Indonesia
NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 — Rin

Kaito baru aja mau mundur pelan-pelan dari balik pilar itu, niatnya sih biar nggak keliatan kayak stalker, pas tiba-tiba cewek itu berhenti total, badannya kaku sebentar, terus muter cepet ke arahnya dengan sebilah belati udah siap di tangan.

"Keluar," katanya, suaranya tegas, dingin, sama sekali nggak ada nada ragu.

Kaito kaget setengah mati, refleks ngangkat kedua tangannya. "Eh tunggu, gue bukan, gue nggak..."

"Keluar dari balik pilar itu. Sekarang."

Dia melangkah keluar pelan-pelan, tangan masih terangkat, jantungnya berdebar kenceng bukan cuma karena kaget, tapi juga karena oke, harus diakuin cewek di depannya ini punya aura yang bikin ciut. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam banget, ngescan Kaito dari atas ke bawah dalam sepersekian detik, kayak lagi ngitung seberapa besar ancaman yang dia hadepin.

Rambutnya sebahu, diiket asal ke belakang, dan armornya ringan tapi keliatan jelas fungsional, bukan cuma buat gaya-gayaan kayak sebagian besar pemain yang Kaito liat di kota tadi. Setiap gerakannya keliatan efisien, nggak ada yang sia-sia, tipe orang yang jelas udah ngabisin banyak waktu buat bener-bener ahli di apa yang dia lakuin.

"Gue nggak ngikutin lo, serius, gue lagi ngerjain quest, terus denger suara langkah, terus..." kata Kaito buru-buru.

"Terus lo mutusin buat ngintip diem-diem daripada nyapa biasa?" potongnya, alis terangkat, nada suaranya masih curiga tapi ada dikit nada sarkastik yang nyempil.

"...Kalo dijelasin gitu, kedengerannya emang mencurigakan sih," akui Kaito sambil agak nunduk.

Cewek itu natap dia lebih lama, terus matanya berhenti di sesuatu nama kecil yang ngambang di atas kepala Kaito. Ekspresinya berubah, dari waspada jadi sedikit... terkejut?

"Tunggu," katanya pelan, lebih ke diri sendiri, "Kaito?"

Giliran Kaito yang kaget. "Lo... tau nama gue?"

Cewek itu nurunin belatinya sedikit, walau masih waspada. "Lo pemain yang lagi rame dibahas di forum, kan? Yang dapet Epic item dari Slime Kayu tutorial?"

Kaito ngerasa perutnya mules dikit. "Tunggu, itu udah jadi bahan omongan forum?"

"Server Jepang-3 heboh banget, walaupun kebanyakan orang mikir itu cuma hoax atau editan screenshot," dia ngangkat bahu, terus akhirnya masukin belatinya balik ke sarung. "Gue Rin dan gue ke sini bukan buat quest biasa, gue lagi nyelidikin laporan soal reruntuhan ini. Ada beberapa anomali sistem yang kedengerannya nggak wajar, dan lokasi ini salah satu titik yang paling sering dilaporin."

"Anomali... kayak yang gue alamin?" tanya Kaito, mulai ngerti arah pembicaraan.

"Mungkin," Rin natap dia lekat, "atau mungkin lo sendiri yang jadi anomalinya."

Kaito nggak tau harus jawab apa soal itu, jadi dia diem aja, canggung.

Rin balik badan, jalan lagi ke arah altar yang tadi dia periksa. "Gue lagi nyari sesuatu di sini. Ada pola ukiran yang cocok sama beberapa laporan lain yang gue kumpulin dari dungeon lain. Kalo lo emang nggak nyariin masalah, ya udah, silakan lanjutin quest lo. Gue nggak butuh bantuan."

Kata-katanya tegas, tapi entah kenapa Kaito ngerasa nggak enak buat langsung pergi gitu aja. Lagian, dia sendiri penasaran, jangan-jangan apa yang Rin cari ada hubungannya sama simbol aneh yang dia liat kemarin.

"Gue... boleh liat-liat juga nggak? Kali aja bisa bantu," tawar Kaito, agak ragu.

Rin nengok, natap dia sebentar, kayak lagi nimbang sesuatu. "Kenapa lo mau bantu? Lo baru banget main, kan? Biasanya orang baru lebih milih ngumpulin level sendiri daripada ngikutin urusan orang lain."

Kaito ngangkat bahu. "Jujur aja, gue penasaran. Simbol yang lo cari itu, kayaknya mirip sama sesuatu yang gue liat pas bikin karakter kemarin. Aneh doang tapi kepikiran terus."

Alis Rin terangkat sedikit, tanda dia mulai lebih tertarik dari yang dia tunjukin di wajahnya. "Terserah. Tapi jangan sentuh apa pun tanpa izin gue."

Mereka berdua akhirnya periksa ruangan itu bareng-bareng, dengan Rin fokus ke ukiran-ukiran di dinding altar, sementara Kaito yang nggak terlalu ngerti soal simbol-simbol itu, cuma bisa muter-muterin badan ngeliatin sekitar.

"Ini," gumam Rin, jarinya nunjuk ke satu bagian ukiran yang keliatan lebih terang dari yang lain, "pola ini sama kayak yang gue temuin di dungeon lain minggu lalu. Kalo emang bener, harusnya ada semacam mekanisme tersembunyi di sekitar sini."

Belum sempet dia nerusin, lantai di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar keras.

"Apaan itu?!" Kaito refleks mundur, nyaris kepeleset.

Dari tengah ruangan, sebuah patung raksasa yang tadinya cuma keliatan kayak dekorasi altar, ukurannya jauh lebih gede dari dua penjaga batu yang tadi Kaito kalahin perlahan bangkit, retakan cahaya biru terang muncul di sekujur tubuhnya. Panel nama besar muncul di atasnya:

Penjaga Altar Purba — Lv. 27

"Ini nggak wajar!" seru Rin, udah narik belatinya lagi, posisi tempur otomatis. "Level segini seharusnya nggak ada di dungeon rekomendasi level 5-10!"

"Kenapa bisa muncul sekarang?!" Kaito ikutan panik, narik pedang kayunya yang ngeliat lawan sebesar itu, keliatan makin nggak meyakinkan.

"Mungkin dia bereaksi karena kita berdua ada di sini bareng!" Rin udah mulai gerak, ngambil posisi buat serangan hit-and-run. "Nggak ada waktu buat mikir teori! Kaito, bisa nyerang atau enggak?!"

"Gue... coba!"

Penjaga Altar itu ngayunin lengan batunya yang gede banget ke arah mereka, dan Rin dengan gerakan cepat yang jelas udah kelatih ratusan jam, ngehindar mulus sambil ngasih beberapa sayatan cepat ke bagian sendi si patung. Kaito, di sisi lain cuma bisa maju dengan gerakan kaku, nyoba niru pola yang dia liat dari Rin.

Serangan pertamanya kena telak di kaki si patung.

CRITICAL HIT!

Retakan besar langsung nyebar di kaki itu, bikin si patung goyah sebentar cukup buat Rin manfaatin celah dan ngelancarin combo cepat ke titik lemah yang baru aja kebuka.

"Bagus!" seru Rin, sedikit kaget tapi nggak sempet mikir lama, "terus kayak gitu!"

Pertarungan berlangsung sengit, Rin ngatur ritme serangan dengan presisi luar biasa, sementara Kaito, walaupun gerakannya masih jauh dari elegan, entah gimana selalu berhasil ngasih hit di momen yang paling krusial. Sekali, dua kali, tiga kali setiap kali situasi keliatan mulai berbahaya, entah kenapa selalu ada celah kecil yang muncul pas banget buat mereka manfaatin.

"Kanan! Sendi kanannya lemah!" teriak Rin, sambil ngelompat mundur ngehindarin ayunan lengan raksasa itu.

Kaito tanpa sempet mikir strategi apa pun, langsung nyerang ke arah yang ditunjuk. Pedangnya nyentuh titik itu tepat pas si patung lagi dalam posisi paling nggak terlindungi seolah-olah gerakannya sendiri udah "tau" ke mana harus nyerang duluan sebelum otaknya sempet mikir.

"Gimana caranya lo bisa selalu tau timing yang pas?!" seru Rin, setengah kagum setengah frustrasi di sela-sela dia ngelakuin combo cepat ke bagian lain.

"Gue juga nggak tau!" jawab Kaito jujur, napasnya udah mulai ngos-ngosan.

Sampai satu momen, Penjaga Altar itu ngelakuin serangan gede yang nyaris nggak sempet dihindarin Rin, dia kepeleset dikit di lantai berlumut, dan lengan raksasa itu udah ngayun ke arahnya dengan kecepatan yang jelas bakal jadi hit fatal.

"RIN!" Kaito teriak, refleks lompat ke depannya tanpa mikir panjang.

Detik itu kerasa lambat banget. Lengan batu itu nyaris nyentuh mereka berdua dan meleset cuma beberapa senti, tapi meleset kayak ada tarikan tak kasat mata yang narik posisi mereka berdua sedikit ke samping tepat di detik terakhir.

Panel kecil sempet muncul sekilas di sudut pandangan Kaito:

[Second Chance] telah aktif.

Rin yang masih syok karena nyaris kena hit fatal natap Kaito dengan ekspresi yang susah dibaca antara kaget, curiga, dan sesuatu yang lain yang belum sempet dia namain sendiri.

"Ayo kita habisin ini dulu," kata Kaito buru-buru nutupin rasa gemeteran di suaranya sendiri.

Mereka berdua manfaatin momentum itu, ngelancarin serangan gabungan yang akhirnya berhasil ngancurin inti cahaya di dada si Penjaga Altar. Patung raksasa itu ambruk pelan, retak jadi ribuan pecahan cahaya yang perlahan ilang ke udara.

Keheningan nyusul, cuma diselingi napas mereka berdua yang masih ngos-ngosan.

Rin berdiri diem beberapa detik sambil natap Kaito lekat-lekat, kali ini tanpa kecurigaan sama sekali di matanya, cuma rasa penasaran yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

"Barusan itu, itu bukan kebetulan biasa kan?" katanya pelan.

Kaito nggak tau harus jawab apa, jadi dia cuma diem dan sedikit gugup.

Rin natap dia lebih lama lagi, terus akhirnya senyum tipis muncul di ujung bibirnya, senyum yang keliatannya jarang banget dia kasih ke orang lain.

"Kita perlu ngobrol dan gue rasa, lo punya banyak banget yang perlu dijelasin Kaito." katanya sambil nyodorin tangan buat request party.

Kaito natap tangan yang disodorin itu sebentar, terus tanpa banyak mikir lagi dia terima. Notifikasi kecil muncul di sudut pandangannya Rin telah menambahkanmu ke party dan entah kenapa, dari semua notifikasi aneh yang udah dia dapetin dua hari terakhir yang satu ini kerasa paling nggak asing. Kayak sesuatu yang emang seharusnya kejadian cepat atau lambat.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!