Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
****
Napas Chen Zuyi tersengal, dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tumpul berukuran raksasa. Lengkingan decit rem mobil yang beradu tajam dengan aspal serta suara dentuman keras truk tronton masih bergema hebat di dalam kepalanya.
Ingatan terakhirnya sangat jelas dan membakar jiwa. Ia, seorang wanita karir modern yang kaya raya, cerdas, dan ditakuti di dunia bisnis, baru saja mendapati kenyataan pahit: tunangan yang amat dicintainya tertangkap basah berselingkuh dengan saudara tirinya—anak dari wanita yang dahulu merusak rumah tangga ayahnya. Rasa marah, kecewa, dan dendam yang membara mendorong Zuyi mengendarai mobil sport mewahnya melaju kencang melintasi jalanan kota. Ia bertekad untuk mendatangi kediaman keluarga besar malam itu juga, melemparkan bukti perselingkuhan tepat di wajah mereka, dan membatalkan pertunangan secara tragis di depan semua orang.
Namun, takdir berkata lain. Truk tronton dari arah berlawanan menghantam mobilnya hingga terbalik. Setelah itu, hanya ada kegelapan hampa.
Apakah aku sudah mati? pikir Zuyi dalam hati.
Perlahan, kelopak matanya yang berat terasa dipaksa untuk terbuka. Namun, pemandangan yang menyambutnya sama sekali bukan langit-langit rumah sakit yang bersih dan steril, melainkan atap kayu lapuk yang dipenuhi jaring laba-laba dan lapisan debu tebal. Baunya tidak menyenangkan—campuran bau tanah basah, kain apek, dan ramuan obat pahit yang menyengat hidung.
Zuyi mencoba menggerakkan jemarinya. Rasanya begitu lemas. Ketika ia mengangkat tangannya untuk memijat pelipisnya yang berdenyut, ia tertegun. Tangan itu sangat kurus, kulitnya pucat pasi tanpa rona kehidupan, dan terdapat bekas-bekas luka lecet di pergelangan tangannya. Ini jelas bukan tangannya yang dirawat intensif di salon kecantikan terbaik!
Ia membalikkan badan dengan susah payah, mengamati sekeliling. Tempat itu lebih mirip gudang kumuh daripada tempat tinggal manusia. Dinding kayunya rapuh dan memiliki banyak celah, membuat angin malam yang menusuk tulang menerobos masuk tanpa hambatan. Sebuah meja kayu tua berdebu dengan satu kaki yang diganjal batu berdiri di sudut ruangan, menyangga satu-satunya pelita minyak yang temaram.
"Di mana ini? Apakah ini semacam lelucon?" gumam Zuyi, suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri—suara seorang gadis muda yang serak dan sangat lemah.
Sebelum ia sempat mencerna situasi aneh tersebut, pintu kayu yang sudah berdecit keras mendadak terdorong terbuka. Seorang gadis muda berpakaian gaun kain kasar ala Tiongkok kuno berlari masuk sambil membawa seangkut mangkuk tanah liat yang berasap tipis.
Gadis itu terbelalak melihat Zuyi sudah terduduk di atas pembaringan rapuh tersebut. Mangkuk di tangannya hampir saja merosot jatuh jika ia tidak segera menahannya dengan kedua tangan yang gemetar.
"Nona! Nona Kesembilan! Anda sudah sadar!" teriak gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Ia bergegas mendekat, meletakkan mangkuk di atas meja bergoyang, lalu berlutut di samping tempat tidur dengan wajah penuh rasa syukur. "Puji Tuhan! Dewa masih melindungi Anda! Saya sangat takut... saya pikir Nona tidak akan pernah membuka mata lagi setelah tenggelam di kolam kemarin!"
Zuyi menyipitkan matanya. Wajahnya dingin dan penuh kewaspadaan. Sebagai seorang wanita yang terbiasa menghadapi musuh-musuh bisnis yang licik, refleks pertamanya saat terbangun di lingkungan asing adalah tetap tenang dan mengumpulkan informasi.
"Siapa kamu?" tanya Zuyi tegas, meskipun suaranya masih parau.
Gadis itu tertegun, menatap Zuyi dengan tatapan cemas dan bingung. "Nona... Anda tidak mengenali saya? Ini saya, Susu! Pelayan pribadi yang tumbuh bersama Anda sejak kecil!"
"Susu?" Zuyi mengulang nama itu, dahinya berkerut dalam. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa berdenyut hebat. Sebuah ingatan asing secara mendadak menyeruak masuk ke dalam kesadarannya, berbenturan dengan ingatannya sebagai Chen Zuyi.
Di dunia ini, tempat ini adalah Kediaman Utama Keluarga Xiu. Dan tubuh yang kini dihuninya milik seorang gadis bernama Xiu Ying—Nona Kesembilan dari keluarga tersebut. Berbeda dengan Zuyi di kehidupan sebelumnya yang tangguh dan kaya raya, Xiu Ying adalah putri dari seorang selir rendahan yang telah lama meninggal. Sejak kecil, Xiu Ying hidup terlunta-lunta, dianggap sebagai "sampah" tanpa bakat, dan selalu menjadi sasaran perundungan oleh saudara-saudaranya sendiri serta perlakuan dingin dari ayahnya, Tuan Besar Xiu.
"Bicara yang jelas, Susu. Jelaskan padaku secara rinci di mana kita berada dan apa yang sebenarnya terjadi," perintah Zuyi—yang kini adalah Xiu Ying—dengan nada suara yang begitu berwibawa dan tidak bisa dibantah.
Pelayan bernama Susu itu tersentak. Ia merasakan perubahan aura yang sangat drastis dari majikannya. Nona Kesembilan yang biasanya penakut, selalu menundukkan kepala, dan bicaranya terputus-putus karena ketakutan, kini menatapnya dengan pandangan mata yang tajam, dingin, dan penuh dominasi.
"N-Nona... Anda... Anda benar-benar lupa?" tanya Susu ragu-ragu, tangannya saling bertaut cemas. "Kita berada di Halaman Barat Kediaman Utama Keluarga Xiu. Ini adalah kamar Nona..."
"Kamar?" Xiu Ying memotong ucapan Susu sambil tertawa sinis, matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kumuh. "Tempat kusam, kotor, dan tak layak huni ini kamu sebut kamar? Bahkan kandang hewan peliharaanku di kehidupan sebelumnya jauh lebih bersih dari ini!"
Susu semakin kebingungan dengan kata-kata "kehidupan sebelumnya", namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut melihat ekspresi wajah majikannya yang begitu pekat.
"Dua hari yang lalu..." Susu melanjutkan dengan suara memelan, menahan tangis. "Nona Ketiga dan Nona Keenam sengaja mendorong Nona ke dalam kolam teratai di taman belakang saat cuaca sedang membeku. Mereka tertawa melihat Nona tenggelam dan melarang siapapun menolong Nona. Saya... saya harus memohon pada kasim tua di dapur untuk membantu menarik Nona dari air... Setelah itu Nona demam tinggi dan tidak sadarkan diri sampai hari ini."
Mendengar hal itu, mata Xiu Ying berkilat dingin. Dendam dan kemarahan bukan lagi hal baru baginya. Di kehidupan modern, ia menghancurkan musuh-musuhnya dengan strategi bisnis dan uang; di dunia kuno ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak dirinya lagi.
Xiu Ying tiba-tiba menyibakkan selimut tipisnya yang berbau apek dan mengayunkan kakinya ke lantai.
"Nona! Apa yang Anda lakukan? Badan Anda masih sangat lemah, Anda harus berbaring!" seru Susu panik mencoba menahan majikannya.
"Singkirkan tanganmu, Susu. Aku perlu melihat dunia luar," jawab Xiu Ying dingin.
Dengan langkah yang agak limbung namun dipaksakan untuk tegak, Xiu Ying berjalan menuju pintu kayu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.
Angin malam yang dingin menyapu wajahnya seketika. Di hadapannya terhampar bangunan-bangunan berarsitektur Tiongkok kuno dengan atap genteng melengkung, lentera-lentera kertas merah yang bergoyang tertiup angin di kejauhan, serta pelataran batu yang dikelilingi tembok besar bertingkat. Suasana megah kerajaan kuno terpampang jelas di balik Halaman Barat yang terisolasi ini.
Xiu Ying mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Gemerlap kota modern, mobil sport mewahnya, harta kekayaannya, serta dendam terhadap tunangan dan saudara tirinya kini telah sirna, tergantikan oleh kenyataan absurd bahwa ia bertransmigrasi ke zaman kerajaan kuno sebagai seorang Nona Buangan yang paling tertindas.
"Hah... jadi aku benar-benar terlempar ke zaman feodal kuno yang konyol ini?" gumam Xiu Ying dengan senyum miring yang penuh kepahitan sekaligus keangkuhan.
Susu berdiri di belakangnya dengan cemas, tidak berani menyela.
Xiu Ying menarik napas panjang, meresapi udara dingin yang merasuk ke paru-parunya. Xiu Ying tua yang lemah lembut dan mudah ditindas telah mati di kolam teratai itu. Namun kini, di dalam tubuh Nona Kesembilan ini, bersemayam jiwa Chen Zuyi—seorang wanita modern yang pantang menyerah dan berdarah dingin.
"Tuan Besar Xiu, Nona Ketiga, Nona Keenam..." bisik Xiu Ying pelan, suaranya diwarnai ancaman membahayakan yang membuat Susu merinding. "Kalian berpikir bisa terus menginjak-injakku? Kita lihat saja siapa yang akhirnya akan berlutut di bawah kakiku."
(Bersambung)