Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tak Pernah Menjadi Tawanannya
Alessia
Kugenggam tangan Fabi sementara mobil melaju kencang.
Seharusnya ini momen yang membahagiakan.
Aku akan pulang.
Aku akan bisa memeluk Mama.
Aku akan bisa kembali ke kamarku.
Seharusnya ini momen yang membahagiakan. Tapi tidak.
Sesak di dadaku membuatku sulit bernapas.
Kupandangi sisi wajah Fabiano sambil berusaha menghafalkan wajahnya. Setiap sudut. Setiap garis.
"Aku tak mau melupakan wajahmu," bisikku.
Kami hanya berdua di mobil, kecuali sopirnya.
Mata gelapnya menatap tajam mataku.
Ia menderita. Aku bisa melihatnya.
Tangannya menekan tanganku lebih erat, tapi ia tak berkata apa-apa.
Aku tak tahu itu lebih baik atau lebih buruk.
Mungkin lebih baik.
Karena kalau ia mengatakan mencintaiku… aku tak akan bisa kembali, dan itu berarti Lucio tak akan menyerahkan saudarinya.
Dan Fabi mencintai saudarinya.
Ia kembarannya. Ia ingin gadis itu kembali.
Barangkali satu-satunya yang menderita di sini hanya aku. Barangkali bagi Fabi aku hanya sekadar momen menyenangkan, sebuah hiburan.
Barangkali memang lebih baik begini.
Kupaksa diriku memandang ke luar jendela, karena melihat wajahnya menyakitiku.
Berada di sisinya tanpa bisa menciumnya menyakitiku.
Tak bisa melihat senyumnya menyakitiku.
Segala tentang dirinya menyakitiku.
Dan saat itulah aku mengerti.
Ini bukan Sindrom Stockholm.
Bukan karena kedekatan.
Bukan karena rasa terima kasih.
Aku jatuh cinta padanya.
Sebuah isak lolos sebelum aku sempat menahannya.
Apa yang akan kulakukan saat lelaki lain merasa berhak menyentuhku?
Kupejamkan mata erat-erat.
Kucoba membayangkan Adriano menciumku. Lelaki yang tak pernah kulihat seumur hidupku. Tangannya di tubuhku. Suaranya memanggilku istri.
Udara meninggalkan paru-paruku.
Tidak.
Aku tak akan sanggup.
Tidak setelah Fabiano.
Tidak setelah aku tahu rasanya saat seorang lelaki menatapmu seolah kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri.
Tidak setelah aku tahu rasanya merasa aman dalam pelukannya.
Kudekap dadaku dengan tangan yang bebas.
Sakit.
Sakit sekali sampai sesaat aku berharap Lucio tak pernah menerima pertukaran itu.
Pikiran itu menembusku seperti pisau.
Aku membuka mata seketika.
Anak macam apa yang tak ingin memeluk ibunya lagi?
Saudari macam apa yang lebih memilih tetap disandera?
Air mata mulai jatuh satu demi satu.
Aku hancur.
Dan yang paling buruk, sebagian dari diriku baru saja menyadari bahwa satu-satunya tempat yang benar-benar ingin kutuju sedang duduk di sisiku.
Fabiano adalah tempat yang tak pernah kukira akan kutemukan.
Tangannya menegang di atas jari-jariku sebelum menarikku ke pangkuannya.
"Jangan menangis, Alessia," pintanya dengan berbisik, sementara bibirnya membelai keningku. "Aku tak tahan melihatmu menangis."
"Aku akan sangat merindukanmu," isakku sambil menangkup wajahnya. "Aku tak mau melupakanmu, tapi kalau tidak, hidupku akan jadi neraka."
Ia meraih tanganku dan mencium jari-jariku.
"Aku tahu, sayang."
"Aku ingin kamu juga merasa sakit. Apa itu membuatku orang yang jahat?"
Ia menggeleng sebelum menawan bibirku.
Aku larut dalam ciuman ini.
Ini adalah perpisahan. Aku bisa merasakan desakannya, kerinduannya, dan ketakutannya juga.
Aku bisa merasakan segalanya.
Kusisipkan jari-jariku ke rambut gelapnya sementara aku meleleh menempel pada tubuhnya.
Ciuman terakhir kami… Andai aku bisa menghentikan waktu.
Andai aku bisa mati sekarang agar tak perlu berpisah dengannya.
"Aku menyayangimu," bisiknya di bibirku. "Aku menyayangimu, Alessia Castelli."
Jantungku berhenti berdetak beberapa detik lalu mulai berdegup kencang.
Itu "aku menyayangimu", bukan "aku mencintaimu", bukan "aku jatuh cinta padamu", tapi tetap saja itu lebih dari yang kuharapkan. Lebih dari yang berhak kuharapkan.
Aku bernapas di atas bibirnya. Dan itu terasa menyakitkan.
Kutatap kerinduan di matanya dan kurasakan air mata besar mengalir di pipiku.
"Aku juga menyayangimu, Fabi."
Ia menyandarkan keningnya pada keningku.
Mobil berhenti.
Jari-jarinya menekan pinggulku, seolah tak mau melepasku. Seolah tak sanggup melakukannya.
Seolah ini membunuhnya sama seperti membunuhku.
"Aku tak bisa melakukan ini," bisiknya begitu pelan hingga kurasa itu lebih merupakan pikiran yang terucap ketimbang sebuah pernyataan.
Kutangkup wajahnya.
"Kamu harus melakukannya. Kamu akan membenci dirimu sendiri kalau tidak."
"Bersumpahlah kamu akan bahagia, bahwa kamu akan melupakanku, bahwa kamu bisa bahagia bersama suamimu."
Kupejamkan mata.
"Fabi… aku tidak…"
"Bersumpahlah, Less, demi apa pun yang paling kamu sayangi. Aku tak akan bisa hidup jika tahu kamu menderita."
Ketukan di kaca jendela mengabarkan bahwa saatnya telah tiba.
"Aku bersumpah," dustaku, lalu turun sebelum ia sempat melihat kebenaran di mataku.
Kami berada di lahan kosong yang dikelilingi mobil-mobil. Mattheo berdiri beberapa meter dari sana bersama puluhan penjaga bersenjata.
Sekitar seratus meter jauhnya ada barisan mobil.
Aku menahan napas ketika dari salah satunya turun kakakku sambil mencengkeram kasar seorang perempuan.
"Fabi…" bisikku saat Lucio mendekati titik pertemuan, sebuah pohon yang berjarak sekitar tiga puluh meter.
Cloe terluka parah dan aku tahu masa penawanannya dan masa penawananku sangatlah berbeda.
Wajahnya bengkak dengan lebam-lebam menghiasi pipi dan lengannya.
Lehernya dipenuhi bekas jari yang berantakan dan salah satu matanya nyaris tak terlihat.
Fabiano menegang dan aku tahu ia mengerahkan seluruh dirinya untuk tidak membunuh kakakku.
Mattheo dan Fabiano sama-sama menderita.
Lucio mencium leher Cloe dan Fabiano meraih senjatanya, begitu pula Mattheo.
Perutku terpelintir ketika kakakku, kakak kandungku sendiri, menjilat wajah Cloe, yang mengerut jijik dan ketakutan.
"Lucio!" teriakku penuh amarah. "Kumohon, lepaskan dia."
Mata gelap Cloe, serupa dengan mata saudaranya, menatap tajam ke arahku.
Kakakku tak menatapku, yang ia lakukan hanya menyentuh Cloe dengan cara yang membuatku ingin muntah.
Aku menerjangnya dan memukul dadanya.
"Jangan sakiti dia!" jeritku sambil menendang tulang keringnya.
Kakakku menatapku dingin. Ia mengangkat tangan dan menamparku begitu keras hingga aku terjatuh ke tanah.
"TIDAK!" bentak Mattheo.
Aku menoleh untuk melihatnya. Ia sedang berusaha menahan Fabiano, yang mengarahkan senjatanya ke kakakku.
"Fabi…" bisik Cloe, dan Fabiano berhenti.
Lucio melepaskan Cloe dan mendorongnya ke arah orang-orang yang selama ini menjagaku, sebelum mencengkeram lenganku dan menarikku bangkit.
Aku tersenyum saat Cloe jatuh ke dalam pelukan saudaranya, akhirnya terlindungi.
"Aku melawan setiap detik, Fabi. Aku bersumpah. Aku bertarung dengan seluruh diriku."
Fabiano mencium puncak kepala saudarinya sambil berbalik untuk melindunginya dari tatapan kakakku, yang memandang Cloe seolah siap menerkamnya kapan saja.
Aku menoleh dan mendapati mata Fabi tertuju padaku.
Aku mencintaimu, batinku.
Aku akan selalu mencintaimu.
Lucio praktis menyeretku ke mobil.
Aku tak melawan.
Bukan karena tak mau, tapi karena seluruh kekuatanku tertinggal seratus meter di belakang. Di sisi Fabiano.
Pintu tertutup dengan bunyi keras.
Aku masih bisa melihatnya lewat jendela.
Cloe dalam dekapannya, menempel di dadanya.
Gadis itu menangis.
Fabiano juga.
Aku tersenyum saat menyadari bahwa lelaki paling ditakuti di seluruh Italia sama sekali tak pernah berbahaya. Ia hanya putus asa.
Aku tak pernah menjadi tawanannya. Dialah yang selama berminggu-minggu menjadi tawanan dari ketakutan kehilangan saudarinya.
Mobil mulai bergerak.
Aku tak mengalihkan pandangan dari jendela sampai ia tak lagi terlihat.
Barulah kemudian aku mengizinkan diriku menangis.
"Sudah selesai pertunjukanmu."
Suara Lucio jatuh menimpaku seperti air es.
Aku tak menjawab.
"Tatap aku." Aku tetap memandang jendela. "Sudah kubilang, tatap aku."
Tangannya mencengkeram daguku dan memaksaku memutar wajah.
Matanya menyusuri wajahku perlahan. Lalu turun ke leherku, ke bibirku, ke pergelangan tanganku. Seolah sedang memeriksa barang belian.
Rasa jijik naik ke tenggorokanku.
"Kamu sedang apa?" tanyaku sambil menepis tangannya.
Ia mencengkeramku lagi, kali ini lebih keras.
"Aku mau tahu berapa nilaimu."
Jantungku berhenti.
"Apa?"
"Dia menidurimu?"
Pertanyaan itu butuh beberapa detik untuk kucerna.
Ketika akhirnya kupahami, aku ingin muntah.
"Apa yang barusan kamu katakan?"
"Jangan paksa aku mengulangnya."
"Aku ini adikmu."
"Jawab aku."
Aku berusaha menjauh.
Ia mencengkeram lututku. Lalu menggeserkan tangannya ke pahaku. Seolah hendak memastikan sendiri apakah aku masih perawan.
Kupukul ia sekuat tenaga.
Tamparan itu bergema di dalam mobil.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!"
Lucio memutar kepalanya perlahan.
Bekas jariku muncul di pipinya.
Ia tersenyum. Tapi tak ada secuil pun kegembiraan dalam senyum itu. Hanya kekejaman.
"Jadi kamu sudah belajar membela diri."
"Aku belajar apa itu rasa hormat," semburku. "Sesuatu yang tak akan pernah kamu pahami."
Tangannya melayang.
Pukulan itu membuat kepalaku terbentur jendela.
Dengingan memenuhi telingaku.
"Jangan pernah lagi mengangkat tangan padaku. Aku Capomu."
Kubawa tangan ke pipiku.
Aku tidak menangis.
Tidak untuknya.
Aku tak akan pernah lagi menangis untuknya.
"Kamu tidur dengan Conti?" desaknya lagi.
Kutatap ia lurus.
"Dan kalaupun iya, memangnya kenapa?"
Rahangnya mengeras.
"Jawab aku."
"Kamu tak punya hak sedikit pun menanyakan itu padaku."
"Aku punya segala hak."
Aku melepas tawa getir.
"Kamu tak punya hak apa pun."
Selama beberapa detik hanya terdengar suara mesin mobil.
Lucio bicara lagi tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Gara-gara kamu aku harus mengembalikan Cloe."
Kurasakan tusukan di dadaku.
"Tidak. Ini salahmu. Kamulah yang menculiknya."
Ia tersenyum miring.
"Kalau bukan karena kamu, dia akan tetap menjadi milikku."
Aku terpaku.
Jijik.
Ini tak mungkin benar. Ini tak mungkin kakakku.
"Kenapa kamu menerima pertukaran itu?"
Untuk pertama kalinya sejak aku naik ke mobil, air mukanya berubah.
Ia tak tampak bangga.
Hanya lelah.
"Karena Mama sekarat."
Dunia lenyap.
"Apa…?"
"Kanker."
Kata itu jatuh di antara kami seperti bom.
Aku menggeleng.
"Tidak."
"Sudah hampir setahun."
Aku merasa kehabisan udara.
"Kenapa tak ada yang memberitahuku?"
"Itu keputusannya."
"Tidak…"
"Dia tak mau ada yang melihatnya menyusut habis."
Air mata mulai jatuh lagi.
"Kamu berbohong."
"Andai saja begitu."
Napasku patah.
"Di mana dia?"
"Di rumah sakit." Ia diam beberapa detik sebelum menambahkan, dengan dinginnya yang menghancurkan hatiku, "Permintaan terakhirnya adalah berpamitan denganmu sebelum meninggal."
Sisa perjalanan berlalu dalam keheningan.
Bukan karena aku tak lagi punya pertanyaan, tapi karena aku takut mendengar jawabannya.