Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Aldo berjalan keluar dari pintu kayu raksasa ruang pantry dengan langkah yang sangat santai.
Di belakangnya ketiga juri Master Chef mengikutinya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
Dua belas peserta yang tersisa di galeri langsung menahan nafas menanti pengumuman bahan utama.
Semua mata tertuju pada keranjang bambu tertutup yang dibawa oleh asisten juri ke depan podium.
"Aldo Raditya telah menggunakan hak istimewanya sebagai pemenang uji kepekaan lidah," ucap Chef Arya membuka suara.
"Dia sudah memilih satu dari tiga jenis ikan kelas bawah untuk kalian angkat derajatnya hari ini."
Kevin melipat tangannya di depan dada sambil menatap remeh ke arah keranjang bambu tersebut.
"Paling paling dia memilih ikan lele, masakan gembel memang selalu berputar di situ situ saja," gumam Kevin pelan kepada Leo.
Leo mengangguk setuju dan tertawa kecil meremehkan pilihan Aldo.
"Buka keranjangnya sekarang," perintah Chef Renata kepada asisten juri.
Kain penutup basah itu ditarik dan memperlihatkan tumpukan ikan bersisik perak yang masih sangat segar.
Mata beberapa peserta langsung membulat sempurna saat mengenali jenis ikan tersebut.
"Bahan utama kalian untuk tantangan hari ini adalah Ikan Bandeng," umumkan Chef Bram dengan suara lantang.
Suasana galeri langsung dipenuhi dengan helaan nafas putus asa dan suara keluhan dari hampir seluruh peserta.
"Ikan bandeng? Ini pasti sebuah lelucon yang sangat buruk," keluh seorang peserta wanita berambut pendek.
"Ikan ini punya ribuan duri halus bercabang di dalam dagingnya, butuh waktu berjam jam untuk mencabutinya," tambah peserta pria di sebelahnya dengan panik.
Kevin yang tadinya tersenyum sombong kini langsung mematung dengan rahang yang mengeras.
Dia menatap Aldo dengan tatapan penuh kebencian karena sadar ini adalah jebakan mematikan untuknya.
"Kau sengaja memilih ikan sialan ini untuk merusak waktuku kan?" teriak Kevin tidak bisa menahan emosinya.
Aldo menoleh ke arah Kevin dengan wajah datar dan tatapan yang sangat tenang.
"Aku hanya memilih ikan yang memiliki rasa daging paling gurih di antara ketiganya, Kevin."
"Kalau kau memang koki kelas atas seperti yang kau sombongkan, mencabut duri ikan seharusnya bukan masalah besar untukmu."
Brak.
Kevin memukul meja masaknya dengan keras merasa sangat terhina oleh jawaban diplomatis Aldo tersebut.
"Tutup mulutmu gembel, aku akan membuktikan kalau aku bisa menaklukkan ikan sampah ini lebih baik darimu."
Chef Arya mengetuk podium untuk menghentikan perdebatan mereka berdua.
"Simpan energi kalian untuk mencabut duri nanti, karena kalian akan sangat membutuhkannya."
"Aturan utamanya sangat sederhana, jika kami menemukan satu saja duri di dalam hidangan kalian saat penjurian."
"Maka kalian akan langsung kami kirim ke Pressure Test tanpa ampun," ancam Chef Arya memberikan syarat mutlak.
Ancaman itu sukses membuat nyali para peserta semakin menciut hingga ada yang mulai gemetar.
Rina menatap Aldo dari seberang mejanya dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Aldo, aku tidak pernah membedah ikan bandeng seumur hidupku, bagaimana ini?" keluh Rina dengan suara bergetar.
"Gunakan pinset ujung lancip Rina, raba dagingnya dari bagian punggung dan tarik durinya searah serat daging," jawab Aldo setengah berteriak memberikan petunjuk singkat.
"Terima kasih Aldo, aku akan mencobanya pelan pelan," balas Rina sedikit lebih tenang.
"Waktu memasak kalian adalah enam puluh menit dimulai dari sekarang!" teriak Chef Renata menekan sirine merah.
Teeet.
Suara langkah kaki yang berlarian menuju meja keranjang ikan langsung menggema di seluruh ruangan galeri.
Aldo mengambil dua ekor bandeng berukuran sedang yang matanya masih sangat bening.
Dia juga berlari ke ruang pantry untuk menyambar beberapa rempah segar seperti kunyit, jahe, kemiri, daun jeruk, dan tomat hijau.
"Aku akan membuat Pindang Serani Bandeng Cabut Duri kuah bening," batin Aldo menyusun rencana matangnya.
Pindang Serani adalah masakan khas pesisir Jawa yang sangat menonjolkan rasa asli ikan tanpa tertutup santan pekat.
Rasa kuah bening yang asam, pedas, dan segar ini akan menutupi bau tanah yang biasanya menempel pada ikan bandeng.
Namun tantangan utamanya tentu saja ada pada persiapan pembersihan durinya.
Aldo kembali ke mejanya dan langsung meletakkan ikan bandeng itu di atas talenan kayu besarnya.
Sret.
Pisau fillet tajam di tangan kanan Aldo bergerak sangat mulus membelah bagian punggung ikan tersebut.
Dia tidak membelahnya dari perut karena perut bandeng sangat tipis dan mudah hancur.
Setelah dagingnya terbuka lebar seperti buku, Aldo mengambil sebuah pinset besi dari laci peralatannya.
Ini adalah momen yang akan membedakan koki amatir dengan koki yang sudah ditempa pengalaman bertahun tahun.
Tap tap tap.
Jari tangan kiri Aldo meraba permukaan daging bandeng itu dengan sangat halus mencari titik keberadaan duri duri kecil.
Begitu jarinya merasakan tekstur tajam yang tersembunyi, tangan kanannya langsung menukik dengan pinset.
Trak.
Satu duri halus berbentuk huruf Y berhasil dicabut dan dibuang ke mangkok kecil.
Gerakan tangan Aldo sangat berirama dan cepat layaknya sebuah mesin jahit yang sedang bekerja.
Trak trak trak.
Puluhan duri tercabut hanya dalam waktu kurang dari lima menit tanpa merusak tekstur daging ikan itu sama sekali.
Di meja seberang, Kevin sedang mengalami mimpi buruk terburuk dalam hidupnya.
Pemuda sombong itu mencoba memotong bandeng seperti dia memotong ikan salmon mahal.
Sret.
Pisau Kevin menabrak jejeran duri keras di dalam daging hingga membuat arah potongannya menjadi melenceng.
"Sialan, pisauku sampai tumpul gara gara duri ikan sampah ini," umpat Kevin dengan keringat dingin bercucuran.
Dia memaksakan pisaunya menembus daging itu yang mengakibatkan daging bandengnya hancur berantakan.
"Kapten, daging ikanku hancur seperti bubur, bagaimana ini?" keluh Leo dari meja sebelahnya yang juga sedang panik.
"Gunakan pinset bodoh, jangan pakai pisau besar!" bentak Kevin melampiaskan rasa frustrasinya kepada temannya sendiri.
Kevin membuang pisaunya dan mengambil pinset lalu mulai mencari duri di tumpukan dagingnya yang sudah hancur.
Namun karena dia menarik duri itu berlawanan dengan arah serat daging, duri duri itu justru patah tertinggal di dalam.
"Aargh, ikan ini benar benar diciptakan untuk menyusahkan manusia!" teriak Kevin kesal sambil memukul meja.
Aldo yang sudah selesai mencabut ratusan duri dari dua ekor bandengnya hanya melirik sekilas ke arah keributan Kevin.
"Kesombonganmu menutupi kelemahan teknis dasarmu Kevin," gumam Aldo pelan sambil tersenyum tipis.
Aldo mencuci bersih fillet bandeng tanpa duri itu menggunakan perasan jeruk nipis dan sedikit garam kasar.
Lalu dia menyalakan kompor gas dengan api sedang untuk menumis bumbu irisan.
Srenggg.
Aroma bawang merah, bawang putih, serai, dan irisan kunyit yang ditumis layu langsung menyeruak memenuhi udara.
Wangi harum ini sangat khas dan menyegarkan hidung siapapun yang menciumnya di tengah bau amis ikan mentah.
"Aromanya sedap sekali Aldo, kau selalu tahu cara menaklukkan bumbu," puji Rina yang sedang berjuang dengan pinsetnya.
"Fokus saja pada durimu Rina, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun," peringat Aldo tanpa menoleh.
"Iya ini sudah hampir selesai, mataku sampai juling melihat duri duri transparan ini."
makasi crazy up nya