Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:952.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Vivi mengangkat kepala. "Jadi apa, Bu?"

"Jawabanmu."

Vivi langsung tahu arah pembicaraan itu. Ia menghela napas panjang. "Bu, aku masih berpikir."

"Sudah cukup berpikirnya." Jawaban itu datang begitu cepat hingga Vivi terdiam. Ibunya meraih cangkir teh sambil menggeleng pelan. "Kamu itu dari kemarin kerjanya cuma berpikir."

"Karena ini pernikahan."

"Justru karena ini pernikahan."

Vivi memijat pelipisnya. "Bu, aku baru ketemu sekali sama dia."

"Dan?"

"Aku belum tahu seperti apa dia sebenarnya."

Ibunya menghela napas. "Memangnya orang yang pacaran lima tahun pasti tahu calon pasangannya seperti apa? "Kita ini manusia, Vi. Tidak ada yang benar-benar tahu isi hati orang lain."

"Tapi setidaknya mereka punya waktu."

Ibunya tersenyum tipis. "Lalu menurutmu orang tua dan kakek nenek kita dulu kenal berapa lama sebelum menikah?" Ibunya menceritakan lagi bagaimana pernikahannya dan ayahnya Vivi. Mereka tak saling kenal. Bahkan hanya bertemu beberapa kali sebelum menikah. Tetapi akhirnya bapak dan ibu menikah, awet pernikahannya sampai sekarang.

Ibunya lalu mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau Ibu boleh jujur, Ibu yakin Baskara itu jodoh kamu." Kalimat itu keluar begitu mantap. Tanpa keraguan sedikit pun.

Vivi sampai mengernyit. "Kenapa Ibu bisa seyakin itu?"

Ibunya tersenyum. Karena seorang ibu terkadang memiliki logikanya sendiri. "Lihat saja." "Baskara duda dengan lima anak. Dia tidak butuh perempuan untuk memberinya keturunan lagi." Ibunya melanjutkan. "Dan kamu..." Suara itu melembut. "Kamu selama ini takut tidak ada laki-laki yang mau menerima kondisimu. Tapi sekarang ada laki-laki yang justru tidak menjadikan itu masalah." Ruangan menjadi sunyi. "Kamu tidak perlu takut mengecewakan dia karena tidak bisa punya anak. Kamu tidak perlu takut suatu hari dia meninggalkanmu demi mencari keturunan. Kamu tidak perlu menyembunyikan keadaanmu."

Setiap kalimat terasa menghantam pertahanan yang selama ini dibangun Vivi. Karena itulah ketakutan terbesarnya selama bertahun-tahun. Ditolak. Ditinggalkan. Dianggap kurang.

Ibunya meraih tangannya. "Kadang Allah tidak memberi sesuatu sesuai yang kita minta. Tapi memberi sesuatu yang kita butuhkan." Air mata mulai memenuhi mata wanita itu. "Ibu sudah berdoa bertahun-tahun supaya kamu menemukan orang yang bisa menerima kamu apa adanya. Ibu takut, Vi." Suara itu mulai bergetar. "Takut suatu hari nanti Ibu dan Bapak sudah tidak ada."

Vivi langsung menggenggam tangan ibunya. "Bu, Tolong jangan bicara begitu."

"Tapi itu kenyataan." Ibunya tersenyum sedih. "Kami tidak akan hidup selamanya."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Vivi melihat ketakutan yang selama ini disimpan ibunya.

Bukan ketakutan tentang dirinya sendiri. Melainkan tentang putrinya. Tentang masa depan seorang anak perempuan yang masih tinggal di rumah ketika semua saudara kandungnya sudah memiliki keluarga masing-masing.

"Ibu hanya ingin tahu kalau nanti kami sudah tidak ada..." Suara itu pecah. "ada seseorang yang akan menemanimu."

Vivi menunduk. Karena bukan hanya dirinya yang takut menghadapi masa depan. Orang tuanya juga. Dan mungkin itulah sebabnya ibunya begitu yakin. Bukan karena ia mengenal Baskara dengan baik. Bukan karena ia tahu pernikahan itu pasti bahagia. Melainkan karena di mata seorang ibu, kesempatan ini terlihat seperti jawaban atas doa yang telah dipanjatkannya selama bertahun-tahun.

"Ibu yakin dia jodoh kamu, Vi."

Vivi tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang teh yang mulai dingin di hadapannya. Lalu untuk kesekian kalinya, pertanyaan itu kembali muncul dalam hatinya. Apakah ini benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan? Ataukah hanya jalan yang terlihat paling masuk akal bagi semua orang selain dirinya?

***

Keesokan harinya, Vivi kembali memberanikan diri menemui Bu Mega. Jika ia memang harus memberikan jawaban secepat itu, setidaknya ada satu hal yang ingin ia ketahui terlebih dahulu. Anak-anak Baskara. Lima anak yang akan memanggilnya Ibu. Atau mungkin menolak memanggilnya sama sekali.

Bu Mega sedang berada di ruang kerjanya ketika Vivi datang. "Masuk, Vi."

Vivi duduk di kursi yang sama seperti beberapa hari lalu. Kali ini ia tidak berputar-putar dalam menyampaikan maksudnya. "Bu, saya ingin bertemu anak-anak Pak Baskara."

Senyum Bu Mega langsung memudar. "Kamu masih memikirkan itu?"

"Saya hanya ingin mengenal mereka sedikit."

"Untuk apa?"

Vivi terdiam sesaat. "Karena kalau saya menerima lamaran ini, mereka akan menjadi bagian dari hidup saya."

Bu Mega menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Apa kamu tahu berapa wanita yang pernah meminta hal yang sama?"

Vivi langsung mengerti arah pembicaraan itu. "Tiga puluh dua?"

Bu Mega mengangguk. "Tiga puluh dua." Lalu wanita itu membuka laci meja kerjanya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah album foto yang cukup tebal. Album itu kemudian didorong ke hadapan Vivi. "Ini saja."

Vivi mengernyit. "Foto mereka?"

"Ya."

Vivi terlihat kecewa. "Saya berharap bisa bertemu langsung."

Bu Mega menggeleng tegas. "Tidak." Jawabannya datang terlalu cepat. "Tidak sebelum kamu resmi menjadi bagian keluarga ini."

Vivi menatapnya bingung. "Kenapa?"

Bu Mega menghela napas panjang. Karena untuk pertama kalinya, ia harus mengatakan sesuatu yang selama ini selalu ia sembunyikan. "Karena saya tidak mau kehilangan calon istri nomor tiga puluh tiga." Bu Mega melanjutkan. "Sebagian besar perjodohan yang gagal terjadi setelah calon istri bertemu anak-anak."

Vivi menelan ludah. "Seburuk itu?"

"Anak-anak yang kehilangan ibu bisa melakukan banyak hal." Nada suara Bu Mega datar. Seolah sedang membicarakan fakta yang sudah terlalu sering ia hadapi. "Mereka bukan anak nakal. Bukan anak jahat. Tapi mereka tahu cara membuat seseorang merasa tidak diterima."

Vivi perlahan membuka album foto itu. Di halaman pertama terdapat foto keluarga. Baskara berdiri bersama lima anaknya. Untuk pertama kalinya Vivi melihat mereka dengan jelas. Sean. Wajahnya paling mirip Baskara. Tatapannya serius bahkan dalam foto. Di sampingnya Yuan yang terlihat lebih tenang dan cerdas. Saka tersenyum lebar ke kamera. Ella berdiri memeluk kakaknya. Dan Lili yang masih sangat kecil berada dalam gendongan Baskara.

Vivi memandangi foto itu cukup lama. Lima anak. Lima kehidupan. Lima hati yang sama-sama kehilangan ibu. Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih nyata. "Mereka cantik dan tampan."

Bu Mega tersenyum tipis. "Mereka juga pintar. Tapi mereka tidak ingin punya ibu baru." Bu Mega melipat kedua tangannya di atas meja. "Dengar, Vivi. Niatmu ingin bertemu mereka memang baik. Tapi saat ini kamu belum siap."

Vivi mengangkat kepala. "Belum siap?"

"Kamu masih mencari alasan untuk yakin." Bu Mega menatapnya lurus. "Dan mereka sangat ahli memberikan alasan untuk mundur." Bu Mega lalu menunjuk foto Sean. "Anak itu berhasil membuat dua calon istri menangis."Lalu menunjuk Yuan. "Yang ini membuat satu calon istri membatalkan pertunangan." Jari Bu Mega berpindah lagi. "Saka pernah memasukkan serangga ke tas calon ibu tirinya."

1
milk shake🍓🥤
semogaa cepat terbongkar dan dokter Sinta dipenjara karna bikin laporan palsu dan kliniknya ditutup
milk shake🍓🥤
jgn cuman keklinik tantemu itu berobat, sesekali perlu kerumah sakit,
Isna
keren...keren..seru bgt ceritanya..
rahmah
ceritanya bagus Vivi wanita luar biasa yg baik hati gak pernah marah tapi banyak ujian mulai ditipu puluhan tahun sama tante yg sudah menganggapnya anak sendiri sampai dia menangis setiap hari karena vonis tidak bisa punya anak dan itu juga dia tinggal kekasihnya karena vonis itu sampai dia diminta menikah dg anak pemilik yayasan tempat dia mengajar duda 5 anak bernama Baskara yg sibuk dg pekerjaannya(sepertinya Baskara cuma taunya menambah anak saja 🤭) anak²nya yg sudah menolak 32 calon ibu berbagai cara dilakukan anak²nya pada Vivi juga begitu tapi Vivi masih bisa mengatasinya sampai anak² menerima Vivi sebagai ibu mereka tapi cobaan Vivi tidak berhenti disitu hingga dia akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki² yg bernama Hanan dan dia bahagia bersama suami dan 6 anak²nya..🥰
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
Hesty Mamiena Hg
Naahhh...😌
Hesty Mamiena Hg
Kenapa Vivinya pulang sendiri aja?
Harusnya Baskara dan anak2 ikut, silaturahmi kermh ortu Vivi utk pertama kalinya 🙄
Inooy
bab termewek,,siapa pun anak nya pasti akan merasa tersisihkan jika ayah nya menikah kembali...karena banyak kenyataan nya yg seperti ini, apalagi anak2 nya masih d bawah 12 tahun yg pola pikir nya belum dewasa utk mencermati setiap masalah orang dewasa,,khusus nya masalah orangtua...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!