Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Terikat
Suara adzan subuh yang akan segera berkumandang mulai terdengar samar dari kejauhan, menyusup masuk melalui celah jendela. Yasmin perlahan membuka matanya, menyadari dirinya terbaring di dalam pelukan hangat suaminya untuk pertama kalinya. Ia menatap wajah Baskara yang masih terlelap tidur, napasnya teratur dan tenang. Namun, rasa haru dan ketakutan yang bercampur baur langsung memenuhi hatinya, membuat air matanya tanpa sadar menetes perlahan.
Ia hanyalah gadis muda yang masih begitu polos dan lugu. Meskipun semalam Baskara berjanji akan menjaganya dengan baik, namun ketakutan itu tetap ada di dalam hatinya. Mereka menikah secara siri, tidak tercatat secara resmi, dan ia sadar betul bahwa Baskara bisa saja meninggalkannya kapan saja jika ia menginginkannya. Belum lagi perbedaan status sosial mereka yang bagaikan langit dan bumi. Baskara adalah orang yang berkuasa dan terpandang, sedangkan ia hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki apa-apa, bahkan warna kulit dan matanya berbeda dari kebanyakan gadis diluan sana. Rasa cemas itu semakin menjadi-jadi, membuat ia terisak-isak pelan, berusaha menahan suaranya agar tidak membangunkan suaminya.
Tubuhnya yang terguncang karena isakan itu, dan suara isakan pelan yang terdengar, akhirnya membuat Baskara terbangun dari tidurnya. Ia segera membuka matanya, menyadari ada yang tidak beres. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk tubuh Yasmin dari belakang dengan erat dan lembut.
"Kenapa menangis? Ada apa, Yasmin?" tanyanya dengan suara yang masih berat karena tidur, namun nadanya terdengar cemas dan penuh perhatian.
Tindakan itu membuat Yasmin tersentak kaget, ia segera berusaha menghapus air matanya dengan cepat, menahan isakannya sekuat tenaga. Ia membelakangi Baskara, tidak berani menatap wajah suaminya, takut ketakutannya akan terlihat jelas di matanya.
"Ah... tidak ada apa-apa, Pak. Saya... saya tidak menangis kok," jawabnya dengan suara yang tergagap dan masih terisak, jelas sekali bahwa ia sedang berbohong.
Baskara tidak percaya begitu saja. Ia merasakan bahu istrinya yang masih bergetar, dan ia bisa mendengar jelas suara isakan yang masih tersisa. Ia mengeratkan pelukannya sedikit, lalu menundukkan kepalanya agar wajahnya sejajar dengan telinga Yasmin.
"Jangan berbohong padaku. Aku bisa lihat dan dengar semuanya. Katakan padaku, apa yang terjadi? Apakah kau menyesal semalam? Apakah kau merasa terpaksa melakukan hal itu, sehingga kau menyesal sudah memberikan hakku?" tanyanya dengan nada yang serius, namun tidak ada nada marah di dalamnya, hanya kekhawatiran yang terlihat jelas.
Yasmin segera menggelengkan kepala dengan cepat, air matanya justru semakin deras mengalir mendengar pertanyaan itu. Ia tidak mau mengakui bahwa ia menangis karena takut suatu hari nanti akan dibuang dan ditinggalkan oleh Baskara. Itu adalah ketakutan terbesarnya, dan ia tidak mau menyampaikannya, takut akan membuat suaminya kesal atau menganggapnya berlebihan.
"Tidak, Pak! Sama sekali tidak! Saya tidak menyesal sedikit pun, sungguh!" jawabnya dengan suara yang terisak-isak, berusaha meyakinkan Baskara. "Saya... saya menangis bukan karena itu. Saya... saya cuma merasa aneh saja. Ini pertama kalinya saya melakukan hal seperti itu, dan juga pertama kalinya saya tidur dipelukan orang lain... Rasanya ada perasaan yang campur aduk, saya bingung, dan tiba-tiba saja air mata saya keluar dengan sendirinya. Itu saja, Pak. Saya tidak menyesal, sungguh."
Baskara menatap punggung istrinya yang masih terguncang perlahan. Ia menghela napas pelan, mengingat bahwa Yasmin masih sangat muda, masih lugu dan polos. Ia belum pernah mengalami hal-hal seperti ini sebelumnya, dan wajar jika ia merasa bingung dan terharu. Ia memercayai kata-kata istrinya itu, namun ia tetap merasa perlu meyakinkannya agar perasaan cemas itu hilang dari hatinya.
"Begitu ya... Maafkan aku, aku sempat mengira kamu menyesal," ucapnya dengan nada yang lembut dan menenangkan. Ia mulai mengusap lengan Yasmin dengan gerakan yang perlahan dan lembut, memberikan rasa nyaman dan perlindungan. "Kau kan masih muda, wajar kalau kau merasa bingung atau ada perasaan yang aneh. Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu untuk mengerti semuanya dalam waktu singkat. Tenang saja, aku ada di sini bersamamu."
Ia memutar tubuh Yasmin perlahan agar menghadap ke arahnya, lalu mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Yasmin dengan ujung jarinya yang hangat. Tatapannya terlihat penuh perhatian dan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Jangan menangis lagi, ya? Kalau ada apa-apa, atau kau merasa bingung dengan perasaanmu, katakan saja padaku. Jangan dipendam sendiri seperti ini, nanti kau malah menderita sendirian. Aku akan mendengarkan, dan aku akan membantumu mengerti semuanya, pelan-pelan," ucapnya dengan nada yang lembut dan menenangkan.
Yasmin menatap wajah Baskara yang terlihat begitu tulus dan peduli, dan rasa takut yang ada di hatinya sedikit demi sedikit berkurang, meskipun masih tersisa sedikit kekhawatiran di sudut hatinya. Ia mengangguk perlahan, lalu menyeka sisa air matanya dengan punggung tangannya.
"Terima kasih, Pak... Saya mengerti. Maaf ya, sudah membuat Bapak terbangun dan khawatir lagi," ucapnya dengan suara yang sudah lebih tenang, namun masih terdengar lembut.
Baskara tersenyum tipis, senyum yang terlihat tulus dan menenangkan. Ia kembali memeluk tubuh mungil istrinya itu dengan erat, seolah ingin melindunginya dari segala hal yang bisa menyakiti hatinya.
"Tidak apa-apa. Yang penting kau tidak apa-apa. Ingat ya, selama aku ada di sini, kau tidak perlu takut atau khawatir apa pun. Aku akan selalu ada di sampingmu, menjagamu dan mendengarkanmu. Jadi, jangan menangis lagi ya, Sayang," bisiknya pelan di telinga Yasmin, suaranya terdengar begitu menenangkan dan meyakinkan.
Yasmin merasakan kehangatan yang menyelimuti dirinya, dan ia merasa bahwa meskipun ada banyak hal yang belum pasti di depan sana, setidaknya untuk saat ini, ia merasa aman dan dicintai apa lagi ini kali keduanya Yasmin mendengar Baskara memanggilnya Sayang. Ia memeluk balik tubuh Baskara dengan lembut, lalu menundukkan kepalanya di dada suaminya, mendengar detak jantung yang teratur dan menenangkan itu.
"Baik, Pak... Saya janji, saya tidak akan menangis lagi. Terima kasih sudah memperhatikan saya, dan terima kasih sudah ada di samping saya," ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh rasa syukur.
Suara adzan subuh pun akhirnya berkumandang dengan jelas, memenuhi seluruh ruangan dengan lantunan yang indah dan menenangkan. Baskara mencium puncak kepala Yasmin dengan lembut, lalu berbicara lagi dengan nada yang lembut.
"Waktu shalat sudah tiba. Kita bersiap-siap dulu ya. Setelah itu, kau boleh istirahat lagi kalau masih mengantuk. Aku akan menemanimu sampai kau merasa tenang sepenuhnya," ucapnya dengan lembut.
"Baik, Pak..." jawab Yasmin pelan, perasaan cemasnya kini telah tergantikan oleh rasa aman dan ketenangan yang diberikan oleh kehadiran suaminya di sampingnya. Meskipun masih ada ketakutan yang tersisa, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dengan kebaikan dan perhatian yang diberikan Baskara ini, mungkin... mungkin saja perasaan dan ikatan di antara mereka akan tumbuh semakin kuat, dan ketakutannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.