Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Langkah kaki Xiu Ying terasa ringan saat menyusuri koridor berbatu menuju Halaman Barat. Di belakangnya, Susu menyapu air mata yang terus menetes menggunakan ujung lengan bajunya yang kusam.
Begitu melintasi pintu kayu kamar mereka yang masih terkulai rusak akibat ulah Xiu Mei tadi pagi, Xiu Ying langsung mengedarkan pandangan. Ia mulai memeriksa sudut-sudut ruangan yang lembap itu. Tempat penyimpanan pakaian hanya berupa lemari tua berdinding lapuk dengan engsel berkarat. Ketika Xiu Ying membukanya, ia hanya menemukan dua helai gaun kain kasar ber warna abu-abu pudar dan hijau lumut yang sudah tipis.
Xiu Ying meraba saku dan sudut meja kayu yang bergoyang. Kosong. Tidak ada satu keping perak pun, tidak ada perhiasan, bahkan tidak ada satu pun barang peninggalan berharga milik almarhum ibunya yang tersisa di sana. Semua aset telah disita dan dikuasai oleh Nyonya Besar sejak tahun-tahun lalu.
"Cih, benar-benar melarat," gumam Xiu Ying seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya berkilat sebal. Sebagai Chen Zuyi—seorang pengusaha wanita modern yang terbiasa memegang kartu kredit tanpa batas dan aset bernilai ratusan miliar kondisi miskin harta ini sungguh menguji kesabarannya.
Di sudut ruangan, suara isakan Susu mendadak pecah menjadi tangisan terisak-isak yang cukup keras. Gadis kecil itu terduduk di atas lantai kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Xiu Ying menghentikan gerakannya, menoleh dengan alis terangkat. "Susu, ada apa denganmu? Mengapa kamu menangis seolah-olah besok adalah hari pemakamanku?"
"N-Nona..." Susu mendongak dengan mata sembap dan hidung merona merah. "Bagaimana bisa Nona sebaliknya setenang ini? Nona baru saja dipaksa oleh Tuan Besar dan Nyonya Besar untuk menjadi tumbal pernikahan!"
Xiu Ying berjalan mendekati pelayannya, menyenderkan punggungnya pada meja berdebu dengan santai. "Lantas? Bukankah dinikahkan berarti aku akan keluar dari kandang kumuh ini? Aku akan meninggalkan keluarga Xiu yang licik ini dan menetap di istana seorang pangeran."
"Tapi Nona tidak tahu siapa Pangeran Ke-7 itu!" seru Susu sambil mengusap air matanya secara histeris. "Beliau adalah Pangeran Zhen Yu! Dia adalah pangeran yang tersingkirkan dari kediaman utama kerajaan! Kaisar bahkan telah membuangnya ke sebuah kediaman terpencil di pinggiran ibu kota karena... karena beliau adalah seorang yang idiot!"
Susu memegang lutut Xiu Ying dengan wajah memohon. "Masyarakat ibu kota membicarakannya setiap hari! Pangeran Ke-7 itu konon memiliki ingatan seperti anak kecil, sering bertingkah aneh, dan tidak memiliki pengaruh apa pun di istana. Menikah dengannya berarti Nona akan menjadi bahan lelucon seumur hidup! Bagaimana Nona bisa hidup bersama suami yang idiot?"
Mendengar penjelasan panjang lebar dari pelayannya, Xiu Ying sempat terdiam sejenak. Manik matanya bergoyang, meresapi informasi baru tersebut.
Namun detik berikutnya, otak bisnisnya yang cerdas dan realistis langsung berputar cepat. Sebuah sunggingan senyum tipis yang sarat akan taktik perlahan terukir di bibirnya.
"Seorang pangeran buangan yang idiot, katamu?" tanya Xiu Ying jernih.
Susu mengangguk pelan, masih terisak. "I-iya, Nona..."
"Susu, dengarkan aku baik-baik," ujar Xiu Ying sambil berlutut setara dengan pelayannya, menatap matanya dalam-dalam. "Pernikahan ini adalah satu-satunya jalan keluar bagiku untuk terbebas dari cengkeraman Tuan Besar Xiu dan Nyonya Besar. Jika aku tetap di sini, mereka akan terus mencari cara untuk membunuhku secara perlahan."
Xiu Ying tertawa pelan, senyuman miring menghiasi wajah cantiknya. "Lagipula, memiliki suami yang idiot justru adalah sebuah keuntungan besar!"
Susu terbelalak bingung. "K-Keuntungan?"
"Tentu saja!" balas Xiu Ying mantap. "Aku tidak pernah berniat untuk menjadi seorang istri yang berbakti pada pria mana pun. Di zaman seperti ini, pangeran mana yang tidak memiliki banyak selir atau bersikap sewenang-wenang terhadap istrinya? Tapi jika suamiku idiot... dia tidak akan menggangguku. Dia tidak akan mengatur hidupku, dan aku bisa dengan bebas memanfaatkan nama besar gelar 'Istri Pangeran' untuk membangun kekuatanku sendiri!"
Xiu Ying memutar memorinya, mengingat standar pria di dunia modernnya yang dipenuhi pengkhianat seperti mantan tunangannya. "Zaman sekarang mana ada pria yang benar-benar bisa dipercaya? Pangeran tampan dan cerdas hanya ada di dalam dongeng. Seorang pangeran idiot yang bisa dimanipulasi adalah pasangan terbaik yang bisa kukuhannya!"
Susu menatap majikannya dengan tatapan takjub sekaligus tidak percaya. Mitos mengenai Nona Kesembilan yang penakut telah benar-benar runtuh. Di hadapannya kini adalah wanita yang sanggup mengubah kemalangan menjadi senjata mematikan.
***
Hari pernikahan yang ditentukan oleh Istana Kerajaan pun akhirnya tiba.
Namun, tidak ada suasana kemewahan di Halaman Barat Kediaman Keluarga Xiu. Tidak ada gaun pengantin sutra bermotif naga atau mahkota emas bertatahkan permata yang disiapkan untuk Xiu Ying. Nyonya Besar hanya menyediakan gaun pengantin merah murah dari kain sutra kasar yang ukurannya sedikit kebesaran.
Meski demikian, saat gaun merah itu melekat di tubuh Xiu Ying, kecantikan alaminya tetap terpancar kuat. Wajahnya yang tegas, dipadu dengan riasan tipis dan tatapan mata yang tajam, membuatnya tampak seperti seorang ratu yang siap melangkah ke medan perang, bukannya seorang mempelai wanita yang meratap.
"Nona, rombongan penjemput dari Kediaman Pangeran Ke-7 sudah tiba di depan gerbang utama," lapor Susu yang mengenakan pakaian pelayan baru berwarna merah muda pudar.
"Mari kita sambut takdir baru kita," sahut Xiu Ying dingin seraya mengibaskan lengan gaun merahnya.
Xiu Ying melangkah menuju gerbang depan Kediaman Xiu. Di sepanjang koridor, para pelayan dan saudara-saudaranya—termasuk Xiu Lian—berdiri menyaksikan dengan tatapan penuh cemoohan dan rasa kasihan yang dibuat-buat. Namun Xiu Ying berjalan dengan kepala tegak, tidak melirik mereka sedikit pun.
Akan tetapi, begitu Xiu Ying tiba di ambang gerbang utama, langkahnya terhenti. Suasana di luar gerbang sangat riuh oleh gelak tawa dan bisik-bisik dari ratusan warga ibu kota yang berkumpul untuk menyaksikan prosesi pernikahan tersebut.
Di depan gerbang, berdiri sebuah kereta kencana pengantin yang tampak sederhana. Di samping kereta tersebut, beberapa pengawal kediaman pangeran berdiri tegap.
Namun, yang menjadi pusat perhatian seluruh orang bukanlah sosok mempelai pria berbusana megah, melainkan sebuah bangku kayu kecil di samping kuda pengantin. Di atas bangku itu, duduk seekor anjing bulu tebal berwarna putih bersih dengan pita merah terikat di lehernya!
Tidak ada Pangeran Zhen Yu di sana. Sang pangeran bahkan tidak hadir untuk menjemput istrinya sendiri! Sebagai gantinya, ia mengirimkan anjing peliharaannya untuk mewakili dirinya dalam prosesi penjemputan pengantin.
"Lihat itu! Pangeran Ke-7 bahkan tidak datang!" gelak tawa seorang warga pecah di antara kerumunan.
"Dia malah mengirim anjing peliharaannya untuk menjemput Nona dari Keluarga Xiu!"
"Hahaha! Sungguh penghinaan yang luar biasa! Seorang Nona Buangan dinikahkan dengan wakil anjing!"
Nyonya Besar yang berdiri di belakang Xiu Ying tertawa kecil tanpa suara, menyilangkan tangan di dada dengan penuh kemenangan. Ia merasa sangat puas melihat Xiu Ying dipermalukan secara terbuka di depan seluruh warga ibu kota pada hari pernikahannya.
Tuan Besar Xiu menahan malu, wajahnya merah padam saat melihat anjing tersebut. "Ini... ini sungguh keterlaluan! Bagaimana bisa pangeran mengirim seekor anjing?!"
Susu di samping Xiu Ying sudah mengepalkan tangan, matanya kembali berkaca-kaca menahan amarah dan malu atas penghinaan terang-terangan ini. "Nona... ini terlalu jahat..."
Di tengah riuhnya tawa ejekan masyarakat dan raut puas Nyonya Besar, Xiu Ying justru berdiri mematung sambil menatap anjing putih gemoy itu.
Tidak ada guratan amarah di wajah cantiknya. Sebaliknya, bibir merahnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang sarat akan humor dan ketenangan.
Xiu Ying melangkah maju mendekati anjing putih itu. Ia berlutut sedikit, menyamakan tingginya dengan sang anjing, lalu mengelus kepala berbulu lembut itu dengan gerakan lembut. Anjing itu menjulurkan lidahnya dan menggoyangkan ekornya dengan ramah, tampak sangat menyukai Xiu Ying.
Xiu Ying berdiri kembali, membalikkan badannya dan menatap seluruh kerumunan warga serta Tuan Besar Xiu dan Nyonya Besar dengan pandangan yang teramat mendominasi.
"Mengapa kalian semua tertawa?" suara Xiu Ying menggelegar jernih, memotong gelak tawa di sekitar gerbang seketika.
Ia mengelus leher anjing putih itu dengan anggun. "Anjing adalah simbol kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. Pangeran Ke-7 mengirimkan peliharaan kesayangannya yang paling setia untuk menjemputku. Bukankah ini membuktikan betapa tulusnya beliau menyambut kehadiran calon istrinya?"
Xiu Ying mengalihkan pandangannya pada Nyonya Besar, tersenyum mengejek. "Ini jauh lebih terhormat daripada dijemput oleh manusia yang memiliki wujud tampan namun berhati busuk dan penuh kebohongan."
Kata-kata tajam itu menghantam Nyonya Besar dan Tuan Besar Xiu dengan telak, membuat senyum kemenangan di wajah Nyonya Besar seketika lenyap terhapus.
Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Xiu Ying menggandeng tali pita anjing tersebut dan melangkah masuk ke dalam kereta kencana pengantin dengan keanggunan seorang permaisuri.
"Susu, naiklah. Kita berangkat menuju Istana Pangeran Ke-7," perintah Xiu Ying dari dalam kereta.
Kereta kencana itu mulai bergerak perlahan melintasi jalanan ibu kota, meninggalkan Kediaman Xiu yang penuh dengan kebusukan, menuju takdir baru yang siap ditaklukkan oleh Xiu Ying.
( Bersambung)