Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive
POV Moza & Egha
Di sebuah Caffe yang tenang, Moza menatap cangkir cappuccinonya yang sudah setengah dingin. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, membaca pesan-pesan grup keluarga.
“Sayang, kenapa kelihatan murung?” tanya Egha sambil menggenggam tangan Moza.
Moza tersenyum tipis. “Aku cuma mikirin acara lamaran kita beberapa hari lagi. Semua orang excited… tapi aku malah kepikiran tentang Ji.”
Egha mengangkat alis. “Jingga? Kenapa?”
“Dia masih keliatan belum terbuka sama perasaan sendiri. Aku tahu, deep down, dia belum benar-benar menerima Levin. Dia tuh keras kepala, tapi aku bisa lihat kalau matanya berubah setiap kali Levin ada di sekitarnya.”
Egha menyesap kopinya, lalu mengangguk pelan. “Aku ngerti. Tapi mungkin itu memang prosesnya, Za. Mereka kayak kucing sama anjing, tapi justru karena itu mereka punya chemistry. Tinggal nunggu waktu aja, salah satunya ngalah.”
Moza menghela napas panjang, lalu bersandar di kursi. “Aku cuma nggak mau masalah mereka bikin acara kita jadi canggung. Mama udah heboh banget.”
Egha langsung menggenggam tangannya lebih erat. “Sayang, tenang. Fokus aja ke kita. Kita punya cerita sendiri, nggak perlu khawatir soal mereka. Lagian… siapa tahu justru acara kita nanti jadi titik balik buat Ji dan Levin.”
Moza akhirnya tersenyum. “Iya, semoga aja.”
Malam itu usai makan malam bersama, Egha mengantar Moza pulang. Mobil melaju tenang di jalanan yang mulai lengang, hanya suara musik pelan mengisi keheningan.
Moza duduk di sampingnya, jemarinya sibuk memainkan ujung tas kecil di pangkuannya. Sesekali ia mencuri pandang pada Egha yang fokus menyetir. Rahang tegas pria itu tampak semakin jelas diterangi lampu jalan.
“Kenapa liatin aku gitu?” tanya Egha tiba-tiba tanpa menoleh, membuat Moza buru-buru membuang pandangan.
“Siapa juga yang liatin. Jangan GR deh,” jawab Moza cepat, pipinya merona.
Egha tersenyum kecil. Ia menepikan mobil di bahu jalan yang cukup sepi. Moza menatapnya bingung.
“Ngapain berhenti di sini?”
Egha menoleh, matanya menatap Moza penuh hangat. “Soalnya aku nggak tahan lagi cuma bisa ngeliatin kamu tanpa nyentuh.”
Sebelum Moza sempat merespons, Egha meraih tangannya, menariknya perlahan. Jarak mereka semakin dekat, sampai akhirnya bibirnya menyentuh bibir Moza dengan lembut.
Ciuman itu awalnya singkat, ragu-ragu. Tapi saat Moza tak menghindar, Egha memperdalam kecupan, jemarinya menyusup ke rambutnya. Moza menutup mata, membiarkan perasaan hangat itu menguasainya.
“Hmm…” Moza hanya bisa mendesah pelan di sela ciuman. Napas mereka berpacu, tubuh Moza melemah hingga bersandar pada dada bidang Egha.
Egha menahan kecupan itu lebih lama, lidahnya sesekali menyapu bibir Moza dengan penuh rasa. Saat akhirnya ia menarik diri, napas mereka sama-sama memburu.
“Za…” suara Egha rendah, serak, “aku nggak sabar nunggu kita resmi jadi suami istri.”
Moza menunduk malu, wajahnya panas, tapi senyumnya jelas tak bisa disembunyikan.
“Dasar kamu… bikin deg-degan terus.”
Egha terkekeh kecil, lalu menyalakan mobil lagi. Tapi sepanjang sisa perjalanan, tangan mereka tetap saling menggenggam erat.
Pertemuan di Kafe
Keesokan harinya, Levin tampak duduk di sudut kafe bergaya minimalis modern. Setelan jas rapi membalut tubuhnya, membuat beberapa pengunjung perempuan tak bisa menahan pandangannya. Di depannya, Roy sekretaris pribadinya sedang membuka laptop, membicarakan agenda kerja.
“Jadi untuk minggu depan, kita ada pertemuan dengan investor China. Semua berkas sudah saya siapkan, tinggal tanda tangan Tuan saja,” jelas Roy sambil menunjuk layar.
Levin hanya mengangguk singkat. “Bagus. Pastikan semua detail tidak ada yang terlewat.”
Sementara itu, pintu kafe terbuka. Jingga masuk bersama Arin. Tawa kecil mereka sempat memenuhi ruangan sebelum Jingga berhenti mendadak. Matanya menangkap sosok Levin dari kejauhan.
“Eh… itu calon suami lo, Ji?” bisik Arin dengan mata berbinar, jelas kagum.
Jingga tercekat. “Astaga… kenapa harus ketemu dia di sini…” gumamnya pelan, wajahnya terlihat panik.
Namun sudah terlambat, tatapan Levin yang tajam langsung mengarah pada mereka. Untuk sekejap, waktu seakan berhenti.
“Ji?” ucap Levin singkat, nadanya datar tapi sorot matanya penuh arti.
Jingga tersenyum canggung, sementara Arin nyaris meloncat kegirangan. “Halo… kebetulan banget ya ketemu di sini,” ucap Arin riang, mencoba mencairkan suasana.
Levin bangkit dari kursinya, langkahnya mantap mendekati mereka. Roy yang masih duduk hanya melirik, seolah menikmati interaksi bosnya dengan calonnya tersebut.
“Kalian ngapain di sini?” tanya Levin, nadanya terdengar lebih seperti interogasi daripada basa-basi.
“Ng… cuma mampir ngopi aja,” jawab Jingga lirih.
Arin menyikut pelan lengan sahabatnya. “Iya, sekalian refreshing. Wah, Tuan Levin lebih tampan kalau dilihat langsung dari dekat, ya Ji?” ucapnya polos sambil tersenyum nakal.
Levin hanya melirik sekilas ke arah Arin, lalu kembali menatap Jingga.
“Sini, duduk sampingku, Ji.”
Levin meraih tangan Jingga, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, hingga gadis itu akhirnya terduduk di kursi tepat di sampingnya.
“Aku bisa sama Arin aja kok—” protes Jingga setengah berbisik.
“Aku mau kamu di sini. Deket sama aku.” jawab Vin.
“Kalian duduk sini aja. Nanti aku antar pulang,” ucapnya tegas.
“Ha? Gak usah repot-repot, kami bawa mobil bisa pulang sendiri,” sahut Jingga buru-buru.
Namun Levin sudah memutuskan. “Aku nggak tanya, Ji. Itu perintah.”
Suasana pun jadi semakin kikuk. Arin jelas berusaha menahan senyum, sementara Jingga hanya bisa menghela napas pasrah, tahu bahwa melawan sikap dingin Levin hanya akan membuatnya makin terlihat kalah.
“Kamu… sengaja pakai baju kayak gini?” suaranya dalam, dingin, tapi ada nada tak suka yang jelas. tatapannya turun-naik menelusuri penampilan gadis itu. Bahu Jingga sedikit terbuka karena blus satin yang dipakainya. Bagi Levin, itu jelas terlalu mencolok.
Jingga mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Ini biasa aja, kok.”
“Biasa? Menurutmu normal keluar pakai baju terbuka kayak gini?” Levin mendengus kecil, lalu tanpa menunggu jawaban, ia melepas jas yang dikenakannya dan langsung menyampirkannya ke bahu Jingga. “Pakai. Sekarang.”
“Levin…” Jingga menahan suara protesnya, tapi lelaki itu menatapnya tajam, membuat kata-kata yang hendak keluar tertahan di tenggorokan.
Roy yang masih duduk di meja menutup laptopnya pelan, senyum tipis muncul di bibirnya. Ia merasa senang untuk pertama kalinya iya melihat tuannya seperti itu kepada seorang wanita. Bhkan tidak pernah Roy liat sebelumnya .
Arin, di sisi lain, nyaris terkikik melihat adegan itu. “Aduh, Ji… gila, ini sih bukan cowok, tapi bodyguard rasa pacar. Lengket banget, overprotektif lagi,” batinnya sambil pura-pura sibuk dengan menunya.
Jingga akhirnya menarik napas dalam dan menunduk, menerima jas itu. “Kamu keterlaluan. Aku bisa pakai bajuku sendiri tanpa kamu atur.”
Levin tersenyum tipis, penuh arti. “Kamu milikku, Ji. Jadi aku berhak mengatur. Mau sampai kapanpun, aku nggak akan membiarkan orang lain melihatmu sembarangan.”
Kata-kata itu membuat suasana meja semakin panas, meski bukan karena emosi. Roy melirik ke Arin, keduanya saling bertatapan dan hanya bisa tersenyum geli, menyadari bahwa apa yang mereka saksikan lebih mirip adegan drama romantis.
Arin pun memecah suasana yang terasa tegang.
“Ngomong-ngomong, dari tadi kita belum berkenalan secara resmi, nih.” Ia tersenyum sambil melirik ke arah Roy. “Dan… bisa kali ya aku dikenalin sama sekretaris tampan ini?”
ucapnya dengan nada menggoda, wajahnya tersipu malu.
Roy tersenyum sopan, sedikit kikuk. Ia menunduk tipis, lalu mengulurkan tangan.
“Perkenalkan, saya Roy. Sekretaris pribadi Tuan Levin,” katanya dengan nada tenang namun tatapannya jelas menaruh perhatian pada Arin.
Arin menerima uluran tangannya, tapi malah menggenggam agak lama. “Arin,” ujarnya sambil menatap Roy dalam-dalam. Pipinya memerah, tapi senyumnya jelas penuh arti.
Levin hanya menghela napas panjang, lalu melirik ke arah Jingga dengan ekspresi lihat tuh teman kamu.
Sementara Jingga langsung memalingkan wajahnya menahan tawa melihat tingkah sahabatnya itu.
“Sepertinya kalian cepat akrab,” komentar Levin santai, namun nada suaranya tetap dingin.
Roy buru-buru melepaskan genggaman tangan Arin sambil tersenyum sopan, “Kebetulan, Tuan.”
Arin hanya cekikikan kecil, matanya berbinar penuh rasa penasaran.
Levin menatap Roy sejenak, lalu beralih pada Jingga.
“Oh iya, Roy. Ini Jingga,” ucapnya memperkenalkan dengan nada datar tapi penuh penekanan, seolah ingin menegaskan status Ji di hadapan semua orang.
“Dia calon istriku.”
Jingga spontan menoleh cepat, matanya melebar. “Levin!” bisiknya pelan, wajahnya memerah karena malu.
Namun Levin hanya menatapnya sekilas sambil tersenyum tipis, jelas sekali kalau pria itu sengaja.
Roy tersenyum ramah, lalu menjabat tangan Jingga. “Senang akhirnya bisa berkenalan langsung denganmu, Nona Jingga. Saya sering dengar nama Anda disebut Tuan Levin,” katanya sopan.
Jingga berusaha membalas senyum, meski masih salah tingkah. “Saya juga senang bertemu dengan Anda, sekertaris Roy,” ucapnya lembut.
Sementara itu Arin, yang sedari tadi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, langsung ikut menyodorkan tangan ke arah Levin.
“Dan aku Arin, sahabatnya si Ji ini. Akhirnya kita resmi kenalan juga ya,” ucapnya dengan senyum lebar.
Levin menyambut jabatan tangannya sambil tersenyum, “Iya, Rin…”
Di meja itu akhirnya semua sudah saling mengenal. Tapi jelas, aura berbeda terpancar.
Levin tetap dengan tatapan posesifnya ke arah Jingga, Roy terlihat sopan sekaligus kikuk karena ulah Arin, sementara Arin justru makin terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya pada Roy.