Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan

Keheningan yang mencekam mendadak runtuh di dalam aula megah itu. Aurelia dengan langkah lebar langsung menarik tubuh ibunya, memaksa ibunya menatapnya.

"Apa... yang baru saja ibu katakan?" tanya Aurelia dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan badai emosi yang mulai membuncah di dadanya.

Kamelia terisak, ia menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di hadapan seluruh pasang mata yang hadir.

"Inilah kebenarannya, Aurelia... ayahmu adalah pria yang baik, dia orang yang sangat tulus, berbeda dengan sosok ayah yang selama ini kau kenal—" Kalimat Kamelia terhenti sejenak.

Ia mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah Tetua Frost yang tubuhnya kini bergetar hebat menahan emosi. "Tapi karena ambisi seseorang... ayahmu harus merenggang nyawa," lanjutnya dengan nada getir yang menusuk kalbu.

Aurelia perlahan mengikuti arah mata Kamelia yang tertuju lurus pada Frost. Di saat yang sama, bisik-bisik kepanikan mulai berdengung, menjalar cepat di antara para tamu undangan yang mengenakan jubah-jubah mewah mereka.

"Astaga! Apakah itu benar?" bisik seorang bangsawan bertubuh tambun di sudut ruangan.

"Jika dia adalah putri dari tetua Damian... bukankah itu berarti dia adalah pewaris sebenarnya dari Klan Es?" jawab bangsawan lain di sebelahnya, matanya terbelalak menatap Aurelia.

"Aku pernah mendengar kisah cinta Tetua Damian dengan seorang gadis yang ditentang hubungannya. Dan karena konflik itulah Tetua Damian memilih melepaskan kekuasaannya," timpal yang lain, mencoba mencocokkan potongan teka-teki masa lalu.

"Ya ampun... itu berarti Aurelia adalah putrinya. Oh astaga! Berarti selama ini kita telah menghina putri dari Tetua Damian—orang yang sangat kita hormati selama ini," sesal seorang wanita bangsawan dengan wajah pucat.

Sementara itu, keluarga Isward hanya bisa terdiam seperti patung di tempat mereka berdiri. Wajah mereka menyiratkan syok dan keterkejutan yang sangat hebat setelah mengetahui kebenaran yang selama ini terkubur rapat.

Namun di sisi lain, rahang Tetua Frost tampak mengeras, urat-urat di lehernya menegang saat topeng wibawanya mulai retak.

"Lalu kenapa?!" teriak Frost, suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding aula. "Sekarang akulah pemimpin di Klan Es ini! Bukan Damian... ataupun putrimu!" tegasnya, masih mencoba mempertahankan otoritas dan kegagahannya di hadapan publik.

Kamelia terkekeh sinis, sebuah tawa hampa yang lahir dari luka mendalam yang tak pernah sembuh. "Itu memang posisimu sekarang... sebelum kau dan wanita licik di sebelahmu itu membunuh Damian—suamiku!" seru Kamelia, suaranya bergema penuh dendam.

Mata semua orang di dalam ruangan kembali terbelalak. Skandal ini jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.

"Demi kekuasaan... kau tega membunuh adikmu sendiri?!" teriak Kamelia ke arah Frost, air matanya kembali meluruh. "Bahkan setelah kematian Damian... kau masih tidak melepaskan aku dan putriku!" isaknya, menumpahkan seluruh penderitaan yang mereka tanggung selama bertahun-tahun.

Mendengar setiap kata ibunya itu, tangan Aurelia terkepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menandakan amarahnya sudah berada di ambang batas terdalam.

"Diam kau—!" bentak tetua Frost mencoba memotong.

"CUKUP!" teriak Aurelia, memutus kalimat Tetua Frost dengan suara histeris yang memekakkan telinga.

Matanya yang memerah kini menatap lurus ke arah Tetua Frost, memancarkan aura membunuh yang sanggup membekukan seluruh aula.

Aurelia melangkah maju dengan tegap. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai terdengar seperti lonceng kematian.

Ia menatap Tetua Frost penuh dendam yang telah mengakar selama bertahun-tahun. "Sudah terlalu lama aku membiarkan mu bicara, bajingan sialan," desisnya rendah namun tajam.

Mata Tetua Frost langsung melotot lebar, urat-urat di keningnya menonjol mendengar kata-kata kasar dan hinaan terang-terangan yang keluar dari mulut keponakannya sendiri. "Kau—beraninya kau—!"

"Kenapa? Apa aku salah?" potong Aurelia lagi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit yang dingin. "Sebutan itu sangat pantas untuk manusia berhati busuk sepertimu! Selama bertahun-tahun hidup di tempat ini, aku sudah cukup bersabar. Aku bertahan di atas tumpukan luka dan penghinaan yang kau berikan setiap hari. Tapi sekarang—batas kesabaranku sudah hancur setelah kebenaran ini... dan aku tidak akan diam lagi!" Suara Aurelia meninggi.

"Kekuasaan yang kau rampas dengan darah dari tangan ayahku... aku bersumpah akan mengambilnya kembali!" kata Aurelia tanpa ada setitik pun keraguan di matanya.

Melihat aura intimidasi yang tiba-tiba memancar dari tubuh gadis yang biasanya tertindas itu, kali ini seluruh tamu undangan perlahan menundukkan kepala. Atmosfer di dalam ruangan berubah total. Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau bisik-bisik mengejek seperti yang biasanya Aurelia terima.

Alih-alih terintimidasi, Tetua Frost justru meledak dalam tawa hambar yang menggema di seluruh ruangan, mencoba menutupi keterkejutannya.

"Mengambilnya?" ulang Tetua Frost dengan nada mengejek. "Dengan apa? Dengan tangan kosongmu yang lemah itu? Tangan sampah yang bahkan tidak bisa memercikkan satu tetes pun sihir es klan ini?" kata Tetua Frost, menatapnya dengan pandangan merendahkan yang paling kejam.

Namun, Aurelia tidak gentar. Ia tetap mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menolak untuk tunduk pada intimidasi pria itu. "Karena itu... aku akan pergi dari sini," kata Aurelia, kalimatnya yang tenang justru membuat raut wajah Tetua Frost seketika menjadi tegang dan waspada. "Aku akan mencari sihir dan kekuatanku sendiri... dan saat aku kembali nanti, aku pastikan aku akan menghancurkan mu sampai menjadi abu!"

"Kau tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini!" bentak Tetua Frost dengan dada naik turun.

Madam Elena yang sejak awal diam mengamati, akhirnya melangkah maju. Langkahnya anggun namun mematikan.

"Pergilah, Aurelia," kata Madam Elena dengan senyum sinis yang mengembang di wajah cantiknya yang beracun. "Tapi... kau harus pergi dari wilayah ini sendirian. Karena ibumu tercinta... akan tetap berada di sini, menjadi pajangan di bawah kekuasaan ku," katanya dengan nada meremehkan yang amat kental.

Wajah Aurelia seketika menjadi gelap gulita, rahangnya mengeras. "Ibuku akan ikut denganku! Aku tidak akan meninggalkan dia sedetik pun di tangan kalian!" katanya dengan nada mengancam.

Madam Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat renyah namun mengirimkan rasa dingin yang mencekam ke tulang belakang. "Silakan saja bawa dia jika kau bisa... tapi ingat ini, Aurelia. Begitu kakimu dan ibumu melewati batas wilayah perbatasan terluar dari Klan Es... maka pada detik yang sama, jantung ibumu akan berhenti berdetak selamanya," katanya dengan mata yang berkilat licik.

Kalimat itu seketika membuat seluruh tubuh Aurelia menegang kaku, seolah-olah darahnya sendiri yang membeku. "Tidak mungkin... kau berbohong..." gumamnya dengan suara lirih, tatapan nya bergetar menatap sang ibu yang balik menatapnya dengan senyuman pahit akan kenyataan.

"Itu benar, keponakanku yang malang," sahut Tetua Frost, mengambil alih pembicaraan dengan seringai kemenangan yang menjijikkan. "Karena ibumu yang bodoh ini selalu mencoba melarikan diri di masa lalu... aku telah menanamkan sihir kutukan es tepat di inti jantungnya. Jika dia berani melangkah keluar meninggalkan wilayah Klan Es, sihir itu akan aktif. Jantungnya akan membeku menjadi sebongkah es padat, dan dia akan mati dalam penderitaan yang luar biasa!"

Mendengar fakta mengerikan itu, tangan Aurelia terkepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras menahan amarah yang membakar dada.

Namun sebelum ia sempat meluapkan kemarahannya, sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya.

"Pergilah, Aurelia..."

Aurelia tersentak. Ia menoleh cepat dan mendapati sang ibu, Kamelia, sedang menatapnya tegap.

Wanita itu tersenyum, sebuah senyuman paling tulus sekaligus menyakitkan yang pernah Aurelia lihat.

"Pergilah... dan kembalilah setelah kau benar-benar siap untuk mengalahkan mereka semua," kata Kamelia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan badai emosi di dalam dirinya.

Aurelia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha keras menahan jeritan tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.

"Ibu akan bertahan di sini, sampai kau kembali membawa keadilan untuk kita," bisik Kamelia meyakinkan.

"Ibu—" suara Aurelia tercekat, tenggorokannya terasa luar biasa kering hingga tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, Kamelia merogoh sesuatu dari balik kantong pakaiannya yang lusuh.

Ia melangkah lebih dekat, merapatkan tubuhnya pada Aurelia demi memastikan tidak ada satu pun yang melihat apa yang ada di tangannya.

Sambil menggenggam jemari putrinya, Kamelia berbisik dengan suara pelan, memastikan tidak ada yang mendengarkan, "Ini adalah lambang dari Klan Bayangan."

Mata Aurelia seketika melotot sempurna. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Klan Bayangan adalah sebuah legenda, klan terkuat sekaligus paling tersembunyi yang keberadaannya sangat ditakuti oleh semua Klan.

"Kunci ini akan membawamu masuk ke dalam wilayah tersembunyi milik mereka. Jika kau berhasil sampai di sana, temui Kakek dan Pamanmu," lanjut Kamelia mantap.

Aurelia refleks menjauhkan wajahnya, menatap sang ibu dengan raut wajah penuh keterkejutan yang luar biasa. Rahasia besar ini terlalu mendadak untuk dicerna oleh otaknya yang sedang kalut.

Namun, Kamelia hanya mengangguk samar, menegaskan bahwa setiap perkataannya adalah kebenaran yang nyata.

Arthur yang sejak tadi memilih diam dan mengamati situasi, akhirnya melangkah maju. Langkah nya terdengar berat di atas lantai yang dingin.

"Jadi," kata Arthur dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan kesiapan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia. "Kau siap menuju rintangan besar ini, Nona?"

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!