Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan
Bab 16
Bara membiarkan istrinya tertidur di sofa. Cukup nyaman untuk tubuh ramping gadis itu. Memakaikan selimut agar lebih nyaman. Memindahkan ke ranjang dengan menggendong hanya akan membuatnya tersiksa. Dapat dilihat bahkan begitu dekat, tapi tidak bisa disentuh pasti membuatnya bergairah semalaman. Mencuri cium saja berhasil membuat gelenyar aneh.
Setelah membereskan dokumen, menyimpan file dan menutup laptop Bara pun istirahat.
“Astaga,” gumamnya lalu memejamkan mata, berusaha menyingkirkan adegan dewasa yang mungkin ia lakukan dengan Ruby. Sudah lama, tidak merasakan kehangatan bersama wanita. Saat itu terjadi mungkin ia buas dan liar. “Cinta, Ruby tidak ingin melakukan itu tanpa cinta. apa mungkin kami jatuh cinta, tapi kapan,” batin Bara.
Menyingkap selimut dan beranjak duduk menatap sang istri yang terlelap dalam damai. Kamarnya ini sudah terkontaminasi dengan gadis itu. Mulai dari aroma parfum juga barang pribadi. Otak Bara pun sudah ikut terkontaminasi, pikiran mesum mulai berkeliaran. Sungguh bukan dirinya. Apa pula tadi, ia mencuri ciuman.
“Aku harus bicara serius akan hubungan kami. Bisa-bisa aku gelap mata.”
***
Entah jam berapa, Ruby akhirnya terjaga. Mengerjap pelan dan menguap, menyadari ia tertidur di sofa.
“Dasar suami nggak punya perasaan, bisa-bisanya gue dibiarkan tidur di sini. Tapi nyaman sih, malah nyenyak tidur gue.”
Ruby menggaruk kepalanya dan kembali menguap. Tidak mendapati Bara di ranjang, rupanya sudah pagi. Sudah janji akan mengantar jemput Adly dan Jelita. Bersiap mengenakan pakaian yang pantas dan memoles tipis wajahnya.
“Mas suami kemana sih, kok malah dia yang kabur. Harusnya ‘kan gue.” Membuka pintu balkon setelah mematikan pendingin udara. Dari pagar balkon ia melihat Bara di bawah sana sedang melakukan peregangan dan pendinginnya. Kaos tanpa lengan dan celana olahraga tampak lepek, basah karena keringat.
“Owh, habis olahraga. Ck, penasaran dibalik kaosnya. Kotak-kotak nggak ya.”
Kebetulan Bara menoleh ke atas dan pandangan mereka bertemu. Ruby langsung melambaikan tangan lengkap dengan senyumnya.
“Pagi mas bojo. Sepagi ini udah keringetan aja, jadi curiga,” ejek Ruby lalu terkekeh.
Bara menarik nafasnya. “Gara-gara kamu.” Namun, Ruby pasti tidak bisa mendengar.
Sempat berpapasan di tangga, Ruby mengejek dengan menghindar dari pria itu. “Uh, berkeringat. Jangan dekat.” Malah Bara menggoda dengan mendekat dan melebarkan kedua tangan hendak memeluk. “Mas, jangan aneh-aneh, aku sudah rapi. Minggir!”
“Mau pergi?”
“Hm, antar anak-anak ke sekolah.”
“Pak Budi ….”
“Aku bilang mau bonding dengan anak-anak. Ini bagian dari usaha itu. Sana mandi, bau.”
Bara masih terpaku. Seserius itu Ruby dengan anak-anak. Senyum smirk terbit di wajahnya, mendengar gadis itu menyebut aku bukan saya. Apa mungkin hubungan mereka sudah selangkah lebih maju.
Ruby menuju dapur memastikan menu sarapan pagi ini juga bekal untuk kedua bocah menjelang remaja itu.
“Mau ditambah yang lain, mbak?” tanya Bu Siti.
“Hm, cukup Bu. Yang penting jangan banyak karbonya. Oh iya, kapan jadwal check up Adly?”
“Masih dua minggu lagi.”
Ruby mengangguk. Sepertinya ia akan sempatkan untuk menemani Adly. Sudah ada Jelita dan Adly di meja makan. Tidak lama Bara turun menyusul.
“Pih, kegiatan sosial minggu depan, aku ditemani bunda,” seru Jelita dengan riang.
Bara menoleh. “Kamu bisa?” tidak ingin memberikan harapan palsu pada Jelita.
“Bisa diatur, mas tenang saja.”
Bukan masalah waktu yang dikhawatirkan Bara. Kegiatan itu melibatkan para orangtua, Ruby akan bertemu dengan orangtua dari teman sekelas putrinya. Yang dikhawatirkan kalau istrinya itu bersikap tidak biasa. Sikap Ruby yang to the point dan jujur, bisa saja akan menjadi masalah.
“Biasanya ibu yang temani, nanti ….”
“Aku mau Bunda saja, yang lain ditemani orangtuanya bukan Oma atau opa, pih.”
“Ck, Mas suami, please! Biar aku temani Jelita, tenang aja. Everything gonna be okay. Habiskan sarapan kalian, nanti telat.”
Jelita dan Adly sudah berada di mobil Ruby, Bara berdiri di beranda setelah kedua anaknya pamit dan bersalaman.
“Yaelah, kayak nggak ikhlas amat. Tenang aja sih, aku udah punya SIM. Nggak pernah kena tilang, pengguna jalan yang baik,” tutur Ruby. “Eh, iya, teori dan kutipan yang salah, sudah beres ‘kan?”
“Kalau sudah, mau kasih saya apa?” tanya Bara dan tangannya bersedekap seolah menantang.
“Kasih … mau tau apa mau tau banget.” Ruby terkikik sambil menoel dagu Bara. “Mas bojo kok pamrih sih. Aku pamit ya, bye.” Menurunkan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya, membiarkan lensa gelap itu membingkai wajah. Ruby melangkah menuju mobil di bawah tatapan sang suami.
Bara menelan saliva, padahal pakaian dikenakan cukup sopan. Kenapa ia memikirkan hal lain, sungguh pikiran kotor sudah menguasai isi kepala.
“Dah papi,” ucap Jelita menurunkan jendela mobil sambil melambai.
Bara hanya membalas dengan lambaian tangan. Setelah mobil Ruby melewati pagar, tidak lama ada mobil lain masuk dan parkir di samping mobil Bara. Ternyata Nilam, adik iparnya.
Nilam menyeret langkah dengan tergesa dan ada yang salah dengan raut wajahnya. Terlihat tegang dan gelisah.
“Mas, kamu benar sudah menikah?”
“Iya, itu benar.”
“Kok bisa? Lalu siapa perempuan itu, mas mengkhianati mbak Naomi.”
“Tentu saja bisa, anak-anak butuh sosok ibu dan aku pria normal masih butuh pendamping,” jelas Bara. “Untuk kamu ingat, Naomi sudah tiada lebih dari enam tahu dan pernikahanku ini bukan mengkhianati dia.”
“Tapi … orang tua kita sudah setuju kalau mas turun ranjang denganku.”
“Itu hanya obrolan biasa, keputusan bukan di tangan mereka. Mana mungkin aku menikah denganmu Nilam, kita dekat seperti saudara. Aku sudah terlambat, permisi.”
“Mas,” panggil Nilam saat Bara meninggalkannya menuju mobil. “Mas Bara!”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭