita itu.

‎‎"Cukup, Ma," suaranya rendah, namun ada peringatan tegas yang tersirat di setiap katanya. "Ini urusanku dan Gisella. Bukan urusan Mama."

‎‎"URUSAN KAMU?!" Marissa tertawa sinis, matanya membelalak tak percaya. "Kamu pikir perusahaan ini bisa sebesar dan sekuat sekarang tanpa dukungan keluarga Wijaya di belakangnya? Kamu tidak bisa seenaknya menceraikannya hanya karena kamu bosan atau ada alasan lain yang Mama tidak tahu!"

‎‎Reynand menatap ibunya lurus, tanpa berkedip sedikit pun. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang mendidih di dalam dada.

‎‎"Kalau begitu," katanya pelan namun tegas, setiap kata terucap dengan berat dan pasti. "Mulai hari ini, aku akan membangun semuanya dari awal. Dengan usahaku sendiri. Tanpa dukungan siapa-siapa. Termasuk tanpa dukungan keluarga Mama maupun keluarga Wijaya."

‎‎Hening.

‎‎Satu detik. Dua detik. Tiga detik yang terasa membekukan waktu.

‎Wajah Marissa memucat perlahan, seakan darah di tubuhnya tiba-tiba tersedot habis. Ia melangkah mundur selangkah, matanya terbelalak menatap putranya sendiri — tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

‎‎"Kamu... kamu serius?" suaranya bergetar, kehilangan semua ketegasan yang tadi ia miliki. "Kamu rela membuang seluruh jaringan, seluruh koneksi, dan seluruh kekuatan yang sudah keluarga Ardian bangun puluhan tahun... hanya demi seorang perempuan yang bahkan tidak tahu asal-usulnya ini?"

‎‎Ia menunjuk Anindya dengan tangan gemetar, lalu amarahnya kembali meledak dua kali lipat.

‎‎"Kamu pikir kamu bisa berdiri sendiri?"

‎‎"Tanpa nama besar Ardian dan Wijaya, kamu bukan siapa-siapa, Reynand!"

‎‎Marissa tiba-tiba menerjang ke depan, tangannya terangkat, jari-jemarinya merenggang hendak mencakar wajah Anindya. Matanya menyala penuh kebencian yang buta.

‎‎"Semua ini gara-gara kamu! Kamu perempuan pembawa sial! Aku akan usir kamu dari sini!"

‎‎Anindya terpaku di tempat, tidak sempat menghindar. Namun sebelum tangan itu sempat menyentuh kulitnya, Reynand menangkap pergelangan tangan ibunya dengan cengkeraman kuat namun tidak kasar. Tubuhnya menutupi Anindya sepenuhnya dari pandangan ibunya.

‎‎"Cukup, Ma," ucapnya tegas, suaranya terdengar rendah namun penuh kekuatan yang tak bisa dibantah. "Jangan turunkan derajat Mama dengan menyakiti orang yang tidak bersalah di sini. Anindya hanya menjalankan perintahku. Segala keputusan ini murni kehendakku sendiri."

‎‎"Kamu membela dia?!" Marissa tertawa getir, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya yang merah padam. "Kamu memilih dia daripada ibumu sendiri?"

‎‎"Aku tidak memilih siapa pun, Ma. Aku hanya memilih untuk berhenti hidup dalam kebohongan. Hansen!"

‎Reynand menoleh ke pintu dengan perintah yang tegas.

‎‎"Bawa Nyonya besar keluar. Antarkan beliau pulang dengan selamat."

‎‎Hansen segera melangkah masuk, sedikit ragu namun tetap sopan. "Maaf, Nyonya Marissa... silakan saya antar."

‎‎"Jangan sentuh aku!" bentak Marissa, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman putranya yang masih menahan pergelangan tangannya. "Aku pergi sendiri! Tapi ingat kata-kataku, Reynand! Kamu akan menyesal seumur hidupmu! Dan kamu..."

‎‎Ia berbalik menatap Anindya dengan pandangan yang penuh ancaman membunuh.

‎‎"...kamu jangan merasa menang dulu. Dunia luar ini jauh lebih kejam dari yang kamu kira. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi padamu."

‎‎Dengan langkah gemetar namun penuh amarah, Marissa melangkah keluar pintu. Hansen mengangguk hormat kepada Reynand, mengambil tas milik Marissa di sofa lalu segera mengikuti di belakangnya untuk memastikan wanita itu benar-benar pulang dengan selamat.

‎‎Pintu tertutup kembali.

‎‎Kini ruangan itu benar-benar hening. Hanya tersisa napas Anindya yang masih memburu karena terkejut, dan detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu nyaring di telinganya.

‎‎Reynand masih berdiri membelakanginya, pundaknya terlihat turun perlahan seakan beban berat baru saja ditambahkan ke pundaknya.

‎‎"Maaf," ucapnya pelan, tanpa menoleh. "Kamu menjadi sasaran kemarahan yang seharusnya tidak ditujukan padamu."

‎‎Anindya menelan ludah, suaranya masih tercekat di tenggorokan.

‎‎"Saya... saya tidak apa-apa, Pak. Tapi... apakah saya benar-benar tidak akan menjadi masalah yang lebih besar bagi Bapak?"

‎‎Reynand berbalik perlahan. Kali ini tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh kelelahan yang mendalam, namun ada keteguhan hati yang tak tergoyahkan di sana.

‎"Selama kamu bekerja di sini, saya akan melindungi kamu."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!