Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Saat keluar dari gedung, ternyata para wartawan masih menunggu di depan dengan tenang. Begitu melihat Faresta muncul, mereka langsung bergerak mendekat dan melemparkan berbagai pertanyaan.

“Tuan Faresta! Apa benar anda ditetapkan sebagai tersangka?”

“Bagaimana hasil pemeriksaan hari ini?”

“Apakah anda akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan ini?”

Lucas reflek berdiri di samping kakaknya untuk menghalangi mereka yang mulai berdesakan.

Beberapa polisi bahkan harus membantu membuka jalan agar mereka tidak terlalu mendesak.

“Tuan Faresta! Apakah anda tidak ingin memberikan penjelasan?”

Faresta akhirnya menghentikan langkahnya. Ekspresinya tidak menunjukkan apapun, hanya datar dan dingin.

Suara wartawan yang sebelumnya melontarkan banyak pertanyaan seketika menghilang dan hanya terdengar suara nafasnya. Puluhan kamera langsung mengarah padanya.

“Saya tidak bersalah.”

Kalimat singkat yang di lontarkan Faresta justru langsung memancing keributan baru.

“Apakah anda memiliki bukti?”

“Lalu bagaimana dengan laporan Virel Group?”

“Bukti sudah saya serahkan kepada pihak berwenang. Dan saya berharap media dapat memberikan fakta, bukan sekedar tuduhan sepihak.”

Para wartawan mulai saling berpandangan. Hingga salah satu dari mereka kembali bertanya.

“Jadi anda membantah seluruh tuduhan yang dilayangkan Virel Group?”

“Saya tidak perlu membantah sesuatu yang memang tidak saya lakukan. Terimakasih!”

Faresta segera melanjutkan langkahnya menuju mobil.

Di belakangnya Lucas dan Elara masih setia mengikuti.

Namun saat pintu mobil hampir tertutup, mata hijau Elara menangkap sebuah pergerakan mencurigakan.

Pria bertopi hitam yang sebelumnya ia lihat ternyata masih berada di sana. Kali ini pria itu terlihat jauh lebih gelisah daripada sebelumnya yang terlihat lebih tenang.

“Elara, ada apa?” tanya Lucas yang duduk di sampingnya.

“Pria itu… mencurigakan.”

Tatapan Lucas mengikuti arah pandangnya. Begitu juga dengan Faresta yang sempat mendengar percakapan mereka.

“Yang mana?” tanya Faresta.

Elara mengangkat dagunya pelan ke arah seberang jalan.

Namun tepat saat mereka menoleh, pria itu langsung membuang muka dan berjalan cepat menuju sebuah gang kecil.

“Tidak usah dipikirkan. Ayo kita pulang!” ujar Lucas.

“Aku akan ke perusahaan untuk segera menyelesaikan ini semua,” sahut Faresta.

“Baiklah, kita akan mengantarmu terlebih dahulu.”

Di tempat lain.

Pria yang baru saja mereka lihat itu bersembunyi di balik dinding dengan nafas memburu.

Tangannya bergetar saat mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Tuan… ada masalah besar. Bukti itu berhasil mereka pulihkan.”

Beberapa detik hanya keheningan yang ada di balik telepon. Wajah pria itu semakin pucat saat mendengar jawaban dari seberang telepon.

“Apa kita harus menyingkirkan Arga sekarang juga?”

Setelah mendengar jawaban dari seberang, pria itu mengangguk lalu mematikan telepon.

Tatapan pria itu kini tajam kedepan, seringaian muncul dengan sangat mengerikan.

“Arga, salahkan saja dirimu yang sok ingin berbuat baik.”

***

Di sekolah Leonard dan Lionel yang terpaksa masuk karena desakan dari orang tua mereka terlihat gelisah sejak pagi.

Mereka sama sekali belum mendapat kabar apapun tentang Faresta. Berita yang beredar hanya menyebutkan bahwa kakak sulung mereka membantah semua tuduhan dengan bukti yang dimilikinya.

Namun, itu belum cukup meredakan kegelisahan Leonard dan Lionel.

“Kalian makan saja dulu. Setelah ini coba hubungi kakak kalian lagi. Siapa tahu mereka mau menerima telepon dari kalian,” ujar Dimas.

“Mau makan saja rasanya gak tenang, Dim,” jawab Lionel yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya.

“Perlu disuapin?” tawar Aldo dengan senyumnya yang menyebalkan.

Lionel langsung menatap Aldo tajam ke arahnya, seolah ingin melahap Aldo saat itu juga.

“Ada kabar!” seru Leonard tiba-tiba.

Lionel, Dimas, dan Aldo segera menoleh bersamaan.

“Kak Faresta saat ini sedang menuju perusahaan untuk mengurus para pengkhianat itu. Sedangkan Kak Lucas dan Elara sudah dirumah.”

Mendengar itu, Lionel akhirnya bisa bernafas lega.

“Coba sini lihat.” Tanpa basa-basi Lionel merebut ponsel Leonard. Ternyata yang memberi kabar adalah Livia.

“Kenapa Mama nggak balas pesanku, tapi malah pesanmu dulu yang mama balas?” gerutunya kesal.

Leonard merebut kembali ponselnya dengan ekspresi yang terkesan menyebalkan. “Mungkin karena aku kakaknya.”

“Kita cuma beda sepuluh menit, Leon.”

Leonard mengedikkan bahunya acuh.

Kini kegelisahan mereka sedikit berkurang. Untuk pertama kalinya sejak jam istirahat dimulai, si kembar akhirnya bisa menikmati makan siang mereka dengan tenang.

“Elara? Adik angkat yang kalian ceritakan kemarin itu?” tanya Dimas penasaran.

Lionel mengangguk dengan mulut penuh makanan, sedangkan Leonard hanya fokus menyantap makanannya.

“Iya. Minggu depan dia mulai sekolah disini.”

“Aku jadi penasaran seperti apa rupanya. Dari namanya saja sudah terdengar cantik,” sahut Aldo.

Leonard dan Lionel kompak saling melirik. Senyum misterius langsung terukir di wajah keduanya.

Leonard menjawab dengan tenang, matanya menatap lurus kedepan seolah tengah membayangkan sesuatu.

“Memang cantik. Mata hijaunya terlihat tenang seperti air danau. Tapi—”

“Tapi apa?” tanya mereka bersamaan.

“Adalah pokoknya.”

Aldo dan Dimas yang sudah kepalang penasaran hanya bisa berdecak kesal melihat si kembar yang seperti mempermainkan mereka.

Sedangkan Leonard dan Lionel justru tertawa kecil, membiarkan kedua sahabat mereka semakin dibuat penasaran.

Tanpa mereka sadari, percakapan tentang Elara telah menarik perhatian beberapa siswa di sekitar mereka.

Bisik-bisik kecil mulai menyebar dari satu kelompok ke kelompok lain, membawa rasa penasaran yang sama.

Tidak butuh waktu lama hingga kabar itu sampai di telinga seorang gadis yang sejak tadi memperhatikan meja mereka dari kejauhan.

Gadis itu segera berdiri dan berjalan mendekat untuk sekedar memastikan kebenarannya.

Aldo yang pertama kali melihat kedatangannya langsung memberi kode pada Leonard.

“Ada bianca,” ucapnya pelan.

Namun, Leonard sama sekali tidak terusik dan masih melanjutkan makan siangnya.

Hingga akhirnya langkah gadis itu berhenti tepat di samping mejanya.

“Leonard.”

Leonard yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya, mengangkat kepala dan melirik sekilas sebelum meraih gelas minumnya.

Di hadapannya berdiri seorang gadis berambut panjang dengan seragam yang selalu rapi. Wajahnya cantik dan elegan, lengkap dengan senyum yang selama ini berhasil membuat banyak siswa terpikat.

Bianca. Siswi paling populer di sekolah mereka. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena prestasinya yang membuat namanya selalu menjadi sorotan.

“Kenapa?” tanya Leonard datar.

Bianca sudah terbiasa dengan sikap itu. Jadi ia tidak mempermasalahkannya.

“Aku dengar keluarga Halvar mengadopsi seorang anak perempuan.”

“Lalu?”

“Aku hanya penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Penasaran, siapa dia? Dan dari mana asalnya?”

Leonard menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kenapa harus penasaran? Apa hubungannya denganmu?”

Bianca terdiam sejenak.

“Cuma... merasa aneh saja.”

“Aneh?”

“Iya. Aneh. Dia tiba-tiba muncul, terus langsung menjadi bagian dari keluarga kalian. Bukankah itu aneh?”

Leonard menatapnya beberapa saat. Ekskresinya tetap tenang. Namun entah kenapa, Bianca merasa seperti sedang dinilai oleh pemuda itu.

“Jadi menurutmu dia punya niat buruk?” tanya Leonard.

“Aku tidak bilang begitu," jawabnya cepat dengan menggeleng, namun ekspresinya justru menyembunyikan kepuasannya.

“Tapi itu yang ada dipikiranmu,” sahut Leonard.

Bianca langsung terdiam karena memang itulah yang ada di pikirannya.

Lionel yang sejak tadi mendengarkan langsung terkekeh pelan. Ekspresinya sangat jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengejeknya.

“Wah, ketahuan.”

Bianca melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Ia memang menyukai Leonard, tapi tidak dengan Lionel.

Menurutnya, Leonard lebih berwibawa dengan sikapnya yang tenang dan dewasa. Berbeda dengan Lionel yang sering bertindak sesuka hati dan terlihat sulit diatur.

“Kalau mau tau, kenalan saja langsung sama Elara minggu depan.”

“Elara?” ulang Bianca.

“Iya. Adik kami,” sahut Lionel dengan tersenyum lebar.

Untuk sesaat Bianca tidak tahu kenapa kata-kata itu terasa mengganggunya.

Cara Lionel mengucapkannya terdengar sangat santai. Seolah gadis bernama Elara itu memang sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.

Padahal… gadis itu baru hadir beberapa hari yang lalu.

1
lily
menarik.. semoga sampai tamat
Pawon Ana
elara ini lempeng ya ekspresinya....kayak tidak punya emosi🤔
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!