Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Aroma yang menguar memenuhi rumah menjadikan suasana hangat yang di tunggu-tunggu. Semua anggota keluarga sudah berkumpul diruang makan, memulai sarapan pagi ini dengan kehangatan yang akrab.
Hawa bersyukur mendapatkan mertua dan suami yang baik.
Mau menyayanginya, merawatnya dan mencukupi semua kebutuhannya.
Mereka bersedia menerima dirinya yang dari keluarga yang kekurangan ini.
Seusai sarapan Papa mengajak mereka semua keruang tv. Pagi ini tidak ada sekolah, tidak ada meeting pagi dan kegiatan yang lain. Hari yang indah dan cocok untuk berwisata atau santai.
Papa dan Hasby sudah duluan lalu disusul Mama dan Hawa. Hawa membawa camilan dan teh hangat untuk menemani santai pagi ini.
Terlihat Papa dan Mama duduk di karpet tebal di ruang tv sembari membuka koper yang berukuran besar.
Hasby di depan Papa dan Mama, dia duduk sambil memainkan gawainya. Sesekali melihat kedua orang tuanya yang sangat antusias mengeluarkan isi di dalam koper besar itu.
Koper itu terlihat penuh sesak, banyak barang yang berdesak-desakan. Entah apa yang di bawa mertuanya, kenapa sampai sepenuh itu.
Hawa ikut duduk di bawah, ia mengambil tempat di dekat Hasby. Entah kenapa rasanya nyaman dan aman ketika ia duduk di dekat suaminya itu.
Hasby melihat Hawa duduk di sampingnya dan menyerahkan segelas susu hangat. Dia menerimanya dengan senyum singkat.
"Hawa,, ini untuk kamu nak, kemarin Mama lihat di toko, mama teringat kamu, coba di pakai ya," senyum mama merekah sembari memberikan satu paper bag merah muda yang penuh isinya, terlihat dari salah satu bungkusnya yang mencuat keluar.
"Ini apa Mah,, Ya Allah, makasih mah, Hawa coba dulu ya Mah," Hawa menerimanya dan beranjak ke kamar tamu terdekat untuk mencoba pemberian dari mertuanya.
"Iya Wa, cepat ya, karena masih ada lagi," mama terkekeh geli, teringat kegilaannya ketika melihat baju-baju syari yang berjajar rapi di toko yang beliau lewatin kemarin.
Hawa memasuki kamar tamu terdekat dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalam paper bag itu. Ternyata sebuah gamis berwarna green sage dipadukan dengan kerudung dusty pink yang manis, lantas Hawa mencobanya. Ia mematut diri di depan cermin. Terlihat manis dan ayu.
Hawa melangkah perlahan kembali ke ruang tv, Mama mendongak dan tersenyum lembut. cantik dan pas sekali bathin Mama. Papa dan Hasby ikutan menatap Hawa, Papa tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. Hasby masih diam saja tanpa ekspresi.
"Masyaallah, cantik sekali,, coba lagi yang ini Wa!" titah Mama senang, sembari mengulurkan paper bag putih pada Hawa.
"Iya Mah," Hawa kembali ke kamar tamu dan mencoba baju baru lagi.
"Gimana Mah?" gumam Hawa lirih.
Serempak mereka melihat kepada Hawa, ternyata kali ini lebih menawan. Terlihat sangat pas untuk Hawa, seolah baju itu di ciptakan hanya untuk Hawa seorang.
"Bagus banget Wa," Mama kelewat antusias. Mama senang karena sudah dari dulu ingin anak perempuan, tapi belum rejekinya.
Ternyata keinginan itu di wujudkan lewat Hawa, walaupun sebagai menantu tapi Mama menganggapnya seperti anak sendiri.
"Mama yang milihinnya bagus-bagus, masih ada beberapa stel lagi ini Wa," Papa menimpalinya.
"Kenapa untuk Hawa semua Mah? Mana untuk Hasby? Protes Hasby datar.
Mereka semua saling pandang lalu tersenyum.
"Kamu cemburu By? Kalau Mamamu hanya memperhatikan istrimu?" tanya Papa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Tentu saja ada, ini semua untuk kamu, di pakai barengan kalau Hawa pakai ya, biar samaan," ucap Mama memberika Hasby beberapa paper bag, sampai tidak muat di tangan Hasby.
"kok gitu?" tanyanya keberatan, kenapa harus samaan.
Hawa terdiam sembari meminum susu hangatnya. Apa kak Hasby belum bisa menerimanya sebagai istrinya. Tapi berbagai momen menunjukkan kalau kak Hasby sudah menerimanya, bahkan mereka berjanji akan menjalani hubungan ini.
"kenapa? Papa dan Mama juga pakai baju samaan. Kan serasi dan kompak," sahut mama tegas.
"Iya tapi jangan pink juga Mah," protes Hasby memperlihatkan kemeja panjang berwarna dusty pink.
Hawa tersenyum melihatnya, Mama dan Papa malah tertawa renyah. hasby menekuk wajahnya dengan bibir sedikit mengerucut.
"Coba aja pasti bagus, kan pilihan Mama," ujar Mama tersenyum lembut.
"Iya kak, pasti bagus, coba dulu," imbuh Hawa menatap suaminya lembut.
Hasby menghela napas lantas mencobanya. Ternyata pas dan cocok untuknya.
"Tuh kan, apa Mama bilang, bagus banget," kata Mama percaya diri.
"Iya kak, masyaallah bagus dan cocok banget,,, ketampanannya tambah naik nggak sih mah?" Hawa menggoda suaminya itu.
"Bener banget Wa, kok bisa ya, padahal cuma baju biasa lho," imbuh Mama tersenyum jahil.
"Apa? Diem!" dengan datarnya Hasby menatap tajam Hawa.
"Ich galaknya," gumam Hawa lirih.
"Emang Hasby tu kalau udah galak nyeremin Wa," ujar Mama yang ternyata mendengar gumaman Hawa. Hawa hanya nyengir lebar.
Hasby tentu saja bertahan dengan wajah datarnya, tanpa membela diri lagi. Karena dia tahu pasti dirinya nggak akan bisa menang debat dengan dua wanita yang berbeda generasi itu.
"Oiya, Hasby, ikut Papa ke ruang kerja sekarang!" ucap Papa beranjak dari lantai dan menaruh gelas teh yang sudah kosong di nampan kembali.
"Baik Pah, ada juga yang mau Hasby bahas tentang kerjaan," Hasby mengikuti langkah Papanya dari belakang.
Tinggal Mama dengan Hawa yang masih seru dengan obrolannya. Seperti biasa kalau perempuan sudah duduk bersama dan obrolannya nyambung, pasti nggak kelar-kelar.
Papa dan Hasby duduk berhadapan di meja ruang kerja, sedang serius diskusi tentang pekerjaan yang kemarin belum sempat di bahas. Seperti biasa Papa selalu memantau kerja Hasby dan berdiskusi selalu.
"By,,, kata Om Damar ada masalah lama yang terungkit kembali, kenapa lagi dia?" Papa menatap tenang anak laki-lakinya itu.
"Iya Pah, maaf," ucap Hasby datar, menatap lekat Papanya, seolah terpancar dari sorot matanya terlihat jelas, lelah yang berlanjut dan terluka.
"Udah selesai belum?"
"Udah Pah, kemarin udah Hasby selesaikan di temani Tian," ucap Hasby tenang.
"Bagus, Papa pesan jangan mengambil keputusan bodoh dan tidak di pikirkan akibatnya," tegas Papa menatap netra anak semata wayangnya itu.
"Baik Pah, Hasby akan selalu ingat pesan-pesan Papa dan Mama,"
"Jangan kamu sakiti istrimu, dia tidak mempunyai orang tua lagi. Yang dia punya hanya kamu. Papa dan Mama hanya orang tua yang nggak selamanya ada untuk kalian," nasehat Papa matanya berembun, mengingat bagaimana perjalanan hidup Hawa dan keluarganya.
"Iya Pah, Hasby paham,,, terimakasih Pah," Hasby menjawab dengan lembut tapi tegas "Papa Mama harus sehat, selalu mendampingi kita. Kita selalu butuh bimbingan Papa dan Mama," imbuhnya.
"Insyaallah nak," ujar Papa tersenyum.
"Pah, Hasby mau izin nanti kalau selesai ujian, ingin pergi berlibur dan menginap bersama Hawa, gimana Pah?" tanya Hasby tenang.
"Honeymoon?" tanya Papa menaikkan alisnya.
"ehem,, liburan Pah," jawab Hasby datar, tapi telinganya sudah memerah. Malu.
"Sama aja honeymoon By," desak Papa geli dengan anaknya yang malu itu.
"Pah,, kita masih sekolah, nggak seperti itu,"
"Iya, tapi kalian sudah resmi, kan bisa pakai pengaman," Papa menaik turunkan alisnya menggoda anak laki-lakinya itu.
"Paaah,,, tolong jangan bicara seperti ini di depan Hawa!" Hasby sudah kepalang malu.
"Papa dan Mama nggak apa-apa By,, biar tambah ramai, ada cucu kan seru By,"
"Pah, kita masih ingin sekolah dan meraih cita-cita,"
"Tapi kalian tetap bisa punya anak dan meraih cita-cita,"
"Kalau sudah punya anak ya nggak bisa fokus Pah, pasti bercabang,"
Papah terkekeh geli mendengarnya, pengantin dini itu sungguh lucu. Hasby hanya bisa pasrah karena di goda Papanya terus. Merah sekali telinganya, sungguh sangat malu mendengar tutur kata Papanya.
Hasby belum memikirkan tentang anak. Karena dia masih ingin mencapai yang di impikan. Terlebih dia baru belajar bertanggung jawab terhadap istrinya. Tanggung jawab yang tidak untuk mainan.