Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Sebuah mobil Range Rover berwarna hitam melaju pesat di jalanan beraspal yang membelah rimbunnya hutan. Suasana di dalam mobil itu cukup menegangkan.

“Lebih cepat, Pah! Mereka semakin dekat,” Livia terus menoleh kebelakang memastikan jarak mobilnya dengan mobil yang mengejarnya tidak mendekati mereka.

“Cepat hubungi Faresta, Ma. Apapun yang akan terjadi pada kita nanti, setidaknya kita memberi kabar terakhir pada anak-anak.” Danendra kembali menginjak gas, menambah kecepatan mobil yang sudah melampaui batas normal.

Livia terus menekan panggilan ke nomor putra-putranya. Tapi, tak satupun dari mereka yang mengangkat panggilan itu.

“Kemana mereka?” Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Faresta, putra sulungnya.

Itu adalah satu langkah terakhir yang bisa dia lakukan untuk memberi kabar sebelum suara dentuman keras terdengar dan membuat ponselnya terjatuh.

Mobil di belakang mereka ternyata berhasil menyusul dan menabrak bagian belakang yang menyebabkan guncangan hebat dan membuat Danendra kehilangan kendali.

Merasa belum puas mobil itu kembali menabraknya dengan cukup keras.

“Sialan! Mereka memang menginginkan kematian kita,” Danendra mencengkram kuat kemudi, sebisa mungkin berusaha untuk menstabilkan laju kendaraan.

Namun karena laju mobil yang cukup kencang membuat mobil itu keluar jalur.

“Papa, awaaass!!”

Danendra memutar setir untuk menghindari pohon besar di depannya. Naas penghindaran itu justru membuat mobilnya menabrak pohon besar yang ada di seberang.

Mobil terpental jauh dan bergulir hingga berakhir terperosok ke dalam jurang.

Mobil lain yang mengikuti di belakang mereka pun berhenti, beberapa orang keluar untuk memastikan target mereka.

Seorang pria dengan pakaian serba hitam mengeluarkan senter dan mengarahkannya ke arah jurang. “Sepertinya jurang ini cukup dalam, tidak terdengar ledakan atau dentuman keras dari dasar.”

Pria lainnya menyahut dengan senyum kemenangan. “Bagus, bisa dipastikan jika kedua orang itu tidak akan selamat.”

“Ayo, pergi!”

Setelah kepergian mereka, seorang gadis muncul dari balik pohon yang sebelumnya hampir tertabrak mobil Danendra.

“Orang-orang ini cukup picik. Belum juga memastikan ke bawah sudah membuat kesimpulannya sendiri.”

Elara mendekat ke arah lokasi mobil itu terjatuh. Ia dengan santai menuruni jurang itu tanpa kekhawatiran.

Dari jarak yang hanya sepuluh meter dari keberadaannya sekarang, Ia melihat mobil hitam tersangkut di antara pepohonan rimbun yang tumbuh di dasar jurang.

“Sudah kuduga, mobil itu pasti selamat. Tapi, tidak tau dengan orang di dalamnya,”

Elara kembali menuruni jurang hingga kini ia berada di dekat mobil itu. Sebenarnya jurang ini tidak terlalu dalam hanya saja banyak pohon dan semak yang membuat pandangan ke dasar jurang terhalang.

Elara mengeluarkan senter dan menyorotnya ke dalam. Danendra yang hampir kehilangan kesadarannya melihat cahaya mengarah ke arahnya. Ada rasa kekhawatiran tapi juga ada harapan dari sorot matanya sebelum akhirnya mata itu terpejam.

Di tengah kota, kemegahan rumah yang biasanya terasa tenang kini dipenuhi kepanikan. Faresta yang baru membuka pesan dari Livia setelah satu jam pesan itu dikirim merasa sangat bersalah dan khawatir.

Ia segera mengerahkan anak buahnya menuju titik terakhir keberadaan orang tuanya setelah melacak mereka.

Ketiga adiknya juga sudah menerima informasi itu dan langsung bergerak menuju lokasi dari tempat mereka masing-masing.

“Lebih cepat lagi!”

Sopir itu mengangguk dan menambah kecepatan tanpa bantahan. Suasana malam yang sepi membuat mobil itu melaju tanpa hambatan.

Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil yang ditumpangi Faresta bersama beberapa  mobil anak buahnya akhirnya tiba dan berhenti di satu titik kumpul.

Tak lama kemudian, mobil Lucas juga terlihat berhenti. Pria itu segera keluar dan berjalan cepat menghampiri sang Kakak yang sudah berdiri di tepi jurang.

“Apa sudah ada kabar?”

Faresta menggeleng pelan, tatapannya tetap tertuju pada anak buahnya yang berada di bawah.

Leonard dan juga Lionel yang baru tiba dengan motor masing-masing segera menyusul kedua kakaknya.

“Kak! Bagaimana, apa ada kabar?” Lionel terlihat sangat pucat, matanya bahkan terlihat tidak fokus karena rasa panik yang melanda.

Leonard yang biasanya terlihat tenang kini juga nampak seperti orang bodoh. Meski mulutnya diam, tapi debaran jantung pemuda itu tidak bisa tenang. Tangannya berkali-kali mengusap rambut dengan kasar.

“Tuan, kami menemukan mobilnya.” Teriakan dari bawah itu seketika memberi secercah harapan bagi keempat bersaudara itu.

Namun kalimat selanjutnya langsung menjatuhkan harapan mereka semua. “Tapi mobil itu sudah kosong. Tuan dan Nyonya tidak ada di dalamnya.”

Faresta segera menuruni jurang dengan tergesa namun tetap hati-hati. Jangan sampai membuat mereka semua menambah tugas dengan mencarinya di dasar jurang ini juga.

Lucas, Leonard, dan juga Lionel juga ikut menyusul Faresta di belakangnya.

“Hati-hati, Lio! Jangan sampai kau menambah beban mereka dengan jatuh ke jurang!” Suara tegas Lucas membuat Lionel mendengus kesal.

Lagian siapa juga yang mau jatuh, dia masih cukup waras untuk mempertahankan nyawanya tetap ada di raganya.

“Bagaimana bisa mobilnya ada disana?” Lucas cukup terkejut melihat posisi mobil orang tuanya yang berada di antara batang-batang pohon.

“Pohon itu pasti cukup kuat sampai bisa menahan berat mobil yang jatuh dari ketinggian.” Nada suara Leonard terdengar lebih tenang setelah melihat keadaan mobil yang tidak terlalu parah kerusakannya.

“Kak, Mama sama Papa pasti selamat. Mereka Pasti ada di sekitar sini,” celetuk Lionel yang merasa sangat yakin dengan dugaannya.

“Cepat telusuri jurang ini dan temukan orang tua saya!”

“Baik, Tuan!”

Keempat bersaudara itu mulai berpencar mencari dari berbagai sisi hutan dan jurang yang tak jauh dari keberadaan mobil itu.

Penelusuran itu memakan waktu semalaman penuh. Bahkan langit sudah mulai terlihat terang dengan udara yang semakin dingin.

Rasa lelah dan letih mulai membuat mereka putus asa lantaran belum juga menemukan titik terang keberadaan Danendra dan juga Livia.

“Kak Faresta, aku capek. Kita istirahat sebentar ya.” Lionel memeluk pohon dengan batang yang tidak terlalu besar itu dengan cukup erat. Seolah itu adalah pegangan antara hidup dan matinya, karena di bawah sana masih jurang yang bisa saja melayangkan nyawanya.

Fareta melihat setiap anak buahnya yang memang nampak kelelahan. “Baiklah, istirahat lima belas menit, setelah itu kembali mencari.”

Mereka semua akhirnya menghela nafas lega dan mulai mencari tempat nyaman untuk beristirahat.

***

Di sebuah rumah sederhana berlantai ubin, dengan dinding kayu dan atap genteng tanah liat yang jelas termakan usia.

Danendra perlahan membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, bukan hanya karena luka yang ia alami, tetapi juga karena tempat tidur keras yang terasa sangat tidak nyaman.

Matanya menatap sekeliling yang terasa asing. Perlahan ia bangkit dan melihat Livia yang masih masih terbaring dengan nafas teratur.

Pria itu menghela nafas lega setelah memastikan jika sang istri baik-baik saja.

“Anda sudah bangun ternyata?” suara lembut namun terkesan dingin itu tiba-tiba menyapa indra pendengarannya.

Saat ia menoleh, seorang gadis cantik tengah berdiri dengan membawa piring rotan yang berisi makanan.

“Terimakasih sudah menolong kami,” ucap Danendra dengan tulus.

Gadis itu mengangguk, lalu menatap Livia dengan datar. “Dia tadi sudah bangun. Mungkin karena terlalu lelah jadi dia kembali tidur.”

Danendra tersenyum tipis. Sebelum kecelakaan itu terjadi, Livia memang menemaninya bekerja.

Melihat luka di kening dan pergelangan tangan istrinya membuat Danendra merasa bersalah karena telah menyeret wanita itu ke dalam kondisi seperti sekarang.

Wajah lelah Livia yang masih terlelap semakin menambah rasa bersalah dihatinya.

“Siapa nama kamu?” tanya Danendra.

“Panggil saja Elara,” jawabnya tenang. “Makanlah dulu! Jika kurang bilang saja, aku masih ada banyak.”

Elara menyodorkan piring rotan yang isinya terlihat cukup aneh bagi Danendra. Ia menatap isi piring itu dengan tatapan ragu.

“Apa ini … bisa dimakan?”

“Tentu saja bisa,” jawabnya tegas. “Walaupun ini makanan eksperimenku, tapi bahan-bahannya alami dari hutan dan tentunya bisa dimakan. Jadi tidak akan ada racun.”

Wajah Danendra seketika terlihat pias. Eksperimen? kata yang terdengar begitu mengerikan. Itu artinya, ia tengah menjadi kelinci percobaan gadis di depannya ini.

Dengan tangan gemetar Danendra menerima piring itu, dan memakan isinya dengan ekspresi terpaksa.

Elara tersenyum puas melihat pasiennya dengan senang hati  menerima makanannya. Itu artinya eksperimen makanannya tengah berhasil.

Matahari naik semakin tinggi namun suasana di rumah itu masih terasa sejuk. Danendra masih diam di ruangan itu sambil menatap dunia luar melalui jendela kayu.

Ia masih penasaran, ada di mana dirinya saat ini. Ingin bertanya pada Elara, tapi gadis itu tidak terlihat lagi setelah memberinya makanan eksperimen padanya.

“Papa!”

Suara Livia membuyarkan lamunannya. Ia segera menoleh dan mendekat.

“Kamu gak papa, kan? Apa ada yang sakit lagi?”

Livia menggeleng dan tersenyum. “Hanya luka-luka ini saja, sakitnya juga gak seberapa. Oh iya. Dimana Elara?”

“Aku gak tau, sayang. Setelah memberiku makanan eksperimen itu dia pergi dan belum terlihat lagi sampai sekarang.”

Livia tersenyum. Meyakini jika suaminya juga sudah mencicipi makanan yang dibuat oleh Elara.

“Kita keluar yuk! Aku penasaran sama tempat ini, sepertinya kita di tengah hutan.”

Danendra segera menyetujui ajakan Livia karena ia sendiri juga merasa sangat penasaran. Saat terbangun, keinginannya untuk melihat keadaan di luar begitu besar. Hanya saja, ia tidak tega meninggalkan Livia sendirian di dalam rumah.

Saat mereka berhasil melangkah keluar dari pintu rumah, langkah Danendra justru terhenti. Tatapannya tertuju pada lingkungan sekitar.

Tempat itu terlihat seperti perkampungan kuno. Namun, yang membuat bulu kuduk berdiri adalah suasana yang terasa begitu sunyi. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di sana. Perkampungan itu nampak kosong tak berpenghuni.

Meskipun lingkungan itu terlihat masih sangat rapi dan terawat. Tidak ada tanaman liar yang menutupi bangunan-bangunan sederhana itu. Bahkan jalan setapak itu pun terlihat bersih. Pikiran mereka tentu tidak tenang.

“Pah, jadi sebenarnya siapa yang menolong kita? Manusia atau bukan?” Wajah Livia kembali terlihat pucat pasih. Jemarinya menggenggam erat lengan suaminya.

“Kalian sedang apa disini?”

Keduanya perlahan menoleh dengan ragu saat mendengar suara yang terdengar begitu lembut di telinga.

AAAAA…..

1
lily
menarik.. semoga sampai tamat
Pawon Ana
elara ini lempeng ya ekspresinya....kayak tidak punya emosi🤔
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!