Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 kekuatan fisik pertama
Jiang Ming duduk di kursi paling belakang bus kota yang membawanya kembali menuju kawasan pinggiran selatan.
Ponsel bututnya menyala dalam genggaman tangannya, menampilkan antarmuka Toko Tiga Alam.
'Uang ratusan ribu yuan ini tidak akan ada gunanya jika aku mati mendadak karena kelelahan,' batin Jiang Ming.
Dia masih mengingat dengan jelas rasa sakit dan mimisan parah setelah melukis semalam.
Kemampuan dari dimensi dewa memberikan beban yang sangat mengerikan bagi tubuh manusia fana sepertinya.
Karena itu, prioritas utamanya saat ini bukanlah membeli mobil mewah atau pakaian mahal.
Dia harus meningkatkan daya tahan fisik dan kekuatan tubuhnya sendiri.
Jiang Ming menekan ikon dompet dan memutuskan untuk melakukan penarikan besar-besaran dari rekening banknya.
[Konfirmasi Top-Up 100.000 Yuan untuk 1.000 Koin Emas.]
'Konfirmasi,' ucap Jiang Ming dalam hati tanpa ragu sedikit pun.
Tring.
Pesan dari bank langsung masuk bersamaan dengan pembaruan saldo di layarnya.
[Saldo Saat Ini: 1.050 Koin Emas.]
Ini adalah pertama kalinya Jiang Ming melihat saldo koin emasnya menyentuh angka empat digit.
Dia segera membuka menu pencarian dan menyaring barang di kategori Pil Spiritual tingkat terendah.
Pil Pembersih Sumsum yang pernah dilihatnya dulu harganya sepuluh ribu koin emas, jelas masih di luar jangkauannya.
Namun, matanya segera menangkap sebuah botol batu giok kecil di barisan kedua dari bawah.
[Pil Pembentuk Tulang Besi Fana. Harga: 900 Koin Emas.]
[Deskripsi: Pil ini akan merombak struktur tulang manusia fana menjadi sekeras besi dan meningkatkan kepadatan otot hingga tiga kali lipat.]
'Tiga kali lipat kekuatan manusia normal sudah lebih dari cukup untuk melindungi diriku di jalanan,' pikirnya cepat.
Jiang Ming menekan tombol beli dan saldo koin emasnya langsung menyusut drastis.
Sring.
Sebuah botol giok kecil berwarna hijau kusam muncul entah dari mana dan jatuh ke telapak tangannya.
Jiang Ming segera memasukkan botol dingin itu ke dalam saku jaketnya.
Dia berencana meminumnya setelah beres mengemasi barang-barangnya dari kamar kontrakan nanti.
Ciiiit.
Bus kota mengerem mendadak dan berhenti di halte ujung jalan kawasan pinggiran selatan.
Jiang Ming turun dari bus dan berjalan santai menuju gang tempat tinggalnya.
Namun, langkah kakinya seketika terhenti saat telinganya menangkap suara bising yang sangat keras.
Brum brum.
Suara mesin diesel berat menderu dari arah kawasan kontrakannya.
Jiang Ming menyipitkan matanya dan melihat dua unit ekskavator kuning besar sudah terparkir tepat di depan jalan masuk gang.
Debu beterbangan ke udara, bercampur dengan suara jeritan tangis dan teriakan kasar.
'Apa yang sebenarnya terjadi di sini?' batin Jiang Ming sambil mempercepat langkahnya menjadi setengah berlari.
Saat dia tiba di depan gang, pemandangan kacau balau langsung menyambut matanya.
Puluhan pria berbadan besar yang memakai kemeja hitam ketat sedang mengobrak-abrik barang-barang milik penghuni kontrakan.
Kasur, panci, dan pakaian dilemparkan begitu saja ke tengah jalan tanah yang berdebu.
"Kalian semua cepat angkat kaki dari tanah ini sekarang juga!" teriak seorang pria botak berwajah garang yang memegang tongkat pemukul bisbol.
Pria botak itu berdiri di atas kap mobil pikap dengan gaya sangat arogan.
"Tolong beri kami waktu seminggu lagi, kami belum mencari tempat tinggal baru!" isak seorang wanita paruh baya yang berlutut di tanah.
Itu adalah Bibi Wang, pemilik kontrakan yang galak, yang kini menangis tersedu-sedu memohon belas kasihan.
"Waktu kalian sudah habis, perempuan tua!" bentak pria botak itu tanpa ampun.
"Perusahaan Grup Tianyu sudah membeli lahan ini, dan bos kami memerintahkan penggusuran hari ini juga!"
Mendengar nama Grup Tianyu, mata Jiang Ming langsung menajam dan memancarkan hawa dingin.
'Grup Tianyu... itu adalah perusahaan tempat Wang Hao bekerja sebagai manajer proyek,' batin Jiang Ming menyadari benang merahnya.
Pantas saja Wang Hao sangat meremehkannya kemarin.
Pria sombong itu rupanya sudah merencanakan untuk menghancurkan tempat tinggal Jiang Ming hari ini.
"Kami tidak mau pergi sebelum uang kompensasinya dibayarkan secara penuh!" teriak Paman Li dengan berani dari kerumunan warga.
Pria gemuk tetangga Jiang Ming itu memegang sebuah sapu kayu untuk membela diri.
Pria botak di atas mobil meludah ke tanah dan tertawa meremehkan.
"Kompensasi? Perusahaan sudah memberikan seribu yuan per kepala, itu sudah lebih dari cukup untuk gembel seperti kalian!"
"Seribu yuan bahkan tidak cukup untuk menyewa kamar paling murah selama tiga bulan di kota ini!" balas Paman Li dengan wajah memerah marah.
Brak.
Pria botak itu melompat turun dari mobil dan langsung menendang perut Paman Li dengan sangat keras.
Bruk.
Paman Li terpelanting ke belakang dan jatuh berguling di atas tanah berdebu sambil memegangi perutnya.
"Li Tua!" teriak beberapa warga panik melihat tetangga mereka diserang.
"Dengar baik-baik, sampah masyarakat!" raung pria botak itu sambil mengayunkan tongkat bisbolnya ke udara.
"Siapa pun yang berani melawan lagi, akan kupatahkan kakinya dan kubuang ke selokan!"
Puluhan preman berkemeja hitam langsung maju merapatkan barisan, mengintimidasi warga yang ketakutan.
Bibi Wang hanya bisa menangis memeluk tas berisi barang berharganya, tidak berani melawan sedikit pun.
Jiang Ming yang berdiri di pinggir jalan menyadari bahwa situasi ini akan segera berubah menjadi pertumpahan darah sepihak.
Dia diam-diam merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan botol giok hijau tersebut.
Tutup botol itu dibukanya dengan ibu jari.
Sebuah pil berwarna hitam pekat seukuran kelereng meluncur ke telapak tangannya, memancarkan aroma obat herbal yang sangat pekat.
Tanpa berpikir panjang, Jiang Ming langsung melempar pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
Gluk.
Dalam hitungan detik, rasa panas yang luar biasa meledak di dalam perutnya seperti bom lahar gunung berapi.
Suhu tubuh Jiang Ming melonjak drastis, membuat kulitnya memerah dan mengeluarkan uap tipis.
Kratak kratak.
Suara tulang yang saling bergesekan dan memadat terdengar pelan dari dalam tubuhnya.
Otot-otot di lengan dan kakinya menegang hebat, merobek serat-serat lemah dan menggantinya dengan serat otot yang jauh lebih padat dan liat.
Rasa sakitnya sungguh luar biasa, seolah tubuhnya sedang dihancurkan dan dirakit ulang secara paksa.
Jiang Ming menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah agar tidak berteriak kesakitan.
Proses penyiksaan singkat itu hanya berlangsung selama belasan detik sebelum akhirnya rasa panas itu perlahan mereda.
Hah.
Jiang Ming membuang napas panjang yang terasa sangat hangat.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan merasakan tenaga ledakan yang belum pernah dia miliki seumur hidupnya mengalir deras di setiap nadinya.
Matanya yang kini menjadi jauh lebih jernih dan tajam menatap lurus ke arah pria botak yang sedang mendekati Bibi Wang.
"Serahkan tas itu, perempuan tua! Kau pasti menyembunyikan sertifikat bodong di sana!" bentak pria botak itu sambil menarik paksa tas Bibi Wang.
"Jangan! Ini seluruh harta tabunganku!" jerit Bibi Wang mempertahankan tasnya.
Pria botak itu kehilangan kesabarannya dan mengangkat tongkat bisbolnya tinggi-tinggi.