Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Jiang Ming mengeluarkan toples kaca dari tasnya dan meletakkannya di atas meja resepsionis.
"Jika Anda tidak merasakan energi kehidupan murni dari seduhan ini, aku akan pergi dan tidak akan pernah menginjakkan kaki di klinik ini lagi," tantang Jiang Ming percaya diri.
Dokter Zao Ruan terdiam mendengar tantangan yang sangat berani itu.
Belum pernah ada pemasok obat yang berani bertaruh reputasi dengan cara selancang ini di depannya.
"Baiklah. Aku akan melayanimu selama lima menit," putus Dokter Zao Ruan.
"Bawa toples itu dan ikut aku ke ruanganku."
Jiang Ming mengikuti langkah pelan dokter tua itu menuju sebuah ruangan periksa yang dipenuhi lemari kayu berisi ribuan laci obat.
Dokter Zao Ruan duduk di kursi kayunya dan mengambil sebuah cangkir porselen bersih.
Dia menyendok sedikit bubuk dari toples Jiang Ming dan menuangkan air panas ke dalamnya.
Wush.
Begitu air panas menyentuh bubuk tersebut, aroma tanah dan kehidupan yang luar biasa pekat langsung meledak memenuhi ruangan.
Dokter Zao Ruan terbelalak lebar, tangannya yang penuh keriput mendadak gemetar hebat.
"Aroma ini... ini mustahil... ini murni tanpa campuran bahan kimia sedikit pun!" seru Dokter Zao Ruan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Dia buru-buru mengangkat cangkir itu mendekati hidungnya dan menghirup uapnya dalam-dalam.
Raut wajah dokter tua itu seketika berubah menjadi sangat rileks, seolah beban usia sepuluh tahun baru saja terangkat dari pundaknya.
Dokter Zao Ruan meniup teh itu pelan lalu menyesapnya sedikit.
Gluk.
Mata dokter tua itu langsung terpejam rapat.
Dia bisa merasakan aliran energi hangat yang sangat luar biasa menjalar memperbaiki sel-sel tubuhnya yang menua.
Nyeri sendi menahun di lutut kanannya mendadak terasa ringan dan hilang seketika.
Prang.
Saking terkejutnya, Dokter Zao Ruan tanpa sadar menjatuhkan tutup cangkirnya ke atas meja.
"Obat dewa... ini benar-benar obat dewa!" gumam Dokter Zao Ruan dengan suara bergetar menatap Jiang Ming.
"Siapa pembuat teh ekstrak ini, anak muda? Di gunung suci mana kalian menemukan ginseng sehebat ini?"
Jiang Ming hanya duduk bersilang kaki dengan ekspresi datar yang sangat tenang.
"Itu adalah rahasia dapur Perusahaan Alam Hijau, Dokter Zao."
"Yang perlu Anda ketahui hanyalah, produk ini bisa menyelamatkan nyawa pasien kaya Anda yang sudah divonis mati oleh pengobatan modern."
Dokter Zao Ruan menelan ludahnya susah payah, menyadari potensi gila dari bubuk teh di depannya ini.
"Aku akan membeli semuanya! Berapa banyak stok yang kau miliki dan berapa harganya?" tawar Dokter Zao Ruan setengah berteriak.
"Aku hanya membawa sepuluh sachet kecil untuk produksi bulan ini," jawab Jiang Ming sengaja membatasi pasokan.
"Harga satu sachetnya adalah seratus ribu yuan."
Mata perawat yang kebetulan masuk membawakan rekam medis langsung melotot mendengar angka yang tidak masuk akal itu.
Namun Dokter Zao Ruan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Satu juta yuan untuk sepuluh sachet? Itu sangat murah untuk khasiat penyambung nyawa ini!" balas Dokter Zao Ruan antusias.
"Siapkan kontrak pasokan eksklusifnya sekarang juga. Aku tidak ingin kau menjualnya ke klinik lain di Jinhai!"
Jiang Ming tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya.
Hanya dengan satu pertemuan, dia telah berhasil menciptakan rantai pasokan nyata yang akan menghasilkan uang bersih berjumlah jutaan yuan setiap bulannya.
Di saat yang sama, tepat di lantai tujuh Gedung Menara Perak.
Lorong perkantoran itu terlihat sepi karena sebagian besar pegawai sedang keluar untuk makan siang.
Seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian kumal mengendap-endap mendekati pintu kaca kantor Perusahaan Alam Hijau.
Pria itu adalah seorang preman suruhan kelas teri yang dibayar oleh Wang Hao untuk memata-matai pergerakan Jiang Ming.
Wang Hao yang sedang pusing karena kecelakaan di proyeknya, tiba-tiba teringat pada Jiang Ming dan memerintahkan preman ini untuk mencari tahu apa yang sedang dikerjakan pemuda itu.
"Perusahaan agrikultur? Dasar gembel, ternyata dia cuma berjualan pupuk di gedung ini," cibir preman kurus itu sambil mengeluarkan seutas kawat besi dari sakunya.
Srek srek.
Preman itu mencongkel lubang kunci elektronik yang kualitasnya sangat murah itu dengan mudah.
Klak.
Pintu kaca itu terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan kantor yang kosong melompong.
Preman itu melangkah masuk dengan senyum licik, berniat mengacak-acak dokumen di dalam untuk memberi pelajaran pada Jiang Ming.
Tap.
Tepat ketika kaki preman itu menginjak karpet di dalam ruangan, sudut matanya menangkap sesuatu di atas meja kerja.
Itu adalah patung batu kura-kura yang terlihat sangat jelek.
Namun, di mata preman yang dipenuhi niat jahat itu, patung kura-kura kecil itu tiba-tiba berubah wujud.
Wush.
Aura kegelapan yang sangat pekat meledak dari patung itu, menciptakan ilusi mengerikan langsung ke dalam otak sang preman.
Di pandangan preman itu, ruangan kantor tersebut berubah menjadi sebuah gua berdarah.
Patung kura-kura itu terlihat membesar menjadi monster batu raksasa dengan mata merah menyala yang menatap langsung ke dalam jiwanya.
Grauung.
Suara geraman buas yang menggema di dalam kepalanya membuat keberanian preman itu hancur lebur seketika.
"A-ampun! Tolong jangan makan aku!" jerit preman kurus itu histeris.
Dia jatuh terduduk di lantai, cairan kuning berbau pesing langsung merembes membasahi celana kainnya.
Preman itu merangkak mundur dengan panik, menabrak pintu kaca hingga kepalanya terbentur keras.
Brak.
Tanpa mempedulikan rasa sakit di kepalanya, preman itu bangkit dan berlari terbirit-birit menyusuri lorong sambil terus berteriak ketakutan seperti orang gila.
Satu jam kemudian, Jiang Ming kembali ke kantornya setelah menyelesaikan transaksi satu juta yuan pertamanya dengan Dokter Zao Ruan.
Dia mengerutkan kening melihat pintu kantornya sedikit terbuka dan ada genangan cairan pesing di atas karpet dekat pintu.
Jiang Ming melangkah masuk dengan waspada, namun matanya langsung tertuju pada patung kura-kura di atas meja yang posisinya tidak bergeser sedikit pun.
"Bau pesing... dan pintu yang dibobol paksa," gumam Jiang Ming menyatukan petunjuk yang ada.
Dia mulai tertawa pelan, tawa yang perlahan berubah menjadi tawa keras yang menggema di ruangan kosong itu.
Hahaha.
"Peri Ling benar-benar tidak berbohong. Barang cuci gudang seharga dua Koin Emas ini berhasil membuat seorang penyusup mengompol di celana karena ketakutan."
Jiang Ming mengambil kain pel dari sudut ruangan dan mulai membersihkan kekacauan itu dengan santai.
Pihak musuh sudah mulai bergerak mengirimkan mata-mata.
Namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang bermain-main di dalam wilayah kekuasaan yang dilindungi oleh barang-barang dari alam langit.
Kecerdasan Jiang Ming dalam mengeksploitasi Toko Tiga Alam perlahan tapi pasti mulai membangun sebuah benteng yang tidak bisa ditembus oleh akal sehat manusia fana mana pun.