Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ia Tak Ingin Lagi Menjadi Perempuan Bodoh

Pengakuan itu bergema di kepalanya bagai guruh di kejauhan; setiap kata seakan bergaung dengan beban yang tak tertanggungkan. Lantai di bawah kakinya seakan runtuh sementara ia berusaha mencerna semua yang baru saja ia dengar. Dunia di sekelilingnya menjadi kabur ketika air mata berusaha meluncur di wajahnya.

Apel itu masih tergeletak di antara mereka—begitu sempurna dan polos—berkontras dengan badai emosi yang berkecamuk di hati Roxanna.

Roxanna duduk di tepi ranjang, cahaya pagi menyaring lewat tirai, menciptakan suasana yang sekaligus hangat dan menekan. Ketika ia mencoba bangkit, Alessandro menahan tangannya erat, seolah ingin mencegahnya pergi. Gerakan itu mengejutkannya, dan seketika air mata kembali berusaha meluncur di wajahnya.

Ia menahannya cepat-cepat, takut Alessandro melihat kerapuhannya.

Alessandro berdiri di hadapannya, matanya lekat menatap mata Roxanna. Roxanna berusaha mengalihkan pandangan, tapi tatapan Alessandro terasa begitu nyata hingga nyaris bisa disentuh.

Ia merasakan hatinya berkeping-keping setiap detik yang berlalu. Di dalam kepalanya, badai pikiran menyerangnya: selama tiga tahun ia memupuk harapan bahwa cintanya berbalas, bahwa Alessandro bisa memandangnya lebih dari sekadar istri pengganti.

Tapi kini, harapan itu terasa sepolos mimpi kanak-kanak.

"Roxy." Alessandro menyebut namanya dengan kelembutan yang berlawanan dengan pedih di dadanya.

Mendengarnya, Roxanna menahan napas, menelan pedih yang mengancam meluap. Memaksakan senyum yang sama sekali tak mencerminkan isi hatinya, ia menjawab,

"Aku perlu mandi dulu sebelum turun sarapan."

Alessandro menatapnya, seolah berusaha membaca emosinya yang kalut. Sebuah helaan napas lolos dari bibirnya sementara ia akhirnya melepaskan tangan Roxanna.

"Baiklah. Aku akan menunggumu di sini. Kita makan lalu berangkat kerja bersama."

Kata "bersama" bergema di kepalanya bagai pukulan kejam.

Bagaimana bisa Alessandro sekejam ini?

Ajakan untuk tetap berteman setelah meminta cerai terasa nyaris tak tertahankan. Semalam Alessandro mengungkapkan bahwa ia tak menginginkan anak, dan kini ia mengaku bahwa cinta pertamanya telah kembali ke dalam hidupnya. Roxanna merasakan simpul terbentuk di perutnya saat memikirkan ironi situasi ini: ia sedang mengandung sebuah kehidupan baru, sesuatu yang semestinya menjadi sumber kebahagiaan, tapi bagi Alessandro mungkin hanya tampak seperti beban.

Kenangan akan momen-momen bahagia yang mereka bagi kini terasa jauh dan tak nyata.

Sesungguhnya, hanya dirinya yang bahagia dalam kenangan-kenangan itu.

Jika dulu ia memaksa diri untuk sekadar menjadi teman Alessandro, mendambakan kebahagiaannya bahkan di tengah pedihnya sendiri, keberanian semacam itu kini tak lagi ada.

Beban cinta yang tak berbalas dan pengkhianatan emosional itu tak tertanggungkan, terlebih sementara ia menghadapi kenyataan bahwa dirinya sedang hamil.

Roxanna tahu ia takkan sanggup menahan siksaan ini lagi; ia harus menemukan cara untuk melangkah maju, meski itu berarti meninggalkan segala yang pernah ia impikan bersama Alessandro.

Harapan mungkin telah gagal, tapi tekadnya baru saja mulai bangkit.

Roxanna menatap Alessandro, memaksakan senyum yang nyaris tak sampai ke matanya.

"Kita tidak bisa berangkat bersama ke perusahaan. Aku harus ke studio untuk sesi pemotretan model-model baru kita..." Kalimat itu meluncur sebagai upaya menjaga kesan normal, tapi ada kesedihan tersembunyi yang tak bisa diabaikan.

Alessandro menyanggah dengan nada khawatir,

"Aku ikut denganmu." Kata-kata itu terdengar bagai ajakan agar ia tak pergi sendiri, tapi Roxanna cepat menolak, dengan lembut menepis tangan Alessandro.

Matanya mengikuti gerakan tangan Alessandro, seolah jarak fisik itu bisa menerjemahkan jarak emosional yang kini memisahkan mereka.

"Tidak." Ia bersikeras, suaranya tegas tapi dengan getar samar. "Kau punya beberapa dokumen untuk ditandatangani. Jadwal kita sudah diatur, ingat? Dan aku tak pernah masuk bersamamu lewat lift utama."

Kenangan akan janji-janji temu yang pernah mereka bagi seakan membebani ruang di antara mereka.

"Aku punya sopir pribadi, Alessandro. Aku akan baik-baik saja pergi sendiri seperti biasa." Kata-kata itu meluncur bagai pertahanan, sebuah baju zirah melawan kerapuhan yang ia rasakan.

Alessandro mendesah dan mengangguk pelan, menyadari bahwa ini adalah pertempuran yang takkan bisa ia menangkan.

Roxanna membalikkan badan dan masuk ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, suara pancuran menyala dan tak lama kemudian ia sudah berada di bawah guyuran air dingin. Air mata mulai meluncur di wajahnya sementara ia menutup mulut untuk menahan isak. Bahunya bergetar, dan setiap pikiran tentang bayi di dalam kandungannya membuat semuanya semakin sulit ditanggung. Ia menelan ludah dan berusaha menenangkan diri, mengingatkan diri akan kekuatan yang harus ia miliki.

Setelah beberapa menit di bawah pancuran, ia mengusap wajah dengan handuk dan mengelus perutnya, membisikkan kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri. "Aku harus kuat,"* pikirnya. "Aku tak boleh membahayakan nyawa bayi ini karena semua ini."*

Dengan satu helaan napas dalam terakhir, ia menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi.

Saat membuka pintu, ia terkejut melihat Alessandro masih di sana. Ia sedang berjuang merapikan dasinya di depan cermin besar. Pandangan Roxanna beralih ke sepatu hak tingginya dan gaun yang tergeletak di ranjang.

"Aku sudah memilihkan gaunmu untuk hari ini." Alessandro berkata dengan senyum.

Pernikahan mereka adalah rahasia, dan Alessandro selalu berusaha membuatnya tampak seperti hal yang biasa saja.

Roxanna mengambil gaun dari ranjang dan masuk ke ruang pakaian, merasakan kehadiran Alessandro tepat di belakangnya. Dengan gerakan cepat, ia mengembalikan gaun ungu itu dan mengambil gaun merah menyala. Ketika ia berbalik menghadap Alessandro, ia melihat kening pria itu berkerut tak setuju.

"Aku lebih suka merah hari ini." Roxanna berkata mantap. "Aku akan merasa cantik dengan gaun ini."

Mata Alessandro beralih ke kain merah di tangan Roxanna, dan wajahnya seketika muram tak setuju.

"Terserah kau saja." Alessandro menjawab lembut, melangkah ke arahnya dengan senyum penuh pengertian. "Bantu aku merapikan dasi ini dulu?"

Roxanna gugup sembari mendekatinya, gaun merah di tangannya terasa begitu ringan, tapi sekaligus memikul beban emosi yang teramat berat.

Dengan hati-hati, ia menyampirkan gaun itu di lengan Alessandro, merasakan tekstur kain menyentuh kulit pria itu. Itu adalah koneksi kecil di antara mereka, sebuah gerakan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Sembari mencoba membetulkan dasi Alessandro, jari-jarinya sedikit gemetar. Dasi itu agak miring dan ia ingin semuanya sempurna. Roxanna bisa merasakan tatapan Alessandro terpaku di wajahnya, seolah pria itu berusaha mengatakan sesuatu.

Jantungnya berpacu, nyaris melompat dari dadanya. Ia menarik napas dalam untuk menenangkan diri dan, tanpa berpikir, menggigit bibir bawahnya dalam gestur gugup.

Pandangannya mulai mengabur, bukan hanya karena ketegangan momen itu, tapi karena kekalutan perasaan yang menguasainya. Ketika Alessandro memanggil namanya dengan suara dalam dan intens itu, dingin menyergap perutnya secara tiba-tiba.

"Roxy!?" Alessandro tampak hendak mengungkapkan sesuatu yang penting. Roxanna sedikit tersentak, seolah baru kembali ke kenyataan.

"Hmm?" Suaranya keluar lebih keras dari yang ia niatkan.

Alessandro ragu sejenak sebelum melanjutkan,

"Aku punya satu hal lagi untuk kukatakan."

Roxanna cepat-cepat menyelesaikan merapikan dasi Alessandro, jantungnya masih berpacu. Lalu ia kembali mengambil gaun itu dan menatap Alessandro dengan campuran cemas dan tekad.

"Kita bicara lain kali saja. Aku akan terlambat." Suaranya terdengar tegas, tapi di dalam dirinya bergolak badai emosi.

"Ini penting." Alessandro bersikeras, tapi Roxanna merasa itu adalah sesuatu yang tak ingin ia dengar.

"Nanti kita bicara." Ia menegaskan, lalu mulai melangkah ke arah kamar mandi.

Sementara Alessandro menatap pintu yang tertutup dengan pandangan suram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!