Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUDUHAN

"Sidang perkara pidana atas nama ALESYA SERAPHINA BLAKE dengan nomor perkara 0280, Dinyatakan Dibuka.."

Suasana ruang sidang mendadak hening. Alesya berdiri Tegak di hadapan majelis hakim. wajahnya tenang, nyaris tampa ekspresi.

Why Not?

***

FLASHBACK - two days earlier

Alesya membuka matanya perlahan. Kepala nya terasa sedikit berat. ia mengangkat tubuhnya dari lantai dan duduk bersandar pada dinding rumah tua itu. Debu berterbangan ketika ia bergerak. Rumah kosong itu sudah lama terbengkalai, cat dinding mengelupas, jendela pecah, dan beberapa bagian langit-langit terlihat runtuh.

Lalu suara sirine terdengar dari luar

"Wiuuu...wiuuuuu...wiuuu..."

Alesya mengernyit. Cahaya merah dan biru berkedip-kedip melalui jendela yang pecah.

polisi

Banyak sekali

Ia berdiri dengan tenang lalu mengintip lewat jendela. puluhan polisi terlihat mengelilingi rumah.

"Serius?"

Alesya menghela nafas pendek. Bukannya takut, ia justru merasa heran

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ia menunduk untuk melihat dirinya. Dan saat itulah tatapannya berhenti. Bajunya di penuhi darah, tangannya juga.

Alesya mengangkat salah satu tanganya, mengamati noda merah yang sudah agak mengering di kulitnya. Tidak ada kepanikan di wajahnya, Hanya kebingungan.

"Darah siapa ini?"

Ia mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.

satu detik

dua detik

tidak ada apa-apa

Ingatan terakhir hanya berupa dia pergi dengan sahabatnya, Setelah itu kosong.

Ia bukan perempuan yang mudah panik. Bertahun-tahun menghadapi situasi berbahaya telah mengajarinya satu hal, tetap tenang ketika orang lain kehilangan kendali.

Suara dari luar kembali terdengar

"SEMUA JALAN KELUAR SUDAH DI KEPUNG"

Alesya menoleh ke arah pintu, kemudia kembali melihat darah di tangannya.

"kalau mereka sampai mengepung satu rumah hanya karena aku..."

Sudut bibir nya terangkat tipis

"Berati malam ini pasti ada sesuatu yang menarik"

BRAK!

Pintu depan di hantam dari luar. Alesya berdiri Tegak, tatapannya berubah tajam. Ia tidak tau apa yang terjadi malam ini. Ia tidak tau dari mana darah ini berasal. Dan yang paling menganggu pikirannya...

IA TIDAK TAU APAKAH IA YANG MENJADI KORBAN, ATAU JUSTRU PELAKUNYA...

"Jangan bergerak"

Beberapa polisi langsung masuk dengan senjata terarah. Alesya hanya berdiri Tegak di tengah ruangan. menatap mereka satu persatu tanpa menunjukkan rasa takut sama sekali.

Seorang polisi mendekati nya

"Anda di tangkap atas dugaan pembunuhan bruntal. Anda berhak untuk diam dan_"

Alesya mengangkat alis

"Pembunuhan?"

Polisi itu memasang borgol di kedua tangannya.

"Ya, anda ikut dengan kami"

Alesya tidak melawan, bukan karena takut. Ia hanya ingin tau apa yang terjadi. ketika polisi membawanya keluar dari rumah, langkah alesya tiba-tiba terhenti.

Sebuah tandu di dorong melewatinya. Tubuh yang berada di atasnya telah ditutupi kain putih. Namun beberapa bagian tubuh korban terlihat jelas

Terpotong

Bukan sekedar luka biasa, tubuh itu telah di pisahkan menjadi beberapa bagian. Tatapan Alesya berubah. Bukan takut, Hanya...kosong.

ia menatap tandu beberapa detik lebih lama. kemudian menatap kedua tangannya yang masih berlumuran darah.

'Apakah aku yang melakukan ini?'

Pertanyaan itu kembali muncul, namun tidak ada satupun jawaban. Tidak ada jawaban tentang apa yang terjadi malam ini, Tidak ada wajah korban, tidak ada suara jeritan, tidak ada apapun.

"Jalan" Ucap polisi itu membuat lamunan alesya buyar, lalu polisi tersebut menarik tangannya. Alesya kembali berjalan.

Di belakang, dua orang polisi berbicara dengan suara pelan. mereka tidak menyadari bahwa alesya masih bisa mendengar kan percakapan mereka.

"Sayang sekali" Ujar salah satu polisi

"Wanita secantik itu tega membunuh temannya sendiri"

polisi lainnya terkekeh kecil

"Kau belum tau?"

"Tau apa?"

"Dia berasal dari keluar Blake, keluar konglomrat paling terkenal di kota ini" Lanjut polisi itu lagi

"Mungkin dia pikir Uang keluarga nya bisa membuat hukum tidak berlaku untuknya"

Langkah alesya sedikit melambat

Temannya sendiri?

'Jadi korban itu?'

Temannya?

pikiran alesya semakin runyam, ia mencoba mengingat wajah orang yang baru saja keluar dengan tandu itu. Tetap kosong.

Mustahil

Alesya menatap lurus kedepan

'Aku tidak mungkin membunuh temanku sendiri'

setidak nya...tidak jika aku sadar.

Dan justru kalimat terakhir itulah yang membuat pikirannya semakin kacau. karena untuk pertama kalinya alesya mulai mempertanyakan dirinya sendiri

Bagaimana jika memang dia yang melakukan nya

Dan yang lebih mengerikan lagi

ADA DALANG DI BALIK INI SEMUA

***

NOW!

Ruangan interogasi itu dingin.

Sebuah meja besi berdiri di tengah ruangan, dengan dua kursi yang saling berhadapan. Lampu putih menggantung tepat di atas kepala Alesya, membuat wajahnya terlihat semakin pucat.

Namun ekspresinya tetap tenang. Kedua tangannya terborgol di atas meja.

“Nama lengkap?"

“Alesya Seraphina.”

“Hubunganmu dengan korban?”

Alesya menatap polisi di depannya.

“Sahabat.”

“Dan kau mengaku tidak membunuhnya?”

“Benar.”

Polisi itu menggeser sebuah berkas ke hadapannya.

“Tapi sayangnya, Kami punya bukti.”

Alesya tidak menyentuh berkas tersebut.

“Bukti apa?”

Polisi itu menekan sebuah tombol. Sebuah laptop di atas meja menyala, Video mulai diputar. Alesya melihat dirinya sendiri.

Wajah yang sama

Rambut yang sama

Pakaian yang sama

Namun perempuan di dalam video itu terlihat sangat berbeda. Di dalam rekaman, Alesya berdiri di ruangan yang sama dengan tempat polisi menemukannya. Tangannya berlumuran darah. Ia terlihat tenang ketika mendekati korban. Kemudian video berlanjut.

Alesya menyaksikan dirinya sendiri melakukan pembunuhan itu.

Tidak ada ekspresi ketakutan

Tidak ada keraguan

Bahkan kamera memperlihatkan dirinya merekam seluruh kejadian tersebut.

Lalu...

potongan tubuh korban, Alesya terdiam.

Untuk beberapa detik, bahkan suara dari ruangan itu seolah menghilang. Polisi menghentikan video.

“Masih mau bilang kau tidak melakukannya?” Alesya menatap layar. Matanya tidak berkedip.

“Itu aku."

“Ya.”

“Aku yang melakukan semuanya?”

“Buktinya jelas.” Alesya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kalau begitu...” gumamnya pelan. Polisi menunggu, Alesya mengangkat wajahnya.

“Kenapa aku tidak mengingatnya?”

Polisi itu terdiam.

“Karena kau pura-pura lupa?”

“Tidak.”

“Kau berharap kami percaya?” Alesya menatapnya tajam.

“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak.”

Ruangan kembali hening. Alesya sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi. Bukti video itu terlalu kuat untuk dibantah. Wajahnya ada di sana. Tangannya ada di sana.

Bahkan suaranya terdengar jelas. Tetapi jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus menolak kenyataan tersebut.

Aku tidak melakukan itu. Bukan karena dia tidak melihat buktinya. Justru karena dia telah melihat semuanya.

Ada bagian dari ingatannya yang terasa seperti lubang besar.

Seseorang telah melakukan sesuatu malam itu.

Dan entah bagaimana...

orang itu terlihat persis seperti dirinya.

__

SIDANG

Hari persidangan akhirnya tiba. Pintu ruang sidang terbuka.

Alesya masuk dengan langkah tenang di antara dua petugas.

Tatapan puluhan orang langsung tertuju kepadanya.

Wartawan, Pengunjung, Keluarga korban. Semua orang sudah memiliki kesimpulan yang sama. Alesya Seraphina adalah seorang pembunuh.

Alesya berdiri di hadapan majelis hakim.

Wajahnya tetap tenang.

Namun di dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.

Jika perempuan dalam video itu benar-benar dirinya...

lalu siapa yang sedang ia coba ingat?

Hakim ketua membuka berkas terakhir di hadapannya.

“Setelah mempertimbangkan seluruh bukti, keterangan saksi, hasil penyelidikan, serta rekaman video yang telah diperlihatkan di persidangan...”

Alesya menatap lurus ke depan.

“...majelis hakim menyatakan terdakwa Alesya Seraphina terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana terhadap Davina Blance.”

Terdengar isak tangis dari bangku keluarga korban.

Hakim melanjutkan.

“Dengan ini, majelis hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa berupa pidana penjara seumur hidup.”

BRAK!

Palu diketukkan.

“Dan terdakwa akan menjalani masa hukumannya di ADX Florence, lembaga pemasyarakatan dengan tingkat pengamanan maksimum.”

Ruangan langsung dipenuhi suara gaduh. Namun Alesya tetap diam.

ADX Florence

Nama itu sudah cukup untuk membuat sebagian orang bergidik. Penjara yang terkenal dengan pengamanan ekstrem dan para penghuninya yang bukan orang biasa.

Alesya hanya menarik napas pelan. Di bangku keluarga, ayahnya menundukkan kepala.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Pamannya juga menangis, berkali-kali mengusap wajahnya.

Namun di ujung bangku keluarga, suasananya berbeda.

Ibu tiri Alesya duduk bersama putranya. Tangis di wajahnya terlihat ada. Namun matanya terus memperhatikan Alesya.

Seolah bukan sedang berduka.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Di sebelahnya, seorang pria muda duduk dengan tenang.

KEVANO BLAKE. Kakak tiri Alesya. Sudut bibir Kevano perlahan terangkat. Sebuah senyum tipis,Senyum mengejek, Alesya menoleh, Tatapan mereka bertemu. Tidak ada air mata di mata Alesya, Tidak ada rasa takut. Hanya tatapan dingin yang seolah mengatakan satu hal.

'Aku mengerti'

Kevano masih tersenyum, Alesya membalas dengan tatapan yang lebih tajam. Setidaknya sekarang dia sudah tahu siapa dalang di balik semuanya.

Bukan Davina

Bukan polisi

Bukan bukti video itu

KEVANO

“PEMBUNUH!”

Teriakan dari sisi keluarga korban memecah suasana.

Ibu Davina berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Kenapa dia tidak dihukum mati saja?!” Tangisnya berubah menjadi jeritan histeris.

“Dia membunuh anakku!”

“Dia memotong tubuh anakku!"

“Kenapa orang seperti itu masih diberi kesempatan untuk hidup?!”

Beberapa petugas segera mendekati wanita itu. Alesya hanya menatapnya. Tidak ada pembelaan, Tidak ada bantahan, Karena apa yang bisa ia katakan? Tidak ada seorang pun yang akan percaya. Petugas kemudian memegang kedua lengannya.

“Waktunya pergi.”

Alesya berbalik dan mulai berjalan meninggalkan ruang sidang. Langkahnya tetap tenang.

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

Hingga sebuah suara terdengar dari belakang.

“Alesya.”

Ia berhenti, Kevano berdiri beberapa meter darinya. Petugas sempat menatapnya, tetapi Kevano hanya berpura-pura ingin mengucapkan sesuatu kepada adiknya. Ia mendekat,

Lalu membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah telinga Alesya. Senyumnya masih sama.

“Selamat datang di neraka.” Alesya tidak menjawab. Kevano melanjutkan dengan suara yang sangat pelan.

“Di dalam ADX... tidak ada keluarga yang bisa melindungimu.” Ia tersenyum.

“Tidak ada uang.”

“Tidak ada koneksi.”

“Dan tidak ada jalan keluar.” Alesya perlahan menoleh.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Siapa pun tahu betapa kejamnya penjara itu.” Kevano berhenti sejenak.

“Lebih tepatnya... betapa bengisnya para penghuni di dalamnya.”

Alesya menatapnya tanpa berkedip. Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum takut,

Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan alasan untuk bertahan hidup.

“Kalau begitu,” bisiknya,

“pastikan kau menikmati waktumu.” Kevano mengernyit, Alesya mendekat sedikit.

“Karena saat aku keluar...” Tatapannya menusuk mata Kevano.

“...kau yang akan masuk ke neraka.”

Petugas segera menarik Alesya pergi. Kevano tetap berdiri di tempatnya. Senyumnya perlahan menghilang. Untuk pertama kalinya... ada sedikit keraguan di matanya.

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!