Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Sesuatu Yang Membuat Penasaran
Malam sudah terlewatkan dengan mentari pagi. Aisyah yang saat ini masih terbaring lemas di atas ranjang perlahan membuka matanya dan melihat sinar matahari sudah masuk dari jendela dengan tirai yang sudah dibuka.
Aisyah melihat kompresan di dahinya membuatnya mengangkat dan sedikit tersenyum, meski tadi malam tubuhnya begitu lemas tetapi dia bisa merasakan bahwa suaminya merawatnya dengan sangat baik.
"Kamu sudah bangun Aisyah?"suara lembut itu terdengar membuat Aisyah menoleh.
Kaivan dengan sangat tampan menggunakan kemeja putih dengan lengan yang dilipat menghampiri dirinya.
"Kakak mau ke kantor?" tanya Aisyah melihat jam yang menggantung di dinding ternyata sudah jam 09.00.
"Saya akan ke kantor jika kondisi kamu sudah membaik," jawab Kaivan.
Aisyah dengan sangat manja meletakkan kepalanya di paha suaminya dan memeluk pinggang Kaivan.
Kaivan mengusap-usap rambut sang istri.
"Aisyah sudah tidak apa-apa, ini sudah jam berapa dan pasti sudah terlambat, Kakak sebaiknya kerja saja," ucap Aisyah.
"Bagaimana saya bisa bekerja jika kondisi kamu masih seperti ini, kamu tidak mau dibawa ke rumah sakit, tidak mau diperiksa Amira," ucap Kaivan.
"Tetapi Aisyah sudah meminum obat dan baik-baik saja," ucap Aisyah.
"Kakak pergilah ke kantor dan lagi pula di sini ada Mama. Nanti kalau ada apa-apa Aisyah minta bantuan Mama," ucap Aisyah mengangkat kepalanya melihat suaminya meyakinkan sang suami jika kondisi jauh lebih baik.
"Baiklah, tetapi kamu jangan ke rumah sakit ya," ucap Kaivan.
Aisyah menganggukan kepala dengan tersenyum. Kaivan mencium lembut kening istrinya, tetapi Aisyah ternyata justru mencium pipi suaminya di saat kepala itu menunduk membuat Kaivan tersenyum.
"Aisyah minta maaf soal kejadian tadi malam, Aisyah pasti sedikit menyebalkan yang memaksa Kakak untuk melupakan masa lalu, Aisyah juga minta maaf karena membuat Kakak tidak tidur," ucap Aisyah.
"Kamu tidak perlu meminta maaf," sahut Kaivan mengecup bibir istrinya.
Dengan sangat lembut Kaivan mengangkat kepala Aisyah dan meletakkan di atas bantal. Kaivan kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jasnya, sebelum pergi masih melihat istrinya yang tersenyum dan melambaikan tangan. Kaivan yakin jika istrinya baik-baik saja membuatnya keluar dari kamar.
"Mungkin wanita itu sangat spesial untuk beliau, tetapi dengan beliau yang berbicara jujur dan juga mengambil keputusan atau tidak menyimpan apapun lagi tentang wanita yang sudah menjadi masa lalunya, itu sudah menjadi poin besar. Ya Allah semoga saja Aisyah mampu menjadi istri dan semoga saja seluruh hati suami Aisyah benar-benar untuk Aisyah," batin Aisyah dengan harapannya yang begitu besar.
******
Amira memiliki penasaran tingkat dewa yang membuatnya kembali ke ruang rekam medis. Amira melihat rak-rak yang tersusun dengan dokumen-dokumen lengkap dengan tahunnya untuk mempermudahkan para perawat atau dokter mencari sesuatu. Sampai akhirnya Amira menemukan tahun di mana waktu kecelakaan sahabatnya dan membuat Amira mengambil tumpukan dokumen itu.
Amira kemudian kembali mencarinya dan akhirnya menemukan nama sahabatnya Aisyah Putri Fariska Dharma.
Amira tidak membuang waktu, kemudian membuka dokumen tersebut dan ternyata benar itu adalah foto Aisyah, pasien yang dirawat di rumah sakit, wajah Aisyah sejak remaja tidak terlalu berbeda dengan saat ini.
Amira melihat catatan gadis pada Aisyah.
"Hah!" ucapnya cukup kaget ketika melihat catatan medis itu ternyata selain mengalami pendarahan pada kepalanya, Aisyah juga kehilangan kornea matanya yang menyebabkan buta permanen.
Amira benar-benar kaget menutup mulutnya menggunakan satu tangannya, tidak pernah dia dengar tentang hal ini dan bahkan Aisyah tidak menceritakan apapun. Aisyah juga mungkin tidak tahu karena tidak ada satupun tentang sahabatnya tidak diketahui Amira.
"Jadi Aisyah waktu itu sempat buta," ucapnya.
Hasil rekam medis itu benar-benar lengkap, jadwal operasi yang dilakukan, dan bahkan kepulangannya sesuai dengan yang diketahui Amira kapan sahabatnya sembuh.
"Dokter Andrean!" ucapnya ketika melihat dokter spesialis mata yang menangani Aisyah.
"Kenapa hal ini tidak aku ketahui dan tante Rahma juga tidak mengatakan apapun. Apa jangan-jangan mereka memang tidak ingin memberitahu siapapun tentang efek kecelakaan dahsyat yang dialami Aisyah, dan mungkin karena takut mental Aisyah terguncang dan Aisyah sendiri juga tidak tahu," Amira hanya menduga-duga.
Amira kemudian mengambil dokumen yang berada di belakang dokumen milik Aisyah, nama yang juga sempat dia lihat Cindy Friska Dharma.
Dokumen itu sempat berada di dalam dokumen milik Aisyah tetapi dia sendiri yang mengeluarkannya.
Foto pada pasien tidak jelas, terlihat sedikit terkelupas sehingga tidak dapat dilihat wajahnya dengan jelas. Amira juga penasaran dan melihat hasil rekam medis pasien.
"Pasien meninggal dunia, satu hari sebelum Aisyah di oprasi,"
"Tetapi kenapa catatan medis ini sangat dekat dengan Aisyah, lalu apa yang terjadi dengan pasien!"
Amira masih penasaran dan mencoba untuk memeriksa kembali.
"Dokter Amira!"
Tiba-tiba tangannya berhenti membolak-balikkan dokumen tersebut ketika pintu ruangan dibuka dan salah satu dokter memanggilnya.
"Iya dokter," sahut Amira menutup kembali dokumen itu.
"Pasien di ruang rawat 015 keluarganya ingin bertemu dengan dokter," ucap dokter tersebut.
"Begitu! astagfirullah saya lupa memang ada janji, baiklah saya akan segera ke sana!" Amira tidak melanjutkan untuk membaca dokumen itu secara keseluruhan tetapi mungkin ada rencana untuk melihatnya lagi yang membuat Amira meletakkan dokumen itu di bagian atas mempermudah dia untuk memeriksa kembali.
******
Meski tidak ke rumah sakit tetapi Aisyah pasti dihubungi perawat karena pasien yang ditangani Aisyah tidak diperiksa.
"Lalu bagaimana suster, apa keluhan pasien lagi?" menyanyi yang saat ini duduk di sofa.
"Tadi suami pasien mengatakan tidak mau makan, suaminya juga sudah membawakan makanan tuh hanya untuk memancing selera makan, tetapi tetap tidak mau makan, pasien mengeluh pusing, mual dan tubuhnya benar-benar tidak fit,"
"Lalu saya mencoba untuk melakukan pemeriksaan pada lambungnya, eh ternyata pasien sedang mengandung, pantas aja mual-mual tetapi dia mengatakan asam lambung," suster menjelaskan.
"Hamil!" sahut Aisyah.
"Benar dokter, tetapi jangan khawatir saya sudah memberi obat mengurangi rasa mual dengan resep yang diberikan oleh dokter Amira," jawab suster.
"Ya sudah kalau begitu saya minta tolong untuk kamu terus pantau ya," ucap Aisyah.
"Baik dokter," sahut suster itu dan panggilan telepon itu langsung mati.
Aisyah tiba-tiba saja yang memegang perut ratanya.
"Apa jangan-jangan aku sedang mengandung?" ucapnya menduga-duga sendiri ketika keluhan yang baru saja diungkapkan suster pada pasien tersebut hampir sama dengannya.
Aisyah seorang dokter yang pasti mengetahui bagaimana ciri-ciri tubuhnya yang mengalami sesuatu dan tiba-tiba saja tidak enak.
"Sebaiknya aku periksa saja," ucapnya daripada penasaran lebih baik melakukan pemeriksaan.
Bersambung...
suaminya loh ....pengantin baru looh